X

Revisit Satu Dekade: Menikmati Kembali Rilisan 2016

by webadmin / 7 months ago / 675 Views / 0 Comments /

Satu dekade merayakan lahirnya rilisan-rilisan yang berhasil membuat bekas di relung kami sekaligus menyadari keragaman kancah yang masih lestari. 


Semua ini berlalu tanpa disadari: 2016 tiba-tiba sudah sepuluh tahun yang lalu. Yah, waktu seakan berjalan cepat di setiap kedipan mata. Satu dekade yang penuh naik-turun. Kita banyak kehilangan, namun juga banyak mendapatkan. Kehidupan terus bergulir, menggerus waktu, dan barangkali satu-satunya hal yang membuatnya terasa melambat adalah kesadaran bahwa kita masih dikerangkeng sistem yang sama.

Ini adalah bukti konkret kalau hidup itu fana. Semakin cepat ia berlalu, semakin dekat pula ia pada akhir. Maaf, kami tak berniat memantik murung. Justru sebaliknya—ini adalah ajakan untuk lebih menghidupi waktu: menyadari bahwa hidup layak dirasakan lebih lambat, bahwa waktu yang telah lewat masih patut dirayakan, tanpa paksaan untuk terus menatap ke depan.

Berangkat dari sana, kami menengok kembali rilisan-rilisan lokal yang menangkap atmosfer 2016 secara utuh—memberikan bekas mendalam, atau sekadar menjadi katalog yang layak terus dikunjungi. Intensi kami sesederhana itu: mengajak pembaca merayakan hidup dengan tempo yang lebih pelan di tengah situasi serba cepat.

Tentunya, rilisan yang kami kumpulkan masih jauh dari kata kumplit. Maaf jika kami melewatkan banyak rilisan penting, tapi yang pasti daftar yang kami sertakan pun tak kalah penting. Aight, here’s our time machine back to 2016:

Collapse – Grief

Sebelum Collapse mati suri, sebelum proyek yang mulanya besutan Andika Surya seorang kini dihuni secara kolektif, sebelum mereka berkembang kolosal, berusaha menyentuh teritori pendekatan artistik yang belum pernah dijamah sebelumnya, mereka pernah hadir telanjang tapi mengena direkam dalam satu paket EP betajuk Grief yang dari sampulnya kita sudah bisa menebak kalau sang empunya tergila-gila dengan Blond.

Sebelum penulisan lirik bahasa Indonesia yang mulai diberanikan sejak single lepasan “Rute Menuju Ivory”. Sebelum Andika mulai menuliskan lirik tentang sesuatu yang rumit seperti hubungan manusia dan semesta, ia pernah bermain dangkal–atau setidaknya mudah diartikan dengan nalar cetek. Ia pernah menulis dan menyenandungkan lirik yang jika diartikan ke Bahasa bakal terdengar geli, tapi magisnya, mikro album ini berbicara banyak, lebih dari pada lirik dan musiknya.

Grief mungkin tak terkesan muluk-muluk, namun justru di situ titik telaknya. Hanya bermuatan lima nomor namun cukup kuat untuk (semakin) menyadarkan kita kalau post-grunge adalah sesuatu yang seksi. Kalau Hyperview-nya Title Fight adalah kiblat yang patut buat di-copy meski telah ‘melenceng’ dari musikal awalnya–namun justru makin relevan. Kalau ini adalah alternatif buat tampil muram dengan guitar driven dan tetap punya bobot coolness, sampai akhirnya diadaptasi banyak band baru dan jadi pendekatan yang familier di masa mendatang.

Grief ibarat waktu yang berlalu dan Collapse kini sudah beranjak jauh. Ia adalah masa yang tak bisa diputar ulang namun bisa selalu dikunjungi kembali. –Ilham Fadhilah.

 

Annie Hall – Saudade 

Sudah satu dekade berlalu tapi nama Annie Hall masih saja jadi hantu yang membayangi kancah shoegaze lokal. Hampir tak terdeteksi radar, namun meninggalkan legacy yang membekas. Masih teringat saat menemukan mereka di kanal Soundcloud pertama kali arahan seorang kawan saat masih duduk di bangku kuliah seraya berkata, “Ini band shoegaze lokal yang paling bisa bikin gua eargasm!”, seakan band-band lain sebelumnya hanya bisa setengki-setengki.

Saudade EP, katalog pertama yang mengenalkan saya dengan Annie Hall, dua tahun pasca rilis dan saat kabar bandnya tengah tak terdeteksi. Perkenalan yang sungguh berkesan dan membuat saya seketika mengangguk setuju dengan celotehan seorang kawan barusan. Namun itu juga sekaligus memantik patah hati yang dalam. Saya seperti jatuh hati pada hantu–sosok yang sudah tiada. Tak ada informasi atau kabar yang mampu mengobati selain konon beberapa member tersebar di band macam Cloudburst dan Deadly Weapon, sayangnya, tak satupun bermain musik serupa.

Entah kenapa, saya selalu merasa shoegaze dengan sound yang kepalang berat–beberapa condong metal, lead mengawang dan vokal oktav rendah punya kesan melankolis yang menusuk lebih dalam. Seakan komposisi di level yang lain alias tak banyak yang berani eksekusi, pun berani, tak mudah untuk ngena di hati. Seakan punya tingkat kemuraman yang berbeda dibanding musik sekoridor dengan kiblat pop atau post-rock sekalipun. Tebalnya dinding suara seakan ikut menutup cahaya untuk masuk dan menghasilkan suara penuh kabut. Suram. Murung. Madesu

Ternyata anggapan di atas tak hanya berlaku di rentang waktu tersebut saja. Satu dekade sudah berjalan dan sepanjang perjalanan tak banyak yang mampu melampaui kesan yang sudah Annie Hall torehkan pada selera shoegaze saya. Saya seperti orang gagal berpaling.. cih, analogi picisan, sepicisan lirik-lirik di Saudade. Tapi saya tak bisa bohong, setelah rentang waktu selama ini pun mungkin hanya beberapa yang impresif, sebut saja Enola dan Deccay (ini pun tak aktif), sisanya kebanyakan setengki-setengki.

Pada akhirnya Saudade EP, paketan tunggal yang pernah ditorehkan Annie Hall adalah katalog yang patut untuk selalu di-revisit. Di tengah kemarau kemunculan band semisal dengan rilisan yang memuaskan, tak muluk-muluk kalau menganggap EP ini masih ada di saf terdepan katalog shoegaze berkarakter heavy lokal yang patut dipandang, yang lainnya sila isi dulu barisan belakang. –Ilham Fadhilah

Petaka – Sebuah Dedikasi 

 

Agak durhaka sepertinya jika saya menuliskan impresi kelewat panjang yang seakan mengkhianati durasi lagu-lagu di album Sebuah Dedikasi, torehan unit hardcore punk ultra ngebut dari Jakarta, Petaka. Oke, mari persingkat. Satu dekade sudah album ini keluar, sebuah paketan solid berisi 14 nomor yang tak pernah menurunkan tensi. Berbunyi cepat, sigap, padat dan tepat.

Tak ada kalimat yang lebih mewakilkan selain “solid” baik secara materi maupun ambisi. Menyelesaikan album ini adalah penghormatan terakhir dari Petaka untuk mendiang Rully, inisiator band yang berpulang saat proses rekaman album masih berlangsung. Sungguh bakti yang tak sia-sia. Sebuah Dedikasi, tajuk yang langsung menjurus dihaturkan dan jadi torehan abadi yang layak dikenang.  Seperti momentum satu dekade ini, kita akan selalu bisa melihat ambisi dan semangat Rully yang tertinggal di dekade-dekade selanjutnya lewat solidnya album ini. RIP.–Ilham Fadhilah

 

Senja Dalam Prosa – Fana 

Di tahun itu, saat tengah gemar-gemarnya pada band macam Loma Prieta, Frameworks, State Faults dan kroni-kroninya, menemukan Senja Dalam Prosa ibarat oase di tengah tanah tandus. Masih teringat trek yang pertama kali nyangkut di telinga adalah “Wound” dari album yang menetas belum begitu lama, Fana.

Saat itu, saya belum banyak mengantongi nama lokal yang memainkan musik serupa, sirkuit skramz/screamo  terlampau bawah tanah buat saya yang ada di luar pusaran kancah. Walhasil perkenalan dengan Senja Dalam Prosa adalah momentum penting sebelum akhirnya menyelam lebih dalam dan ikut hanyut bersamanya. 

Fana bukanlah perkenalan yang buruk meski juga tak semewah itu untuk terus dielu-elukan. Album dengan muatan tanggung–6 trek–ini berhasi memberikan kesan kalau skramz dengan taburan instrumen dramatis tak jatuh pada usaha yang sia-sia. Mereka berhasil membuat setiap petikan gitar menusuk tepat di dada, membalutnya dengan perban dinding suara yang halus, hingga kemudian merobeknya kembali dengan vokal rapuh. Seakan dibawa terombang-ambing emosi yang tak menentu, menembus ruang emosi yang gelap dan tak kenal ujung, hingga akhirnya satu-satunya cara untuk melampiaskan adalah berteriak parau.

10 tahun telah berlalu, mungkin sudah terbentang jarak antara saya dan diri saya di satu dekade lalu. Beberapa hal berubah, termasuk konsumsi musik yang kini sudah lebih luwes. Menengok kembali Fana bukan lagi hal magis, namun saya menyadari kalau emosi yang membuncah di sana bukan prosa, karena ia tak fana. Jenjang waktu yang lama dan semayam kerapuhan itu masih ada, masih menghanyutkan dan sesekali masih menghasut. –Ilham Fadhilah

 

DÈTENTION – Youth Detention Program for Reckless Teenagers

Salah satu album hardcore punk di luar pakem generik yang keluar tahun 2016, DÈTENTION berhasil merampungkan album dengan perkawinan silang antara era awal Black Flag dengan band-band besutan Justin Pearson; The Locust, Some Girls, Retox, etc. Dengan komposisi tak umum–tanpa pemain bass, trio asal Palembang ini berhasil membuat musik yang menjawab kesinambungan antara revolusi dan menari. Kalau bisa keduanya, kenapa tidak?

Berkarakter suara tipis dan terang namun justru berdaya sayat fatal. Mereka membuat disonan gitar menunjukan sikap tanpa kompromi, tabuhan drum layaknya gemuruh protes yang membanjiri gedung parlemen, vokal jadi orasi pemantik geram, anggukan dan kepalan tangan massa. Dengan lantang dan tanggah pada tirani, mereka menyuguhkan groove dan agresi yang saling menyahut, membuat 13 nomor bukan lah muatan mubazir, melainkan menjaga nafas agar terus terengah.

Saat hardcore tengah menemukan momentumnya, saya merindukan lahirnya band-band lain dengan arwah Pearson. Menjemukan rasanya terus kedatangan band dengan influens tipikal: Biohazard, Madball, Cro-Mags, Gorilla Biscuits, etc, etc. Ironisnya, mencari inspirasi hari ini sudah semudah membalikan telapak tangan. Hal ini juga yang membuat rilisan ini masih terdepan buat saya pribadi, mengunjungi kembali Youth Detention Program for Reckless Teenagers seakan menampar wajah kembali seraya menyadarkan jika kancah punk lokal pernah punya talenta seperti DÈTENTION, di mana saya selalu berharap nafasnya bisa dilanjutkan jika mereka tak bisa mati suri. –Ilham Fadhilah

 

Rajasinga – III

Tidak perlu menantikan waktu lama atau retrospeksi 10 tahun sekali untuk menikmati puncak musikal dari trio perantau grind-rocker terbaik negeri ini, Rajasinga bertitel ‘III’. Cukup nongkrong di sepetak kamar kos temanmu selepas kerja atau kelar kelas kuliah di jam nanggung dengan menyiapkan sepocong summertime kush rolls yang telah dipilin setetes SKM, es teh manis kemasan seribuan, berlanjut selonjor melingkar lantas mengumpat tentang gundah gulana keseharian, gentingnya deadline, menggibah tetangga sebelah yang memang asshole dan kondisi negara (naudzubillah) carut marut gobloknya setengah mampus dan putarlah ‘III’ berkali-kali hingga pengap. 

Album ini mewakili keresahan tersebut. Seraya mendengar curcol di sudut kos-kosan Sukaluyu serupa kandang merpati atau memperhatikan segerombol remaja umur akhir belasan yang memainkan gitar kopong “Terlalu Manis”, “Every Rose Has Its Thorn”, “Nutshell” dengan kutung bladus ‘Beneath The Remains’ atau t-shirt bootleg Brutal Truth hasil gesutan sendiri lengkap sebatang Surya 12 di sela-sela telinga. 

Rajasinga melegitimasi lembaran kitab khusus bahwasanya grindcore tidak melulu soal gerinda 230 bpm atau lebih, vokal grunting guik-guik atau durasi di bawah 1 menit setengah. Mereka sudah berkarakter paten semenjak era ‘Rajagnaruk’ (Negrijuana Records, 2011). Merepet grindojuana dengan southern blues, NOLA, hard rock, thrash serta groove ala melayu/nusantara. Gado-gado yang tidak selalu mentok headbanging, mosh sana-sini namun badan ini dibuat dendang berlenggak-lenggok. Grind n roll attitude, kawan!

Tiga karib Indra ‘Morrg’ Wirawan, Revan Bramadika dan Bimantoro Amirysyano mengunci ‘III’ dengan liukan di luar pakem album ngebut pada umumnya untuk ranah extreme metal. Sosio-politik serta basa-basi tangkringan menjadi tombak di muatan liriknya yang diciptakan atas dasar pengalaman akan ketiga kepala terutama Revan. Dia mengemasnya sungguh pedas dan ambrol, simak saja “Masalah Kami di Negeri Ini” yang memang kita tahu semua, kita hidup di suatu sistem yang munafik plus rakus. Atau dasar negara yang dipelintir menjadi butir realita penuh kebusukan tiada tara pada nomor “Silakan”. Tidak lupa menyisipkan elan solidaritas pertemanan di “Stoned Magrib”, “½ 5 – 10” dan “Ada?”, yang telah lancar jaya tanpa harus tersedak layaknya bocah SMP. Begitupun dengan tarikan akan hiburan masa lampau tatkala menonton serial boneka Unyil, “Orang Gila” yang berhamburan lick aduhai Eddie Van Halen dan pengalaman mendekam di dinginnya sel pada trek “Penjara”. 

Album III adalah paket komplit keseharian yang memang simpel adanya dengan eksekusi jitu secara produksi. Ya, Rajasinga merefleksikan akan hidup di negara dunia ketiga; problema kelas pekerja, sistem korup, persahabatan di gang dan tentu bagaimana caranya tetap waras di negeri yang absurd. Bayangkan penggila Terrorizer, Exit-13, Anti-Cimex, Soilent Green jamming semalaman suntuk dengan aa-aa penyuka Rob Zombie, Jane’s Addiction, Motley Cruë dan satu frekuensi dengan abang-abang flanel lusuh yang ‘nyampe’ ketika mengobrol sejarah Kantata Takwa, Andy Liany bahkan Plastik. “Eh iya bre, masih punya rokok? Bagi dong, hehehe…” –Karel

 

The Trees And The Wild – Zaman, Zaman

‘Zaman, Zaman’ muncul di tengah lanskap indie lokal 2016 yang sedang dimabuk kepayang folk—dan dengan sengaja meludahinya. Saat semua orang masih asyik merumpi akan kegetiran hidup di bawah pohon rindang dengan gitar akustik yang dipetik lembut, The Trees and The Wild (kini Trees and Wild, tapi biar mudah kita sebut TTATW saja) justru memilih jalan yang lebih gelap, berbahaya dan jauh lebih menggugah. Ini bukan evolusi biasa melainkan metamorfosis brutal dari kepompong folk jadi seekor ngengat malam yang tak bisa berhenti terbang ke api.

Sebetulnya beberapa tajuk esensial yang mengedepankan lecutan folk dalam periode tersebut terbilang menjamur.  Layaknya ‘Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Kembali’ kepunyaan Banda Neira, ‘Roekmana’s Repertoire’ milik Tigapagi sampai slacky folk slash ngoceh sembrono dalam ‘Akibat Pergaulan Blues’-nya Jason Ranti semisal dan banyak eksponen segaris lainnya.

Kita cukupkan hal itu. Malah untuk ‘Zaman, Zaman’ lain soal justru, TTATW perlahan meninggalkan sekaligus menanggalkan sensibilitas folk yang sudah mereka lakukan pada debut ‘Rasuk’ tujuh tahun sebelumnya. Seperti yang dijelaskan di atas. Remedy Waloni cs mencoba bereksperimen hal yang lebih berani, menyeruak buih-buih soundscape namun tidak lebay. Alih-alih merubah warna, tapi ini lebih dari itu. Secara zona melompat sedemikian rupa. Gitar taruh di depan, drum biarkan menggertak pelan seolah malu-malu namun konstan berdetak. Vokal Remedy dan Charita Utami bersahutan merunduk sekaligus menyokong nyawa untuk memenuhi kujur album. 

Energi rock-nya kentara. Melenturkan rock yang gelisah, cemas kemudian tidak yakin mau kemana tapi tetap ingin berpijak. Kompleks tapi merdu, gelap tapi hipnotis—dua kutub yang seharusnya bertolak belakang tapi di tangan TTATW jadi satu kesatuan organik. “Empati Tamako” adalah bukti paling nyata sah. 15 menit perjalanan yang bakal bikin frustasi di menit-menit awal, tapi kalau bertahan sampai klimaks di menit 10:40-13, kalian bakal paham kenapa lagu ini menjadi masterpiece. “Tuah/Sebak” menegaskan palet tembok ‘Zaman, Zaman’ dengan layering yang njlimet namun tidak membingungkan, sementara “Saija”—dengan sample musik Biak “Ro Arwo Ibrin”—menjadi penutup yang paripurna, seperti bangun dari mimpi buruk yang ternyata indah.

Ini era terbaik TTATW dalam pancangan karir musikal meskipun statusnya kerap underrated di kancah lokal. Mereka jadi semacam kultus tersembunyi, seperti Flukeminimix, The Sastro, atau Sajama Cut yang sebenarnya memiliki penggemar fanatik tapi nggak pernah dapat hype mainstream yang seharusnya mereka terima. Tapi yang bikin ‘Zaman, Zaman’ spesial adalah jangkauannya yang melampaui batas geografis. Finlandia, Hong Kong bahkan tetangga serumpun Malaysia dan Singapura merespons album ini dengan antusiasme yang luar biasa. Menemukan irisan yang tepat, sesuatu yang beresonansi dengan masyarakat indie mereka. Ini bukan kebetulan—ini hasil dari kerja keras empat setengah tahun di Laminar Studio, hasil dari obsesi yang tidak mau berkompromi.

Alhasil, ‘Zaman, Zaman’ bukan cuma album bagus—ini adalah pernyataan. Bahwa Indonesia bisa bikin karya yang kompleks menantang dan tidak perlu malu-malu dibandingkan dengan album post-rock/shoegaze/ambient dari luar negeri. Apik binti klasik, memang. –Karel

 

Avhath – Hymns 

Seperti kita tahu semua Avhath adalah eksponen metal/hardcore yang paham betul bahwa strategi agar selalu menjadi daya pikat bagi para penyukanya dengan tidak perlu merilis album penuh, cukup single lepasan dan mentok di wilayah EP saja. Alasannya ternyata cukup masuk akal, biar pendengarnya dapat lebih khusyuk mendengarkan rilisan mereka tanpa harus membutuhkan waktu panjang dan bolak-balik sana-sini. 

Sejak 2013 mereka sudah melakukannya dengan ragam proyek split berimbang dengan kawan-kawan satu liganya, macam bersama Haul, Disfare atau Aneka Digital Safari. Di kemudian hari atau belakangan mereka justru banyak menitikberatkan eksperimentasi slash hal di luar kebiasaan seperti mengajak Kuntari untuk berbagi split.

Oke, konsep mengedarkan EP sudah menjadi nadi Avhath dan ini berlaku untuk karyanya di tahun 2016 bernama ‘Hymns’. Sebelum menggondol AMI Awards berkat “The Annual Horrors” maupun “Felo De Se” dan juga being metal darlings seperti hari ini, mereka sudah menyuntikkan virus cult essential kengerian dari gigs ke gigs, membentang mulai dari mini bar ke studio show sampai konser wangi. Bila diartikan Avhath percaya diri dengan apa yang mereka mainkan ini bisa diterima dengan telinga metal yang—you know lah commonly. Rumus chaotic hardcore, metal ekstrem, blackgaze, Entombed-core, neo-crust, d-beat atau you name it kan akrab dengan gorong-gorong, namun Ekrig dan kolega coba seruak itu ke khalayak luas, dalam kasus ini yakni termaktub di ‘Hymns’. Ini merupakan rilisan kedua gitar 2 Pranayudha (sebelumnya Disfare) yang sudah bergabung di maxi single sebelumnya. 

Muatan ‘Hymns’ macam-macam lho, ada yang terpengaruh riff Metallica, tetesan liur The Secret, Hierophant, Wolves in The Throne Room sampai underground goes to hipster serupa Deafheaven hingga second wave black metal sounds meliputi Emperor, Darkthrone dan Leviathan. Bila kulik sejenak, mungkin pengejawantahannya secara singkat yakni ‘Hymns’ merupakan perjalanan kegelapness yang berlapis. Mukadimah “Blood Moon Rising” menyerang dengan blast beat yang mematikan dan atmosfer yang mencekik, menciptakan epilog destruktif yang menetapkan tone untuk keseluruhan isian EP. 

Berlanjut di “The Putrefied” yang menjadi highlight dengan riff gitar membakar dan feedback noise nan menjerit—lagu ini adalah anthem malam yang dikuasai Avhath. “The Aftermath” membawa pendengar ke nostalgia black metal sekolah lama ala Bathory atau namun dengan sentuhan kontemporer yang membuat terasa relevan. 

Penutup “The Solipsist” adalah momen paling ambisius, sebuah friksi antara eteralitas dan agresi yang bergerak dari kegelapan ke cahaya.  Kelindan dreamscape shoegaze yang lembut di tengah kebrutalan. Produksi live yang dipilih justru menambah poros kekuatan. Setiap distorsi, feedback, teriakan vokal menyebar seperti penyakit di ruangan, menciptakan pengalaman yang immersive dan claustrophobic.

Secara retrospektif, ‘Hymns’ adalah titik penting dalam evolusi Avhath. EP ini menunjukkan band yang mulai menemukan karakter unik tersendiri. Kemudian lambat laun menciptakan suara yang genuine dari underground Jaksel. Lirik mereka fokus pada proyeksi astral, keputusasaan, kebencian dan postmodernisme memberikan dimensi intelektual yang membedakan mereka dari band extreme metal lainnya. –Karel

 

Joe Million – V U L G A R 

Di sirkuit rap atau hiphop lokal, satu dekade lalu, tengah ramainya orang-orang bergumam tentang kehadiran Rich Chigga (sekarang fame as Rich Brian) juga Young Lex—sosok pertama meledak viral sebagai wonderkid yang begitu lentur menonjol bersilabel sampai Amerika, yang satunya justru jadi langganan meme Instagram dan Twitter melalui “bang, makan bang”. Sementara itu di lereng bawah tanah, ada pemuda Batak yang tumbuh lama di tanah Papua bernama Jayawijaya Parulian Nababan alias Joe Million tengah membuat gebrakan yang bakal mengubah standar rap game lokal selamanya. Bersama produser Senartogok—seorang bohemian yang sama-sama penggila ‘Illmatic’ dan tidak sengaja menjadi karib gara-gara berjumpa di suatu sekre mahasiswa ITB Bandung. Keduanya menghasilkan ‘Vulgar’ melalui Maraton Mikrofon—sebuah debut yang langsung diklaim Babap Morgue Vanguard sebagai album rap terbaik tahun itu. Bukan karena hype atau marketing sok purist, tapi karena liriknya menyayat, beat-nya sungguh eklektik untuk ukuran album rap/hiphop, head-nod friendly dan yang paling penting: Joe berbicara tentang Indonesia yang sesungguhnya. Kenyataan yang  dijejali setiap detiknya. Seperti penampakan busuknya praktik korup yang sudah di luar nurul tapi ya begitu deh kita sebagai warga harus bertahan. 

Album ini dirilis digital tanpa adanya bentuk fisik—pure digital first karena memang begitu adanya, gerilya namun impactful. Secara produksi, Senartogok alias mang Tarjo menata menu sampling yang membuat kita kudu respect akan game-nya. “KatamOrgana”, lagu paling cadas di album ini. Sampling menjumput dari “Eye of the Tiger” milik Survivor, tapi diputar kemudian dibalik, di-chop sedemikian rupa. Quietly subtil. Trek itu menjadi kendara Joe membuka kartu soal Papua dan bagaimana negara kerap diskriminatif ke wilayah ujung timur. “Melihatku mendekatimu mendadak kau risau / serentet kalimat terarah kau pilih pistol.” Wordplay-nya kokoh, punchline menusuk intens dan kita dapat mendengar aksen Papua yang Joe liberally di beberapa bar—adding that layer of authenticity yang dirasa sulit untuk ditiru. Lalu ada “Si Miskin Omdonesia,” magnum opus ‘Vulgar’ yang sampling-nya mencatut dari “Matahari” kepunyaan Berlian Hutauru. Keciprat tembang  lawas yang jadi harta karun Indonesia tapi terkubur oleh waktu, tapi digali lagi sama Senartogok menjadi backdrop Joe mengoceh tentang kemiskinan struktural dan absurditas negara yang katanya makmur tapi rakyatnya keroncongan. Fakta sama metafora dicampur jadi satu, grammar dilanggar tapi justru terkesan layaknya puitis. Struktur suku kata berongga rima leksikal dijaga sebegitu ketatnya.

Album ini juga stacked dengan kolaborasi yang ‘ngena’ semua. Rand Slam—teman sepermainan mengacak-acak rima sekaligus sobat sejak bocah Joe—muncul di “Candu” bareng Moch Circle, terus lanjut lagi di “Kolong” yang nyerocos bagaimana rasanya hidup di kolong jembatan metaforis masyarakat yang tidak peduli dengan sesamanya. “Let My Blood Be A Seed Of Freedom” adalah statement politik paling blak-blakan.  Seakan-akan darah mendidih mengamati Joe deliver bar demi bar tentang kemerdekaan yang masih jadi ilusi buat orang-orang Papua. Interlude “Terbawa x Peluru” kasih nafas sebentar sebelum masuk ke closer “Menunda Mati” yang dimana featuring Senartogok sendiri—dan di sini menarik karena Senartogok mengaku dirinya OCD, makanya dia paling benci pengulangan di suatu karya. Track ini jadi semacam philosophical ending, tentang bagaimana hidup kita semua cuma menunda mati sambil mengubek makna di tengah chaos. Deep as hell, executed with precision.

‘Vulgar’ itu semacam cetak biru buat conscious rap Indonesia yang tidak corny maupun terkesan preachy, tapi tetap mempunyai message yang kuat. Joe Million beri perspektif akan Papua yang jarang banget kita semua dengar di permukaan kala itu—cerita tentang represi, diskriminasi, tapi juga tentang resilience dan pride—hari ini sih sudah kadung eksplisit terlihat. Senartogok menawarkan kelenturan boom bap yang hangat, pelbagai sampling yang menggali akar musik Indonesia itu sendiri, bukan cuma mencontek beat ala US semata. Secara berbarengan mereka berdua bikin album yang respect the culture, the. craft. ‘Vulgar’ masih jadi salah satu touchstone untuk scene hiphop lokal tentunya. Real recognize real, album satu ini real as it gets. Sayang sih sekarang Joe Million tidak lagi terlalu aktif dan Senartogok pun entah kemana. Where you at now? Sing penting sehat terus, peace out! –Karel

Tagged

#punk #hardcore #BLACK METAL #grindcore #metal