X

DOM 65 Band Sepakbola atau Bukan? Celoteh Imam Senoaji Ini Perlu Kalian Dengarkan!

by Ismail Noer Surendra / 6 months ago / 1262 Views / 0 Comments /

Obrolan bersama Imam Senoaji soal identitas ganda DOM 65: dibangun oleh personel gemar sepakbola namun menolak berafiliasi dengannya. 


Di negara ini, menghubungkan punk dan sepakbola layaknya menghubungkannya dengan agama. Cenderung rumit karena musik sering jatuh lebih dari sekedar bunyi. Ada ideologi, pasar, fanatisme, hingga masalah kedaerahan yang menjadi perhitungan. Hal semacam itulah yang dirasakan oleh DOM 65. Semenjak menciptakan lagu “Fortuna” (2001), perjalanan band Streetpunk Oi! asal Yogyakarta ini menjadi panjang.

Banyak orang menganggap DOM 65 adalah band yang dibentuk untuk sepakbola. Hal tersebut mungkin dikarenakan band ini terhitung rajin merilis merchandise jersey. Bahkan rasanya tak jarang menemukan pemakai jersey dengan nomor punggung 65 saat menyambangi gigs atau menonton sepakbola di stadion. Seringnya DOM 65 manggung di gigs yang berasosiasi dengan suporter sepakbola juga semakin menguatkan anggapan ini. Mereka seperti mendapat cap stempel sebagai band sepakbola.

Namun jika ditanya apakah DOM 65 band sepakbola kepada vokalisnya, Imam Senoaji, jawabannya adalah kutipan paling terkenal yang pernah dilontarkannya di atas panggung,

“DOM 65 tidak memainkan sepakbola, DOM 65 memainkan Streetpunk Oi!”

Saya menemui Imam Senoaji sepulangnya dari perhelatan Oi! Fest 2026 yang diinisiasi Warriors Jakarta. Tampak ada sedikit kelelahan di wajahnya. Keputusan bandnya yang ngeyel pulang langsung setelah manggung demi mengejar pertandingan kandang PSIM melawan Persebaya ternyata adalah pilihan yang buruk. Tim jagoannya dihajar habis-habisan oleh Bajol Ijo dengan 3 gol tanpa balas. Sungguh kekalahan yang memilukan di kandang sendiri.

Selasa pagi, 27 Januari 2026, Yogyakarta sedang cerah-cerahnya. Kota ini pada weekday memang terasa lebih tenang daripada akhir pekan yang terasa keos karena diserang wisatawan. Matahari terasa hangat setelah semalam diguyur hujan. Selepas mengantarkan anaknya sekolah, saya menjemput Imam di rumah di daerah Semaki yang hanya berjarak selemparan batu dari Stadion Mandala Krida.

Yang menyenangkan dari nongkrong dengan Imam Senoaji adalah sosoknya yang sporty (meski pemabuk), ramah, family man, dan morning person. Suatu citra yang mungkin terkesan tidak streetpunk sekali. Setelah menyantap bubur kacang hijau dan memakan sedikit gorengan di daerah sekitar Stadion, kami pun memutuskan mencari tempat nongkrong di daerah Bausasran. Hingga akhirnya kami pun akhirnya nongkrong di Serap-serop, warung rawon di kawasan padat penduduk yang dipenuhi cuitan burung murai.

Obrolan kami pun mundur jauh di tahun 1997, tahun di mana DOM 65 muncul. Mereka lahir dari rahim Condong Catur Barmy Army dan menasbihkan diri mereka sebagai band streetpunk. Pada era itu bisa jadi merupakan era keemasan streetpunk di Indonesia. Kiblat mereka saat itu adalah band-band American Streetpunk seperti Casualties, The Unseen, Defiance, Lower Class Brats, hingga Blanks 77. Mereka tumbuh dari tongkrongan Realino Bootbois sebagaimana menempel abadi dalam tato di tubuh Imam Senoaji dan sang kakak, Adnan Darma Kusuma.  

Personil DOM 65 saat ini memang hanya meninggalkan Imam dan Adnan. Bertahun-tahun mengalami gonta-ganti personel membuat mereka kelelahan hingga akhirnya diputuskan untuk berdua saja. Selain lebih mudah karena masih keluarga, keputusan berdua juga membuat mereka mudah untuk membagi royalti merchandise maupun fee manggung. 

“Kami mungkin sudah kenal Sex Pistols, The Clash, The Damned, cuma mungkin suasana negaranya saat itu lagi krisis moneter, jadi kayaknya lebih cocok ke American streetpunk menurutku,” ucap Imam.

Pada era itu, DOM 65 telah meluncurkan album split dengan Laga Bara berjudul “Oi! Laskar Mataram Oi!” pada 1999 dan mini album berjudul Oi! Ruck And Raw yang keduanya dirilis oleh Realino Records pada tahun 2001. Musik yang mereka mainkan saat itu sungguh jauh berbeda dengan musik DOM 65 sekarang, berkutat di pogo punk seperti Major Accident, The Ejected, dan tentu saja The Casualties.

Sembari menasbihkan diri sebagai band streetpunk, Imam dan Adnan adalah pendukung fanatik PSIM Yogyakarta karena rumah mereka berdekatan dengan stadion. Komunitas mereka adalah West Mandala Drinking Crew (WMDC). Pada saat itu mereka menonton bola sambil berdandan streetpunk lengkap dengan rambut mohawk, jaket spike, celana tartan, sepatu boots, dan mulut berbau alkohol. Dandanan yang tidak umum untuk nonton bola saat itu, atau mungkin hingga sekarang.

Saat itu gerombolan anak punk dari Realino Bootbois juga turut serta datang ke stadion. Budaya nonton sepakbola di awal 2000-an masih sopan dan jarang ada pisuhan yang dilontarkan. Gerombolan ini pun seperti membuat gaduh Stadion Mandala karena datang dalam keadaan teler. Di saat pertandingan mereka membuat chant-chant penyemangat dengan menyanyikan lagu-lagu dari Cock Sparrer dan The Adicts. “Kami sempat bikin bendera ‘Laskar Mataram’ gambar boots dan bola. Gambar manual buatan Wok The Rock itu. Kami sudah mulai mengibarkan bendera, cuma aku merasa waktu itu anak-anak cuma cari spot bersenang-senang di tempat yang berbeda saja, ganti suasana nongkrong,” kenang Imam.

Hingga kesempatan untuk membuat lagu tentang sepakbola pun tiba pada 2003. Realino Bootbois membuat album kompilasi Oi! The Penalty yang berisi lagu-lagu bertemakan sepakbola dari band-band punk di seluruh Indonesia. DOM 65 berkesempatan mengisi dua lagu di album tersebut dengan lagu “Fortuna” dan “Never Rust”. Ada tujuh band dari Indonesia dan satu band dari Italia yang turut serta mengisi album tersebut. Mereka adalah Begundal Lowokwaru, Barber Shop, Rentenir, Firey Jak, RJ Power, G-Squad, DOM 65, dan The Bloodline dari Italia.

Lagu “Fortuna” dan “Never Rust” bisa dibilang merupakan tonggak perubahan musikalitas DOM 65. Ini adalah momen transisi musik DOM 65 yang sebelumnya memainkan pogo punk pun berubah menjadi nyerempet ke progresif rock. Keinginan melanjutkan untuk memainkan musik pogo punk pun buyar. Imam sempat menawarkan kepada sang vokalis saat itu, Oik Wasfuk, untuk melanjutkan DOM 65 tanpa dirinya. Namun Oik lebih memilih mundur karena perubahan musikalitas ini.

“Ini transisi di mana kami sudah pengen arah musik kami lebih ke pure Oi!. Dari yang awalnya Amerika banget, akhirnya kembali ke Inggris. Sebenarnya itu terjadi karena minim referensi. Aku jatuh cinta banget sama Cockney Rejects waktu itu, tapi cuma dapat (akses) beberapa lagu (saja) dari kaset kompilasi,” kata Imam. 

Minim referensi saat itu menjadi kausalitas atas perubahan musik DOM 65. Imam menjelaskan bahwa musik DOM 65 saat itu bahkan terinspirasi dari Twisted Sister yang nggak punk banget. Hanya berdasar ketukan drum, Twisted Sister saat itu sudah ditasbihkannya sebagai band punk. Banyak beredarnya kaset-kaset yang mulai marak di Yogyakarta menambah referensi DOM 65. Saat itu mereka pun punya kiblat baru, yaitu Rush dan Marillion. 

Sama seperti banyak band punk kebanyakan di era itu, mereka terperdaya oleh sampul yang jadi wajah dari rilisan buat band-band tersebut. Maklum di masa pra-internet, referensi musik tidak sebergelimpahan sekarang dan akses literasi masih minim. Referensi mereka pun kebanyakan hanya berdasar dari mulut ke mulut, kaset yang ada di depan mata, majalah yang seadanya, atau dari zine yang dibuat mandiri. 

Pada masa-masa itu pula, Imam dan Adnan menjadi mendengarkan banyak sekali aliran musik rock. Mereka terus meraba-raba musik seperti apa yang akan mereka mainkan untuk DOM 65 selanjutnya. Hingga hadirlah album fenomenal Secret Warehouse pada 2003. Imam yang pada album sebelumnya hanya sebagai gitaris maju sebagai gitar vokal dan Adnan yang sebelumnya ngedrum berganti menjadi bassist. Pada album itu mereka dibantu Sesa pada gitar dan Denda pada drum. Formasi Imam sebagai gitar vokal dan Adnan pada bass ini pun bertahan hingga saat ini.

Secret Warehouse seperti membuka khasanah musik punk Indonesia menjadi lebih berwarna. Musik punk  tak hanya dikenal dengan suara gitar yang mencabik-cabik, ketukan drum yang cepat, dan suara vokal orang marah-marah. Album yang juga dirilis Realino Records ini bisa dibilang prototipe musikalitas DOM 65 sebagaimana kita dengarkan sekarang. 

Dalam catatannya di Yes No Wave Music, Wok The Rock menulis bahwa mulai muncul polemik atas kemunculan album ini. Hal tersebut dikarenakan DOM 65 manggung dengan band-band indie non-punk yang mulai populer saat itu. Acara yang digelar di sebuah cafe dengan harga tiket yang dianggap cukup mahal pada 2004 itu membuat banyak anak punk kecewa. Namun yang patut digarisbawahi adalah bahwa DOM 65 mampu membawa gaya lain untuk skena musik punk ke depannya.

Perkembangan musik DOM 65 mulai mencapai puncaknya atas rilisnya album Greatest Pledge Articles pada 2005. Album GPA rasanya merupakan warisan penting buat subkultur punk Jogja. Mereka melakukan pengembangan musikalitas yang cukup besar. Lirik-lirik bahasa Inggrisnya menyampaikan muatan kritik khas punk, namun disajikan dengan puitis. Jika didengarkan secara utuh, mereka seperti mencoba menelanjangi ideologi punk itu sendiri. Lagu-lagu di album ini seperti memberi petuah ihwal menjadi streetpunk yang tumbuh di jalanan adalah pemberani, tangguh, dan tidak cengeng.

Greatest Pledge Articles

Album masterpiece dari DOM 65 ini telah dirilis dalam piringan hitam oleh Nirmana Records pada 2017, setelah sebelumnya dirilis mandiri oleh Ruckson Music pada 2005. Di album ini, DOM 65 seperti berhasil mengawinkan musik Oi! dengan NWOBHM secara ciamik. Semua lirik di album ini ditulis oleh Adnan Darma Kusuma. Formasi DOM 65 di album ini adalah Imam Senoaji (gitar vokal), Adnan Darma Kusuma (bass), Sesa Slaughter (gitar), dan Erwin Gusur (drum).

Album penuh kedua DOM 65 tidak kalah mengejutkan. Committed berisi 10 lagu klasik punk dioplos dengan hardrock taktis yang tetap bersemangat. Gambar hyena mangap di cover album seperti menggambarkan semangat hidup yang membara. Album ini dirilis pada 2009 oleh Ruckson Music. Mendengarkan album ini, kita akan menemukan The Who versi liar, kotor, dan menjerit. Sentuhan akustik pada lagu-lagu di album ini membuatnya terasa sangat dalam namun tetap rebel. Ada perubahan formasi DOM 65 di album ini. Posisi drum digantikan Yanda Panda, dan untuk posisi ritem dilengkapi Uut Mubarox.

DOM 65 kerap dianggap anomali saat itu. Mereka memainkan musik punk yang tidak umum. Kecelakaan minim referensi bisa jadi membuat DOM 65 menjadi unik. Meski banyak yang menganggapnya demikian, mereka tetap dengan bersikeras memproklamirkan diri sebagai band streetpunk yang memainkan musik Oi!. Logo font kaca pecah seperti Angelic Upstarts yang dipakai merupakan simbol identitas yang tidak bisa ditolak apalagi disangkal.

“Secara musikal begitu, tapi ideologi tetap punk. Punk yang miskin referensi yang benar mungkin itu istilahnya. Akhirnya kami mendengarkan apa yang mudah kami cari. Aku berpura-pura mendengarkan musik punk, kedengarannya menyedihkan, tapi ternyata itu yang membuat DOM 65 berbeda dengan band punk lainnya.” ucap Imam.

***

Hingga muncullah sebuah era di sekitar tahun 2010-2011. Wajah suporter Indonesia saat itu mengalami perubahan. Mulai muncul paham-paham suporter yang baru muncul di Indonesia. Seperti casual, hooligans, barrabravas, dan yang paling umum, ultras. Fenomena ini muncul sebagai perlawanan anak muda terhadap suporter tua yang terkesan monoton, anti kritik, dan korup. Pada era tersebut terjadi fenomena perubahan gaya berpakaian, chant, hingga budaya kekerasan di beberapa kelompok suporter di Indonesia.

Geliat ini tentu sampai pula di Yogyakarta dan dirasakan pula oleh DOM 65. Imam merasakan pada saat-saat itu, banyak dari kawan-kawan punk berkonversi menjadi full time suporter alias casuals. Mulai banyak pula saat itu diadakan gigs-gigs yang berafiliasikan sepakbola. Di tahun itu, lagu “Fortuna” yang sudah lama tenggelam muncul lagi ke permukaan ketika mulai banyaknya anak muda generasi baru yang datang ke stadion. 

Budaya kekerasan yang muncul di era itu pun juga menjadi tumbuh. Film-film seperti Green Street Hooligans, Awaydays, The Football Factory, hingga di Indonesia ada Romeo Juliet seperti menginspirasi banyak suporter bola untuk menormalisasi kerusuhan. Menjelma jadi tradisi baru dengan munculnya istilah “open fight”, sampai merembet luas ke skena musik.

Fenomena itu, dirasakan Imam ketika mulai diadakannya tur album Commited pada 2010. Di saat itu mulai terlihat adanya gerombolan suporter bola yang masuk dalam gigs punk. Pada era-era itu pula, banyak juga anak punk yang mulai berani menunjukkan identitasnya sebagai suporter bola. Hal tersebut tentu berdampak dengan sensitifitas kedaerahan yang bisa memicu pertikaian. Mulai muncul sedikit kecanggungan ketika harus berhadapan dengan dengan seorang punk yang berafiliasi dengan kelompok suporter tertentu. 

“Titik itulah yang menjadikan istilah ‘Punk Football’ atau hubungan Punk dan sepak bola jadi satu kesatuan, dimulai dari gesekan-gesekan itu,” ujarnya. 

Sedari tahun 2010-an DOM 65 telah mengalami ancaman ketika bermain di atas panggung. Kejadian-kejadian itu terjadi saat mereka manggung di Kediri, Bandung, Semarang, hingga Sleman. Di Kediri, DOM 65 sempat diserang Aremania buntut kerusuhan pertandingan PSIM lawan Arema di Jogjakarta.

Pada era-era album GPA hingga Committed, lagu “Fortuna” seperti mati suri. Nomor tersebut bahkan tidak pernah dibawakan saat formasi DOM 65 digawangi oleh Erwin Gusur yang merupakan pendukung Persis Solo. Lagu Fortuna mulai di-request penonton pada tahun 2012. Saat manggung di Jogja hingga Jakarta, banyak penonton meminta “Fortuna” dibawakan. Lagu tersebut pun menjadi lebih populer ketika di suatu podcast, Acha (Straight Answer) mengungkapkan bahwa ia bisa pulih dari sakit stroke-nya karena mendengarkan semangat dari ketukan drum lagu Fortuna.

Yang menyenangkan dari panggung-panggung DOM 65 adalah panggung yang intim dan penuh alkohol. Penonton merusuh berpogo dan berebut microfon, tapi musik tetap stabil dimainkan dengan rapi. Mengajak audiens bertukar keringat seiring dengan botol-botol miras yang terus diputar. Suasana dekat semacam ini membuat panggung-panggung DOM 65 menjadi pantang untuk dilewatkan, terlebih ketika “Fortuna” dimainkan, seakan undangan naik ke panggung untuk bernyanyi kompak selayaknya ngechant di dalam stadion.

Imam kerap kesal jika ada yang menyebut DOM 65 sebagai band sepakbola. Padahal kedua hal tersebut alamnya tentu berbeda. Perlu ada penegasan mengenai cap stempel yang melekat semacam ini. “Aku tegaskan, DOM 65 bukan ‘band bola’. Kami adalah band Street Punk yang kebetulan disukai oleh suporter. Seperti suporter yang menggemari The Stone Roses atau Oasis, apakah Stone Roses atau Oasis disebut band bola? Tidak kan? Aku pengen ada garis batas itu”, ujarnya.

DOM 65. Kanan ke kiri: Imam Senoaji (gitar), Adnan Darma Kusuma (bass)

Meski begitu dengan jujur, dua personil DOM 65 itu dengan berani menyebut bahwa mereka adalah suporter PSIM Yogyakarta. Hal tersebut tidak mereka tutup-tutupi dan tidak pula coba untuk berkelit. Imam dan Adnan masih setia menonton PSIM bertanding baik di pertandingan kandang maupun tandang. Ini adalah sebuah pilihan hidup yang penuh resiko (tentu saja), tapi memang seperti itu kenyataannya.

Yang menjadi perlu ditegaskan juga dalam hal ini adalah para personil DOM 65 dan band DOM 65 itu adalah entitas yang berbeda. Para personilnya punya jalan sendiri, begitu pula bandnya. 

“Kami mengakui itu tidak kami tutup-tutupi. Dengan konsekuensi ya kami nggak safe untuk main di panggung-panggung yang ada tim rival. Toh pun akhirnya main di tempat yang di situ ada tim rival kemudian kami diserbu pun ya, wis resiko” tukasnya.

Obrolan dengan makanan ringan angkringan dan cuitan burung murai di langit Bausasran seolah masih mengiringi sisa-sisa obrolan kami yang meluber ke mana-mana. Menyelami isi kepala Imam Senoaji seperti menjadi upaya memahami bahwa identitas tidak harus tunggal. Baginya, menjadi suporter adalah gairah personal, namun DOM 65 adalah harga diri musikal yang lahir dari ulikan kaset bekas dan “kecelakaan” minimnya referensi di masa lalu.

DOM 65 telah berhasil melakukan sesuatu yang jarang bisa dilakukan band lain: mereka menciptakan lagu bertema sepak bola yang begitu abadi, hingga “diculik” publik untuk menjadi milik tribun, namun tetap berdiri tegak sebagai unit streetpunk yang tak mau didikte oleh pasar maupun fanatisme buta. Mereka adalah bukti bahwa punk tidak harus selalu soal amarah yang seragam, tapi bisa juga tentang kejujuran seorang laki-laki yang masih setia memegang teguh pilihan hidup yang mereka yakini.

Akhirnya, pertanyaan apakah DOM 65 itu band sepak bola atau bukan, mungkin sudah tidak lagi relevan bagi mereka yang benar-benar mendengarkan. Sebab, di antara raungan gitar ritem keras dan vokal kasarnya, Imam dengan DOM 65-nya hanyalah sekelompok orang yang mencoba relevan dengan akarnya sendiri. 

Seperti kata Imam, mereka hanyalah band Streetpunk Oi! dan tidak memainkan sepakbola. Jika kemudian ribuan suporter jatuh cinta dan menjadikannya lagu kebangsaan, itu adalah bonus dari sebuah kejujuran karya. Selebihnya adalah risiko yang diambil dengan kepala tegak—entah itu risiko diserbu di kota rival, maupun risiko patah hati karena tim kebanggaan dihajar habis-habisan di kandang sendiri. Itulah hidup, dan itulah DOM 65.

Tagged

#streetpunk #punkfootball #oi! #punk rock #Dom 65