TRACK TALK: Jangar – Malam EP (Vinyl Edition) (Silver Records, 2026)

Menengok kembali muatan Malam EP yang kini hadir dalam format vinyl, dengan bonus trek yang memperindahnya meski kehilangan satu nomor di dalamnya.
Terlepas dari apa pun perasaan yang berkecamuk saat rilisan ini berhasil memenangkan Album Rock Terbaik 2024 dan entah di mana sekarang trofi AMI Awards itu disimpan atau pantaskah mereka merengkuh penghargaan tersebut, solusi kematian yang disodorkan oleh lagu “Stress” demi mengurangi populasi kita adalah resep 50 ringgit milik dokter Sp.KJ yang terkekeh saat stempel normal dicapkan ke jidat dan kita dibuat tak berkutik menangani rayuan psikotik pada sebuah sore sesi terapi wulanan.
“Kehidupan itu berlangsung seperti perjalanan spiral, semakin dilawan semakin menjauhi titik pusat. Secara klinis tidak bisa total sembuh, kamu hanya akan terus dibawa mengarungi sambil berupaya mengendalikan tekanannya setiap kali halusinasi itu datang lagi,” ucap ajik Sp.KJ andalan.
“Kalau tiang sudah keburu muak, ‘gimana dok?”
“Hum. . . mari liat dulu perkembangannya. Seburuk-buruknya, mulai bulan depan mungkin kita bisa coba beralih ke Aripiprazole.”
Dalam konteks semeton robokop—rombongan bo’at kopi unit pemantik api terbaik dari pusat kota Denpasar—fans Jangar, mobilisasi kemuakan memuncak diterjang petaka banjir dan macet yang mulai sering menjadi momok sejak jalan raya dan air sungai mengamuk karena tidak kuat lagi menampung cara berpikir pendek budak-budak pariwisata yang lebih suka menuhankan harta dibanding menajamkan otak mereka sendiri. Selamat datang di era kepunahan ketika are per are sawah dibuldozer dan kita masih saja terpukau inferior dijejali kebahagiaan palsu supremasi kulit putih, terperangkap warisan abadi sikap feodal orang Bali yang sering kali sukses dipakai melicinkan obsesi kepahlawanan memperkaya golongan pribadi.
Petrikor tidak lagi romantis menggelayuti seruputan espresso di kedai tubruk kawasan magis Gajah Mada. Sedang asyik-asyiknya otak merakit jaringan spiral tiba-tiba teringat ancaman riak setinggi paha yang kemarin melahap pagar rumah kontrakan. Dan bayangkan betapa paranoid perasaan kebelet beol di tengah antrean ratusan kendaraan yang menyemut, merangkak macet menuju Pantai Matahari Terbit. Bahkan untuk menyemprit kentut pun ngeri cepirit. Sumpek, ruwet, kemaruk, lumpuh. Tradisi sistem pengairan subak hilang seiring pembangunan masif ladang beton vila-vila beach club dan pabrik industri.
Bali hampir mirip Jakarta hari ini, kota orang-orang muntab. Ekspansi modal kapital tak henti menggerogoti fungsi ruang lahan. Tragedi mengenaskan gentrifikasi bukan cuma menyebabkan bencana ekologi, namun yang paling parah turut pula berinvestasi merangsang lahirnya generasi ignoran yang tidak memedulikan apa-apa selain kebanggaan takhta strata sosial. Mampus kita hari ini adalah masa depan yang telah sengaja dirancang suram.
“Masalah ini lagi, masalah yang sama,” ujar Gusten Keniten mengawali monolog “Stress”.
Tawanya keluar ngenyek, mengejek derita yang sudah naik seleher. Akhirnya terbukti juga, polemik ini dulu pernah diperingatkannya lewat lagu “Kami Tahu” dari debut Jelang Malam (Berita Angkasa, 2019). Tentang manipulasi penghijauan, sawah dan pantai yang diuruk investor rakus pariwisata. Akibatnya kini Bali tak berdaya kehabisan hutan resapan, bersiap tenggelam menghadapi curah banjir berikutnya.
“Tapi jangan lupa,” lanjut Gusten, wibawanya mengepal tak tertandingi, seraya menyadarkan penyakit sok paling suci umat manusia, bahwa kebodohan kita juga menyumbang andil, kalau bukan malah memperkeruh atas kemampetan yang terjadi.
“Kau! Kau juga bagian dari masalah itu!”
Peran vital orator dilakoninya sempurna bersama karisma bengal seekor Bung Besar, sebagaimana racun heavy stoned Jangar selama ini merasuk kental, berkumandang tembang rock milik rakyat. Kita semua dibuat gagah bernyanyi mengikuti rampal suaranya. Di pundak mengemban semangat kehancuran bangsa, mendangak di dagu pejantan jalang, melotot-lotot botak kriminal. Divisi ansambel ketiga rekannya, gitaris Dewa Adi Sanjaya – bassis Rai Biomantara – dramer Pasek Darmawaysya mengalirkan kontrol demagogi, mendentum gaung rendah membangun altar mahsyur paduka. Dengan rujukan ekstase mental resep dokter Sp.KJ, dicanangkan opsi sesumbar bagi para hambanya.
“Jadi bagaimana? Kau mau mati, atau silakan saja. . . kau nikmati.”
Siapa suka boleh ikut, menempuh masokis, menghayati setiap rasa sakit yang menebar paku di sekujur jalan menunggu mati. Kode sandikala; upaya Jangar mengubah kegelapan menjadi nirvana Malam Haerath ditandai dengan terlebih dulu menerbitkan kesadaran karmaphala dalam rilisan maxi-single Kali/Samsara (Berita Angkasa, 2021).
Dua lagu inkarnasi, provokasi pertarungan moral meladeni zaman edan Kaliyuga. Umat Hindu meyakininya sebagai tingkatan terakhir dari siklus Catur Yuga yang identik dengan tabiat kemerosotan akhlak, zaman penuh perselisihan, kepalsuan, kekalutan, kemunafikan, penderitaan, dan kesengsaraan. Dengan menyingkap ciri-ciri yang dituturkan kitab Bhagawatapurana, tentu hanya orang ingkar yang menyangkal kehidupan republik kita hari ini tengah berpijak pada kemungkaran Kaliyuga.
Beberapa petunjuknya tampak begitu kentara: pemimpin bertindak zalim, hukum ditentukan oleh kehendak kuasa bukan berdasar keadilan dan dicapai melalui kekuatan, rakyat memikul beban berat akibat bencana alam, kelaparan, tanggungan pajak, dan penyakit kecemasan, kota-kota dikuasai bandit, tujuan hidup berpusat pada kekayaan materi dan kenikmatan indrawi, para brahmana sibuk mengenyangkan perut dan memuaskan kemaluan, sedangkan para sudra menipu dengan memanfaatkan praktik kerohanian.
Risalah astronomi Surya Siddhanta menyatakan rentang waktu Kaliyuga dimulai sejak 3102 SM dan bakal berlangsung sepanjang 432.000 tahun. Artinya, sampai duet kepemimpinan Wayan Koster-Giri Prasta menjabat detik ini, Kaliyuga baru berlangsung selama 5000 tahun. Kehancuran masih amat jauh mencapai gerbang finish, selama hayat dikandung badan mustahil tobat. Kita terjebak samsara, bangkit-mati-bangkit-mati-bangkit-mati-bangkit hingga melewati 777 ratus reinkarnasi kemudian pun akan tetap bejat. Slowly we rot, seperti halnya prognosis dokter Sp.KJ soal kehidupan spiral tadi.
Mungkin benar moksa adalah suatu keniscayaan, tetapi untuk bisa mengalaminya di tengah jeratan Kaliyuga agaknya membutuhkan ketabahan serta ketakwaan istimewa. Dosa terus berputar mengisap kebajikan yang buntu dan mengkhawatirkan.
Itulah kenapa lagu “Haerath I” medley “Haerath II” ditulis—tercantum di album Jelang Malam—sebagai salah satu jalan terbaik menyatukan atman dengan Brahman agar cakap mengenyam moksa suatu waktu nanti. Dalam sebuah wawancara, Pasek Darmawaysya, penulis semua lirik lagu Jangar mengatakan:
“Haerath bercerita tentang malam pemujaan buat Dewa Siwa yang biasa dilakukan di Kuil Pashupatinath di kota Kathmandu, Nepal. Prosesinya disebut Maha Shivarathri yang berlangsung sebagai seremoni ajang penebusan dosa. Di hari itu para sadhu, orang-orang yang disucikan diperbolehkan mengisap ganja, tanaman favorit Siwa. Mereka akan melumuri tubuh dengan abu, lalu menyalakan pipa berisi ganja. Ritual ini bertujuan menghalau kesenangan duniawi, untuk selanjutnya meleburkan diri bersama alam semesta.”
‘Merayakan malam Haerath,
bertapa dalam kepulan asap marijuana.’ — “Haerath I”
Siwa adalah dewa pelebur. Simbolnya kama atau peju. Tugasnya menghancurkan setiap hal yang sudah usang dan tak layak lagi berada di dunia fana ini, oleh sebab itu harus dikembalikan kepada unsur-unsur asalnya.
Di EP ini sekuel Malam Haerath dirogoh dalam bentuk pokoknya: sistem sosial bobrok, depresiasi moral, nafsu agresor, mayat korban ideologi, teater sesat netizen, dan kemelut dendam manusia. Jika Jelang Malam sebuah jembatan kudus, maka Malam adalah tujuan hampa dari setiap nyawa yang berjuang mencari makna eksistensi, yang bertarung melawan pikiran sendiri, namun tetap berusaha bernapas meski hidupnya terkoyak. Sampai akhirnya kita memilih jalan kematian, adakah hal yang patut disesali?
Biar Siwa yang menjawab, memenggal leher dalam alibi giting kemuliaan ilahi.
Empat bulan pasca single pertama “Artileri” dirilis pada 30 Juni 2023, Operasi Banjir Al-Aqsa diluncurkan. Peristiwa 7 Oktober resmi dimulai, eskalasi konflik terbesar semenjak Perang Yom Kippur 1973. Sebanyak 3.000 roket militan Intifada Hamas ditembak menghanguskan kota-kota Israel di pinggiran Jalur Gaza. Instan menyebabkan 1.180 warga Israel mati, 2.400 terluka, dan menghasilkan 251 sandera. Balasan kemudian datang membabi buta, Operasi Pedang Besi dilancarkan tanpa pandang bulu. Rumah sakit, kamp pengungsi, masjid, sekolah, pemukiman sipil luluh lantak digenosida. Binasa rata dengan tanah: korban mati 73.000 warga Palestina dan 171.791 terluka.
Siwa pasti super sibuk belakangan ini. Tiga tahun setelahnya, sewaktu bait reffrein ‘rudal balistik dan gempuran artileri, sarapan pagi para petinggi negeri’ mulai sering bergema dilolong repertoar wajib kerumunan massa robokop, giliran 2.600 warga Iran mati dibantai bom sekutu Israel-Amerika Serikat. Berbanding sungguh timpang bak kesejahteraan rakyat Papua yang dijajah Jakarta, korban mati dari pihak Israel hanya berjumlah 61 orang.
Begitu remeh nyawa kita dihargai. Satu orang mati adalah sebuah tragedi, tapi bila ribuan nyawa nilainya cuma statistik. Sementara para pedagang senjata dan baron taipan hanyut bermandi matahari menikmati liburan musim panas mereka. Si vis pacem para bellum—kalau ci mendambakan perdamaian, bersiaplah menghadapi pertempuran. Karena selayak cinta sejati, seberapa pun berat rintangannya perang akan tetap mampu menemukan jalan untuk berlaku.
Bungut celak! Yapper fucker!
Konon fundamen ketukan rapat intro riff “Artileri” merupakan modifikasi lagu Blink-182 berjudul “Easy Target”. Seperti halnya “Kami Tahu” yang dicutrik dari Opeth atau “Kesurupan” dari Red Fang, Dewa Adi Sanjaya dan Pasek Darmawaysya membuka Malam dengan menciptakan letupan sinyal marabahaya. Kelihatan Jangar punya niat menanggalkan embel-embel stoner rock yang dulu melekat gara-gara begitu menggemari The Sword. Sama halnya Komunal yang berada di garis abu southern metal lantaran menjadi fans sejati Pantera sebelum akhirnya berhasil melepaskan diri lewat proklamasi Gemuruh Musik Pertiwi (Progresiv Barbar Musik, 2012), Jangar menyimpan motivasi serupa, ingin mendobrak sempit stigma pelabelan subgenre.
Luapan energi “Artileri” sepadan dengan “Konstan” atau “Negeri Nego”. Khas cadas, merajang keras. Liriknya menempatkan subjek pada posisi sudut pandang pertama seekor serdadu lapis baja saat pasukan memasuki kota musuh. Kebiadaban hati memanggil gairah bunuh yang telanjur menyentuh ubun-ubun. Perintah datang, dibasminya seluruh penduduk termasuk orang tua dan anak-anak.
Pada hakikatnya manusia tidak suka perang, kata Hermann Göring, Menteri Dalam Negeri – Komandan Angkatan Udara Nazi. Meski begitu, jelasnya lagi dalam otobiografi Germany Reborn, para pemimpinlah yang menentukan kebijakan, dan sangat mudah bagi mereka untuk bisa menghasut rakyat. Tinggal katakan saja negara sedang diserang, lalu kecam golongan pasifis dengan menyebut sikap perdamaian sebagai tindakan kontra patriot yang potensial membahayakan negara. Cara itu, mau diterapkan di negara demokrasi, kediktaktoran fasis, parlemen, atau kedikdaktoran komunis, pasti berhasil.
Sangat mungkin sosok pasifis pemberontak itulah ia sang tokoh ‘Aku’ yang diangkat di lagu “Tanah”. Wajahnya menghitam, tak bernyawa – tak dapat dikenali, tubuhnya disiksa, dihabisi, dilempar masuk kuburan massal. Hukuman bagi para pengkhianat nasion. Ibunya bertanya, menengadahkan wajah ke atas—sumber segala derita dan harapan, kapan putranya pulang. . . Atas tak menjawab, hanya tumpukan belulang menjadi saksi gelap ribuan doa manusia. Mati menyendiri, ditanam bersama bangkai-bangkai tikus.
Kadang kita lebih menderita di alam khayal dibanding menjalani kenyataan. Adegan-adegan lagu “Tanah” digurat via “Gerilya”, puisi W.S. Rendra yang mengungkap kisah tertembaknya seekor pejuang kemerdekaan, tujuh pelor bersarang, roboh terguling di depan pos kompeni. Dari situlah referensi tokoh ‘Aku’ dan ibunya memelintir peran, sementara judulnya mencomot nama seri pertama Musashi, novel samurai Eijo Yoshikawa terjemahan Indonesia.
Keberanian storytelling Pasek Darmawaysya mengibarkan plot sederhana tentang eksekusi mati seekor tapol berhasil menghidupkan imajinasi liar bagaimana malam-malam sakaratul itu dilewati. Kuku-kuku yang dicabuti, dengkul remuk, bolong betis disolder, serpih rusuk patah, perut tergiling gerinda, setruman zakar, congkelan kornea—semua api bengis yang berdegup ngilu seandainya orang kayak Hercules jadi presiden. Wapresnya, Anwar Congo.
Ini lagu kedua Jangar yang mengadaptasi literatur, setelah komik Tiger of Cilengkrang karya Alex Irzaqi menginspirasi “Aum Cilengkrang”.
Ada romantisme cetek yang melekat kepada pembaca sastra—paragraf ini didaur dari karousel Natan Book Shop—sebagai seekor pelamun melankolis di sudut kafe yang gemar merangkai kalimat puitis di pikiran. Sesat klise terbingkai ‘senja tolol’. Padahal sastra tidak dirancang untuk bikin kita rileks, membaca sastra membutuhkan keluwesan mental yang ekstrem. Harus mampu meluaskan ruang toleransi menghadapi ambiguitas moral dan kerumitan pilihan sikap hidup. Sastra tidak menawarkan penghakiman hitam-putih, kebaikan dan keburukan tidak ditakar secara polar benar atau salah seperti halnya teks buku formal. Sastra menuntut kita agar dapat memahami wilayah abu-abu psikologi manusia; setiap tindakan selalu dipengaruhi latar belakang dan memiliki struktur luka berlapis. Para pembaca sastra tulen mengerti sisi itu, saringan mental mereka jauh lebih tebal daripada emosi netizen rapuh yang kebakaran jenggot memaksakan kepatutan dengan cara menyempitkan perspektif. Sudah merupakan kompas moral pembaca sastra untuk tetap tenang di tengah situasi membingungkan, tetap subjektif, woles tanpa tergesa mengambil kesimpulan generik.
Betul kata Zen RS, yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar. Kalau sudah begitu, yang diuntungkan tentu saja politikus rezim, mereka tidak perlu lagi mencari pengalihan setiap kali keculasan terendus. Atau jangan-jangan semua keributan itu buah skenario fabrikasi akun-akun buzzer cecunguk rezim? Fakta kita dikaburkan oleh budaya spektakel media sosial. Negara memproduksi propaganda berisik guna mengelabui kita yang ternyata cukup bodoh untuk dapat dibuat terhibur begitu mudahnya hingga tak diberi celah berpikir.
‘Ada unggahan berbeda di lini massa,
minoritas salah bicara.
Injak mereka yang beda opini.
Literasi Wiki jadi landasan materi.’ — “Adiksi”
Peradaban tidak runtuh ketika kita berhenti membaca. Peradaban runtuh ketika menusia kehilangan kebiasaan berpikir. Tanpa berpikir, opini lebih mudah dipercaya daripada fakta, semosi lebih gampang menang dibanding logika, sehingga propaganda lebih cepat menyebar menutupi kebenaran. Problematika kecanduan telah bergeser, bila di album debut Jangar mengglorifikasi betapa halu tembakau sintetis, “Adiksi” menyoroti perilaku sawit generasi digital yang jumawa belagak superior padahal cuma berbekal pengalaman rutinitas doom scrolling. Media sosial membuat semua orang seakan wajib terburu-buru untuk memiliki opini sebelum memahami keseluruhan cerita. Tidak heran gampang sekali nabi palsu tercetak hari ini.
Dan itulah peran tokoh penutur di lagu “Adiksi”; sebagai pelaku komentar asbun, sekaligus konsumen korban yang menikmati meriahnya pertunjukan gigit menggigit sesama otak udang. Media sosial ibarat peribahasa maksud hati memeluk gunung, sudah terpeluk biawak celaka—inginnya mencerdaskan diri namun malah terperosok ke lembah kebodohan kapitalisme digital. Yang tersisa kemudian adalah orang-orang yang pandai berbicara, tetapi miskin memahami.
Secara semiotis, tone noir menyelubungi sekujur EP ini. Pekat, misterius, suram bersatu dengan kekalahan. Moral masing-masing karakternya kelabu, terkungkung pergulatan batin yang memaksa mereka memendam perih. Rintih jiwa meminta konsekuensi kehampaan, dalam keheningan merajut asa kematian yang terasa seperti emosi romantik. Kematian adalah opsi terbaik guna mewujudkan keadilan sebab hanya di alam kubur setiap manusia dapat berderajat setara.
“Jalan Pulang” memotret dialog batin di tengah kondisi mental noir yang ambruk. Dunia yang runtuh, harapannya yang putus, nuraninya buntu, selimut keraguan yang menghancurkan akal. Satu-satunya jalan heroik selain gantung diri adalah melakukan retret, waktunya melipir sejenak menyelami kontemplasi, menatap cermin refleksi demi pemulihan disorder. Pemaknaan holistik mengatakan, “Jalan Pulang” seakan menjadi kesimpulan final dari kebatilan nokturnal enam lagu di sini.
Setelah semua pembantaian, ignoransi, dan penghasutan yang telah diperbuat, gempa depresi dan ronta PTSD yang mereka rasakan terngiang kosmik, sungguh lezat mendengarkan siksa batin menggentayangi jiwa-jiwa target peleburan Siwa itu. Manusia seperti itu bahkan sudah mati sebelum diri mereka meninggal dunia. Dendam para korban menyeringai bahagia menyaksikan pembalasan terjadi.
Resensi ini tidak banyak membicarakan aspek aransemen musik yang sejujurnya memang kurang istimewa. Sebaliknya preseden positif ditangkap lewat pemaknaan terhadap tema-tema sosial politik kesukaan Jangar malah punya daya yang lebih resap di sini, sekaligus memperlihatkan keberanian mereka melebarkan sudut pandang cerita. Meski penilaian tersebut patut juga dipahami dengan mempertimbangkan hasrat hard rock yang coba diasah melalui keinginan bermain klasik. Maksudnya, Dewa Adi Sanjaya cenderung menyederhanakan riff-riff gitarnya. Heavy sound kini digubah mendukung paras sebuah band rock gelanggang. Lembap dengan progressive simplistis mengadopsi kegondrongan kalender Ace Frehley 1977. Tidak perlu diusung menggebu. Urgensinya tak berubah, tetap melahirkan komposisi plegmatis yang menuntun melodi bernyanyi, sebagaimana kekuatan utama lagu-lagu Jangar diimani selama ini.
Semoga konsep extended play bukan menjadi alasan untuk membenarkan upaya-upaya penciptaan yang sebenarnya tidak digodok secara maksimal.
Sayang nomor eklektik “Ada Lagi Yang Mati”, gubah ulang tembang Iwan Fals tidak bisa disertakan ke rilisan piringan hitam ini karena urusan hak cipta. Aransemen musik orisinalnya dikomposisi oleh Ian Antono yang beradaptasi mengikuti tren populer new wave di tahun 1988. Sebagai gantinya, “Tanah” dan “Jalan Pulang” disuguhkan akustik. Untuk pertama kalinya tuts piano berdenting di lagu Jangar, sekaligus membuktikan kemampuan versatile mereka dalam mengaransemen tanpa harus mengurangi seberkas pun kejantanan vokal Gusten Keniten. A lesson learned in life – known from the dawn of time. . . dan suara besarnya sanggup menerangi malam yang gelap.
Masa paling gelap dari perjalanan sebuah malam adalah ketika saat-saat menuju terbit fajar. Harus diakui Jangar adalah band terbesar generasi rock Bali pasca pandemi. Lagu-lagu mereka menyerangsang dan berurat akar. Ditambah militansi robokop turut membuktikan status kelayakan untuk pantas berdiri sejajar dalam satu liga titan bersama Lolot dan Superman Is Dead. Band-band raksasa milik rakyat. Sungguh takzim digdaya itu. Sedang album ini tergolong. . . uhm, apa ya istilah yang tepat digunakan untuk memperindah sebuah kualitas heavy stoned bertaraf rata-rata alias standar saja. . .
Laksatif.
