TRACK TALK: Finsmoonth – Chrysalis of Astral Tears (Disaster Records, 2026)

Kegetiran paripurna, begitu lah paket rilisan ini hadir, sebuah posthomous yang layak buat mendiang bassist yang berpulang lebih dulu jelang album ini.
Keheningan pecah. Album dibuka dengan geladak embun beku yang enggan mencair. Sedingin itu namun membahana tapi dengan cara yang aneh — langsung tempo kebut dan terasa tidak grasak-grusuk juga. Bukan dingin seperti ancaman. Ada sesuatu yang rapuh dan mengetahui kerapuhannya sendiri, lalu memilih tetap ada tanpa minta legitimasi. Enam trek biadab depresif pesimistis tanpa ampun. Embrio yang menyimpan bobot sakit yang tidak pernah sempat diucapkan. Finsmoonth bergerak seperti itu. Pelan. Dengan kepastian yang tidak perlu berteriak untuk membuktikan keabsolutannya.
“An Endless Depth” dikontaminasi getir. Bukan pahit. Karena ada upaya hengkang dari akar pahit yang menghancurkan diri sendiri. Tujuh menit total dipaksa masuk lubang hitam black metal melodius, style vokalnya mengingatkan gelombang kedua hingga selipan high-pitch ala Depressive Suicidal Black Metal seperti orang yang tahu ajal adalah jalan keluar. Tujuh menit yang tidak terasa tujuh menit dan itu bukan pujian kecil. Saya ingat Ghost Bath era Self Loather (2007). Entah bagaimana, harapan muncul di ujung saat clean vocal terlantun terang. Tidak diminta. Tanpa aba-aba. Tiba-tiba saja ada.
Gitar bergerak panjang seperti gulungan kuat yang menolak putus. Kering. Tidak diberi kosmetik. “Foliage of the Wings” membangun struktur yang terasa direntang tanpa memaksakan apapun. Ada kesabaran yang tidak terdengar seperti kemalasan, agak mirip orang yang tahu tepi sebuah jurang dan harus berhenti tepat di ujungnya. Perkusi mengikuti denyut ajeg dan tidak geradakan, menambatkan semuanya tanpa menambah beban. Tidak mencuri perhatian dalam konotasi positif. Artinya; pas
Saya suka balutan harmonisasi dan nuansa di akhir “Dimming Palette” setelah dihajar habis-habisan geruduk blastbeat dan tremolo picking redup. Momen di mana warna-warna di ingatan mulai kehilangan saturasi perlahan, seperti potret usang terlalu lama kena cahaya dan sudah terlambat diselamatkan. Riff melodius diinterupsi vokal harmonis yang datang seperti butiran logam hitam dari kejauhan, kasar di tepinya tapi sengaja ditaruh rendah sampai larut ke dalam kabut. Sebuah markah anak-anak terang.
Judulnya akurat dengan cara yang kejam. Palet yang meredup. Emosi yang memudar ke bayangan tapi tidak sepenuhnya hilang. Masih ada kecantikan di sana. Bagi saya, justru itu yang paling menyiksa. Jauh lebih mudah kalau semuanya langsung padam. Tapi nomor ini tidak memberi kemudahan itu. Ia menaruh kalian untuk disiksa dengan cara ditaruh pada titik di mana sesuatu masih bisa dikenali yang (sialnya lagi) sudah tak mungkin diraih secara utuh. Saya putar ulang bagian ini tiga kali sebelum lanjut ke trek berikutnya. Mungkin empat. Ah taik! Tidak terhitung.
Synthesizer di tiap trek tetap diam di belakang jadi resonansi mendung, setiap komponen dibiarkan terbuka seperti langit malam. Hampir terisolasi. Tapi tidak ada tendensi semena-mena jadi sebuah kesepian karena masih mampu berdiri menopang aransemen. Bukan kejernihan steril, melainkan kejernihan yang membiarkan setiap elemen bernafas di ruangnya masing-masing tanpa saling injak satu sama lain yang akhirnya jadi timpang bahkan obesitas.
Di “Luminous Unveiling” ada suara perempuan lebih tinggi muncul sebentar di permukaan tanpa tendensi melembutkan. Atau kasarnya melunakkan atau sehina demi daya tarik semata–pelebaran nuansa. Menambahkan garis vertikal tipis ke dalam semua yang selama ini cuma bergerak horizontal. Satu gestur kecil yang mengubah dimensi ruang tanpa mengubah cetak birunya. Seperti tabir diangkat perlahan dengan tangan gemetar tapi memaksa tetap gerak.
Di baliknya bukan keindahan yang langsung bisa diterima, melainkan kebenaran yang tumbuh dari sakit. Dua hal berdiri berdampingan tanpa saling menghancurkan, Finsmoonth coba membentengi keduanya tetap utuh. Tidak ada resolusi dan katarsis yang dipaksakan supaya pendengar pulang dengan perasaan lebih ringan. Trek ini manifestasi dari sakit, kebenaran yang tidak nyaman—serta cahaya yang ironisnya justru lebih menyilaukan karena datang dari tempat paling gelap.
“Embers at Ethereal Dawn” dan “Presomnal” menutup perjalanan ini dengan cara yang tidak dramatis. Brengseknya, justru itu yang bikin susah dilupakan. Saya lihat bara yang menyala sangat kecil di fajar yang tidak yakin mau terbit. Luka yang diayun pelan dalam nyanyian yang tidak minta didengar tapi saya dengarkan juga sampai habis. Ada sesuatu di dua nomor penutup ini yang terasa seperti orang yang sudah selesai menangis tapi belum mau beranjak dari tempatnya duduk. Dan saya milih untuk tetap tak beranjak.
Chrysalis of Astral Tears menetap dalam bentuk yang presisi. Menolak geser seinci pun. Garis menyempit dan yang tersisa setelah empat puluh satu menit tiga puluh tiga detik adalah bekas dingin dan persisten. Tidak ada kehangatan apalagi busur narasi yang membawa kalian dari titik A ke titik B dengan cara yang bisa dijelaskan ke orang yang belum pasang dengar. Cuma keheningan yang dibentuk oleh disiplin yang tidak pernah sekali pun kehilangan kendali atas diri sendiri. Kekuatannya ada di sana, sebuah cara memijak tanahnya tanpa coba eksplanasi berlebihan.
Dan yang paling berselindung mengganggu. Setelah album ini selesai tidak ada satu momen yang bisa kalian tunjuk dan terjemahkan. Terlalu limbung dan murung. Dan itulah black metal. Tak ada riff yang menghantui pula tidak ada barisan vokal yang tersangkut. Tapi ampas pekat itu tetap ada. Gentayangan di tempat yang tidak bisa kalian lokasi dengan tepat di mana ia bersemayam. Mental ini serasa ditelanjangi. Bajingan!
Album ini adalah ruang untuk membiarkan semua yang selama ini ditahan akhirnya jatuh. Sebuah posthumous bagi Maulana Fachrul, sang bassist yang berpulang di waktu berdekatan sebelum album ini rilis. Dan itu mungkin jadi faktor emosional yang paling kena dari semua yang album ini tawarkan. Pelan-pelan. Terakhir, kalian tidak perlu menjelaskan kenapa menangis. Finsmoonth tidak akan tanya.
