X

TRACK TALK: BLEACH TO DEATH – Sacrificing Your Beliefs (Disaster Records / Holding On Records / Retribution, 2026))

by Karel / 1 month ago / 221 Views / 0 Comments /

Alih-alih catchy, Bleach (kini dengan tambahan ‘To Death’) kukuh bercokol dengan otot impresif metallic-hardcore yang menyayat kejam bin agresif.


Ada hasrat cukup menarik dalam beberapa tahun terakhir bila membacoti variabel metallic hardcore atau metalcore tradisional yang kembali dipercaya sebagai rock and roll untuk menggurat musik ekstrem secara utuh dan perlu. Setelah sempat tenggelam di bawah gelombang band-band yang terkesan wara-wiri mengejar presisi teknikal, modernist dan ledakan yang somewhat itu ‘dikurasi’ industri, banyak band justru berbalik arah. Anomali pariah ini membuka kembali arsip klasik kode pos H8000, mutasi straight edge ke hardcore iblis dan evolusi diversitas ranah tersebut dengan melumat thrash, death, black secara seksama.

Mari melebar; ubek kembali etos Good Life Recordings, eksperimentasi Vic DiCara untuk 108, bulldog Victory, classy Firestorm (1996), jumpalitan Imprint (1998) hingga bobot-bibit-bebet Trustkill di era akhir 90-an ke proto Y2K. Ketika identitas macam Arkangel, Liar, Poison The Well, Damnation AD, Congress, All Out War sampai Will Haven, Cold As Life dan Glassjaw belum benar-benar menjadi referensi yang dikutip untuk perwujudan perangai para hardcore kiddos. Bukan untuk pengulangan semata. Tapi untuk mencari sesuatu yang perlahan hilang mutunya. Kesabaran plus keuletan. Menuju keyakinan bahwa kemarahan tidak harus terburu-buru, toh nanti lelah juga brur! Di titik itulah tajuk Sacrificing Your Beliefs menemukan bom waktunya.

Bleach… To Death tidak datang dengan klaim besar dan sok-sokan tanggah. Mereka tidak memposisikan diri sebagai penyelamat genre tertentu dan merasa mutakhir sendiri. Anak-anak ini tidak menjual narasi kuda hitam dari rumpun Asia Tenggara yang ingin diakui global. Sejak EP self-titled (2020), Chrome (2023), hingga Cursed Life Fades (2025) yang membuat katalog Triple B, Northern Unrest, DAZE hingga The Coming Strife terdengar seperti tetangga yang sudah lama akrab—BTD hanya melakukan satu hal dengan konsistensi yang membandel; menulis lagu yang tahu persis mengapa riff tertentu perlu diulang, chugging breakdown perlu ditahan beberapa bar lebih lama dari yang semula nyaman dan mengais kemarahan yang paling berbahaya tidak selalu paling keras. Mereka sudah sering melakukan pergeseran ini itu, eksplorasi dari bermain a la Baltimore style yang kece, fresh sampai meliukkan UKHC meets crossover macam Leeway yang disamarkan oleh jubah Big Cheese hingga mencamit buncahan metalik testosteron yang berada di Arise (1991). 

Perubahan di album sophomore ini bukan sekadar agresinya. Sejak awal, band ini tidak pernah kekurangan tenaga. Justru yang berubah adalah kesabarannya. Sebagai bukti, muncul pada mukadimah “First Fall”. Jembatan awal yang tidak tergesa-gesa membangun suasana, melainkan mengunci kegagahan karakter kuintet Bandung ini. Riff pertamanya menekan ke bawah dengan massa yang mengingatkan pada cara State Craft merotasi groove Slayer dengan benar. Menempatkan ketegangan, bukan dengan kebut namun dengan gravitasi dan seorang Michael Sippan masuk bukan untuk berteriak tapi untuk mengucapkan sesuatu dengan intensitas orang yang sudah terlalu lama menahan.

 

‘You swore you’d never bend
Now you bow just to fit in
The hollow shell of who you were
Now you bow just to fit in
Rotting under borrowed words

 

Tidak ada ornamen. Kalimat yang menancap justru karena tidak mencoba lebih dalam dari yang dimaksudnya.

Ada satu kebiasaan yang terus muncul sepanjang album. Ketika satu gitar Kevin Raf Sanjani mengunci alur utama, sedangkan Krisna Rinaldi jarang memilih jalur yang sama—ia bergerak sedikit ke samping, menyisipkan harmoni atau nada gantung yang membuat riffing tidak berhenti sebagai pola ritmis semata. Peran pemain bas Axel Siagian dan drummer Muhammad Luthfi begitu distingtif. Efeknya, simpel tapi kumulatif: lagu-lagu Bleach To Death terasa lebih lebar tanpa harus terdengar megah. 

Tradisi ini bukan hal baru. Sila cek gertakannya pada Turmoil, adapula Morning Again era prima As Tradition Dies Slowly (1998), laju Merauder merajut thrashy-NYHC masterpiece Master Killer (1996) sebagai sesuatu yang mengembang di bawah kulit sebelum meledak—BTD menyerapnya tanpa terdengar seperti sedang mendompleng gamblang.

Nomor titel “Sacrificing Your Beliefs” menegaskan posisi album secara tematik. Liriknya tidak berbicara tentang pengkhianatan yang datang dari luar, tapi dari dalam—momen ketika seseorang melihat dirinya sendiri di cermin dan menyadari ia sudah menukar sesuatu yang dulu diyakininya dengan sesuatu yang lebih nyaman.

 

‘You gave up the fire that once kept you alive
Traded your truth for a fragile lie
For something fleeting, something weak
You killed the voice you claimed to keep’

 

Tema hardcore oldschool, tapi cukup delivering tanpa harus seolah tengah berkhotbah dan gestur jari yang ditunjuk ke arah pendengar. Malah lebih seperti pengakuan yang diucapkan dengan gigi yang tengah terkatup.

“Anguish” dan “Ache” berdiri berdampingan dan berfungsi seperti dua cara berbicara tentang rasa yang sama. “Anguish” lebih frontal, tremolo picking-nya sesekali menarik kilat death metal ke permukaan—Obituary dan Morbid Angel yang sejak awal sudah diakui sebagai pengaruh tidak benar-benar tersembunyi. Tak luput ada alternative rock terkini yang terkesan berat a la Soul Blind mengintip tipis di depan.

Sedangkan, “Ache” bergerak lebih lelet, membiarkan kesakitannya mengendap tanpa terburu-buru mencari jalan keluar. Di antara keduanya, Kevin cs memperlihatkan sesuatu yang lebih banyak band seharusnya pelajari. Bahwa menghantam pada intensitas yang sama sepanjang album akhirnya tidak menghantam siapapun. Peran Ferly (Jasad) sebagai co produser sungguh kentara di nomor satu ini. 

Lanjut “Menace” yang tidak butuh penjelasan panjang. Tegas tanpa ampun. Beatdown-nya datang di posisi yang persis seperti tanda baca di akhir kalimat yang sudah sejak tadi menuju ke sana. Bleach To Death tahu kapan harus menahan dan kapan harus melepas dan di lagu ini, pelepasan itu terasa seperti keputusan, bukan kebetulan. 

Lalu “The Chosen Hate”, sosok Vicky Mono masuk sebagai tamu, dan kolaborasi ini tidak terdengar seperti nama besar yang ditempel demi promosi. Dirinya masuk ke dalam tubuh lagu seperti seseorang yang memang sudah lama mengenal bahasa yang sedang dibicarakan. Dua orbit Bandung yang jarang benar-benar bersentuhan, menemukan bahwa akar mereka lebih dalam dari yang pernah dibicarakan secara terbuka. Keduanya meracik pion post hardcore dan metal secara serentak. Vicky membawa cara mengucapkan amarah yang berbeda dari Mike: lebih kenyang, cenderung paham (jam terbang) bahwa kemarahan yang bertahan bukan yang paling keras tapi yang paling dijaga. 

Tapi yang membuat lagu ini melampaui dirinya sendiri datang di ujungnya: skits Eben slash Aries Tanto—pendiri Burgerkill yang wafat September 2021—tengah bersenandung pelan sambil memetik gitar persis aura Cornell menyanyikan “Seasons”, 24 tahun silam. 

Tidak ada keterangan dan narasi yang memandu pendengar tentang apa yang harus dirasakan. Suara itu datang, tinggal sebentar, lalu pergi dan dalam keheningan setelahnya, “The Chosen Hate” berhenti menjadi lagu tentang kegeraman. Ia menjadi sesuatu tentang kesinambungan: tentang bagaimana seseorang melampaui fisiknya dan terus hadir di musik orang-orang yang tumbuh di dekatnya, bahkan tanpa pernah diminta.

Kalau ada satu hal yang mengganjal, justru datang dari keberanian Bleach To Death sendiri. Mereka tampaknya punya terlalu banyak ide dalam durasi yang terlalu singkat. Beberapa riff terbaik di album ini menghilang sebelum sempat benar-benar menetap, layaknya penulis kaliber medioker yang terlalu cepat membalik halaman karena takut pembacanya bosan, padahal halaman sebelumnya baru saja menemukan ritme yang mengasyikkan. Beberapa transisi antar bagian juga masih memilih keputusan yang paling efektif ketimbang yang paling mengejutkan. Tidak terlalu fatal, tapi terdengar begitu kentara.

“A Score to Settle” dan “Executed” berlari lebih kencang dan melaju sebegitu singkat. Tapi tunggu, “Hell Is In” mengejutkan dengan groove yang berbeda, lebih melebar, condong ke White Pony mengambil ruang tanpa permisi in a way. “Skull Fractures” menutup tanpa menawarkan katarsis apa-apa. Riff berulang sampai energi habis diperas, meninggalkan ruang sunyi yang terasa ganjil. Penutup yang tepat bagi album yang sejak awal lebih tertarik mengajukan pertanyaan daripada menyediakan jawaban.

Ya, Bleach To Death tidak sedang menghidupkan kembali serpihan metalcore kuno. Mereka sedang mengembalikan etos zaman baheula dalam menulis lagu—dan itu perbedaan yang lebih penting dari yang kelihatannya. Sebagai contoh mungil, banyak band revival hari ini hafal bunyi Undying atau Martyr AD. Sedikit yang paham mengapa nama mereka pernah terdengar se-prominen itu.

Sacrificing Your Beliefs mungkin hanya menjadi album metallic hardcore yang berhenti di kata ‘solid’. Maka Bleach To Death memilih jalan lain dengan memperlakukan setiap lagu seperti sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan bukan hanya dimainkan. Itu sebabnya album ini bertahan lebih lama dari durasinya sendiri. Dan, untuk musik yang lahir dari kemarahan, tidak ada pujian yang lebih baik dari itu.

Tagged

#disaster records #Metalcore #retribution records #holding on records #classic metalcore