X

Melestarikan Sunda dan Skramz ala Swarm

by Ilham Fadhilah / 11 months ago / 930 Views / 0 Comments /

Bangun dari reruntuhan Gauth dan Glare, Swarm malah menawarkan pendekatan skramz yang berbeda; selipan unsur budaya Sunda.

Nama Swarm tampaknya memang tidak bisa dianggap sepele. Meskipun terbilang belia, namun dalam kurun waktu singkat sejak kemunculannya mereka mampu menyita banyak perhatian penikmat musik arus pinggir.

Selain katalog musiknya yang memang punya formula termutakhir dari campuran antara screamo dan post-rock, live preformance-nya juga terbilang memukau – baik dari segi permainan maupun bagaimana upaya mereka membangun experience yang berbeda bagi penontonnya.

Grup yang kini dihuni oleh enam personil tersebut seakan sukses membuat siapa pun yang pertama kali menyaksikannya tak ingin menjadikan itu yang terakhir. Mereka benar-benar memikirkan berbagai aspek demi membuat penampilannya berkesan. Mulai dari tampilan panggung, vibes yang ingin dibangun, hingga kenyamanan bebauan yang mereka suguhkan lewat bakaran dupa di sekitar panggung pun mereka pikirkan. Setidaknya bagi saya, itu adalah sebuah strategi jitu untuk membius penyimak dan menjadikan kegiatan menonton mereka jadi sesuatu yang adiktif.

Tak hanya itu, sebagai salah satu saksi dari penampilan mereka di “In Punk We Skramz” besutan No Exit beberapa waktu lalu, mereka bahkan menyertakan permainan kecapi dari Majid Alska yang terasa khusyuk di awal set-nya.  Bayangkan hal tersebut disertai dengan cahaya remang-remang hangat berwarna kuning dari lampu tidur yang biasa mereka bawa sebagai dekoran panggung serta seliweran bau dupa. Singkatnya, Swarm benar-benar memberikan perhatian lebih di aspek suasana di setiap penampilannya. Silahkan garis bawahi hal tersebut untuk ekspektasimu.

Swarm di In Punk We Skramz. Credits: Sandi Kono

Dari semua aspek yang dipaparkan di atas, saya melihat sepertinya Swarm bukan sekedar proyek egois lanjutan dari Latif (vokal) dan Rafi (kini gitar, sebelumnya bass) setelah Gauth dan Glare, tapi bisa jadi ada hal lain yang coba dikedepankan oleh mereka di proyek terbarunya ini. Toh meski dari segi etos tetap merumput, namun entah kenapa kini mereka secara tak sengaja malah lebih terlihat stand out. Apakah lantaran beberapa eksperimen ‘penampilan’ coba-coba yang tadi saya sudah kemukakan di atas? Bisa jadi ya atau pun tidak.

Selain aspek live performance yang saya singgung barusan, Swarm seakan membuka cakrawala baru bagi saya pribadi. Sepertinya baru kali ini saya menemukan band screamo/skramz lokal yang mempunyai potongan lirik dan judul lagu berbahasa Sunda. Salah satunya tersirat di lagu “Tunggara” dalam EP Menyerbak Asap. Lagu itu memuat larik “Rasa kanyaah // bedeng runtuh // hirup ripuh, dunya tunggara.” Jika pendekatan ini terjadi pada band black metal mungkin tak akan terlalu mengherankan. Tapi ketika diusung menggunakan medio skramz, hal ini menarik bagi saya – karena biasanya band-band dari ceruk musik tersebut hanya fokus pada kemalangan dan kemuraman, bukan nilai-nilai kelokalan.

Apakah ini gelombang baru yang mengakulturasi unsur kelokalan dengan musik cutting-edge? Karena saya pun teringat adanya entitas lain seperti Leipzig yang melakukan pendekatan dan penulisan lirik serupa. Atau ada agenda tersendiri soal memperkenalkan atau melestarikan budaya lewat medium musik arus pinggir?

Guna menumpas rasa penasaran tadi, saya pun mengajukan sesi wawancara langsung dengan mereka yang akhirnya terlaksana pada Kamis, 20 Juli lalu di offline store Quickening Bandung. Dihadiri oleh Latif, Rafi, Biman (gitar), Yudha (bass) dan Bombom (drum). Satu personel mereka, Fikri (gitar) urung datang lantaran alasan yang saya lupa apa alasannya. Tanpa pengantar, saya langsung menodong mereka dengan pertanyaan yang persis seperti di paragraf sebelumnya.

***

“Sebenernya (kalau soal lagu) waktu itu pas lagi nulis lagu buat di Menyerbak Asap, saya stuck pas mau masukin lirik Bahasa. Nggak tau gimana waktu itu kepikirannya Bahasa Sunda yang punya artian menderita dan ketika googling-googling nemu kata “tunggara”, karena dari maknanya masuk dan kedengerannya catchy, akhirnya dipake. Sesimpel itu sih”, pungkas Latif.

“Mungkin secara pribadi, saya emang dekat dengan nilai-nilai kelokalan lah ya. Saya sama Rafi sih khususnya. Kita kan tergabung di Rumah Kultur dan sering ngelakuin aktivasi-aktivasi yang arahnya ke sana. Jadi kebawa aja sih”, tambahnya.

“Berarti emang secara pribadi kalian emang suka hal-hal seperti itu, ya?” balas saya. 

“Kalo saya suka, tapi (personel) yang lain nggak tau, hahaha”, sahutnya.

“Kalo saya sama Bombom sempet punya grup karinding dulu waktu SMA”, tambah Biman.

Tak lama kemudian, Latif pun menyinggung grup karinding yang dulu sewaktu di bangku sekolah pernah dilakoninya. Hal tersebut membuat ke-Sundaan bak mendarah daging di dalam raga para personel Swarm – meski memang mereka tidak berniat untuk ‘menjual’-nya atau melekatkannya jadi identitas Swarm.

“Kalo emang kayak gitu, konon katanya kalian pernah mengklaim diri sebagai ‘screamo wiwitan’, bener? Itu gimana ceritanya?” tanya saya. Sontak gelak tawa pun pecah, seraya mengingat sesuatu yang menggelikan atau seperti orang yang ketangkap basah menyembunyikan sesuatu.

“Kalo personal saya ya, saya suka mengamini bercandaan temen-temen. Misal ada yang nyebut kita screamo apa gitu, ya udah kita klaim aja sekalian, hahaha”, jawab Latif.

“Atau buat ngejawab pertanyaan kayak ‘kalian tuh skramz-nya kayak apa sih?’ Skramz wiwitan!” tambah Rafi. 

Credits: Sandi Kono

Bukan bermaksud membandingkan, namun saya tak bisa menemukan entitas lain yang punya identitas serupa (membawa kebudayaan Sunda dalam musik cutting-edge) selain Leipzig dan mereka berdua hampir muncul secara bersamaan. Saya pun lantas menanyakan apakah kuartet Mario, Mirza, Ryan dan Iman tersebut berpengaruh terhadap ke-Sundaan mereka.

“Kita sih sebenernya nggak tau kalo mereka bakal kayak gitu (juga), karena pas kita rilis tuh mereka juga rilis. Seinget saya tuh kaset Menyerbak Asap sama Garbage Disposal Unit ada bareng di RSD (tahun itu) di Warkop Musik”, jawab Biman dan Latif. 

“Karena sejauh ini apa yang kita lakuin semuanya organik sih, jadi mungkin nggak ada pengaruhnya”, tutup Rafi. 

“Bicara soal panggung kalian yang terakhir saya tonton (In Punk We Skramz), kalian kan nyertain permainan kacapi juga tuh. Lengkap dengan dupa yang bikin itu jadi punya nuansa cult. Itu apa sih maksudnya?” tanya saya.

“Kalo kenapa kemarin kita ngajak Majid (pemain kacapi) pas opening itu karena saya sering sama dia. Yaaa ngikutin lah kegiatan dia, termasuk main kacapi. Jadinya kepikiran juga sekaligus nuntasin penasaran respon orang bakal gimana kalau Majid kita sertain dalam set. Selain itu kita juga barengin sama Rajah (rapalan Sunda) dalam bentuk VO. Nah kalau dupa teh…”, jeda Latif sembari memikirkan kata-kata berikutnya.

“Aroma terapi we sebenerna mah!” potong Biman.

“Kalau dupa yang kemaren tuh kita emang kerjasama bareng studio desain yang namanya Mahardika Studio. Kita emang udah ada rencana buat kolaborasi bareng mereka. Tapi berhubung mereka udah punya produk berupa dupa, akhirnya mereka men-suppport dengan produk itu”, lanjut Latif.

Ternyata bukan demi sebuah cult status, tapi kepentingan bisnis. Namun saya pikir, untungnya pilihan itu berimbas mujur dan bisa dibilang efisien dari segi guna penampilan. Karena konon mereka memang ingin membuat penampilan mereka terasa memanjakan segala indera penontonnya; pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan perasa. Meski untuk dua poin terakhir nampaknya masih mereka pikirkan karena sejauh ini saya belum melihat bentuk konkret dari aspek tersebut.

Credits: Agung Dafin

“Emang sekarang-sekarang kita malah lagi ngulik di luar musiknya. Jadi setelah beres tur dan rilis Menyerbak Asap tuh secara respon orang unexpected gitu ketika kita menyuguhkan ada lampu dan akhir-akhir ini ada dupa. Jadi saya pikir, kita nggak bakal treatment kuping pendengar aja untuk rilisan baru, tapi semua indera yang mereka punya”, jawab Latif.

“Kecuali indera keenam ya, hahaha,” salip Biman.

“Berarti apa sih yang bakal kalian tonjolin selanjutnya? Apakah nilai-nilai kelokalan masih bakal terus kalian junjung?” tanya saya.

“Masih ada. Sekarang juga saya masih mencoba buat nulis lagu yang lebih banyak menggunakan Bahasa Sunda. Mungkin unsur-unsur lainnya apa lagi ya? Kayaknya sih dari narasi.

Jadi narasinya tuh kita nyeritain satu keluarga fiktif berlatar waktu tahun ‘50 atau ‘60-an, di mana tahun-tahun itu kan bisa dibilang masa-masa kelam lah di sini. Jadi mungkin rilisan berikutnya akan jadi turunan cerita dari apa yang sudah kita ceritakan di Menyerbak Asap. Nah, karena saya ngambil vibes-nya dari era itu dan ketika saya riset, era itu pun mereka berbudaya, pastinya itu bakal berpengaruh sih ke rilisan Swarm berikutnya,” tegas Latif. 

“Jadi kalian bakal ngeluarin apa di rilisan format apa berikutnya?” tanya saya.

“Kita sih nggak pernah matok, sejadinya aja, berhubung sekarang masih workshop, jadi ya udah sikat aja dulu”, terangnya.

“Tapi kayaknya sih album. Kayaknya ya,” Biman memecahkan kecanggungan antar para personel Swarm soal pertanyaan itu.

***

Tak heran kalau Swarm mendapat perhatian lebih dan membawa skramz menjadi lebih menarik dari format biasanya. Jika memang menurut kamu pun demikian, maka cara Swarm melestarikan budaya lewat skramz bakal jadi sebuah terobosan yang pintar – membuat budaya dan musik cutting-edge diminati secara bersamaan. 

Mungkin skramz yang umum ditemui di koridor gorong-gorong bakal semakin menemukan jalurnya menuju permukaan. Tentunya jika hal ini terjadi suatu hari nanti, Swarm punya andil besar dalam mengharumkan namanya di kancah musik yang lebih luas, seharum dupa yang aromanya kerap melipir di panggungnya. 

Dengarkan Menyerbak Asap di bawah ini!

Tagged

#bandung #interview #swarm #skramz