X

Campur Tangan Berserk dalam Kreativitas Doldrey

by webadmin / 1 year ago / 2175 Views / 0 Comments /

Kejahatan. Kebengisan. Kekejian. Kebiadaban. Mungkin itulah kesamaan antara musik Doldrey dengan manga fantasi klasik yang berjudul Berserk.

Cvlt Nation menempatkan Celestial Deconstruction di peringkat pertama dalam kategori sepuluh rilisan album terbaik stenchcore/crush tahun 2022. Argumennya tertulis: ‘Setiap lagu di dalamnya antemik, memicu kebusukan-kebusukan yang perlahan merayap masuk ke dalam gendang telinga namun takan merasa cukup, diputar ulang, lagi dan lagi. Kombinasi tepat gencatan stenchcore dan death metal untuk satu tujuan: mencapai kekacauan yang sempurna.’

Saya menghampiri salah satu personil Doldrey di sela waktu mereka sebelum on stage. “Sulit untuk dijelaskan,” Farhan mulai menerka-nerka ketika ditanya bagaimana ia menguraikan musik yang Doldrey mainkan, “mungkin saya lebih tertarik menyebut musik kami punk dengan pengaruh death metal. Penggabungan riff-riff death juga black metal dengan dorongan energi punk,” sambungnya.

Perbincangan kami berlangsung di samping toilet IFI Bandung; lokasi helatan Disaster Showcase vol. 24. Titik kedua dari rangkaian tour kolaborasi bertajuk “Celestian Extinction Tour” dengan Doldrey dan Masakre di setiap panggung yang akan mereka jamah.

Malam itu, pemilihan line-up yang dihadirkan bisa dianggap sebagai sebuah komposisi tanpa kompromi: Haul,  Blackhawk, Ancient, Critical Issue, Masakre dan tentunya Doldrey.

Bilangan absolut pendobrak mutakhir dalam kapasitasnya masing-masing. Para pengail nafsu binatang spektator yang berkerumun di depan aksi panggung mereka untuk saling mengendus dan menerjang setiap tubuh yang terdiri dari: pesakitan, normal, pemburu medan ganas, dan pengidap malu-malu anjing di tepian moshpit. Kenikmatan barbarian. Pantang bagi siapapun pengidap addison dianjurkan datang demi tindak pencegahan pertama overdosis adrenalin.

Curi dengar di riuh sesak penonton, seseorang berbisik; pentas ini mendemonstrasikan bagaimana HM-2 selayaknya dioptimalkan – juga menjadi ajang nostalgia bagi mereka orang-orang tua saksi hidup yang merasakan langsung pengalaman mendengarkan album Left Hand Path di periode waktu 1990-an.

Foto: Fauzan Khadim

Nostalgia. Emosi kompleks yang seringkali berdetak seperti kanker bila sesumbar menyikapinya. Kanker yang membiak kembang kempis pada benak setiap tahanan berbau masa lalu, atau mereka yang beroleh pikiran bahwa satu-satunya cara untuk memperbaiki hidup adalah dengan memutar ulang waktu, alias pembual rasa sesal. Namun selalu ada dua sisi dari pelbagai hal, dalam artian, nostalgia pun bermanfaat menimbulkan rasa memiliki, afiliasi, atau kontinuitas yang lebih tinggi antara masa lalu dan masa kini seseorang.

Dalam kasus Doldrey, nostalgia berguna untuk mengingat afiliasi mereka dengan ketukan Mammoth Grinder, mentahan Anti-Cimex, dan agresi Entombed atau band- band Scandinavian sejenisnya. Intensitas tinggi, kotoran dan nanah bermetafora menciprat ke segala arah dari semua trek yang dimainkan pada malam hari itu.

Saya telah melihat banyak cedera sebelumnya. Namun yang ini agak aneh. Tengkorang retak, otak prolaps. Seorang teman mengaku tidak pernah sedetik pun menyentuh musik ekstrem sengaja hadir demi kehendaknya yang tidak mau diketahui orang. Terlalu sesumbar; kepala terbentur ke lantai, tetapi pria malang itu terus berontak. Seolah-olah ia tersengat listrik. Sampai akhirnya benar-benar tepar lalu kejat total. Ia kewalahan, bernapas dengan mulut menganga lebar, dan berusaha mengatur ulang kesadarannya. Bagi kami setan-setan tua, suatu kepuasan jahat teraktifkan tatkala melihatnya dalam kondisi tersebut. Sebaliknya, hal mematikan bagi yang lemah.

“Saya pikir kancah musik ekstrem Indonesia adalah salah satu yang terbaik. Saya merasa Doldrey akan lebih cocok dengan scene di Indonesia. Tidak bermaksud menjelekkan, namun situasi di Singapura tidak secair di sini,” Farhan memberikan kesaksiannya.

Doldrey menyulut kekalutan yang termanifestasikan di auditorium IFI. Representasi sempurna dari chapter manga Berserk: The Battle for Doldrey, bab yang mengisahkan perpanjangan perang yang sudah berlangsung seratus tahun lamanya. Pemenang dari pertempuran tersebut dapat ditentukan jika salah satu dari dua kubu yang sedang berperang dapat menguasai Doldrey. Digambarkan dalam manga, Doldrey merupakan benteng yang dianggap tidak bisa dihancurkan – dikelilingi oleh pegunungan dan gurun luas, dengan sungai di antara mereka.

Berserk adalah serial manga dark fantasy karya Kentaro Miura berlatarkan kerajaan fiksi bernama Midland yang terinspirasi dari keadaan Eropa di abad pertengahan. Berserk mengisahkan kehidupan Guts, seorang pendekar pedang yang dikenal sebagai “The Black Swordman”, dan Griffith, pemimpin pasukan tentara bayaran yang disebut “Band of The Hawk”. Mulai digarap pada tahun 1989 dan masih berjalan – sangat lambat – kelanjutan serinya hingga saat ini.

Sudah lama intimasi Farhan dengan Berserk terjalin. Tepatnya di tahun 2012 ia mulai menggasak manga itu. Lalu ia coba melibatkan seluruh pengalaman estetika yang tertangkap ketika membaca Berserk ke dalam proses kreatif bermusiknya. “Saya sangat mendalami Berserk,” garis muka antusias ia tunjukan, “Sebelum Doldrey dibentuk – saya, Aidil dan Danis sudah bermain di sebuah band bernama Zodd. Nama band itu juga diambil dari salah satu karakter Berserk. Saya sangat into Berserk dan ingin menamai band-band yang akan saya buat nantinya berhubungan dengan Berserk juga.”

Salah satu panel dari komik Berserk (Hakuseensha Inc. 1990, Dark Horse Comics. 2003)

Antusiasmenya itu ia tularkan kepada anggota Doldrey lainnya; Aidil yang bertanggung jawab pada vokal dan lirik, lantas mengimplementasikan kisah dan filosofi yang tertuang pada Berserk ke dalam lirik-lirik yang ia gurat di beberapa lagu Doldrey. Hasilnya terlihat pada nomor berjudul “Blood of Serpent” yang merepresentasikan cerita di bab pembuka Berserk: The Black Swordman, momen ketika Guts terlahir kembali melibas siapapun yang menghalangi jalannya termasuk siluman ular penguasa Koka Castle.

I am reborn. Out of the depths Into the light. Led by despair

Out from the shadows

Case through the eye of the serpent Transcend from the depths of despair

From the blood of the serpent bleeds Stain the soil from your defeat

Bathed in the blood of the serpent I am reborn through the pain

“Aidil memiliki semacam naluri membuat lirik bertemakan malapetaka atau saya lebih suka menyebutnya impending doom. Semacam Berserk tetapi tidak secara teknis menjiplak, hanya seperti terpengaruh saja,” ujar Farhan.

Kejahatan. Kebengisan. Kekejian. Kebiadaban. The Idea of Evil adalah konsep sentral dari Berserk. Keadaan berserker yang diartikan ‘mengamuk’ dalam manga Berserk merupakan kondisi paling jahat dan menakutkan yang bisa terjadi pada diri seorang manusia. Di dalamnya terdapat perang mutlak pergulatan batin melawan pluralitas tak terbatas. Tujuan utama dari berserker dicapai dengan luapan amarah dan kebrutalan yang tercecar. Namun tujuannya itu bukan berlandaskan keinginan untuk berbuat jahat, bukan pula untuk membuat orang lain menderita. Tetapi hanya keinginan tanpa pamrih yang melahirkan kemarahan murni bermanifestasi sebagai pembantaian.

Memasuki dunia Berserk berarti memasuki pengulitan dari materi bidang astral makhluk-makhluk mitos beserta magisnya. MFAXII paham betul akan hal itu sekaligus menunggangi dengan cakap konsep The Idea of Evil: entitas di dunia Berserk yang hanya bisa dilihat melalui pendalaman setiap fragmen. Keberadaan dan tujuannya hanya terungkap dan dikembangkan dalam bab-bab pendek yang dibuat oleh Kentaro Miura. Melalui tangan MFAXII, sampul album Celestial Deconstruction digarap; artwork yang mencelikkan satu momen dari bab pembuka Berserk di mana figur manusia bersetelan armor medieval (Guts) sedang mengacungkan tombak pada monster ular (Penguasa Koka Castle).

“Saya tahu tentang dia dari Masakre, kami berteman baik dengan mereka. Lalu MFAXII mengerjakan artwork Masakre dan saya memiliki impresi bahwa ia dapat menerjemahkan konsep yang saya mau,” kata Farhan, lalu sergap menekankan: “Tidak semua output yang dihasilkan oleh Doldrey mengacu langsung dari Berserk. Terpengaruh, iya. Namun dalam cakupan yang lebih luas, topik-topik seputar pergulatan hidup manusia lebih kami coba implementasikan dalam karya-karya yang kami ciptakan.”

Ide konseptual yang diterapkan oleh Doldrey sebenarnya bukan hal yang baru. Bolt Thrower pernah melakukan hal serupa ketika mereka terpikat seri Warhammer dari Game Workshop. Alih-alih mengusung tema-tema selingkung darah atau satanik seperti band-band death metal era awal, atau komentar sosial terbuka yang disuarakan grindcore, lirik-lirik Bolt Thrower berfokus sepenuhnya pada peperangan. Bahkan nama band itu sendiri diambil dari sebuah unit artileri kerdil dalam game tersebut. Sama halnya Doldrey yang terpengaruh Berserk, keunggulan dari band- band dengan ide konseptual yang terinspirasi dari cerita fantasi atau fiksi ilmiah adalah memungkinkan bagi mereka untuk menangani topik yang lebih mendalam dan lebih eksistensial.

Namun Farhan sudah mengamini sejak lama pesan yang tertanam pada Berserk, bahwa manusia bergulat dengan kehidupan setiap harinya. Termasuk ketika membicarakan pergulatan manusia dengan mimpi-mimpinya. Mimpi dan harapan. Setiap orang rindu untuk mengejar impiannya, setiap orang tersiksa pula oleh impiannya. Namun mimpi-mimpi itu memberi arti bagi kehidupan, dan manusia memiliki kecenderungan untuk tidak membiarkan dengan mudah semua itu lepas atau meninggalkannya. Lalu di beberapa penghujung malam yang kejam terkadang – akibat dari kesulitan menguasai diri – manusia dengan sengaja melontarkan pertanyaan yang malah berbalik resah menyelimutinya; seperti Guts yang terus mencari jawaban: ‘Apakah manusia dapat memiliki sesuatu yang lebih kokoh daripada mimpi itu sendiri?’

Ditulis oleh: Fauzan Bakhdim

Tagged

#report #metal #interview #indonesia #doldrey

Leave a Reply