TRACK TALK: Coldskin – Fragments of Failure (Disaster Records, 2025)

Meninjau album debut metal/hardcore lokal menjanjikan dengan lanskap lapangan hijau.
Bila rentetan musik dapat diibaratkan sebagai pertandingan sepak bola, maka album debut Coldskin, Fragments of Failure adalah sebuah babak pertama yang dimulai dengan intensitas tinggi di level liga bal-balan Eropa. Masih kerap diwarnai beberapa kesalahan minor yang membuat skor akhir terasa kurang memuaskan, meski secara keseluruhan performa mereka di atas lapangan patut diacungi jempol. Grup metallic hardcore asal Jakarta ini—yang baru terbentuk di awal 2023—layaknya tim underdog yang nekat bermain ofensif melawan tim raksasa, dan hasilnya? Sebuah pertarungan keras yang meninggalkan luka robek di pelipis mata kiri berkat duel udara, cedera otot ligamen tepat di paha kanan sekaligus janji akan masa depan yang lebih cerah.
Album ini—yang ditelurkan Disaster Records—mempunyai game plan yang jelas: taktis juga menghancurkan. Dari opening track yang cuma berdurasi 38 detik, “Abandoned Realms,” Coldskin langsung menembakkan blast beat dan riff yang seakan terbuat dari baja padat. Tanpa basa-basi, tak perlu warming up ketat. Ini seperti peluit pertandingan ditiup, dan bola langsung merangsek kencang ke sepertiga akhir gawang lawan. Intensitas yang sama terus dijaga di sepanjang album ini.
Duo gitaris, Dennis Mandalyca dan Praditya Eka Putra, adalah tulang punggung serangan Coldskin. Mereka berdua seperti duo penyerang depan mematikan yang tahu persis cara merobek pertahanan lawan. Riff-riff mereka sangat terinspirasi dari Swedish chainsaw tones, mengingatkan kita pada kekerasan terorganisir ala At The Gates (RIP Tompa, anyway) atau Black Breath. Tone gitarnya tajam, kering, dan menusuk, memberikan sensasi pendengaran seperti diserang oleh kawanan lebah gergaji. Coba dengarkan “Guiltless Eyes” atau “Void of Absence,” dan kalian akan merasakan bagaimana Dennis dan Adit mengolah si kulit bundar (baca: riff) dengan presisi tingkat tinggi sebelum menyelesaikannya dengan tendangan jarak dekat yang menyusur tajam persis duet Ribery-Robben di era prima mereka.

Lini belakang Coldskin, yang diisi oleh Ghani Noorputrawan di posisi drum, adalah salah satu bintang lapangan yang paling bersinar. Permainannya sangat efisien dan efektif. Tidak ada drum fill yang mubazir, tidak ada manuver aneh-aneh. Ghani adalah tipe pemain bertahan yang perannya sangat vital: menjaga kedalaman terutama tempo, menahan laju serangan lawan, dan memastikan setiap pergerakan tim (lagu) tetap solid. Blast beat nan cepat, breakdown-nya tebal dan menghancurkan, seperti bek tengah yang sigap menutup ruang tembak lawan dengan body check yang keras ala Bastoni di Internazionale.
Namun, di tengah semua intensitas ini, ada satu elemen yang membuat Fragments of Failure terasa agak tricky: Yoel Hutapea, sang vokalis. Yoel adalah pengatur serangan yang perannya begitu sentral. Vokalnya agresif, penuh amarah, dan menyampaikan lirik dengan kekuatan luar biasa. Namun, beberapa kali vokalnya terasa sedikit ‘kosong’ atau kurang bervolume, seakan mikrofonnya tidak pas diletakkan di mulutnya. Ini adalah sebuah blunder kecil yang kadang mengganggu, seperti seorang pemain yang sudah punya teknik dribble luar biasa tapi gagal dalam sentuhan akhir. Tapi jangan salah, ketika Yoel “on form” bak Mesut Ozil, dia bisa mencetak gol indah melengkung keras. Tanpa ampun.
Kerja sama tim Coldskin juga patut diperhatikan. Mereka berhasil menyajikan lagu-lagu dengan aransemen yang padat dan tanpa tedeng aling. Rata-rata lagu hanya berdurasi 2-3 menit, membuat album ini terasa seperti pertandingan sepak bola 15 menit yang tiada henti jual beli serangan. Seru. Mereka tidak memberi kesempatan untuk bernapas. Tracklist-nya diatur dengan baik, dengan breakdown-breakdown brutal yang terasa seperti gol-gol kejutan yang datang di waktu genting. Contohnya di lagu “Insomnolence Plague” dan “The Conqueror” yang benar-benar memuaskan dahaga akan kekerasan.
Analisis Taktis Tambahan: Amunisi dari Pemain Kunci
Kolaborasi dengan Danang Prihantoro atau Unbound (Speedkill, Petaka, Derai) di lagu “Fragments of Failure” bukan cuma pemanis semata, tapi sebuah pernyataan strategis. Kehadiran Danang di sini berfungsi seperti false nine yang tugasnya menyelesaikan pekerjaan kotor di mulut gawang. Jika vokal Yoel Hutapea sudah cukup galak, suara Danang yang lebih dalam dan gravelly masuk sebagai sebuah ledakan sonik yang datang tanpa peringatan, berdiri bebas tanpa kawal lantas memberikan finishing telak di momen krusial. Ini adalah serangan kejutan yang membuat lagu terasa lebih berlapis dan mematikan.
Di sisi lain, Stephania Shakila Cornelia dari Rekah masuk di single andalan “Disbelief” sebagai gelandang box to box yang memberikan sentuhan artistik tidak terduga. Tipikal versatile player coeg! Untaian scream-nya yang melengking tinggi menciptakan kontras tajam dengan vokal brutal Yoel dan instrumen yang straight forward. Peran Tepi yakni melungsurkan serangan balik yang elegan, menunjukkan bahwa Coldskin juga punya sisi lain yang lebih cermat dan terstruktur.
Album ini digarap dengan sangat teliti. Proses mixing dan mastering dilakukan di Invasion Studio, Depok oleh Praditya Eka Putra. Dirinya memastikan setiap riff dan pukulan drum terdengar tajam dan presisi, menciptakan ruang sonik yang agresif dan padat. Ini seperti sebuah stadion yang dirancang untuk menjaga suara tetap menggema dan penuh tekanan. Secara lirik, album ini adalah sebuah catatan filosofis yang gelap. Liriknya yang ditulis oleh Yoel Hutapea dan Dennis Mandalyca, berfokus pada perjuangan individu melawan trauma, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Konsepnya terinspirasi dari Kintsugi, filosofi Jepang yang melihat keindahan pada retakan dan ketidaksempurnaan. Desain cover artwork yang ciamik digarap oleh Stephania Shakila Cornelia, semakin memperkuat tema ini.
Secara statistik, Fragments of Failure mencatat durasi total 27 menit, dengan 12 trek dan 3 vokalis tamu (yang diibaratkan sebagai pemain kunci yang langsung memberikan dampak). Rasanya Coldskin hanya berhasil mencetak 7 dari 10 “gol” yang bisa mereka ciptakan. Album ini brutal, jujur, dan memiliki esensi kintsugi—filosofi Jepang tentang memperbaiki benda pecah dengan emas—yang tercermin dalam lirik mereka yang membahas trauma dan kegagalan.
Coldskin berhasil mengubah “pecahan” kegagalan menjadi sesuatu yang berharga, tapi mereka masih perlu polesan lagi untuk menjadikan “keramik”-nya sempurna. Ini adalah dentuman keras yang datang dari sebuah tim yang tahu betul cara bermain. Mungkin ada sedikit cela, tapi secara keseluruhan, ini adalah sebuah pertandingan yang dimenangkan dengan skor cukup meyakinkan. Dapat dibilang sebuah cetak biru Coldskin sendiri untuk masa depan yang brutal.
For fans of: Knocked Loose, Nails, Kublai Khan TX, dan band-band yang menyukai tendangan keras tanpa basa-basi di jala lawan.
Teks oleh Karel