TRACK TALK: Exhumation / Funeral Chant – Sacred Oath: Temple of Death (Carbonized Records, 2026)

Timur dan Barat tidak perlu berdamai untuk sepakat membunuh. Hanya satu kepentingan: kegelapan kekal yang tidak butuh penerjemah sana-sini.
Dua kuil iblis angkuh berjajar dengan satu persembahan. Yogyakarta dan Oakland tidak memiliki alasan logis untuk saling menyapa. Satu kota tumbuh di bawah bayangan gunung berapi yang bisa meletus kapan saja dan jangan lupa negaranya masih bobrok, satu lagi membusuk dengan anggun di tepian teluk yang sudah lama kehilangan ilusinya juga utopis American Dreams. Tapi toh kegelapan tidak butuh peta. Sacred Oath: Temple of Death bukan kolaborasi dalam pengertian yang hangat dan ramah. Rautan satu ini lebih seperti dua pisau yang diasah di batu yang berbeda, kemudian disilangkan di atas leher yang sama. Kalian siap? Coba berikan darah dan jantungmu itu!
Exhumation membuka panji dengan “Master’s Prayer.” Kalau kalian sudah kenalan dengan Master’s Personae (Pulverised, 2024), antum-antum bakal langsung sadar bahwa band Jogja ini sudah lama berhenti bermain dengan tulang belulang death metal yang dipinjam dari kakek moyang mereka. Kini, mereka punya bahasa sendiri. Riff-riff yang datang dengan kecepatan agak miring, seperti seseorang yang berjalan mantap tapi matanya melirik ke arah yang tak semestinya. Ada genuine thrash di sana, puing ancient black metal pun mengatung. Ada sesuatu yang terasa seperti ritual ketimbang pertunjukan. “Meditation Through Death” melanjutkan dengan densitas yang sama. Mahteh. Tidak terlalu tergesa-gesa terkesan tak perlu pamer, namun tegas dan dingin seperti batu nisan yang baru saja selesai dipahat.
Tuah revelasi di sisi Exhumation adalah “Everlasting Wail.” Bila tiga lagu sebelumnya datang seperti pedang yang diasah berulang-ulang, nomor ini datang seperti gua yang tiba-tiba menganga di lantai kamar. Di atas delapan menit, dengan atmosfer yang merayap masuk pelan-pelan sebelum akhirnya benar-benar menenggelamkannya. Mencuatkan elemen death/doom yang tidak pernah mereka perlihatkan sesadis ini sebelumnya. Lalu peran D. Miasma, yang merekam lead guitar-nya jauh di Skotlandia sebelum di-re-amp balik ke Watchtower Studio Yogyakarta, mengisi ruang-ruang kosong dalam komposisi ini dengan cara yang terasa seperti arsitektur, bukan sekadar ornamen semata. A new level!
Kemudian Funeral Chant masuk ke lapangan permainan, lantas suasana bergeser. Oakland selalu punya sesuatu yang berbeda dari death metal khas pantai timur. Bengis, kotor, murung bahkan lebih paranoiak, laksana mabuk arak Karangasem campur jamur belel Jatinangor di lorong belakang gudang tua daripada di bawah lampu neon. Funeral Chant adalah unit yang beroperasi di logika itu dengan sangat sadar. Tiga lagu mereka, “Testimony of Fire,” “In Feverdreams…,” dan “Sepulchral Pillars of the Funereal Gate” hadir dengan energi yang berbeda dari Exhumation tapi tidak pernah terasa salah tempat. Di mana Exhumation bergerak dengan semacam gravitasi ritualistik yang terukur, sedangkan Funeral Chant hadir lebih frontal dan serampangan dalam cara yang disengaja. Watashi suka banget ini. Thrashing early-90s Swedish death yang dicampur paranoia hitam USDM era Merciless.
“In Feverdreams…” adalah momen tercepat di seluruh rekaman ini, blitz yang singkat dan bersih. Serupa double shot espresso setelah hampir tertidur. Penutupnya, “Sepulchral Pillars of the Funereal Gate,” hadir panjang dan atmosferik. Seperti menjawab “Everlasting Wail” dari kubu Exhumation dengan bahasa yang sedikit berbeda tapi maksud yang sama: mengubur kamu hidup-hidup, perlahan sambil tersenyum. Seganas perbuatan dynamic duo Yakjuj dan Makjuj sebelum diberangus cacing oleh Yesus Kristus.
Alih-alih dua algojo ini menyelesaikan titah death metal dengan mumpuni namun senantiasa split ini tidak bisa dikemukakan sempurna dan adalah dosa untuk tidak mengatakannya. Masalah terbesar Sacred Oath: Temple of Death bukan pada kualitas materinya, tapi pada distribusi berat. Empat lagu Exhumation terasa seperti babak pertama sebuah full-length yang tiba-tiba dipotong sebelum klimaksnya benar-benar meledak. “Everlasting Wail” membuka pintu menuju sesuatu yang sangat dalam, lalu rekaman ini justru berpindah tangan ke Funeral Chant. Transisi tersebut, betapa pun masuk akalnya secara konseptual, terasa seperti terbangun dari mimpi yang bagus karena alarm berbunyi. Funeral Chant butuh lebih banyak pocket space seperti peran Jude Bellingham di Real Madrid. Tiga lagu untuk ukuran band yang sedang dalam fase ekspansi seperti ini terasa terlalu pelit, terutama ketika “Sepulchral Pillars of the Funereal Gate” mulai menunjukkan dimensi yang jauh lebih luas dari apa yang sempat mereka perlihatkan di Dawn of Annihilation (Carbonized, 2021). Rasanya seperti habis berkenalan sejenak, lalu orang itu pergi begitu saja.
Ada juga persoalan produksi yang layak dicatat tanpa harus mendramatisirnya. Proses perekaman Exhumation yang tersebar antara Yogyakarta, Skotlandia dan Ohio, meski hasilnya kohesif, sesekali terasa terlalu rapi di beberapa lapisan mid-range, terutama di momen-momen di mana lagu seharusnya bernafas lebih lebar dan menjorok. Bukan steril, tapi belum cukup berdarah. Di sisi Funeral Chant, mixing Justin Divverand di “Forbidden Chambers” terasa lebih mentah dan organik, paradoksnya. Justru lebih terasa seperti kaset bootleg yang kamu beli dari aa-aa bertato di pojok distro metal/punk, dan itu adalah pujian setinggi langit.
Dan satu hal kecil yang agak mengganjal, tajuk split ini Sacred Oath: Temple of Death, terasa sedikit terlalu deklaratif, terkesan sungguh harfiah untuk dua eksponen yang sesungguhnya berbicara dalam bahasa di mana dapat jauh lebih subversif dari judulnya sendiri. Seperti menutupi lukisan gelap dengan bingkai emas murah. Konten di dalamnya lebih bengis dari apa yang dijanjikan sampulnya.
Tapi di atas semua catatan itu, Sacred Oath: Temple of Death tetap adalah salah satu split paling substansial yang keluar di kuartal awal 2026. Mendapuk satu argumen terkuat bahwasanya Exhumation telah berada di level yang sepatutnya didengar jauh melampaui batas scene lokal. Mereka bukan lagi band Indonesia yang kebetulan bagus. Mereka band death metal global yang kebetulan lahir di Yogyakarta saja.
Carbonized Records paham apa yang mereka sedang pegang. Dua band, satu votum, sumpah yang diucapkan dalam dua liturgi berbeda, tapi daging kurbannya sami mawon. Timur dan Barat tidak bertemu di tengah di sini. Mereka berkelindan satu sama lain di gorong-gorong, tempat satu-satunya bahasa yang berlaku adalah riff kejam dan kegelapan.
