X

TRACK TALK: Alice – Derai EP (Disaster Records, 2026)

by Ilham Fadhilah / 6 months ago / 396 Views / 0 Comments /

Sebuah paketan hemat berisi tiga lagu yang menjanjikan dari Alice jelang album penuhnya, mengembalikan marwah lama dengan kebaruan tanpa ganjalan berarti. 


Terberkatilah 2026 buat mereka yang jengah dengan tren musik hari ini. Metalcore, ehem.. tepatnya ‘chaotic’ hardcore–lebih kompleks, lebih ngitung, lebih sulit trending–kembali tergugah buat terdeteksi, meski mereka tak pernah benar-benar mati, hanya terpinggirkan oleh musik sejenis yang cenderung ‘ear-friendly’. Converge muncul dengan album baru, sebagai satu dari sekian band yang terilhaminya, Alice tak mau kalah, Derai EP pun mereka kenalkan. Kembali memberangus setelah mengantarkannya dengan nomor lunak, “Tanpa Jelaga” beberapa waktu lalu. 

EP ini adalah nafas baru Alice yang konon siap buat album baru beberapa waktu ke depan. Hidup kembali setelah mati suri akibat kekosongan kursi personel ibarat tenang sebelum badai. Mereka masih membawa marwah yang kita kenal lewat Konsorsium Humaniora (Heaven Records, 2010) atau mungkin self-titled EP (Lawless Records, 2013), meski sempat bikin single lepasan “Your Beloved Hex” yang memuat nuansa cukup berbeda: lebih berani menyisipkan unsur nyanyi dan akor miring siratan Collapse.

Beruntung mereka kembali, menyusul daftar hardcore kacau lokal yang belakangan tak begitu diperhitungkan. Mungkin spesies ini sedikit berkembang biak, sementara pemain lama sibuk hibernasi. Seharusnya, setelah Cloudburst muncul dengan Clear Blue Sky (Lawless Records, 2025), Rassuk rajin rilis beberapa tahun terakhir, kancah ini semakin menemukan gairahnya. Namun sayangnya talenta seemas itu belum mendobrak begitu kuat, diharapkan kemunculan EP ini bisa kasih gedoran lebih.

Derai berisi muatan hemat: tiga nomor termasuk satu single promo. Setelah mengecoh pendengar dengan “Tanpa Jelaga”, di mana mungkin diantaranya kadung menurunkan ekspektasi seraya berpikir, “Mungkin mereka sudah tumpul bermain ganjil”. Keskeptisan tersebut justru didamprat nomor penendang bokong “_,_”. Jabat tangan tak sopan sebagai nomor pembuka, atau mungkin perkenalan kembali dengan badan Alice yang kini diperkuat Kevin Almer pada drum, diapit tiga wajah familiar di formasi terprima mereka. 

Sebagai paketan singkat, langkah yang tepat buat mereka membukanya dengan cara demikian. “_,_” membawa segala potensi yang bisa dibawa Alice: bermain ganjil, padat, namun tetap luwes secara pendekatan. Bagaimana tidak? setelah dideru hardcore melodis nan agresif, seketika kita dihamparkan pada lapangan luas dalam alunan tenang jazzy (atau apapun itu) selama beberapa detik hingga akhirnya kembali dikoyak kuartet ini sampai habis selama sekitar satu menit. Alih-alih terasa singkat, mereka memaksimalkan semua pengalaman secara compact dengan durasi terbatas. What a kickoff!

Kemudian tensi menurun dan “Tanpa Jelaga” pun bersenandung. ‘Anomali’ yang justru mereka anak emaskan. Seakan pamer kalau unit ini tak hanya cakap bermain kacau, tapi menciptakan lagu bernyanyi yang catchy, meskipun ini bukan pendekatan yang benar-benar baru, mengingat sejak “Your Beloved Hex” mereka sudah berani mengeksplor teritorial itu. Agak menyiratkan Collapse di sepenggal lagu meski tetap Poison The Well-ish di sisa durasi.

Buat saya pribadi, daya pukau itu muncul saat riff yang terinspirasi dari anggunnya petikan gitar di “3 Libras”-nya A Perfect Circle dimainkan ketika 3/4 lagu sudah bergulir. Menyulap indahnya akor ringkas tersebut in an alternative way, namun tak sulit bagi siapapun penikmat Mer de Noms untuk mendeteksi dari mana ilham itu berasal. Tak heran kalau 3/4 member bilang part itu jadi favoritnya. Dari keseluruhan lagu, bagian itu yang paling kuat energi magisnya: bayangkan part klimaks di nomor hardcore dibubuhi riff ‘miring’ nan elok tanpa terdengar melunak. Menghasilkan impresi yang abstrak, seperti ambivalensi dalam jiwa lagu itu sendiri. 

Perjalanan yang penuh impresi di dua nomor barusan kemudian ditutup dengan “Abstrak Anomali”, mengembalikan Alice ke agresi awal seperti saat mereka membuka EP ini. Tak ada lagi bagian mellow pemantik renungan, tak ada lagi alunan mengayun lesu, mereka tancap gas penuh. Menggerus durasi dengan congkak skill penuh ugal. Tak ada celah untuk menghela nafas kecuali saat aduhainya groove solo bass dibetot saat memasuki menit pertama. Sisanya, mereka tahu bagaimana harus menutupnya tanpa terkesan usai, karena tendensinya untuk menjaga rasa penasaran tetap menghantui pendengar jelang album penuhnya nanti benar-benar mengudara.

Tiga lagu habis ditenggak. Satu-satunya hal yang mengganjal buat saya di Derai EP ini hanya urusan tracklist-nya. Entah kenapa penempatan “Tanpa Jelaga” di tengah apitan dua nomor tensi tinggi menurunkan intensitas saat menyimaknya secara beruntun. Terlebih muatannya yang sedikit membuatnya begitu kontras. Mungkin kita bisa kompromi jika urutan trek 2 dan 3-nya ditukar. Biarkan nomor minim gairah chaotic jadi cara mereka menutup rilisan. Namun bagaimana pun akan terasa janggal pula jika maksud mereka justru ingin menggantung pendengar agar tetap ganjal sampai albumnya benar-benar rilis. Hfft..daripada menyoalkan hal yang sudah kadung, ada baiknya kita nantikan album penuhnya saja. Semoga tak mengecewakan. 

Tapi jika melihat dari materi yang disuguhkan di EP ini, seharusnya tak ada keraguan yang hinggap. Sudah sepatutnya tancapkan antusias tinggi dan mata awas pada Alice atau kroni Disaster Records. Derai adalah jaminan jika albumnya layak dinanti. 

Tagged

#alice #hardcore #mathcore #disaster records #chaotic hardcore