TRACK TALK: Love as Punishment – Kunang-kunang (Loide Records, 2026)

Menangkap momen-momen kecil yang samar lewat perpaduan ambient, trip hop, dub, dan dream pop yang terasa hangat sekaligus sulit digenggam.
Ada jenis musik yang terasa seperti cahaya kecil di ujung penglihatan: terlalu jauh untuk disentuh, terlalu singkat untuk benar-benar dipahami, tetapi cukup terang untuk membuat kita menoleh. Kunang-Kunang, judul dari EP terbaru Love as Punishment, bekerja kurang lebih seperti itu. Empat lagunya tidak menawarkan banyak hal untuk digenggam. Beat muncul lalu menghilang, vokal berputar dalam kalimat-kalimat pendek, gitar dan synthesizer mengambang di antara dub, trip-hop, dream pop, dan ambient. Semakin lama didengarkan, semakin terasa bahwa duo asal Medan ini tidak sedang mencoba membawa pendengar menuju suatu tujuan.
Menariknya, Arick Ahong dan Ais Marciano bahkan belum pernah benar-benar melihat kunang-kunang. Mereka mengenalnya dari film, footage, dan cerita orang lain. Barangkali itu justru menjelaskan mengapa judul tersebut terasa begitu tepat. Kunang-Kunang tidak terdengar seperti rekaman tentang sesuatu yang pernah mereka miliki, melainkan tentang perasaan yang samar-samar kita kenali meski sulit menjelaskan asalnya. Seperti hujan yang datang tepat ketika dibutuhkan, sebuah gestur kecil yang tiba-tiba terasa berarti, atau sisa gema lagu beberapa detik setelah musik berhenti. Di tangan Love as Punishment, hal-hal kecil semacam itu berubah menjadi empat lagu yang terasa familiar tanpa pernah benar-benar bisa ditangkap.
“Hujan Tepat Waktu” membuka EP dengan gitar akustik yang pelan-pelan ditarik masuk ke dalam electronica dan trip hop. Tetapi yang paling cepat menempel justru kalimat, “Apa indah bila langit terlalu lama biru?” yang terus diulang sepanjang lagu. Repetisi ini bisa saja terasa sederhana, tetapi justru menjadi hook yang sangat efektif. Bahkan setelah lagu selesai, pertanyaan tersebut masih terasa menggantung. Ada sesuatu yang menyenangkan dari cara Love as Punishment tidak buru-buru menjawab pertanyaannya sendiri. Mereka hanya mengulanginya, membiarkan kalimat sederhana itu berubah makna setiap kali terdengar.
Dari sana, Kunang-Kunang mulai menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu tertarik membuat empat lagu dengan formula yang sama. “Fingers” menjadi bagian paling padat dari EP, dengan lapisan-lapisan suara yang terus bertambah tanpa membuat ruang di dalamnya terasa sesak. Ini mungkin salah satu kualitas produksi paling menarik dari rilisan ini. Analog drum machine yang baru masuk ke palet Love as Punishment tidak digunakan untuk membuat musik terdengar lebih besar atau lebih agresif. Justru sebaliknya, bunyi tersebut diberi cukup ruang untuk hidup bersama echo, tekstur, dan ambience.
Kemudian datang “Kunang-Kunang”, lagu yang menurut saya menjadi pusat gravitasi dalam EP. Tak muluk-muluk rasanya jika menganggap bassline-nya adalah salah satu yang paling memorable dari rilisan lokal tahun ini. Ia tidak perlu terlalu rumit untuk bekerja, justru groove yang sederhana itu memberi tubuh pada seluruh kabut suara di sekelilingnya. Ada juga aksen vokal ketika kata “Gesturmu” dinyanyikan, yang terdengar sedikit kaku seperti seseorang yang sebenarnya tidak terbiasa berbicara bahasa Indonesia. Alih-alih mengganggu, ketidaksempurnaan kecil tersebut malah memberikan karakter. Rasanya seperti menemukan detail kecil dalam sebuah foto yang awalnya tidak kita sadari.
Secara musikal, “Kunang-Kunang” juga menjadi titik ketika pengaruh dub dan psychedelia terasa paling jelas. Vokal dibuat berjarak, echo dibiarkan memantul, sementara instrumen seperti terus mencari bentuknya sendiri. Kalau beberapa lagu dream pop menggunakan efek untuk membuat semuanya terdengar lebih cantik, Love as Punishment menggunakan efek sebagai bagian dari komposisi. Suara-suara tersebut dibiarkan memantul dan menghilang. Ada sesuatu yang cukup dekat dengan cara King Tubby atau The Orb memperlakukan ruang, meski Love as Punishment tetap memiliki karakter yang jauh lebih intimate dan minimal.
Penutupnya, “Life’s Not Always About You”, mengambil jalan yang paling ringan. Beat perlahan ditarik keluar, tempo bertahan lewat shaker yang lembut, sementara ambient wash mengisi ruang yang tersisa. Tidak ada usaha membuat klimaks besar sebagai penutup. Lagu ini seperti sengaja dibiarkan pergi begitu saja. Pilihan tersebut terasa tepat karena kalau EP ini memang berbicara tentang momen-momen yang hanya muncul sebentar, mungkin ending yang paling cocok memang bukan ledakan, melainkan sesuatu yang perlahan hilang dari pandangan.
Di sinilah artwork Kunang-Kunang juga terasa sangat tepat. Sleep mask yang digunakan sebagai visual utama seakan memberi kita satu instruksi sederhana: tutup mata dan bayangkan sendiri. Setiap lagu dalam EP ini seperti memberikan gambar yang berbeda. “Hujan Tepat Waktu” bisa terasa seperti jalan basah setelah hujan atau “Life’s Not Always About You” yang penuh tamparan realita penuh warna yang rasanya tidak seindah itu karena rasanya sulit untuk digapai. Tidak ada visual yang benar-benar ditentukan oleh musiknya. Pendengar dibebaskan membuat filmnya sendiri di kepala.
Hal lain yang cukup kuat dari Kunang-Kunang adalah keputusan untuk tidak membuat lirik sebagai pusat perhatian. Kalimat-kalimatnya pendek, repetitif, lalu dibiarkan larut dalam reverb dan echo. Ini membuat Love as Punishment terdengar seperti sedang menggunakan vokal sebagai instrumen tambahan. Pendekatan semacam ini bukan sesuatu yang baru dalam dream pop atau ambient, tetapi di tangan mereka terasa cukup natural karena musiknya memang memberi banyak ruang untuk suara mengambang di antara instrumen.
Justru karena itu, ada satu hal yang terasa sedikit disayangkan. Setengah materi di EP ini masih menggunakan bahasa Inggris, padahal ketika Love as Punishment menggunakan bahasa Indonesia, hasilnya terasa jauh lebih personal dan punya identitas yang lebih kuat. “Apa indah bila langit terlalu lama biru?” adalah contoh kecil bagaimana bahasa Indonesia bisa menjadi bagian penting dari sound mereka, bukan cuma alat untuk menyampaikan lirik. Musik ambient-elektronik dengan lirik Indonesia yang pendek, repetitif, dan dibiarkan tenggelam dalam echo sebenarnya bisa menjadi USP yang sangat kuat untuk Love as Punishment. Terlebih, rilisan ini sendiri sudah menunjukkan bahwa mereka tidak membutuhkan lirik yang banyak untuk membuat sebuah kalimat tinggal lama di kepala.
Kritik kecil lainnya, kepadatan atmosfer yang menjadi kekuatan EP ini kadang membuat beberapa momen terasa terlalu berdekatan secara emosional. Kunang-Kunang sangat konsisten dalam membangun suasana, tetapi mungkin akan terasa lebih tajam jika ada satu trek yang benar-benar keluar sedikit dari formula tersebut, entah lewat perubahan tempo yang lebih ekstrem, struktur yang lebih berani, atau bahkan penggunaan instrumen yang lebih kontras. Namun ini lebih terasa sebagai kemungkinan arah berikutnya daripada masalah besar, karena empat lagu di sini memang sengaja dibangun sebagai satu kesatuan, bukan kumpulan single yang berdiri sendiri.
Pada akhirnya, Kunang-Kunang terasa seperti salah satu rilisan Love as Punishment yang paling jelas memperlihatkan apa yang sebenarnya mereka kejar. Bukan musik yang ingin memenuhi ruangan, tetapi yang membuat kita memperhatikan ruangan itu sendiri. Semuanya berjalan pelan, tetapi bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Seperti kunang-kunang yang menjadi judulnya, yang tersisa mungkin bukan bentuknya, melainkan cahayanya. Dan setelah empat lagu ini selesai, cukup sulit untuk tidak membawa sedikit cahaya itu keluar dari headphone.
https://www.instagram.com/p/DcImcwpAZKG/
