X

The True Thrash Metal Magelangan: Distorsi Kotor, Eksplorasi Visual, dan Kegelisahan Urban dari Slappy Ratz

by Ismail Noer Surendra / 1 month ago / 201 Views / 0 Comments /

Kenapa harus bangga jadi orang Magelang? Karena Magelang punya Borobudur, ikon Indonesia. Tapi Magelang juga punya Thrash Metal gawat, Slappy Ratz.


Menempuh jarak 90 km lebih dengan mobil sewaan, gerombolan Jawa Metal asal Magelang menuju Wonosari. Slappy Ratz, unit Thrash Metal asal Magelang pada malam minggu, 27 Juni 2026, dijadwalkan untuk tampil di gelaran Balas Libas volume 4. Malam itu Slappy Ratz akan mensyiarkan The True Pure Fucking Thrash Metal Magelangan. Sebuah jargon tentang kesungguhan, pengabdian, dan kecintaan mereka kepada musik Thrash Metal.

Balas Libas merupakan gelaran gigs tahunan yang digagas oleh pecinta musik bawah tanah di daerah ujung timur di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Gunung Kidul. Acara malam itu diadakan di sudut Terminal Dhaksinarga yang mangkrak dan sepi. Hingar bingar acara Balas Libas setidaknya bisa menghidupkan denyut Kota Wonosari yang memang dikenal sunyi ketika malam hari tiba. Gigs ini diinisiasi secara mandiri oleh Rumah Bamboo Tattoo Family.

Tampil dalam gelaran itu band-band dari Gunung Kidul, Jogjakarta, dan Magelang. Mereka adalah Murder, Waste Command, Radio Edit, Slappy Ratz, Der Jager, Panglima Kumbang, The Genk, dan ditutup oleh The Glad. Gigs yang cukup menarik karena genre para penampil tak  seragam. Yang menjadi patut didatangi juga tentu saja karena acara tersebut dilangsungkan di Ibu Kota Gunung Kidul yaitu Wonosari. Di sana kita bisa bersilaturahmi dan mengenal bagaimana skena musik Kota Handayani tersebut tumbuh dan berkembang.

Perjalanan menuju Wonosari dari Jogjakarta memang menempuh jarak yang lumayan. Untuk menuju ke sana mengendarai sepeda motor, saya harus melalui jalanan gelap, terjal, dan berliku. Untuk menuju ke Gunung Kidul lewat Piyungan, kita harus menerobos Alas Patuk yang penuh kelokan dengan lampu jalan yang minim. Selain itu, perjalanan juga mempunyai hambatan bus-bus pariwisata akhir pekan yang padat merayap. Oleh karena itu perjalanan menuju Gunung Kidul memang selalu mempunyai cerita tersendiri.

Saya sampai di lokasi cukup tepat waktu. Saat itu Murder, band pertama sedang tampil. Sesampainya di lokasi, saya membeli tiket OTS seharga 40 ribu di pintu masuk parkir. Cara bocah-bocah Gunung Kidul ini menarik tiket langsung di tempat parkir bisa dibilang adalah cara yang cerdas. Dengan menarik tiket di tempat masuk, para penonton yang berharap masuk dengan gratis dijamin urung.

Saya langsung menyapa Gindring Wasted, gitaris Slappy Ratz yang juga terkenal sebagai ilustrator. Saya melanjutkan obrolan awal sebelumnya saat saya menemuinya di Artjog akhir pekan sebelumnya. Gindring dalam gelaran Artjog berkesempatan berpameran dengan berkolaborasi dengan Eko Nugroho. Obrolan dibuka tentang komentarnya tentang Artjog yang jadi perbincangan karena didukung anak Presiden dan juga kurangnya apresiasi di bidang literasi setelah ia berhasil menerbitkan kolaborasi buku yang terbit beberapa tahun lalu. 

Yang cukup unik dalam gelaran Balas Libas, yang menjadi backstage tempat transit para band adalah stand warung kuliner yang tutup malam itu. Di bilik-bilik warung tutup itu, saya menemui gerombolan Jamet Magelang ini. Diketahui bahwa mereka berangkat dari Magelang dengan 7 orang, 4 personel selaku band dan 3 lainnya sebagai perewangan. Obrolan tentang musik keras pun berlanjut dengan topi miring dan bir yang diminum berputar.

20.30 tepat, Slappy Ratz dijadwalkan untuk naik panggung. Jadwal yang cukup tepat waktu untuk gigs yang diadakan secara amatiran seperti ini. Mereka menggeber panggung dengan intro seperti Megadeth. Permainan shredding gitar flying v memekik dipadu dentum drum yang menggebu membuka penampilan mereka malam itu. Total mereka memainkan 6 lagu yang ada di album Mudhorot (2016) dan beberapa single yang telah mereka rilis beberapa tahun lalu. Lagu yang mereka tampil pada gelaran Balas Libas adalah Pake Vangmv Dvlv, Polisi Skena, Markvtil, Masakan Nyokap, Motherfaker, dan ditutup oleh Thrash Njobo Njero.

Saya pernah menonton mereka dua kali sebelum penampilan mereka di Balas Libas kemarin. Penampilan tersebut adalah pada gelaran Cherrypop Festival 2023 dan Brang Breng Brong di tahun 2024. Gerombolan tikus Magelangan ini selalu tampil bergairah meski belum bisa dibilang sempurna. Mereka selalu tampil dengan gitar yang ditambahi kembang api seperti Sangkakala. Meski pada gelaran Balas Libas ini, sang vokalis Trendol tampil konyol dengan lupa menyalakan kembang apinya saat lagu pamungkas.

Pagi Megadeth, 
Siang Metallica,
Sore Slayer, 
Malam Anthrax…” 

Lirik dari lagu “Thrash Njobo Njero” memang bisa jadi hymne bagi pecinta musik Thrash. Thrash Metal Njobo Njero yang berarti Thrash Metal luar dalam seperti menjadi lagu kebangsaan yang patut dinyanyikan saat panji thrash metal dikibarkan. Tak perlu hormat dengan badan tegak seperti saat upacara bendera. Ketika lagu ini berkumandang, kita hanya perlu moshing dan sing along,

“Thrash Metal Njobo Njero!” (Thrash Metal lahir batin!)

Saya menemui mereka setelah tampil. Tampak mereka berkeringat meski angin Gunungkidul saat itu terasa dingin. Saya pun menyalami Trendol The Goat (vokal-gitar), Gindring Wasted (gitar), Yoyo Hand 2 Handy (bass), dan Bintan666 (drum). Penampilan gahar anak-anak muda menjelang 30 tahun ini memang patut diapresiasi. Pilihan untuk tetap teguh memegang teguh Thrash Metal sebagai pilihan hidup disaat genre ini mulai redup adalah pilihan yang patut diacungi jempol.

“Sebenarnya referensinya itu dari Metallica. Kalau di Bay Area punya Metallica, nah Magelang punya Slappy Ratz—The True Fucking Thrash Metal Magelangan. Jadi, pengennya membuat genre sendiri dengan membawa nama kota, seperti yang ada di Amerika itu.”

“Kenapa harus bangga jadi orang Magelang? Karena Magelang punya Borobudur, dan Borobudur adalah ikon Indonesia. Itu menjadi sebuah filosofi bahwa Magelang juga punya Thrash Metal, yaitu Slappy Ratz.” ucap Trendol yang semangat menjawab pertanyaan saya.

 

 

Trendol menjelaskan bahwa Slappy Ratz lahir dan tumbuh dari skena skateboard yang ada di Kota Magelang. Hal tersebut terpatri dari salah satu single mereka yaitu Skate, Drvnk, and Rock n Roll.  Dari kebiasaan nongkrong di skatepark itu, Trendol dan Gindring pun memutuskan untuk membuat band pada tahun 2022.

Nama Slappy Ratz sendiri pun diambil dari rutinitas bermain skateboard tengah malam yang biasa mereka lakukan. Nama Slappy mereka ambil dari salah satu trik bermain skateboard yaitu slappy grind. Sedangkan Ratz memiliki arti tikus yang adalah karena hewan tersebut hewan nokturnal–hidup ketika malam–persis mereka. Di awal terbentuk, mereka memainkan musik skate-rock seperti di EP Mbeling (2022). Setelah melakukan banyak eksplorasi, mereka pun akhirnya memutuskan memainkan musik full Thrash Metal seperti yang bisa didengarkan pada album Mudhorot (2024). Album Mudhorot berisi kemarahan-kemarahan kehidupan sosial anak muda dengan tema yang nyeleneh. Tema lirik yang mereka pilih terdengar seperti Metallic Ass, tapi tentu mereka terasa lebih se-thrash berat.

“Skena musik Magelang itu sangat monoton karena terlalu banyak mengikuti trend. Magelang ini termasuk second city (kota kedua), jadi apapun yang terkenal di Jogja, pasti diikuti oleh orang-orang Magelang—istilahnya melu-melu (ikut-ikutan). Magelang mungkin dikenal dengan Supreme Magelang atau Agus Magelangan itu, tapi di sini kami mencoba berbeda. Untuk band yang memainkan thrash metal dan tetap pede membawa identitas Magelang, ya Slappy Ratz ini” kata Trendol cengengesan.

Trendol mengungkapkan kendala menjadi band daerah tentu adalah keterbatasan panggung. Mereka menjadi jarang mempunyai arena uji coba. Event musik di Magelang rasanya didominasi musik populer dan ketika ada event yang lebih besar, acara tersebut akan mengundang band dari Jakarta atau Jogjakarta. Hal tersebut kerap membuat band-band Magelang kurang mendapat perhatian.

Tapi apakah itu membuat Slappy Ratz menyerah? Tapi jawaban Trendol selanjutnya sungguh sangat keren. “Susah cari panggung itu pasti, karena kita ini band daerah. Tapi kita belajar dari orang-orang yang bukan dari daerah, bahwasanya kita harus ‘sombong’ terhadap karya kita sendiri. Nah, rasa pede itulah nilai plus yang ingin dibanggakan oleh Slappy Ratz.”

“Secara pribadi, bagi saya yang paling penting itu musikalitas—lirik dan skill itu utama. Masalah asal daerah atau kesempatan main itu nomor dua, yang penting dipakai untuk melatih diri terus. Kami tidak menganggap ada kendala besar, cuma memang butuh effort lebih saja. Kalau kalian benar-benar thrash, semua hambatan ya harus ditabrak.” tambahnya sambil nyengir. 

Yang cukup menarik dari Slappy Ratz juga tentu visual yang mereka tampilkan di album dan juga merchandise yang mereka buat. Pilihan artistik ini tentu merupakan tanggung jawab penuh Gindring Peralta a.k.a Gindring Wasted. Pemuda berambut mulet ini memang dikenal sebagai ilustrator potensial dengan karya-karya visual yang kerap muncul di feeds sosial media. Karya wajah tengkorak Misfits atau corpse paint yang kerap disandingkan dengan kritik sosial merupakan ciri khasnya. Beberapa band yang visualnya pernah digarap oleh Gindring adalah Sukatani, DOM 65, hingga Gledeg. 

Gindring mengungkapkan Slappy Ratz juga merupakan perwujudan lain dari karya-karyanya dalam bentuk musik. Seperti menggambar, Slappy Ratz merupakan Gindring Wasted yang mbeling, tengil, urakan, tapi tetap kritis. Sejak awal Slappy Ratz terbentuk sudah terkonsep secara visual dan musik. Gindring biasanya melihat dari judul-judul lagu apa yang dibawakan, apa yang diteriakkan di lagu itu, baru ia bikin ilustrasi cover-nya berdasarkan inspirasi itu.

“Untuk urusan visual, semuanya saya yang pegang. Asalnya Slappy Ratz ini tidak jauh dari praktik kesenian saya sehari-hari, ini seperti perpanjangan tangan. Selain berkarya di kanvas atau media jalanan, musik menjadi salah satu media saya untuk berkarya,” ujar pemuda yang saat diwawancara kakinya sedang diperban karena insiden salah jatuh saat bermain skate.

Ngobrol dengan gerombolan pemuda Magelang ini memang seru. Obrolan tentu mengalir tentang musik thrash, visual, kaos band, kondisi politik, hingga gosip skena yang selalu menarik diperbincangkan. Obrolan bertambah seru ketika saya dan Gindring yang memakai kaos dari band yang sama yaitu Municipal Waste. Kita pun membincangkan karya terbaru dari sang vokalis Tony Foresta yaitu album baru Iron Reagan yaitu Demonization yang dirilis beberapa hari lalu.

Untuk project selanjutnya, Trendol mengungkapkan bahwa Slappy Ratz sedang mempersiapkan album baru yang sedang akan digarap. Ditanya mengenai seperti apa album selanjutnya, ia hanya menjawab: pokoknya dibikin dari POV orang ketiga. Sungguh jawaban ajaib yang membuat penasaran. “Misi kami cuma satu: tabrak! Dan bahan bakar kami juga cuma satu: alkohol, asyik lah!” ucapnya mengakhiri obrolan.

Memang patut ditunggu gebrakan apa lagi The Trve Magelangan Thrash Metal ini. Anak muda penerus estafet Thrash Metal semacam ini memang harus dinantikan gebrakannya. Meski dibilang penampilan mereka jauh dari sempurna, tapi memang karya-karya terbarunya patut ditunggu. Penampilan mereka tentu akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jam terbang. 

Menjelang tengah malam itu, gerombolan tikus Magelang ini berpamitan. Mereka mengungkapkan untuk hendak nongkrong dulu di Bukit Bintang sebelum kembali ke Magelang. Sebuah pilihan anak muda yang tepat untuk menghabiskan sisa malam minggu ketika berkunjung di Gunung Kidul.

Pada akhirnya, Slappy Ratz bukan sekadar bising yang menumpang lewat dari kota satelit. Di tengah skena yang seragam dan cenderung mengekor, mereka memilih merawat kegelisahan urban dari sudut-sudut Magelang, menjadikannya bahan bakar yang pekat lewat distorsi kasar ala Bay Area. Mereka membuktikan bahwa untuk menjadi relevan, sebuah band tidak perlu lahir di episentrum pergerakan. Cukup dengan modal karya yang jujur, keberanian untuk menabrak batas, dan sedikit arogansi yang sehat, Slappy Ratz siap membawa babak baru thrash metal lokal ke permukaan—entah panggungnya siap atau tidak.

Energi yang mereka bagikan lewat musik yang mereka buat memang mampu menambah gairah untuk menjalani hari-hari yang bangsat. Hidup di zaman yang penuh dengan berita buruk, mendengarkan lagu-lagu semacam ini memang hiburan yang tepat.

Syahdan, hambatan menjadi second-city bukanlah tembok tebal, melainkan marka jalan yang cuma butuh ditabrak. Di era yang menuntut segalanya serba patuh dan rapi, kita justru membutuhkan lebih banyak band daerah yang berani ‘sombong’ atas karya mereka sendiri. Bersama Slappy Ratz, Magelang tidak lagi hanya punya Borobudur—mereka punya distorsi kotor yang siap meledak setiap saat. Stay tune, fucking thrashers!

Tagged

#thrash metal #metal #punk #slappy ratz #magelang thrash metal