TRACK TALK: Dongker – Melankolia Radikal (Greedy Dust, 2026)

Saya benci Dongker, musiknya sering bikin muak. Tapi tidak untuk kali ini.
Pertama, saya tak pernah menyesal mengkritik Ceriwis Necis (2024) dan I Don’t Know and I Dongker (2025). Mari percepat ke sehari pasca demonstrasi di depan gedung DPR yang tidak mengubah apapun tapi setidaknya membuktikan bahwa sebagian dari kita masih punya tenaga untuk marah di tengah cuaca politik yang tak pernah berpihak ke bawah. Dongker merilis Melankolia Radikal — album kedua dari tiga keparat asal Bandung yang melepeh skrotum beserta zakar pemimpin rezim hari ini tanpa perlu basa-basi lagi–sebelas lagu.
Sejak trek pertama berputar sudah memunculkan rasa ingin buang jauh-jauh katalog mereka sebelumnya. Lebih matang, tak tergopoh-gopoh ingin mengulang impulsivitas di debut album mereka. “Selamat Malam Tuhan” jadi penyelamat necis di telinga, kemudian merudapaksa otak untuk kasih perintah simak album ini sampai habis. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya saat mencoba pasang dengar rilisan-rilisan Dongker terdahulu.
Arno kembali ambil alih peran vokal yang sebenarnya sudah seharusnya seperti ini untuk nomor-nomor Dongker. Departemen lirikal tak banyak bertele-tele namun pemilihan diksi dan emosinya mendekap erat bagi banyak individu. Dibalut genjrengan gitar kering sebelum akhirnya tumpah ruah ketika instrumen lain masuk seperti banjir yang lama ditahan bendungan rapuh. Sialan, saya masuk jeratannya lagi. Ini perasaan yang sama seperti saat dengar Dongker pra-Ceriwis Necis.
‘Di mana cintaku? Kuingin denganmu
Kita membangun surga dan membayar pajak untuk Indonesia’
Kadang rasa jijik dalam diri muncul jika mendengar diksi ‘Indonesia’ di bait sebuah lirik, seperti dengar lagu berlirik nasionalis bikinan Ahmad Dhani. Entah mengapa tidak untuk kali ini. Bagian chorus adalah penggaet yang seharusnya tak bikin kaget — Dongker punya kemampuan menulis lirik seperti ini dengan liukan vokal khas dan berpotensi jadi repertoar abadi. Sialnya lagi, yang terjadi malah kebalikannya. Senyum tipis sambil bergumam, “Anjing…” dengan nada heran malah muncul dari sudut bibir yang sudah lama tak tersenyum tulus.
‘Sumpah demi Allah akan kutepati
Karena janji ada sampai mati
Untuk kawan lama, untuk kasih sayang
Hari ini dan juga selamanya’ — “Selamat Malam Tuhan”
Mari berjabat tangan dengan hal-hal menakutkan. Peluk erat. Lalu tusuk jantungnya dari belakang dengan belati berkarat penuh dendam lama. Reka ulang adegan Goodfellas (1990) karya Scorsese saat Billy Batts diuruk di dalam tanah sedalam enam kaki oleh Henry Hill, Jimmy Conway, dan Tommy DeVito di tengah hutan dengan sorotan merah dari lampu belakang mobil. Ya, si keparat satu ini bernama trauma. Dongker coba lewat “Kukubur Trauma”, sebuah nomor manik depresif dilantunkan oleh Delphi. Apa ini keresahan pribadinya setelah melewati ina-inu hingga akhirnya (mungkin) dipaksa nyaleg? Entahlah.
Trauma tumbuh sembunyi di dalam tubuh seperti gulma liar yang akarnya menjalar ke tempat yang tidak pernah kalian harap, sampai suatu hari kalian duduk di ruangan. Seharusnya aman, tapi tunggu sampai menyadari sesuatu di dalam diri sudah lama tidak berfungsi dengan benar. Suara patient monitor yang terhubung ke kabel EKG di dada dan SpO2 yang dijepit di jari terus berbunyi sepanjang trek ini berputar, seperti metronom yang lupa dimatikan. Kesedihan yang mengendap, merayap merasuk ke dalam otot dan jaringan, menolak dikeluarkan dengan cara yang wajar.
Kemudian bermuara ke satu gambaran paling jujur yang pernah ada. Layar yang semula menunjukkan grafik detak bergerak naik turun, membuktikan seseorang masih berjuang, lalu pelan-pelan melandai. Pada akhirnya satu garis lurus disambut bunyi “beep…” panjang muncul di akhir trek, mengisi ruangan seperti requiem yang tidak pernah minta untuk ditulis. Jadi siapa yang mati? Si penyintas? Si pelukis trauma pada diri penyintas? Atau trauma itu sendiri? Jawabannya entah, simpulkan sendiri. Asal jangan bikin tali simpul bunuh diri. Tapi isian solo gitarnya seindah sayatan di pergelangan tangan. Catatan: peringatan pemicu.
Di nomor ini Dongker tak merasa besar kepala seperti sebelumnya, karena “Bertaruh Pada Api” menuai antusiasme tinggi saat rilis, yang mana memang paten dalam departemen lirik. Namun hal itu seakan menjadi bensin untuk hampir tujuh belas trek di Ceriwis Necis diambil alih oleh Delphi. Itu yang membuat saya tak sanggup dengar sampai habis dulu. Kali ini porsinya memperlihatkan betapa bijaknya untuk tidak menjadi impulsif. Berbuah hasil nomor patah hati, “Metafora Berpelukan” dengan level matang paten. Kempuh ranum, seperti buah yang jatuh tepat waktu, bukan yang dipetik paksa sebelum siap.
Anjing, aku lelah, anjing. Tak perlu tanda seru, hanya diucap lirih penuh harap yang sudah lama tidak bersuara. Saya punya hubungan cinta dan benci dengan kegiatan ziarah kubur. Mengingatkan pada kisah seorang wanita paruh baya yang kerap resah perihal budaya mudik hari raya. “Takbir Terdengar Kejam” mewakili itu. Mulai dari ongkos hingga jarak, serta tetek bengek lainnya. Kenapa saya punya perasaan itu dengan ziarah? Makam ibunya di sana. Ini pulang, bukan sebatas pulang.
‘Dan takbir terdengar kejam
Di penghujung jalan
Aku pun amat menyesal
Karena tak bisa pulang’ — “Takbir Terdengar Kejam”
Nomor yang mampu meluluhlantakkan siapapun karena kemiskinan struktural, khususnya middle class yang terlalu sadar benci terhadap negara. Sekaligus diperas bayar pajak dan birokrasi lainnya yang mencekik, kemudian dilepeh seakan wujudnya hanya cameo di film kelas B yang tak layak dapat kredit di akhir. Bangsatnya, kenapa sepersonal ini? Wanita paruh baya itu adalah seorang ibu dari bajingan kepala obat yang jemarinya sedang beradu dengan tuts keyboard demi resensi ini tuntas. Naskleng!
Judul albumnya diambil dari tulisan dalam buku yang ditemukan Arno, karya Herry Sutresna. Melankolia Radikal. Dua kata yang terasa seperti diagnosis sekaligus manifesto bagi siapapun yang hidup di negeri ini dengan mata terbuka dan perut penuh kemuakan yang tidak tahu harus dikeluarkan lewat mana selain menyetel ini keras-keras sampai spesialis THT dan kejiwaan perlu turun tangan. Ya, saya tak heran jika penjualan benzodiazepin melonjak di rezim si Gendut Tolol hari ini.
Satu hal yang belum kena sorot adalah sampul bergambar muka muda yang menyerupai seseorang, hasil karya Agan Harahap yang beberapa tahun lalu sudah bikin heboh dan kini dipakai Dongker sebagai tamparan yang dibalut senyum sinis. Itu sih kata orang. Bagi saya ini hanya seru-seruan bak peluru nyasar. Kurang tepat sasaran. Iron Reagan melakukan ini dengan artwork merchandise Trump menembak kepalanya sendiri. Sex Pistols dengan foto Ratu Elizabeth II untuk cover God Save The Queen (1977). Malangnya tak ada bait lirik yang eksplisit maupun implisit menunjuk si figur tersebut. Akan lebih paripurna bila ada bait “Joko Wibodo… Jack Sparrow dari Oslo”, misalnya. Ah, lagipula siapa peduli ocehan ini.
“Nirimajinasi” yang menggaet Cholil Mahmud tak terlalu mampu menancap. Tak apa lah. Referensi Animal Farm karya George Orwell dicatut. Atau ini buku lain? Koreksi jika salah… Berkaitan juga dengan lagu Efek Rumah Kaca “Jangan Bakar Buku”. Di Animal Farm, tembok kandang tempat ‘Tujuh Perintah’ ditulis terus-menerus diubah diam-diam, dan tidak ada yang berani protes karena lupa atau takut.. atau keduanya.
Di negeri ini, sejarah kekerasan negara juga terus digosok pelan-pelan sampai generasi baru tidak tahu apa yang terjadi di Semanggi, di Trisakti, di ‘98. Bu Sumarsih adalah satu dari sedikit yang menolak ikut lupa. Ia berdiri sendirian di depan tembok itu setiap minggu, mengingatkan bahwa perintah aslinya belum pernah dihapus dari ingatan. Bu Sumarsih masih di depan istana tiap Kamis dan itu adalah bentuk perlawanan paling keras kepala yang tak ada di kisah fabel Orwell. Trek selanjutnya malah tak membekas sama sekali seperti judulnya, “Nyaris Sempurna, Sedikit Cacat”.
Saya lebih suka komposisi balada bertajuk “Kisah Sedih Kontemporer (Air & Api)”, trek luluh lantak lebur hancur dan mungkin sekaligus homage bagi Naif. Ada nuansa ‘Paloh Pop’ sejak awal, entah ini hanya perasaan lalu tebak asal atau benar adanya. Namun, detail kecil liukan vokal Arno di bait awal menjelaskan hal ini. Dipoles cantik oleh outro bagian chorus “Air & Api” milik Naif dengan jembatan gantung pantang goyah yang hasilnya mulus dan kokoh tak terdengar dipaksakan. Homage bagi Naif. Kolaborasi dengan Cholil. Mengingatkan pada chorus sebuah repertoar grup melodic punk asal Bandung, Sweet Punch For Kids, belasan tahun lalu. Biarpun tak segamblang di nomor ini.
‘Setuju dengan Efek Rumah Kaca
Haruskah kuping kita melayu
Suka yang sendu-sendu’ — “Overdramatic Fever”
Isian synthesizer di “Penyesalan > Kelahiran” mengingatkan album kolaborasi mereka dengan Jeje. Bedanya, ini lebih solid. Disimpan setelah “Lautan Bunga Warna Terang” yang sama-sama dinamis dalam aransemen melucuti keadaan. Dua nomor ini mungkin jadi penutupan personal bagi saya karena “Lamunan Ringan di Singapura” yang menarik Banda Neira sebagai kolaborator terdengar seperti musik folk era senja dua ribu belasan. Tak tahu apa yang bikin bosan. Saya cinta Banda Neira. Saya masih ingat terakhir kali menyaksikan mereka di Bandung sebelum bubar dan akhirnya balik lagi. Mungkin sudah benci jadi cengeng dengan gitar kopong yang digenjreng. Halah… taik!
Penutupnya pun mengingatkan diri ini pada kondisi Bandung sebelum memutuskan hijrah. Sentimentil namun hanya menimbulkan rasa kesal mengendap pada orang-orang tak jelas yang dianggap punya kredibilitas dalam hal tata kota, nyatanya? Nihill. Nol besar. “Lagu Selepas Hujan” memicu satu kalimat yang sudah lama ingin dikeluarkan. Baiklah. Bapa Aing? Saya lebih suka dengan panggilan Bapak Anjing! Sialnya, kedua anjing saya di rumah, kelakuannya lebih menggemaskan daripada Demit Mulyadi. Saya yakin banyak yg benci Dongker karena entah sekedar ikut-ikutan atau memang alergi musik jelek. Untuk alasan kedua masih bisa ditolerir dan saya ada di situ. Pergerakan mereka di akar rumput sangat gencar dan mungkin hal itu yang jadi pemicu betapa masifnya penggemar lintas generasi, lintas kelas, ditambah lirikal dan sonik mudah dicerna sekaligus ngena secara simultan. Semua egaliter ketika gerombolan keparat ini naik panggung.
