“Jogja Rudeboys Skinheads Crew” Adalah Hymne Perkawanan yang Tak Ada Habisnya

Menilik kembali nomor legendaris “Jogja Rudeboys Skinhead Crew (JRSC)” dari Apollo 10 sebagai hymne perkawanan yang lebih dari sekedar sonik pelintas zaman.
“JRSC, JRSC, JRSC!!!”
Teriakan dari penonton itu bergema di XT Square pada Malam minggu, 25 Juli 2026. Para penonton sedang meminta lagu pamungkas “Jogja Rudeboys Skinhead Crew (JRSC)” untuk segera dimainkan. Ketika lagu itu dimainkan oleh Apollo 10, para penonton pun langsung skanking menikmati lagu tersebut.
Tembang ini memang seperti mempunyai daya magis. Dibuka dengan intro nada minor dari keyboard, dilanjut solo gitar tipis dan suara terompet yang mengalun, seperti memberi spirit kepada setiap yang mendengarkannya. “JRSC” seperti menjadi theme song yang tepat untuk menghabiskan malam di jalanan Jogja yang gelap. Dinyanyikan bersama teman-teman, dan menjadi perekat persaudaraan para skinhead, punk, dan rudeboys di tongkrongan.
Saya telah menyaksikannya beberapa kali. Lagu tersebut menjadi pemberi gairah untuk anak-anak muda Yogyakarta yang menonton Apollo 10. Para skinhead dan punk yang berada di barisan depan crowd menyanyikan bersama lagu tersebut dengan penuh semangat. Barisan depan selalu diisi para anak muda berkepala plontos dan berdandan rapi. Hal ini selalu menjadi pemandangan yang menarik ketika menonton Apollo 10.
Berbicara tentang Apollo 10, tidak akan bisa terlepas dari dua sosok yang kerap nongkrong di skena musik Jogja yaitu Annas Aghnasa Kautsar (gitar) dan Dimas ‘Pete’ Momol selaku pemegang keyboard. Dua insan berusia 40-an ini merupakan sosok yang turut membidani lahirnya Apollo 10 pada 10 Oktober 1999. Sedari awal berdiri, band ini sudah konsisten memainkan musik tradisional ska dan rocksteady. Musik yang berakar pada ska namun bertempo lambat dan tidak menggunakan distorsi gitar.
Apollo 10 lahir dari tongkrongan angkringan di Jalan Mataram. Band ini lahir dari angkringan Pak Slamet yang berada di seberang jejeran toko-toko sepatu. Kebiasaan nongkrong di angkringan sambil mendengarkan lagu ska yang diputar terus menerus memunculkan ide untuk membentuk band. Saat itu akses terhadap musik semacam ini sangatlah terbatas. Internet belum maju dan mencari kaset saat itu pun tidak semudah sekarang. Jadi ketika salah satu ada yang mempunyai referensi musik, maka mereka mendengarkan secara bersama-sama dengan kaset pita.
Annas menceritakan bahwa tongkrongan Pak Slamet ini paling enak dan nyaman karena bisa ngutang. Patut diketahui pada zaman setahun setelah reformasi tersebut anak-anak muda ini baru lulus sekolah dan masih pengangguran. Menemukan tongkrongan yang pesan makanan dan minum dengan mencatat adalah tempat yang menarik untuk dipilih. Bermalam-malam para anak muda ini nongkrong sambil mendengarkan musik dan meminum miras lokal.
“Dari tongkrongan inilah vokalis pertama kami, Anto Kimpling, kepikiran untuk membuat band ska. Kita pun nyari-nyari personil lalu jamming. Saat pertama terbentuk itu kami belum pakai brass section. Hanya bermain-main saja di studio. Yang dibuat latihan saat itu kebanyakan lagu dari Hepcat di album Right on Time,” ucap Annas saat setelah melakukan check sound.
Pada tengah hari yang terik di XT Square saat itu, saya menyempatkan diri untuk menyaksikan mereka check sound sambil mengobrol dengan mereka. Tampak para personil dan kru cukup guyub dengan makan siang bersama di Pujasera. Kami membicarakan cerita-cerita lawas skena musik ska dan punk di Yogyakarta. Obrolan ngalor-ngidul khas Yogyakarta yang selalu membuat kota ini menyenangkan untuk ditinggali meski dikepung banyak keterbatasan.
Setelah mengalami banyak perombakan formasi, personil Apollo 10 saat ini adalah Annas (lead guitar dan backing vocal), Dimas ‘Pete’ Momol (keyboard), Dian (vocal), dan Andri Shilex (drummer). Pada tiap manggung mereka dibantu Febri (bass), Anas (terompet) dan Agus (trombone). Formasi ini terus bertahan di panggung-panggung Apollo 10 beberapa tahun belakangan.
Nama Apollo 10 disampaikan Annas diambil dari adanya tulisan Apollo pada sampul album kompilasi Moon Ska Records. Ditambahkannya angka 10 di akhir nama band sesederhana dari celetukan 10 adalah nilai terbaik di sekolah. Pada menjelang awal tahun 2000-an itu, dengan keterbatasan informasi, mereka belum tahu dan sadar bahwa nama band mereka merupakan misi penerbangan luar angkasa berawak empat orang oleh NASA yang diluncurkan pada 18 Mei 1969. Para anak-anak muda Yogyakarta itu belum punya pengetahuan bahwa Apollo 10 adalah sebuah misi gladi resik untuk pendaratan pertama manusia di Bulan. Patut dimaklumi bahwa saat itu pengetahuan tentang hal-hal antariksa semacam ini masih terbatas.
Pada awal terbentuk, formasi Apollo 10 adalah Anto Kimpling (vocal 1), Piyel (vocal 2), Annas (gitar), Pete (keyboard), Arjo (bass), dan Andri (drum). Pada awal 2004, Apollo 10 saat itu membuat demo album bertajuk JRSC. Paketan berisi tiga lagu, yakni “Imagination”, “Nostalgia”, dan “Jogja Rudeboys Skinhead Crew”.
Pada era tersebut, mini album mereka sudah sampai ke Republik Ceko lewat seorang tokoh bernama Don Bruno Ferrari. Sosok ini merupakan tokoh penggerak musik independen asal Brno, Republik Ceko, yang dikenal menerbitkan Banana Fanzine, sebuah fanzine independen berbahasa Inggris yang berfokus pada kancah musik ska, punk, dan independent. Fanzine cetak ini terbit sebanyak lima edisi utama, di mana setiap edisi rutin disertai dengan album kompilasi musik dalam format CD yang memuat berbagai band internasional. Banana Fanzine #5 pernah memuat karya dari band-band asal Yogyakarta, salah duanya Apollo 10 dan Shaggydog, berdampingan dengan berbagai band luar negeri lainnya.
Pada akhir tahun 2005, dua lagu dari Apollo 10 yang berjudul “Nostalgia” dan “Imagination” masuk dalam kompilasi Rise Up: 3-Nation Compilation yang dirilis oleh record label asal Bandung, Subciety Records. Kompilasi tersebut dirilis dalam bentuk fisik kaset yang berisi beberapa grup band Ska yang berasal dari Indonesia, Belanda, dan Swiss. Band Indonesia yang turut andil pada album tersebut adalah Agent Skins, Apollo 10, Dirty Dolls, Sub Kultur, dan Noin Bullet. Patut diketahui pada era-era tersebut, tren musik ska di Indonesia mulai tumbuh cukup pesat dengan mencuatnya band Tipe-X bersama gaya kemeja kotak-kotak dan membawa koper.
Di era itu juga, Apollo 10 menjadi band yang cukup sering manggung di pensi-pensi sekolah dan gigs underground. Selain membawakan lagu sendiri, mereka juga meng-cover lagu-lagu dari Hepcat dan band-band tradisional ska luar negeri. Apollo 10 mencoba memasukkan unsur warna musik ska yang sedikit berbeda dengan band-band ska lainnya. Mereka tidak terbawa tren memainkan musik ska yang cepat seperti yang lain. Lagu-lagu minim distorsi dan tempo lambat itu dibawakan dengan lirik yang bercerita tentang realita kehidupan sehari-hari dan sedikit tentang kritik sosial.
“Waktu itu musik kita dianggap aneh karena temponya lambat. Dari awal kami sudah konsisten memainkan musik yang seperti itu. Baru sekarang-sekarang ini saja banyak yang menjadi tahu, eh seperti ini toh musik ska reggae itu,” tutur pria yang konsisten memakai newboys flatcap seperti Thomas Shelby di Peaky Blinders ini.
Seiring pendewasaan personil, Apollo 10 sempat mengalami fase hiatus yang cukup lama. Sekitar tahun 2005-an hingga 2015, seiring kehidupan para personil yang berubah karena semakin dewasa, satu per satu personil sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Ada yang kuliah dan juga kerja. Alasan pada umumnya karena nge-band saat itu memang masih belum menjanjikan memberi penghidupan sehari-hari.
Hingga muncullah ide untuk berkumpul lagi pada kisaran tahun 2016. Dari awal nongkrong-nongkrong itu, muncullah semangat untuk membuat album penuh. Band yang sudah lama hiatus ini pun akhirnya kembali dengan formasi baru dengan masuknya Dian Faqih Widhiakto di posisi vokal. Setelah beberapa kali bertemu, nongkrong, dan latihan, lahirlah album Mengudara yang dirilis Frogs Records pada Oktober 2018. Album tersebut berisi 11 lagu yang dirilis dalam format kaset dan CD. Pada album tersebut juga akhirnya memunculkan aransemen paling paripurna dan sempurna dari lagu yang mereka ciptakan 17 tahun sebelumnya, yaitu “JRSC”.
***
Menjelang maghrib, malam minggu di XT Square itu sudah dipenuhi anak muda yang bergairah menonton konser musik. Gelaran BSTZ Gigs malam itu menampilkan band-band Indiepop, HC, Punk, dan Ska dari Yogyakarta. Band-band yang tampil pada malam itu adalah DOM 65, The Genk, Los Jantos, Sidekick, Meet The Scene, The Jorans, Stupid Again, dan Apollo 10 yang main terakhir.
Gerombolan bapak-bapak berusia 40-an ini naik panggung pada pukul 10 tepat. Mereka manggung terakhir karena menunggu sang drummer –yang juga merupakan drummer dari Bravesboy–harus manggung dulu di JEC dalam acara Parade Vespa. Latihan 2 kali sebelum manggung sudah membuat mereka siap untuk membuat para hadirin BSTZ Gigs untuk berdanska.
Apollo 10 membuka pertunjukan dengan intro singkat berdurasi dua setengah menit. Mendengar musik instrumental mulai dimainkan, penonton yang sebelumnya duduk pun mulai berdiri dan merapat mendekat ke arah panggung. Para skinhead, punk, dan pecinta musik lainnya mulai bersenang-senang ketika lagu pertama “Reggae, Ska, Rock Steady” mulai dimainkan. Semua penonton berjoget bersama sambil berbagi minuman satu sama lain.
Satu jam lebih mereka beraksi di panggung. Total mereka membawakan sembilan lagu dengan dua lagu cover. Lagu-lagu yang mereka mainkan malam itu adalah “Reggae Ska Rocksteady”, “Lebih Baik”, “Enjoy Yourself”, “Mengudara”, “Mood For Ska”, “Bacil”, “Kembali”, “Nostalgia”, dan ditutup dengan “JRSC”. Mereka memainkan hampir seluruh set tersebut dengan sempurna. Tidak ada kendala berarti dan sungguh mampu menghibur penonton yang rindu dengan pertunjukan mereka.
Setelah pertunjukan berlangsung seluruh personil pun berpamitan. Mereka harus mempersiapkan tubuh mereka untuk fit kembali karena esok minggunya harus kembali manggung di Jogja Expo Center dalam acara lebarannya pecinta Vespa di seluruh Indonesia. Dalam gelaran Jogja Scooter Parade keesokan harinya mereka akan berbagi panggung dengan nama tenar di ranah rudeboys dan reggae yaitu Denny Frust dan Tony Q Rastafara.
Seminggu berselang, saya bertemu lagi dengan Annas di Susu Murni Barokah Jogja. Pada setiap malamnya –kecuali hari Senin dan jadwal manggung– Annas merupakan penjual susu murni dengan aneka rasa yang mangkal di Jalan Mangkubumi. Annas berjualan susu dengan vespa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi rombong. Saya pun mengobrolkan perihal lagu “JRSC” yang legendaris itu.
“Lagu ini lahir di sekitaran tahun 2001, ketika kita sering nongkrong di warung Lapenan di daerah Sayidan. Di sana kan orangnya bermacam-macam yah, ada yang skinhead, punk, hardcore, macam-macamlah, jadi kepikiran gitu untuk bikin lagu untuk tongkrongan ini. Lagu ‘JRSC’ ini ditulis sebagai bentuk apresiasi dan jingle pemersatu untuk menunjukkan bahwa di Jogja—khususnya di Sayidan—ada komunitas rudeboys dan skinhead yang sedang tumbuh,” kenangnya.
Annas menjelaskan bahwa lagu ini diciptakannya setelah melakukan obrolan dengan para personil Apollo 10 saat itu yaitu Anto Kimpling dan Arjo. Saat di studio untuk jamming, Dimas Pete memainkan satu nada yang membuat lagu ini lahir. Pada saat pembuatan, mereka pun meminta dukungan dan masukan dari tongkrongan agar dapat bisa melahirkan lagu yang represent saat dirilis.
Jogja Rudeboys Skinhead Crew saat ini telah mengalami tiga fase perubahan bentuk. Fase pertama adalah dengan vokalis Anto Kimpling dan Piyel, yang kedua hanya dengan vokalis Anto Kimpling, dan menemukan versi terbaiknya dengan vokalis Dian yang bisa didengarkan pada urutan pertama di album Mengudara.
“Lagu ini sebenarnya sudah ditulis sekitar tahun 2001 atau 2002. Rekaman Pertama sekitar 2004–2005, karena keterbatasan alat dan biaya pada mulanya, lagu ini baru bisa masuk dapur rekaman sekitar tahun 2004–2005 dengan musik yang masih sederhana. Diisi oleh dua vokalis awal, yaitu Kimpling dan Piyel. Versi ini masih bisa ditemukan di YouTube,” ucapnya.
Obrolan tengah malam di dekat Tugu Yogyakarta itu pun mengalir seiring segelas susu hangat mulai surut. Annas mengungkapkan rasa senangnya bisa manggung di gigs-gigs kecil seperti di XT Square. Manggung di gigs kecil, menurutnya, lebih intim dan dekat dengan penonton daripada manggung di acara-acara besar. Panggung-panggung seperti ini selalu mengingatkannya pada tempat di mana mereka lahir, tumbuh, dan bisa menjadi seperti sekarang ini. Obrolan pun mengalir soal referensi musik ska luar hingga band-band sekarang yang rasanya tumbuh dengan sangat instan tanpa mengalami proses.
Dari sudut angkringan yang bisa dihutang di Jalan Mataram, warung Lapen di Sayidan, hingga gemuruh panggung XT Square, “JRSC” telah melompati lintasan waktu yang panjang. Ia bukan sekadar nomor ska ber-tempo lambat yang lahir dari keisengan masa muda, melainkan sebuah artefak subkultur di Yogyakarta. Di balik kesederhanaan liriknya, lagu ini berhasil merekam sebuah era ketika anak-anak muda berkumpul tanpa sekat, merajut ikatan yang melampaui batas genre maupun latar belakang.
Kini, lebih dari dua dekade sejak nada pertamanya diracik, “JRSC” terbukti memiliki napas yang panjang. Lagu yang mulanya dibuat dari obrolan ringan di meja tongkrongan itu terus diwariskan dari panggung ke panggung, mengalun konsisten di tengah gempuran tren musik yang datang dan pergi. Apollo 10 tidak hanya sekadar memainkan musik ska dan rocksteady; mereka sedang merawat ingatan kolektif tentang akar persaudaraan yang tumbuh di sudut-sudut jalanan Yogyakarta.
Malam itu di XT Square, ketika deretan pemuda berkepala plontos hingga anak-anak punk saling berangkulan dan melompat bersama, pesan dari lagu itu terasa hidup seutuhnya. Sebagaimana liriknya yang terus bergema lintas generasi,
“We are trooper walk together, Don’t you realize we’re same each other”
Apollo 10 telah membuktikan bahwa ruang, waktu, dan pendewasaan tak akan pernah sanggup memisahkan persaudaraan yang telah diikat oleh musik.
Melalui lintasan panjang perubahan formasi, ruang dapur rekaman, hingga dinamika skena yang terus bergulir, “JRSC” punya porsi lebih dari sekedar komposisi nada yang melintasi zaman, lagu ini telah menjelma menjadi identitas kolektif dan pengikat emosional bagi subkultur yang tumbuh di sudut-sudut jalanan Yogyakarta. Yeah, Apollo 10 berhasil merawat api persaudaraan itu agar tetap menyala.








