X

Ngobrol Bohong bersama Black Onyon Society

by webadmin / 1 month ago / 294 Views / 0 Comments /

Mari berkenalan dengan kolektif Black Onyon Society yang terkenal lewat beberapa aktivasi party di kota Bandung beberapa waktu ke belakang ini.

Black Onyon Society (B.O.S) lahir di antara keriangan tengah malam – saat obrolan menolak bosan dan kehadiran musik menjadi tuntutan ketika aktivitas nongkrong giat berlangsung di sebuah backyard merchandise store. Kebutuhannya hanya satu: sebuah perangkat instrumen yang bisa dimainkan oleh siapapun guna memutar musik-musik pilihan. Akhirnya disjoki-disjoki itu mulai bersiasat dengan XDJ Pioneer, lalu memainkan house, bass, techno, jungle, psytrance, anime-core, trance, hard-tekno, minimal, noise atau apapun itu – dari 80 BPM sampai bombing 180 BPM dan seterusnya. Dengan kata lain, mereka pelahap yang tak pilah-pilih, jika memang musik itu yang sedang ingin mereka mainkan, asal tak mengganggu warga sekitar (lagi).

“(Tahun) 2021 mulai intens nongkrong bareng. Kelakuan dan ketertarikannya juga sama. Popolonyonan sampai subuh, tapi kekurangan musik,” Arya (D-Black) menuturkan awal dari aktivasi yang dibuat oleh B.O.S. “Sampai kalau ada teman dari luar kota yang sengaja main ke Bandung atau sedang tur, kami ajak untuk main seru-seruan sambil nongkrong,” tuturnya.

Sampai terbentuklah grup chat yang diberi nama ‘Black Onyon Society’, dipilih karena sebatas keharusan mengisi kolom nama saja. Grup dengan partisipannya yang terdiri dari desainer, penulis, pemain band, produser musik, marketing, 3D artist, visual artist, tukang lampu, pekerja kantoran, disjoki, content creator, social media specialist, dan beragam lainnya. Semua berperan-berkontribusi memaksimalkan spesialisasinya masing-masing dengan sikap spontan, organik, juga simpel; berlandaskan semangat bersenang-senang, sehingga memang tidak ada parameter atau barometer dari awal kemunculan kolektif ini.

Photo by Wafiq Razaq

B.O.S dengan berbagai preferensi dan latar belakang dari setiap kepala di dalamnya, menghasilkan posibilitas-posibilitas baru dalam permainan musik mereka yang beragam. Extravaganza. Dan terpenting, tidak ada sosok sentral di dalam kolektif ini. Line up yang ditampilkan 80% berubah-ubah di setiap gelaran demi memberi ruang bagi pemain lain untuk meracik, memainkan, dan memodifikasi musik secara kontinuitas dalam caranya masing-masing mempresentasikan musical journey.

“Semua bisa main di sini. Misalkan ada yang belum bisa, tapi dia punya selera musik yang ingin diperdengarkan, ya sudah tinggal main. Nggak ada batasan harus jago atau lo dari mana atau lo siapa. Pun tidak ada tuntutan untuk mengekspresikan diri juga. Bebas,” Vimmal memberikan kesaksiannya.

Bebas. Bebaskeun. Opung, salah satu penggerak unit profan Brigade of Crow / Ancient, mengaktualkan term bebas itu melalui moniker Dark Torrent yang ia buat. Dari latar belakangnya yang sudah sejak lama meladeni extreme metal, sampai pada kesimpulan bahwa adrenalin adalah apa yang selalu ia cari dalam ikatannya selama ini dengan musik, Dark Torrent ditemukan olehnya saat rasa penasaran berwujud pencarian corak adrenalin lain seperti speedcore, hard-tekno, psytrance tak ia temukan di sudut-sudut pesta elektronika Bandung dan sekitarnya. 

“Setiap detik, musik lahir di setiap belahan bumi,” ucapnya ketika dijumpai setelah set Dark Torrent usai. Opung meneruskan, “Dalam rangka ikut berpartisipasi pada perayaan tersebut, saya ingin mengecap bahwa musik elektronik tidak hanya ada di club atau bar besar saja dengan kesannya yang harus bergaya, gaul, fancy, atau apa pun pelabelan seperti itu. Saya dan teman-teman B.O.S lainnya ingin menunjukkan bahwa ada hal-hal lain di luar itu. Di luar kebiasaan scene musik ini. Di luar mainstream.”

Photo by Wafiq Razaq

‘Dead per Minute’ dipilih menjadi titel dari setiap gelaran reguler yang diinisiasi oleh mereka sendiri, juga manifestasi dari tingkah habitual mereka: bertemu — ngobrol bohong — pingsan — bangun — pingsan lagi — bangun lagi — per minute. Beberapa program lain yang pernah mereka realisasikan: ‘Study Visit’, program khusus studi banding dari kampus ke kampus; ‘The Invaders of B.O.S’, program khusus menolak bubar acara-acara seperti Southcrust atau Ruang Baur; ‘Black Orbit’, program khusus kolaborasi mereka bersama Orbitware.

Pada 28 Oktober 2023, mereka mengadakan halloween party yang bertempatan di basement De Braga Artotel Bandung. Kali ini terpampang tajuk ‘Black Magic’, program baru mereka, dengan ketentuan dress-code seaneh mungkin. Berikut rangkuman reportase saya saat menguntit gerakan acara tersebut:

  • 21.46 pm: Terlambat tiba satu jam, saya melewatkan Droktava.
  • 22.10 pm: Beberapa dari kerumun masih menahan diri. Beberapa juga sudah kehilangan kontak dengan realitas. Ceki-ceki bagian Alkhafa B2B MIB00 kali ini.
  • 22.58 pm: Saya menghisap satu shot sloki pertama.
  • 23.37 pm: Putrixa on set. Saya melamun tujuh menit bergumul dengan pikiran, memikirkan apa yang baru saja saya lihat;  seseorang sedang memainkan gitar khayalannya.
  • 00.07 am: Saya coba mengimbangi energi pasangan tuwir landlord Kung Fu Hustle yang menjadi-jadi saat sesi Dark Torrent. Keputusan salah.
  • 00.59 am: Sementara orang-orang menggila, saya memutuskan istirahat.
  • 01.17 am: Saya terkejut, saat pandangan ke arah stage terhalang oleh punggung seseorang dengan seragam bertuliskan ‘BNN: Narcotics Crime Hunter’. Namun cepat sadar aturan berbusana pada malam itu.
  • 01.26 am: Saya sudah tidak tahu siapa yang memainkan musik.
  • 01.47 am: Saya mendengarkan seorang teman tantrum membicarakan astrologi sambil memutar sloki, lalu berbisik di telinga saya, “orang depresi adalah orang yang gagal berimajinasi.”
  • 01.50 am: Blackout.

Teks: Fauzan Bakhdim
Foto: Wafiq Razaq

Tagged

#interview #black onyon society #profile