X

Riff Abadi Dalam Jiwa yang Tentram

by webadmin / 1 year ago / 1103 Views / 0 Comments /

Sebuah obituari Ricky Siahaan (1976–2025)


Gibson SG di tangan, kaos band lengan panjang, dan topi yang setia melingkar di kepala—itu Ricky Siahaan, dalam wujud paling sejatinya. Ricardo Bisuk Juara Siahaan, atau yang akrab disapa Ricky, bukan orang yang mengejar sorotan. Tapi kehadirannya selalu terasa di titik-titik paling penting—baik di atas panggung bersama gelegar distorsi, menganut integritas segaspol itu atau kalanya menjadi teman bercengkerama santai yang bikin orang merasa dihargai.

Ricky telah “pamitan” meninggalkan panggung secara suci pada 19 April 2025, dalam usia 48 tahun, saat sedang menjalani rangkaian tur Wolves of East Asia bersama Seringai yang membawa mereka ke beberapa titik di Taiwan dan Jepang, tepatnya selepas menyelesaikan repertoar intens di Gekiko Festival. Mengutip pesan singkat Arian 13 kepada Soleh Solihun dalam testimoni duka beberapa hari lalu, “Ricky gagah banget. Nyelesein set, seru dulu, baru pergi \m/.”

Ia wafat ketika sedang mengerjakan hal yang begitu dicintainya sepanjang hidup: bermain gitar, menggeber musik metal di panggung. Persis dengan kepergian Aries Tanto alias Eben Burgerkill di September 2021 silam.

Kepergian Ricky tak hanya duka bagi Seringai, tapi gema kesedihannya meluas jauh melampaui unit musik bentukan 2002 tersebut. Ini merupakan kehilangan untuk kancah musik keras Indonesia, para militan serigala yang melolong dan jiwa-jiwa yang pernah disentuhnya secara personal.

Ricky bersama Seringai (foto oleh: RIgel Haryanto)

Fase Ricky di kancah musik dimulai sejak pertengahan 1990-an dengan membentuk band khusus membawakan tembang-tembang The Smashing Pumpkins bersama teman-teman sekolahnya di SMA 68 Jakarta bernama Chapter 69. Berlanjut ke Buried Alive, sebuah band hardcore umur pendek yang hanya sempat memuat satu lagu di kompilasi rilisan Pinball Records. Lantas, Ia kemudian melanjutkan jejaknya bersama Step Forward—kuintet metallic hardcore Jakarta yang menjadi poros penting dalam perkembangan scene lokal kala itu—sebelum sempat pula mengisi formasi awal DeadSquad pada medio 2006.

Namun, dedikasi dan identitas Ricky paling dikenal lewat agresi rock oktan tinggi Seringai, grup yang ia bentuk bersama Arian Arifin Wardiman, Edy “Khemod” Susanto, dan Hernomo “Sammy” Bramantyo. Sebagai penulis lagu utama, riffmeister, dan otak di balik banyak komposisi mereka, Ricky adalah fondasi suara dan attitude band ini. 

Sejak High Octane Rock (2004), disusul Serigala Militia (2007), Taring (2012), dan Seperti Api (2018), ia tak pernah kompromi soal arah musikal. Vokal boleh menggertak, beat boleh menghentak, namun riff dan dinamika lagu selalu jadi medan guna menanamkan visi: keras, jujur, dan tak tunduk. Mencetak banyak nomor yang mengasyikkan dan anthemic untuk ukuran entitas musik cadas. Jarang yang bisa melakukannya. Obviously, his legacy always lives on, dudes!

Di luar Seringai, peran Ricky sebagai produser juga tak bisa dikesampingkan. Ia memegang peranan krusial dalam kelahiran album perdana Amerta, Nodus Tollens—rilisan yang atmosfernya begitu pekat, anggun dan tersusun rapi, menyiratkan kehadiran tangan yang matang dan penuh pertimbangan. Bagi Amerta, Ricky bukan hanya produser, tapi penjaga arah dan nyawa karya itu.

Ricky di sesi rekaman Amerta untuk album yang diproduserinya, ‘Nodus Tollens’ di Jakarta (foto oleh: Hafizt Maulana)

Di ranah sineas, ia juga dikenal sebagai manajer pribadi aktor laga Iko Uwais. Tapi sebutan “manajer” saja tidak cukup. Ricky adalah penjaga integritas, negosiator, dan sahabat yang mampu membawa Iko menembus proyek-proyek internasional seperti The Raid, Mile 22, hingga Wu Assassins. Tenang, strategis, dan selalu sigap ketika dibutuhkan, Ricky adalah sosok yang lebih suka bekerja dalam senyap.

Berbicara ranah jurnalisme, kiprahnya sangat kuat. Integritasnya kokoh. Memulai karir sebagai produser di Trax FM, Ricky kemudian menjadi bagian penting dari redaksi Rolling Stone Indonesia pada masa keemasannya. Mengupas sekaligus menulis tetek bengek akan musik, subkultur, budaya pop secara taat, khas nan presisi. Bahkan, pernah mendapat momen ngang ngong alias gugup tak terkira karena satu meja dengan musisi favoritnya sepanjang masa, Billy Corgan. Belakangan, dirinya menjabat sebagai CEO di Whiteboard Journal—sebuah posisi yang diisi dengan visi kuratorial yang tajam dan keberanian editorial untuk merayakan keberagaman lanskap budaya urban serta peta politik entah di Indonesia maupun global.

Namun, warisan Ricky tak melulu bisa dihitung lewat rilisan fisik atau pencapaian profesional dalam hidupnya. Yang paling terasa adalah caranya hadir: kalem tapi penuh dedikasi. Dalam dokumenter Generasi Menolak Tua, ia tampil tanpa dibuat-buat—bercanda bin komikal, mengingat masa lalu sebagai elemen dasar, dan menunjukkan cinta tulus pada semua aspek perjalanan sebuah band. Merasakan kemistri yang solid, hype super fun di dalam satu kronik heavy metal. Totally!

Seorang scenester kawakan Bali, Rudolf Dethu, mengisahkan singkat bahwasanya Ricky pernah menyebut “Landslide”—nomor klasik dari Fleetwood Mac yang juga digubah The Smashing Pumpkins secara format akustik—sebagai soundtrack pengantar kepergiannya, bila hari itu telah tiba. Melankolis, jujur dan penuh kontemplasi—cerminan dari sisi lembut Ricky yang tidak selalu tampak di atas panggung, tapi terasa kuat bagi mereka yang mengenalnya lebih dalam.

Beberapa hari terakhir, linimasa penuh dengan ungkapan duka dan penghormatan. Dari sesama musisi, kawan dekat, hingga penggemar yang merasa hidupnya disentuh oleh karya dan sikap Ricky. Kini, ia telah pergi. Tapi semangatnya tetap hidup—di lagu-lagu yang terus berotasi dan berkelindan, di kalimat yang pernah ia tulis, di semangat hidup yang tak pernah usang, dan di wajah-wajah yang ia semangati untuk terus berjalan, terutama keluarga kecil dan sahabat-sahabatnya yang dicintainya sangat bersahaja.

Terima kasih, Ricky Siahaan untuk kehadiran yang tenang tapi penuh makna. Untuk keyakinan bahwa musik keras bisa tetap punya arah, integritas, dan hati. Wajah arena ini tak akan sama tanpamu. Tapi semangatmu tetap hidup—di riff yang tak pernah padam, di setiap lirik yang masih kita teriakkan, dan memantik orang-orang yang pernah anda semangati. Selamat beristirahat, Chainsaw Rick! Warisanmu tetap menyala. Selalu. Selamanya.

Teks: Karel