The Glad: Dari Bakmie Menemukan Spirit Skinhead yang Sejati

Obrolan bersama Hasbi, otak di balik The Glad soal kiprahnya hingga menemukan kembali nafasnya di sebuah kedai bakmie.
Berjarak selemparan batu dari Kampung Wisata Tamansari, di sana lah spirit itu hadir. Sebuah warung bakmie yang ramai pengunjung dengan arang yang terus mengepul. Dari Warung Bakmie Mataraman khas Jogja semangat menjadi punggawa skinhead terus hidup. Jika tanah air skinhead yaitu Britania Raya, spirit itu tumbuh dari para buruh pabrik, di Yogyakarta semangatnya dituai dari unit usaha bakmie. Meski demikian, spirit yang diemban tetap sama–memegang teguh spirit kepala plontos yang mereka yakini.
Bakmie Mataraman Mas Petbun namanya, di tempat itulah gagasan sebuah band Oi! yang telah mati suri menjadi hidup kembali. The Glad sebetulnya adalah band punk yang lahir sejak 2002. Band itu lahir dari tongkrongan Sayidan, di mana miras tradisional bernama lapen sedang mengalami masa jayanya. Seiring redupnya lapen ditambah usia para personil yang beranjak dewasa, The Glad mengalami hiatus yang cukup panjang hingga hidup kembali dan menemukan format terbaiknya seiring berkembangnya kedai Bakmie ini.
Berbicara tentang The Glad, tentu tidak akan bisa lepas dari sosok Hasbi Warga Waluyo a.k.a Hasboi! atawa Hazthelad. Sosok tambun, bertato, dan selalu berpenampilan necis ini adalah frontman sekaligus pemilik usaha Bakmi Mataraman Mas Petbun. Pria yang genap berusia 40 tahun ini itu merupakan sosok yang kerap terlihat berkeliaran di sekitaran Malioboro dan sekitarnya pada malam hingga dini hari. Ia adalah pemegang teguh idealisme skinhead yang dimaknai secara brutal dengan menjadi punk sekaligus pengusaha bakmie.

“Oi, oi, oi 3x sehari biar sehat!” sapaan otentik dari Hasbi membuka perjumpaan saya pada Sabtu Legi, 20 Desember 2025. Malam itu adalah soft opening House of Petbun, gerai cabang ke-3 Bakmie Mataraman Mas Petbun setelah sebelumnya ada di daerah Tamansari dan Bumijo. Selain meluncurkan warung dan merchandise, malam itu juga dihibur dengan pertunjukan musik dari Yogyakarta Young Soul, Dubdee-T, The Junkiss, dan The Gladkustik (The Glad versi akustik). Malam minggu di daerah Gamping itu pun menjadi meriah hingga dini hari. Musik tak berhenti diputar, bakmie hingga nasi goreng terus dimasak, dan juga obrolan yang seperti tak menemukan ujungnya.
Tampak wajah ceria dari Hasbi melihat banyak kawan-kawan yang hadir pada malam itu. Banyak dari rekanan juga membawa keluarga hingga kekasih turut serta memeriahkan. Mengenal sosok Hasbi sejak 2019, saya juga turut bangga melihat usaha bakmienya tumbuh pesat. Yang lebih membanggakan lagi adalah meskipun usaha Bakmie-nya semakin berkembang pesat, tidak mengurangi sedikitpun ke-rebel-an Hasbi sebagai seorang yang berpegang teguh dengan prinsip skinhead.
Selepas pertemuan itu, saya kembali bertemu dengannya pada Selasa, 23 Desember 2025. The Glad dijadwalkan bermain pada perhelatan Pekan Fotografi Sewon di Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Kota Gudeg hari itu sangat sibuk. Selain libur akhir tahun sudah memulai gejalanya, ada dua perhelatan musik yang memaksa dua personil The Glad untuk manggung di dua tempat yang berbeda. Setelah The Glad tampil di ISI, Ivosatya harus manggung bersama The Lads Oi! di acara Nobar Persijap lawan PSIM dan Skinheadbob alias Hendi SW harus membantu pertunjukan Shaggydog di acara penggalangan dana Banjir Sumatra di Stadion Maguwoharjo.
***
Sedari siang, saya bersama Hasbi di rumahnya yang berada di kawasan padat penduduk di seberang Pasar Ngasem. Suguhan es teh manis sungguh menjadi pelipur dahaga saat Yogyakarta sedang terik-teriknya. Berceloteh lah Hasbi perihal perkenalannya dengan skinhead dan keputusannya menjadi seorang pengusaha bakmi.
“Jauh sebelum nongkrong di Sayidan, aku kenal skinhead dari saudaraku yang di Jakarta. Anaknya Budheku namanya Gregorius Ferdinand Edward a.k.a. Bejo. Waktu itu liburan SMP kisaran tahun 97-98. Waktu itu langsung seneng banget. Dari dandanan hingga musiknya langsung suka,” ucapnya yang saat itu sedang baru bangun tidur.
Masa liburan sekolah menjadi waktu yang sangat ditunggu. Saat berlibur itu, Hasbi pun diajak saudaranya untuk nongkrong bersama anak-anak punk n skins di daerah Pasar Minggu-Pejaten, Jakarta Selatan. Kesan pertamanya tentu heboh. Ia menjadi keranjingan dengan musik punk dan ska saat itu. Pada periode itu lah ia memutuskan untuk menjadi skinhead dengan langsung mencukur habis rambutnya. Bersama Bejo, ia pun diantar ke Taman Puring untuk membeli sepatu Docmart 8 hole warna merah marun pertamanya.
Waktu itu Hasbi muda hanya mengamati sambil mengamati pergolakan punk n skins di Jakarta yang jumlahnya banyak. Ia hanya mengamati sambil mencoba meniru dandanan mereka. “Saat itu musik yang pertama didengar adalah The Specials. Selain mendengarkan lagu sambil belajar merokok di kamarnya Mas Bejo itu lalu dijelaskan kalau ini skinhead dan lain sebagainya. Setelah ska-ska-an, yang didengarkan punk-punkan. Dung deng dung deng dung deng gitu. Dari The Exploited. Setelah itu Sham 69, Cock Sparrer, dan Oppressed. Saudaraku itu kan orangnya nongkrong, jadi banyak pinjaman kaset dari teman-temannya gitu,” ucap Hasbi antusias.
Saat pulang ke Jogja, Hasbi pun menemukan kaset-kaset yang diperdengarkan oleh Bejo di Gerai Kaset Kotamas yang ada di Malioboro. Kaset-kaset bajakan dari band-band punk yang dijual di Kotamas sungguh menginspirasi Hasbi. Cover dengan gambar-gambar yang ngejreng dan musiknya yang rancak menjadi digemari. Hasbi keranjingan nongkrong di Kotamas, karena di gerai itu bisa sambil didengarkan langsung jika belum mampu membelinya.
Saat itu, Hasbi belum mulai nongkrong di Sayidan karena usianya cukup muda. Perkenalannya dengan Sayidan justru dimulai ketika pemakaman Bejo pada tahun 1999. Saat itu Bejo meninggal dikarenakan penyalahgunaan putau. “Yang ngelayat waktu itu pada pakai sepatu boot. Ngedress. Saat ini aku lihat foto-fotonya saat itu ada Wowok (Wok The Rock), Kenboti (Realino), dan teman-teman Realino lainnya,” Lewat pemakaman itu di kemudian hari menjadi titik awal obrolan dengan para generasi awal punk di Yogyakarta. “Setelah meninggal itu, jadi tahu ternyata di Jogja ada skinhead. Jadi mulai nongkrong-nongkrong,” tambahnya.
Memegang teguh spirit skinhead dan memainkan musik Oi/street punk, The Glad memang kerap mengisi banyak panggung musik bawah tanah di Yogyakarta. The Glad juga turut manggung dalam gelaran Mayday Calling Yogyakarta yang diselenggarakan di OKM saat Hari Buruh, 1 Mei 2025 lalu. Mereka turut serta menyuarakan kegelisahannya sebagai warga Jogja yang dari tahun ke tahun UMR-nya tidak memiliki kenaikan signifikan. Tak hanya memainkan musik, The Glad bersama para buruh dan elemen masyarakat lain juga berorasi tentang kegelisahannya terhadap kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja.
Selain kerap mengisi gigs-gigs bawah tanah, The Glad juga sangat dekat sekali dengan skena sepakbola. Terlebih Hasbi dan para personil lain juga merupakan pendukung PSIM Yogyakarta. 2 lagu mereka pun masuk dalam album kompilasi From Terraces To The Stage (FTTS) yaitu “Jogjakarta Kids” dan “For The Love”. Pada 2021, The Glad juga merilis lagu tentang sepakbola yang berjudul “Pesta Pora”. Guna merayakan lolosnya klub kecintaan mereka yaitu PSIM promosi ke Liga 1, pada 2025 ini The Glad juga merilis “Spirit of 25” yang berkolaborasi dengan solois Andry Priyanta. Lagu yang bernafaskan perayaan PSIM menjuarai Liga 2 itu dirilis oleh Terrace Records, label dari FTTS.
Yang menyenangkan dari panggung-panggung The Glad sebetulnya adalah persona Hasbi yang kerap melawak di atas panggung. Selain musiknya yang kerap mengundang penonton untuk ber-sing along ria, gojekan kere khas Jogja yang terlontar dari mulutnya jadi pemancing gelak tawa yang ditunggu. Di setiap panggungnya pun, The Glad kerap membawakan medley dengan lagu-lagu macam “One Love”-nya Bob Marley, “YNWA”, “Take Me Home Country Roads”, hingga “Don’t Look Back In Anger”.
Sebagai band, The Glad merupakan unit yang berdiri sejak 2002 setelah sering nongkrong di Sayidan. Ide membuat band itu tercetus setelah salah seorang dari tongkrongan tersebut ditawari manggung dalam acara gigs bawah tanah di Purwokerto. Pada saat itu, Hasbi bersama teman-temannya sudah menamai band tersebut sebagai The Glad dan mulai latihan. Formasi The Glad awal saat itu adalah Tegil (vokal), Rudi (gitar), Hasbi (gitar), Fitri (bass), dan Hendi (drum).
Pada periode awal itu, The Glad hanyalah band iseng yang dibuat hanya untuk senang-senang. Mereka saat itu hanya merilis satu single yang berjudul “Racun Dunia”. Seiring berjalannya waktu, band ini pun kukut karena tidak ada keseriusan para personilnya. “Pada dasarnya itu suka nongkrong, mabuk, lalu bikin band. Ya waktu itu semua masih pada muda dan nggak ada yang serius. Proyek iseng-isengan lah,” kata Hasbi mengenang perjalanan The Glad.
Titik balik kembalinya The Glad adalah pada tahun 2019 dan menemukan format terbaiknya serampung pandemi. Dijelaskan oleh Hasbi bahwasannya ada dua momen yang membuat semangat ngeband-nya kembali. Momen di 2019 tersebut adalah perhelatan Indonesia Skinhead Jambore dan From Terrace To The Stage. Pada Skinhead Jambore yang diadakan di Jogja itu single “Andalan” direkam dan masuk dalam album kompilasi gelaran tersebut. Selain manggung, The Glad juga menjadi panitia karena menjadi tuan rumah event tahunan para Skinhead se-Indonesia itu. Kemeriahan acara FTTS juga membuat semangat The Glad untuk ngeband semakin menggebu. Setelah dua momen itu, The Glad menjadi kerap diundang untuk gigs-gigs underground di Yogyakarta.
Di tengah semangat-semangatnya untuk menghidupkan kembali The Glad, pandemi Covid-19 datang melanda. Meski kondisi suram, semangat untuk meneruskan The Glad masih menyala. Saat pandemi itu, Hasbi menjadi kerap bersama Wahyu Dwi Handoko a.k.a Hendi SW atawa Skinheadbob. Hendi yang kerap dipanggil Bopo itu turut membantu Hasbi berjualan bakmi setelah keluar dari pekerjaan di percetakan. Seperti tutup ketemu botol, Hendi ternyata adalah sosok gitaris yang dicari Hasbi untuk mengisi musik The Glad sebagaimana yang diharapkan.
Diketahui bahwa Bopo adalah sosok yang cukup dikenal di skena musik Yogyakarta karena merupakan gitaris dari band hardcore Something Wrong dan The Sardonik. Saat pandemi itu, pertemuan intens antara Hasbi dan Bopo membuat mereka mulai menciptakan lagu-lagu baru. Celotehan-celotehan Hasbi saat meladeni pelanggan bakmi dan saat nge-lodse ditransformasikan menjadi lagu oleh Bopo. Saat momen pandemi itu, lahirlah lagu The Glad yang cukup fenomenal yaitu “Anti Nganggur”. Lagu yang dirilis oleh Dugtrax Records itu mendapat tanggapan baik dari pendengar. Bopo seperti menjadi potongan puzzle dari The Glad yang selama ini dicari.
Rencana membuat album pun akhirnya terlaksana. Hasbi mengajak Ivosatya Joseph a.k.a IvOi! dari The Lads Oi! untuk membantu mengisi gitar ritem. Album Join The Lads! pun akhirnya dirilis pada 23 November 2023 masih oleh netlabel punk sekota, Dugtrax Records. Album tersebut berisi empat lagu: “Anthem”, “Joni Pelo”, “For You”, dan “Salam Harapan”. Formasi The Glad dalam album adalah Hazthelad (vokal), Skinheadbob (gitar), IvOi! (gitar), Ignatius Prasetya a.k.a Gonskin atawa Gondol (bass), dan Eric Cofitalan (drum). Lagu “Salam Harapan” mendapat respon positif dari pecinta musik karena mampu mempopulerkan kembali lagu yang diciptakan oleh seniman LEKRA, Sudharnoto dan dipopulerkan oleh Paduan Suara Dialita.
Hasbi berkisah bahwa kelancaran The Glad bisa jadi sejalan dengan kelancaran Bakmi Mas Petbun Ketika pondasi keuangannya memadai, entah kenapa semangat ngebandnya menjadi tumbuh. Diceritakan olehnya bahwa usaha bakmie itu berawal ketika kuliah Administrasi Bisnis-nya di UPN tidak rampung. Hasbi yang pamit ke orang tuanya untuk tidak melanjutkan kuliah, langsung dibuatkan gerobak bakmie. “Awalnya pengen jualan soto karena masaknya gampang dan nggak njelimet. Tapi karena Bapak tahu aku sukanya bangun siang, jadi dibuatkannya rombong bakmie. Bakmie kan jualannya malam,” ujarnya sambil terkekeh.
Usaha Bakmie Mataraman Mas Petbun dimulai pada tahun 2009. Nama “Petbun” diberi oleh ayah Hasbi karena terinspirasi oleh penyanyi pop Amerika era 50-an yaitu Pat Boone. Warung pertama itu ada di sebuah bengkel mobil yang ketika malam tutup di daerah Jalan Kaliurang. “Nama warung bakmie itu kan identik dengan Bakmie Pak siapa gitu kan. Jadi kalau biasanya “Pak”, ini “Mas” aja karena saat itu juga aku masih lajang. Pat Boone itu diejanya kan susah jadi ditulisnya Petbun. Sosok Pat Boone dipilih karena menurut Bapak ganteng aja,” terangnya cengengesan.
Saat itu Hasbi langsung diajari masak Bakmie Jogja oleh Bapaknya, lalu ditawarkan ke teman-temannya untuk mencicipi. Awal membuat usaha itu terasa sangat berat karena jarak rumah ke warung yang cukup jauh. “Pernah merasakan seharian menyiapkan jualan tapi yang beli cuma dua orang, sampe yang beli serombongan besar hingga membuat panik. Ya, itu lika-liku perjalanannya Petbun.” Seiring berjalannya waktu, karena ada sedikit kesalahpahaman dengan pemilik tempat, kita pun pindah dari Bengkel tersebut. Ayah Hasbi yang menemukan tempat di daerah Sompilan (lokasi Petbun sekarang) langsung memutuskan untuk pindah ke lokasi tersebut pada 2010.
Lokasi yang nyelempit di dalam Benteng semacam itu membuat Bakmie Mas Petbun jadi sepi. Hasbi yang saat itu passion-nya masih nongkrong juga membuat warung bakmienya menjadi lebih sering tutup. “Seiring berjalannya waktu, Petbun saat itu jadi tongkrongan. Teman-teman bawa minuman terus nongkrong sampai pagi, gitu terus. Banyak teman-teman suporter sama teman-teman punk luar kota mampir hingga ramai. Saat itu di sekitar 2018, dari mulut ke mulut hingga akhirnya Petbun jadi ramai hingga sekarang,” selorohnya.
Berawal dari kesenangan nongkrong dan memegang teguh keimanan sebagai skinhead itulah yang membuat Bakmie Mataraman Mas Petbun bisa ramai hingga sekarang. Jika ingin berkunjung ke sana, kita menjadi harus menyiapkan diri dengan antrian panjang karena Bakmie yang disajikan dimasak satu per satu. Selain mempunyai tiga kedai di Sompilan; Bumijo; dan Gamping, Bakmie Mas Petbun juga sering diundang untuk pop up. Beberapa kali mereka mampir di perhelatan konser musik, jogging, acara kantor, hingga acara komunitas. Hasbi sendiri juga pernah menjajal membuat pop up Bakmie Mas Petbun di Jakarta dan hasilnya? ramai bukan main.
***
The Glad. Glourious Lads, Glondangan Lads, Gembira Lads, atau terserah kalian memaknainya bagaimana. Hasbi dan para personil lainnya pun sepertinya memasrahkan semua kepada para pendengarnya tentang bagaimana memaknai arti The Glad. Lebih dari itu, The Glad adalah spirit tentang bagaimana memaknai hidup dengan bekerja, bersenang-senang, dan tidak menyusahkan orang lain.
Saya terbilang sering menonton mereka manggung karena The Glad rajin manggung di gigs di Yogyakarta dan sekitarnya. Dari skala kecil hingga festival besar telah dijelajahi. Jika kesepian melanda, cukup datang ke Petbun lalu menunggu Hasbi datang dan sepi pun sirna. Entah dengan minuman hangat angkringan atau miras lokal, semua ditenggak guna menemani obrolan yang tak ada habisnya. Hasbi bersama rekan-rekannya kadang ngide untuk mengadakan Maldini–akronim dari Malioboro Dini Hari. Maldini biasa selesai ketika matahari terbit, badan mulai lelah, dan kita semua pulang ke tempat masing-masing.
Dari kebiasaan nongkrong itulah sepertinya menjadi bahan bakar dari para kawanan gundul ini untuk terus berkarya. Pembawaannya yang supel dan merangkul, seperti mengajak kita untuk gabung. Obrolan ngalor-ngidul justru membuat persaudaraan semakin solid. Dari musik, fashion, sepakbola, politik, hingga kuliner jadi topik yang sering disuguhkan di meja obrolan. Ya, hal-hal rumit kadang tampak sederhana jika diperbincangkan dengan nongkrong.
Malam itu, The Glad sukses menghibur panggung ISI Yogyakarta. Meskipun penontonnya tidak begitu banyak, tidak lantas menurunkan energiknya unit kepala plontos itu. Hasbi tetap tampil dengan celetukan-celetukannya, Bopo dengan permainan gitarnya yang ampuh, dan para personil lainnya yang bermain penuh gairah. Selain Hasbi, Bopo, dan Ivo, malam itu The Glad diaudisionali oleh M pada bass dan Daffa pada drum. Dua personil additional itu adalah member dari band punk yang terbentuk dari UKM Musik UMY yaitu Jailbreaker.
Yang menyenangkan dari panggung-panggung The Glad adalah selalu ada kejutan. Selain karena personil selalu bergonta-ganti karena kesibukan–kecuali Hasbi, pertunjukan The Glad selalu menghadirkan keceriaan semangat anak muda yang memunculkan gairah. Kita juga pasti akan menyaksikan barisan anak muda berpotongan rambut gundul dan berdandan smart dress di moshpit. Pogo, moshing, hingga sing along akan hadir di setiap lagu. Pada momen tertentu red flare menghiasi tengah pertunjukan. Penampilan The Glad pun tampak nyentrik dengan Hasbi yang memakai aksesoris knuckle untuk menghias mikrofonnya. Sebagai penonton, saya merasakan semacam ada energi yang coba disalurkan kepada setiap penonton.
Selepas pertunjukan itu, saya dan Hasbi berkeliling Yogyakarta yang sedang diserbu para wisatawan. Sebagai warga lokal, Hasbi tentu gemas melihat kotanya di akhir tahun yang selalu kedapatan macet. Tapi apa boleh buat, toh keramaian Jogja ini juga merupakan sumber penghidupan masyarakat. Yogyakarta dengan UMR yang terbilang rendah di Pulau Jawa memang memaksa warganya untuk terus bersiasat. Apalagi berdasar BPS terbaru menyebutkan bahwa Yogyakarta merupakan Kota dengan biaya hidup tertinggi nomor dua di Indonesia setelah Denpasar.
Bertahan untuk terus waras di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja memang membutuhkan dukungan dari pertemanan. Kita menjadi harus berangkulan, saling membantu, dan bergotong royong agar bisa hidup ideal. Berharap kepada Pemangku Kebijakan untuk menyelesaikan segala permasalahan itu sama seperti menunggu Imam Mahdi turun ke Bumi. Permasalahan sampah, kemacetan, upah rendah, hingga sulit cari kerja yang ada di Yogyakarta menjadi gambaran betapa muramnya kota ini di tengah jargon Kota Pariwisata.
“Karena skinhead di Inggris itu sudah kuno, aku malah inginnya ke Makkah. Umroh, kalau punya rezeki. Kalau ingin tampil (manggung), ya ingin tampilnya di Jepang. Di Jepang itu karena simbol modern dan ritme cepat, ingin juga belajar melihat yang hiruk-pikuk. Jepang juga masih mengagung-agungkan budaya lokalnya gitu,” ucap Hasbi saat obrolan dini hari di MES 56.
Saya dan Hasbi akhirnya menuntaskan hari yang melelahkan itu di MES 56, salah satu rumah bagi kolektif seni yang ada di Yogyakarta. Kebetulan petang itu, masih ada para seniman-seniman muda yang melek. Bersama botol bir yang tak kunjung habis ditenggak, obrolan terus mengalir di antara bibir-bibir cerewet. Di tengah itu, saya pun tumbang di kursi panjang hingga dibangunkan matahari.
Setelah matahari terbit, kami bersarapan Soto Daging di samping Pasar Prawirotaman. Di tengah mata yang sayu dan keramaian pasar, obrolan terus bergulir. “Bakmie itu sumber pencaharian, kalau pekerjaan kan sudah sadar tidak bisa kerja ikut orang, maka harus menciptakan usaha sendiri. Pilihan membuat usaha bakmie itu pilihan-pilihan yang sifatnya ideal karena tidak bisa kerja ikut sama orang,” ucap Hasbi yang baterainya seperti tidak ada habisnya.
Sebagai skinhead, rasa kekeluargaan antar sesama memang seperti harus selalu ditanamkan. Usaha bakmienya pun seperti dibangun dengan rasa kekeluargaan yang tinggi dengan hangatnya para crew bakmie saat melayani pelanggan. Berkunjung ke Petbun selain mendapatkan rasa Bakmie yang otentik, saya jamin perlakuan yang ramah pasti ditunjukkan crew-nya. Saya selalu kagum dengan mereka karena masih selalu dapat tersenyum ramah di tengah pesanan yang kadang membludak. “Petbun itu syukur-syukur bisa menjadi sandang pangan buat teman-teman. Yang terpenting itu suasananya harus kayak keluarga. Biar rasanya kayak keluarga, terus nyambut gawe bareng,” pungkasnya.
Selepas sarapan itu, Hasbi berpamitan karena siangnya Ia sekeluarga harus ke Bogor untuk berlibur ke kampung sang Istri, seakan ingin rehat dari riuhnya Yogyakarta akhir tahun. Sebagai ayah dari dua orang anak, rasanya mengajak anak-anaknya untuk jalan-jalan adalah hal yang mesti, sebagaimana ayahnya dulu mengajaknya liburan ke Jakarta saat libur sekolah.
The Glad dan Bakmie Mataraman Mas Petbun memang seperti tato-tato yang menempel ditubuh Hasbi–tidak bisa dilepas, terikat rekat, dan tak mampu terpisah. Sebagaimana pula keputusan Hasbi untuk memilih skinhead sebagai jalan hidup. Pilihan kepala gundul itu menjadi konsistensi untuk spirit skinhead yang bukan 5 menit fashion. Docmart yang terus dipakai menjadi tanda setiap masalah harus dihadapi, bukan kabur karena ini bukan sepatu lari.
Yah, subkultur ini dengan segala cara pandang hidupnya memang selalu unik untuk diulik. Termasuk diantaranya para pengiman Skinhead Bible tulisan George Marshall seperti The Glad. Di sana kita menjadi belajar tentang bagaimana sebuah keyakinan dan prinsip menjadi harus dipegang teguh. Meskipun banyak aral melintang, tapi akan menemukan hasilnya jika terus konsisten dan meyakininya. The Glad dengan segala keunikannya memang mampu memberi warna tersendiri bagi skena musik punk di Indonesia. The Glad juga tidak perlu sok-sokan menyuarakan Kelas Pekerja, toh membuat usaha bakmie sudah merupakan bagian dari Kelas Pekerja itu sendiri.
Lagu-lagu The Glad memang seperti anthem penyemangat untuk menjalani hidup yang laknat. Lagu yang tak hanya sekadar punya lirik yang terucap, melainkan sebuah sikap yang diyakini dan juga dilakoni. Dengan brutal mereka menjalani hidup sebagaimana mereka tulis: hidup sudah susah tapi jangan melemah, apapun yang terjadi harus kita hadapi. Kutipan barusan adalah potongan dari lirik “Anti Nganggur”, sebuah lagu yang juga saya imani, karena sepertinya memang betul kata Hasbi sebagaimana sering diorasikannya pada tiap panggung: “Sebaik-baiknya anti kemapanan, anti fasis, anti rasis, adalah anti nganggur!”







