BAGIAN 1: Melintas Sumatera Menyebrang Malaya Hingga Siam, Sebuah Catatan dari Critical Issues “Poison and Spell Tour 2025”

Critical Issues mengajak kita berkelana membuntuti agenda “Poison And Spell Tour 2025” akhir tahun kemarin, lebih dekat melihat mereka melintas Sumatera, nyebrang Malaya, hingga Siam.
Selain merekam dan merilis album rekamannya, tur adalah bagian integral dari apa yang dikerjakan oleh sebuah band. Begitu pula bagi Critical Issues yang menjadikan tur sebagai ritual yang menjadi bagian dalam agenda tiap perilisan album rekamannya. Apabila dilihat dari luar, agenda tur mungkin menyenangkan tapi bila ditelisik dari dalam, maka itu perlu beragam persiapan: mulai dari finansial hingga fisik dan mental.
Dari tur yang telah dijalankan oleh Critical Issues, banyak pelajaran yang kami ambil sebagai band, dari mulai pengorganisirannya hingga perjalanan yang dalam prosesnya membuat kami lebih mengenali karakter tiap personil hingga etos kemandirian dengan pembagian kerja yang menjadi bahan bakar untuk kelancaran sebuah tur. Tidak hanya itu tapi juga insting untuk bersiap apabila ada hal di luar dugaan yang terjadi dalam pelaksanaannya. Trust me, Murhphy’s law is real. Dan itu hanya bisa didapatkan dengan melakukan safar. Dalam hal ini, tur yang membawa kami dan band ini keluar dari zona nyaman di kampung halaman di Palembang.
Bicara soal hal yang menyenangkan, yang tak kalah penting juga adalah kesempatan untuk bertandang ke kota lain, dan bertemu dengan kawan-kawan di scene kota yang didatangi.
Merasakan interaksi lintas kultural, berbagi cerita dan problematika, menjalin interaksi langsung yang sebelumnya mungkin hanya melalui teks lewat perangkat selular, dan pastinya meluap agresi dan berbagi amarah, serta keriangan dalam gig yang diorganisir. Hingar bingar yang jauh dari gegap gempita industri. Wujud nyata dari praktek kultur alternatif mandiri yang bermodalkan jejaring perkawanan.
Kembali ke Critical Issues, setelah pada tahun 2023 melepas album rekaman pertamanya yang kemudian diikuti dengan perjalanan Cobra Hardcore Commando Tour 2023, maka bersama dengan dirilisnya album rekaman Poison and Spell pada bulan Maret 2025, band yang sekarang formasinya diperkuat oleh Ken (drums), Måm (gitar), Mär (bass) dan saya, Lör (vokal) kembali menjajal jalanan dengan “Poison and Spell Tour 2025”.
Untuk bisa melakukan tur dengan Critical Issues adalah privilese dengan banyak hal yang harus dipertimbangkan apalagi dengan personil yang juga bagian dari kelas pekerja. Dari mengusahakan cuti sampai yang terburuk harus meninggalkan pekerjaan. Bagi saya sendiri, selain itu momentum kali ini juga diwarnai gangguan kondisi fisik dengan komplikasi pada bagian tulang belakang sehingga dalam persiapannya juga harus menjalani fisioterapi, dan seri latihan fisik yang cukup intensif.
Perencanaan turnya sendiri mulai dilakukan dari sekitar bulan Mei 2025, setelah album rekaman kedua dari Critical Issues dirilis oleh Disaster Records dan dirayakan dengan “Poison and Spell Showcase” di Palembang. Persiapan tur adalah hal yang krusial karena terkait dengan keuangan, transportasi akomodasi plus logistik serta waktu yang dibutuhkan untuk menjalankannya termasuk juga detail lainnya yang sangat menentukan pelaksanaan tur. Dan yang tak kalah pentingnya adalah komunikasi dengan rekan-rekan kolektif dan organizer yang akan mengorganisir gig di tiap kota yang akan disinggahi. Selain itu juga persiapan tour merchandise dan kaset dari album Poison and Spell dari Disaster Records yang dibawa dalam tur kali ini.
Apabila dibandingkan beberapa tur yang dilakukan sebelumnya, “Poison and Spell Tour 2025” adalah tur Critical Issues dengan rentang waktu yang paling panjang karena menghabiskan waktu selama satu bulan. Perjalanan selama tiga puluh hari dengan dua belas jadwal di dua belas kota, dan melewati tiga batas teritorial. Melintasi Sumatera menyeberang ke Malaya hingga ke Siam kembali ke Indonesia dan singgah ke Tangerang sampai kemudian pulang ke Palembang.
Mungkin kebanyakan band sekarang melakukan pendokumentasian audio video untuk merekam serunya tur mereka, tapi tidak untuk Critical Issues. Saya dan rekan-rekan memilih untuk menuliskannya dalam sebuah jurnal tur. Bukan tanpa alasan, hal itu bukan karena usaha mengangkat minat baca atau romantisisme cara lama, tapi sialnya karena data video tur yang tanpa sengaja terhapus dalam kartu penyimpanan yang digunakan untuk kamera digital yang dibawa, Murphy’s law. Tapi hal insidental itu pula yang memantik ide dan opsi untuk merekam perjalanan “Poison and Spell Tour 2025” dan menceritakannya dalam jurnal perjalanan ini. The chaos continues!
***
BAB I: SAFAR KE BARAT
Secara region, misi pertama dari “Poison and Spell Tour 2025” adalah perjalanan melintas Sumatera. Provinsi pertama yang dikunjungi dalam rangkaian tur adalah Sumatera Barat yang meliputi tiga kota yaitu Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.
En Route to Padang.
Setelah sekitar sebulan e-flyer dari “Poison and Spell Tour 2025” diterbitkan di media sosial, aktivitas persiapan semakin intensif menjelang akhir bulan Oktober 2025. Hal itu karena tur akan dimulai pada tanggal 5 November 2025. Dan, sebelum tanggal keberangkatan menuju Padang yang menjadi kota pertama dalam jadwal tur itu, persiapan yang paling menyita mungkin pencatatan dan pengemasan barang yang akan dibawa tur termasuk merchandise, kaset dan juga CD. Dikarenakan tur ini berlangsung sekali jalan, kargo yang harus dibawa menjadi cukup banyak sekitar sebelas barang dengan ukuran sedang dan besar; meliputi barang bawaan pribadi, instrumen dan perlengkapan musik beserta case- nya, dan merchs tur berserta tas-tas yang memuatnya.
Dengan semua bawaan dan perlengkapan yang sudah siap di tanggal keberangkatan ke Padang yaitu pada pagi hari, 5 November 2025, semua personil Critical Issues bertemu di Boom Futsal sebagai titik kumpul. Semua datang sesuai waktu yang disepakati dalam rencana perjalanan kecuali Mär yang belum kelihatan batang hidungnya. Tidak seperti biasanya, karena yang selalunya telat adalah Måm. Setelah berkali-kali ditelpon ternyata dia baru bangun, dan segera bergegas untuk datang.
Setibanya Mär, kami langsung memesan mobil menuju pool bis. Tapi sepertinya masalah di awal keberangkatan belum berhenti di Mär yang bangun kesiangan. Dalam waktu yang mepet mengejar jam keberangkatan bis ke Padang, saya melakukan pengecekan ulang kelengkapan semua personil, dan ketika bertanya soal paspor, Måm dan Ken ternyata terlupa membawa paspor mereka. Saya lalu meminta pengemudi mobil yang kami tumpangi untuk menepi dan menurunkan kedua rekan band saya itu untuk kembali ke rumah dan mengambil paspor untuk kemudian menyusul saya dan Mär yang melanjutkan perjalanan ke pool bis.
Saya dan Mär pun tiba terlebih dahulu, setelah mengurus tiket dan memuat semua barang bawaan ke bagasi bis, secara bergantian Måm dan Ken tiba di pool bis. Dan setelah kekisruhan kecil di pagi itu akhirnya kami masuk bis yang akan membawa kami ke Padang. Perjalanan bis ke Padang dari Palembang memakan waktu sekitar dua puluh jam dengan jalur yang lumayan mengocok perut bagi yang tidak terbiasa. Tapi ini bukan pertama kalinya personil Critical Issues pergi ke Padang karena baik secara individual maupun dengan band yang lain sudah pernah bertandang ke Padang sebelumnya.
Setelah perjalanan yang panjang, kami tiba di kota Padang pada pagi hari tanggal 6 November 2025, dan dijemput oleh Maip dari Invasion Crews di pool bis. Sebelumnya Maip sempat sakit sehingga koordinasi untuk jadwal tur di Padang sempat diambil alih oleh Abuy. Tapi pagi itu dia bercerita kondisinya sudah semakin membaik hingga bisa menjemput kami, dan kembali terlibat dengan rekan-rekan Invasion Crew yang lain untuk jadwal gig Critical Issues di Padang.
Dari pool bis kami dibawa ke rumah rekan Maip yaitu Hani untuk sarapan, bersih-bersih, dan istirahat sebentar. Di rumah Hani, kami disuguhi sarapan yang menunya adalah rendang, hal yang mungkin cuma terjadi di Padang. Setelah menyempatkan mandi dan meluruskan badan sejenak, siangnya kami bergerak di rumah kontrakan kawan-kawan yang akan menjadi tempat kami menginap di Padang.
Di kontrakan, kami membongkar barang bawaan khususnya merchandise tur yang akan dibawa ke gig untuk dilapak di sana. Setelah semua siap lengkap dengan lembar catatan lapakan, dan instrumen band dicek ulang maka kami bergerak ke tempat acara yang berlokasi di tempat bernama Fabriek. Tiba di Fabriek dengan menumpang mobil sewaan online masih ada waktu untuk makan, dan niat awalnya mau makan sate tapi berubah ketika melihat restoran dendeng lambok. Setelah memesan dan makan dengan lahap, kami kembali ke venue, menyempatkan iseng berfoto band di photobox hingga kemudian mempersiapkan meja lapak untuk merchandise tur yang kami bawa.
Sembari menunggu acara dimulai kami bercengkrama dengan kawan-kawan yang datang malam itu, melepas rindu dengan kawan-kawan lama dan juga berkenalan dengan kawan-kawan baru. Acara yang diorganisir oleh Invasion Crew malam itu bertajuk “Long Time No C! Vol.4” yang mana selain Critical Issues juga menampilkan Blindsided, Injecting Whip, Ogre, Wart, Rumble, Some Die Young, dan Sektor – band hardcore asal Pekanbaru yang kebetulan juga tengah tur ke Padang. Acara berjalan dengan lancar walau malam itu kota Padang diguyur hujan lebat. Di jadwal pertamanya malam itu Critical Issues menambahkan tiga lagu dalam repertoarnya sebagai encore. Selain penampilan band –band yang seru, malam itu juga hadir beberapa teman- teman dari Palembang yang kebetulan sedang merantau bekerja di Padang
Satu hal yang menarik perhatian dan juga membangkit rasa haru adalah selain banner band dan banner Invasion Crew yang menghiasi latar panggung juga ada banner bertuliskan “Mon Forever” dengan gambar Irfan Yutsar atau biasa dikenal Mon, personil dari Bottled Violent (Bandung) yang tak lama berpulang pada waktu itu. Sebuah penghormatan untuk sahabat jauh yang dekat di hati kawan-kawan di beberapa kota di Sumatera.
Kehangatan di malam yang basah diguyur hujan di Padang berlanjut seusai acara dengan makan bersama lontong malam khas Padang. Obrolan berlanjut di meja panjang kedai lontong, hingga kemudian bubar dan kami kembali ke kontrakan untuk beristirahat. Setelah berkemas dan merapikan catatan penjualan lapak baru kami berempat tidur. Rencananya besok paginya kami akan berangkat bersama Yanes – pemain gitar dari Underline – yang menawarkan untuk mengantarkan kami ke Bukittinggi yang menjadi destinasi kedua dari “Poison and Spell Tour 2025”.
Tinggi-tinggi ke Bukittinggi
Di pagi itu tanggal 7 November 2025, Yanes tiba dengan mobilnya untuk menjemput kami di kontrakan Abuy. Kami memang tidak mengambil day-off di Padang karena hari istirahat dalam rencana perjalanan yang dipersiapkan adalah ketika di Bukittinggi. Setelah semua barang dikemas ke dalam mobil, kami berpamitan dengan Abuy dan kawan-kawan. Yanes mengajak kami ke Kampung Cina untuk sarapan dengan Jelli, seorang teman yang sudah menunggu di kedai makan langganannya. Setelah sesi sarapan dan obrolan pagi bersama Jelli, kami bersama Yanes langsung tancap gas berangkat ke Bukittinggi
Perjalanan dari Padang ke Bukittinggi sekitar tiga jam dengan jalur yang naik ke dataran tinggi Sumatera Barat. Bentang alam dan jalur menantang yang juga memukau pada saat bersamaan. Sepanjang perjalanan dengan Yanes, kami membahas soal Sumatera Barat dengan gunung-gunung berapi dan juga pesisir dengan kemungkinan megathrust yang memiliki potensi bencana yang tidak main-main; dan Yanes juga menunjukkan area yang terdampak galodo – banjir lahar dingin – ketika Gunung Marapi menunjukkan aktivitas vulkanik tak lama berselang. Saya juga sempat membahas buku soal geologi dan vulkanologi menarik yang baru saya baca yaitu The Pulse of the Earth: Political Geology in Java tulisan Adam Bobbette. Selain hal lain yang trivial, obrolan dalam perjalanan juga membahas soal asal-usul suku Minang yang berkembang dari dataran tinggi Minangkabau yang meliputi tiga daerah yaitu Tanah Datar, Agam dan Limo Puluah Koto. Dengan obrolan yang seru, perjalanan selama tiga jam terasa begitu singkat.
Ketika sudah memasuki batas kota Bukittinggi, saya menghubungi Ai dari Tabrax Kolektif. Dia kemudian memandu dan memberi petunjuk pada Yanes arah lokasi titik temu. Lokasinya ternyata sebuah rumah makan kecil yang waktu itu cukup ramai didatangi pelanggannya; tempat yang tepat karena waktu menunjukkan jam makan siang. Ai dan rekannya, Nanda yang menjumpai kami di sana langsung mengajak untuk makan dulu. Saya, Ken, Måm, dan Mär serta Yanes – yang jelas lebih lelah karena harus mengemudi – langsung memesan makanan dengan menu masing-masing. Di tengah sesi makan yang lahap, ada satu menu yang menarik yaitu rinuak. Makanan yang dibuat dari ikan kecil yang spesifik dari Sumatera Barat khususnya Danau Maninjau. Sungguh teman makan yang renyah, gurih, dan menggugah selera.
Setelah tenang karena perut sudah kenyang, Ai kemudian mengarahkan kami ke rumah Nanda yang akan menjadi tempat kami menginap selama di Bukittinggi. Dengan posisinya yang berada ketinggian sekitar 900-an meter di atas permukaan laut, udara di kota ini terasa lebih sejuk, dan waktu itu baru sekitar siang menjelang sore. Tiba di rumah Nanda, kami juga disambut oleh Ibu dan Tantenya yang menerima selayaknya tuan rumah yang sangat baik sekali. Mereka mempersilakan kami agar jangan sungkan untuk istirahat, dan membasuh diri.
Kami punya waktu yang cukup untuk bersantai karena acara yang diadakan teman-teman Tabrax Kolektif baru akan dimulai sekitar jam sembilan malam. Sore harinya sempat nongkrong dan jajan kopi gerobakan di daerah Labuh Baru bersama Ai dan Nanda. Di situ berjumpa juga dengan Raden, gitaris Fumus yang setelah menikah pindah ke Payakumbuh. Kebetulan dia juga baru sampai di Bukittinggi untuk bermain bersama Fumus di gig malam itu. Setelah matahari mulai meredup, kami kemudian kembali ke rumah Nanda untuk menyiapkan barang dan perlengkapan yang akan dibawa ke tempat acara.
Setelah bersiap-siap kami bergerak ke venue yang berlokasi di sebuah gedung olahraga badminton. Berlokasi di lantai tiga, fasilitas olahraga di Graha Futsal itu juga berada dalam area sebuah kampus di Bukittinggi. Setelah mempersiapkan meja lapak merchandise yang dibawa, karena acara belum dimulai maka saya dan rekan-rekan Critical Issues bersama Yanes menyempatkan makan malam terlebih dahulu. Yanes juga tengah menunggu kawan kami Budi yang berangkat menyusul ke Bukittinggi dengan mobil travel dari Padang
Budi yang ternyata sempat tersasar karena diturunkan di lokasi yang salah oleh kendaraan ditumpanginya ketika kami tengah santai di dalam venue. Rekan-rekan dari Tabrax Kolektif memberi tahu bahwa acara dimulai agak malam karena tengah berlangsung ujian di kampus yang berada dalam satu area dengan venue malam itu. Gig-nya sendiri bertajuk “Shake Our Pit”. Dengan antrian panjang di tangga akses masuk, cukup ramai juga yang datang ke acara malam itu. Dibuka dengan penampilan ganas dari Hunt, dan dilanjutkan oleh band hardcore punk gelap dari Padang Panjang, Recluse. Dengan audiens yang ekspresif, semua terlihat menikmati gig malam itu. Malam yang dingin berubah menjadi hangat. Band asal Payakumbuh, Worse, juga tampil agresif. Selanjutnya giliran Critical Issues yang main dengan repertoar empat belas lagu dan satu encore. Acara ditutup oleh Fumus yang main dengan vokalis barunya, Fadil, yang notabene adalah anak Payakumbuh yang akan mengorganisir jadwal gig tur Critical Issues bersama kolektif Rats.
Selesai acara, setelah rekan-rekan dari Tabrax Kolektif mengemasi perlengkapan dan venue, kami makan makan malam bersama mengerumuni nasi dan lauk yang disajikan memanjang. Setelah semua beres, kami kembali bersama beberapa rekan pulang ke rumah Nanda. Tidak langsung tidur kami lanjut mengobrol sembari menunggu Yanes yang malam itu akan kembali ke Padang ditemani oleh Budi. Sekitar jam dua dini hari, Yanes yang kali ini ditemani oleh Budi bergerak ke Padang. Setelahnya kami baru istirahat, tak cukup hanya dengan sarung tapi juga berlapis selimut malam itu kami tidur dalam dinginnya kota Bukittinggi.
Besoknya di hari Sabtu tanggal 8 November 2025 adalah jadwal dayoff di Bukittinggi, dan karena tidur cukup larut kami bangun agak siang. Ai dan kawan-kawan lain yang juga menginap di rumah Nanda sudah menyusun rencana agenda aktivitas hari itu. Pertama dalam agenda jelas adalah makan nasi Kapau yang lokasinya juga berdekatan dengan Jam Gadang yang menjadi situs ikonik kota Bukittinggi. Dengan rombongan yang cukup banyak, kami bergerak ke Pasar Atas dengan menumpangi beberapa motor dan juga Ai yang membawa kendaraan tempurnya yaitu sebuah Toyota Starlet lawas berwarna putih yang entah bagaimana bisa memuat banyak orang. Dalam rombongan bergabung juga dua rekan dari Riau, Obi – bermain gitar di Fumus dan juga personil band Iyyo dari Bangkinang – dan Andri yang datang dari Dumai.
Setibanya di Pasar Atas, rombongan langsung menuju area nasi Kapau karena memang kami belum makan siang dan ada baiknya mengisi perut terlebih dahulu. Melewati kios-kios yang menjual pakaian second hand, kami tiba di tempat dengan deretan ragam kedai nasi Kapau. Setelah menentukan kedai mana yang akan kami singgahi untuk makan siang, masing-masing pun memesan makanan. Bagi kami ini semacam surga kecil menu masakan Minang, apalagi makan bersama memang menambah selera. Tapi ketika hendak membayar makan ternyata tagihannya mahal di luar dugaan. Perasaan yang awalnya gembira dan senang karena makan enak seketika berubah menjadi panik. Setelah beberapa kali menghitung ulang ternyata cara saya menyampaikan makanan yang dipesan untuk dihitung berbeda dengan cara menghitung ibu yang menjaga kedai, dan akhirnya lega ternyata tagihannya tidak semahal itu. Dengan hati yang ringan, rombongan pun melanjutkan wisata kota ke Jam Gadang yang sore itu cukup ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan dari luar Bukittinggi
Menjelang sore, kami bergeser dari Pasar Atas ke ngarai Sianok. Tadinya kami pikir akan duduk-duduk santai saja menikmati suasana alam, tapi ternyata di lokasi ngarai Sianok yang kami datangi ada kedai kopi sehingga kami kemudian nongkrong di situ sambil menikmati penganan dan kopi yang kami pesan. Menjelang maghrib, langit mendung dan hujan gerimis mulai turun dan teman-teman mengajak kembali ke Pasar Atas untuk ngemil salah satu jajanan khas Bukittinggi yaitu pisang panggang santan H.M. Zein. Penganan sederhana berupa pisang yang dipanggang dan disajikan dengan kuah santan dan roti gabin tapi memang terkadang yang sederhana itu yang istimewa karena rasa gurih dan manis tipisnya sangat menggelitik lidah.
Malam masih panjang dan sesi nongkrong tidak berhenti di situ. Awalnya kawan-kawan Bukittinggi mengajak ke sebuah kedai kopi tapi karena ramai niat ngopi di situ pun diurungkan. Setelah mencoba mencari opsi lain akhirnya diputuskan untuk nongkrong di sebuah kedai teh talua yang berada di sebelah STS Studio – sebuah workshop sablon milik teman kami Cikiak – dan juga studio musik yang biasa dipakai kawan-kawan untuk latihan. Oya saya lupa sedikit menjelaskan soal teh talua, itu adalah minuman khas Sumatera Barat berupa teh yang dicampur dan diaduk dengan telur hingga menghasilkan tekstur yang kental dan creamy.
Sementara kami nongkrong, Ken dan Imam memisahkan diri untuk pangkas rambut. Bicara soal barbershop, Ken yang menggeluti dunia gunting menggunting rambut sangat tertarik karena pemangkas rambut sepertinya adalah salah satu profesi yang cukup banyak digeluti di Bukittinggi. Dari hasil observasi kecilnya ternyata di Bukittinggi pembagian hasil antara barber dan barbershop secara besaran persentasenya lebih berpihak kepada barber; beda tanah memang beda setelan.
Di tengah nongkrong menikmati teh talua, dan menunggu Ken dan Imam kembali dari pangkas rambut, hujan turun mengguyur deras sehingga kami harus bergeser dari area kedai teh talua yang berada di luar ruangan. Cukup lama hujan turun, sementara perlahan kantuk mulai menyerang. Menjelang tengah malam, setelah hujan mereda kami baru bisa kembali ke rumah Nanda.
Hari yang panjang tapi menyenangkan, malam itu kami tidur dengan nyenyak dalam sejuknya Bukittinggi. Sesi santai dan istirahat yang lebih dari cukup sebelum esoknya melanjutkan perjalanan singkat ke Payakumbuh. Dari rencana yang sempat dibahas, Critical Issues rencananya akan diantarkan ke Payakumbuh dengan mobil yang akan dikemudikan oleh Ridho, vokalis dari Hunt.
Menutup Safar ke Barat di Payakumbuh
Tanggal 9 November 2025, setelah semalam menghela asap dan tidur dengan pulas, pagi itu kami bangun dengan santai ditemani kopi dan obrolan yang mengisi pagi terakhir kami di Bukittinggi. Tapi pastinya bukan hari terakhir kami dengan kawan-kawan Tabrax karena Guillotine juga akan main bersama Critical Issues di gig yang diadakan Fadil dan kawan-kawan Rats di Payakumbuh. Hanya saja rencananya kami berangkat terlebih dahulu bersama Ridho agar sempat makan siang di jalan. Ai dan kawan-kawan akan berangkat lebih sore dari Bukittinggi.
Menjelang siang, setelah mempersiapkan diri dan bawaan pribadi, mengemasi barang rombongan dan memuatnya ke mobil Ridho; saya Måm, Ken, dan Mär berpamitan kepada Ibu dan Tantenya Nanda, dan berterimakasih telah memperkenankan kami untuk tinggal di rumah mereka selama kami berada di Bukittinggi. Berpamitan juga dengan Ai dan kawan-kawan untuk berjumpa kemudian di Payakumbuh. Setelah semua barang bawaan Critical Issues diperiksa ulang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal baru kami berangkat ke Payakumbuh dengan mobil yang dikemudikan oleh Ridho.
Ketika mobil mulai bergerak menuju batas kota Kota Bukittinggi, Ridho bilang dia akan membawa kami sebuah ke rumah makan dengan menu andalan yang mantap. Menuju ke sana, perjalanan diisi dengan obrolan soal bandnya, Hunt, yang kasetnya pada waktu itu akan dirilis oleh Conviction Head Records. Kembali ke topik makanan, keluarga Ridho juga punya usaha ketupat pical khas Kapau yang setiap hari berjualan di pasar Aur Kuning. Obrolan soal makanan pun membangkit rasa lapar yang bercampur rasa penasaran ketika Ridho bilang rumah makan yang berlokasi di Garegeh sudah dekat.
Setibanya di lokasi, Ridho memarkir mobil dan kami pun duduk di area teras rumah makan. Makan siang pun dipesan dengan menu yang bernama gajebo, makanan yang dibuat dari daging bagian punuk sapi yang berlemak dengan kuah gulai asam pedas khas Sumatera Barat. Kata Ridho makanan ini termasuk menu yang jarang disajikan di rumah makan kebanyakan, dan jujur memang di restoran Minang di Palembang pun kami tak pernah menemui menu ini. Rasa lapar dan penasaran pun terpuaskan karena memang rasanya enak sekali.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan perut kenyang dan mata yang sedikit berat sehingga tanpa disadari saya dan rekan Critical Issues yang lain sempat tertidur sejenak di dalam mobil. Terbangun ketika mobil sudah mau memasuki batas kota Payakumbuh, dan saya menghubungi Fadil dari kolektif Rats untuk minta petunjuk lokasi titik temu. Fadil mengarahkan Ridho untuk ke Gerobak Kopi di Simpang Benteng karena tempat kami menginap tak jauh dari situ. Di situ Fadil sudah menunggu dan membawa kami ke Wisma Flamboyan yang sudah dipesannya sebagai akomodasi Critical Issues selama di Payakumbuh. Agak kaget juga kami ketika diberikan penginapan yang selayak itu lengkap dengan kasur empuk dan shower air panas; walau bagi saya karena kondisi tulang belakang tetap harus tidur di permukaan datar yang keras dengan matras yoga yang saya bawa.
Kami tak lama di wisma karena hanya memasukkan semua bawaan kami ke kamar, dan membongkar barang, peralatan dan merchs tur yang akan dibawa ke tempat acara. Setelah semuanya siap, hari hampir menjelang sore, dan kami bergerak bersama Ridho dengan mengikuti Fadil menuju venue yang berada di sebuah kedai kopi bernama Dome. Lokasi tempat acara ketiga dalam jadwal “Poison and Spell Tour 2025” itu cukup menarik karena berada dekat sebuah bukit dan dikelilingi ladang padi. Venue-nya sendiri semacam pendopo yang kemudian ditutupi dengan rangkaian partisi dari seng dan kain hitam.
Hari masih menjelang maghrib, dan gig yang diberi tajuk “Dread A Cage” oleh kolektif Rats itu juga baru akan dimulai pada jam delapan malam sehingga masih ada waktu untuk santai. Mengobrol dengan kawan-kawan yang sudah datang sembari ngopi dan memesan makan.
Di tengah sesi nongkrong itu ada hal yang baru saya sadari karena ada empat orang kawan, Farrel, Rayhan, Fikri, dan Repo yang datang ke tiga gig yang menjadi jadwal tur Critical Issues di Sumatera Barat. Apa yang mereka lakukan adalah bentuk nyata bahwa generasi sekarang dari scene hardcore punk di Sumatera Barat secara level personalnya sudah cukup terkoneksi dengan teman-teman antar kota satu dengan kota lainnya. Hal itu membuka perspektif pribadi bahwa scene Sumatera Barat seru untuk jalur tur mandiri karena memungkinkan untuk melingkupi beberapa titik jadwal dalam satu provinsi.
Langit sudah mulai gelap ketika rombongan Guillotine dan teman-teman Tabrax Kolektif tiba di Dome dari Bukittinggi. Mereka menaiki mobil Starlet putih Ai yang kalau dalam canda semacam mobil taksi di film Warkop DKI yang bisa membawa banyak orang. Walau baru terpisah beberapa jam kami kembali bersapa seperti melepas rindu yang panjang. Hal itu mungkin karena Ai dan kawan-kawan memberikan kehangatan persahabatan yang luar biasa bahkan dengan Ridho yang masih menemani kami. Bersama dengan itu, para gig goers mulai muncul untuk membeli tiket, dan masuk dalam area acara di pendopo yang bertempat di bagian belakang Dome
Waktu menunjukkan sekitar jam delapan malam ketika aksi lokal Payakumbuh, Garrote mulai menyalakan amplifier dan memainkan set yang menyemburkan hardcore punk stomper agresor pemanas crowd. Giliran kedua diikuti oleh band hardcore rookie, Iron Fury, yang bermain cukup intens. Setelah sebelumnya bermain bersama Fumus di Bukittinggi, kali ini Fadil bermain dengan band chain punk-nya yang agresif, Puke. Setelahnya baru kemudian waktunya Critical Issues untuk sejenak mengambil alih podium, dan seperti biasa memainkan repertoar empat belas lagu. Dua band menuju akhir, acara malam itu digempur dua unit hardcore secara back to back. Guillotine yang bermain dengan maksimal dalam tanding tandang mereka dari Bukittinggi. Ditutup oleh Big Bite yang menghantam dengan formula hardcore yang heavy. Acara berjalan lancar dengan cukup banyak crowd yang datang malam itu
Setelah acara selesai kami masih nongkrong bersama kawan-kawan di venue, dan kemudian memutuskan untuk bergeser ke tempat lain untuk menyambung sambil makan. Ada beberapa pilihan hingga ditetapkan untuk ke sebuah rumah makan soto khas Minang. Di situ kami juga sempat diberi oleh-oleh cemilan dari Syadid, personil Iron Fury. Setelah makan kami kembali ke wisma, berganti pakaian, dan keluar lagi ke sebuah kedai kopi di seberang tempat kami menginap. Kedainya tutup cukup larut hingga sesi nongkrong pun bisa disambung di situ. Ai dan kawan-kawan dari Buktinggi juga datang bergabung. Beragam hal diobrolkan dari politik, isu yang menggelitik sampai soal scene hingga tak terasa sudah lewat dini hari. Tongkrongan pun bubar karena rombongan dari Bukittinggi pun sudah mau pulang. Kami kembali berpamitan dengan Ai dan semuanya, dan kembali ke wisma untuk istirahat di hari pertama yang cukup seru di Payakumbuh. Melengkapinya dengan sedikit menghela asap yang dibekali dari Bukittinggi sebelum tidur.
Tanggal 10 November 2025, hari itu adalah jadwal day-off di Payakumbuh, dan rencana utama hari itu adalah main air di pemandian Batang Tabik. Saya, Ken, Måm, dan Mär pun bersiap-siap, dan menunggu Fadil yang tengah menuju wisma untuk mengajak makan siang terlebih dahulu. Setelah Fadil datang kami pun keluar dari wisma, dan berjalan kaki menuju Pasar Petak untuk makan siang di rumah makan ampera Yen. Rumah makannya kecil dan menyempil di tengah pasar, tapi makanannya tak diragukan kelezatannya. Setelahnya kami kembali berjalan kaki dengan melewati jalan besar menuju titik kumpul di Gerobak Kopi karena mengawali hari tanpa kopi terasa kurang mantap. Di situ sudah ada Dhani yang menunggu kami, dan akan bergabung juga Alif serta Raden yang akan ikut juga ke tempat pemandian. Sembari menunggu mereka, saya dan rekan-rekan Critical Issues sejenak kembali ke wisma untuk mengambil baju ganti untuk nanti main air
Sekembalinya kami ke Gerobak Kopi, Alif dan Raden sudah tiba dan kami langsung meluncur ke pemandian Batang Tabik. Setibanya di sana, kami berganti baju dan tanpa basa-basi langsung menyemplung ke kolam pemandian yang sumber airnya langsung dari mata air di Gunung Sago. Airnya sejuk dan menyegarkan sehingga semacam mengembalikan energi yang cukup terkuras selama perjalanan tur. Setelah mengeringkan badan, berganti baju, dan menyempatkan mengganjal perut dengan mie instan rebus baru rombongan kembali ke tengah kota. Kami diantarkan ke penginapan untuk sejenak istirahat sore karena rencana malamnya akan keluar nongkrong lagi.
Setelah sejenak meluruskan badan, saya dan rekan-rekan Critical Issues keluar dari wisma ke Gerobak Kopi sehabis maghrib. Beberapa kawan lain juga datang dan berkumpul di sana. Mereka akan membawa kami makan malam di Sate Danguang- Danguang. Melewati hiruk pikuk pusat kota Payakumbuh yang malam itu cukup ramai, kami berjalan kaki ke kedai sate yang berlokasi di Pasar Payakumbuh Blok Barat. Dalam perjalanan, saya memperhatikan banyak jajanan dan salah satu yang menarik perhatian adalah pepaya santan. Dari penjelasan kawan-kawan, itu adalah jajanan berupa pepaya yang diguyuri santan dan gula aren. Karena penasaran, niatnya saya akan beli dan cicipi setelah makan sate.
Tiba di kedai sate, rombongan kami yang malam itu cukup ramai langsung memesan porsi-porsi sate. Sate khas Minang yang berkuah kuning kental itu adalah makanan spesifik dan otentik dari daerah Danguang-Danguang. Senang sekali bisa berkesempatan mencicipinya langsung tanah Minang. Rasanya lezat, dan pastinya mengenyangkan. Sesudahnya kami kembali kardio ringan dengan berjalan kaki kembali ke Gerobak Kopi. Di perjalanan saya menyempatkan membeli pepaya santan, dan memakannya di Gerobak Kopi. Dan, ternyata rasanya enak sekali, legit, gurih dan manis.
Di Gerobak Kopi ternyata teman-teman punya ide lain untuk bergeser ke sebuah kedai kopi dan roastery bernama R4wstery. Di sana kami memesan kopi, dan saya berbincang dengan barista soal kopi yang mereka sajikan. Cukup lama kami nongkrong di sana hingga sesudahnya memutuskan untuk kembali ke Gerobak Kopi. Nongkrong berlanjut namun bukan di Gerobak Kopi tapi di seberangnya yang adalah tempat roastery dari kedai kopi itu. Di situ kami mengobrol hingga dini hari, salah satu pemantiknya adalah kawan kami Yudha yang membuat kami membincangkan beragam hal hingga konspirasi global dari zionisme yang menyebabkan penjajahan Palestina. Setelah diingatkan soal waktu yang sudah larut, tongkrongan pun membubarkan diri dan saya dan rekan- rekan Critical Issues kembali ke wisma untuk beristirahat
Keesokan harinya adalah tanggal 11 November 2025, hari terakhir kami di Payakumbuh dan tanggal keberangkatan bis yang akan kami tumpangi ke Medan. Sebangun tidur saya, Ken, Måm, dan Mär membereskan semua barang yang kami bawa dan bersiap untuk check out dari penginapan. Rencananya saya dan rekan- rekan Critical Issues diundang oleh Alif untuk makan siang di rumahnya sebelum kami bergerak ke terminal bis Payakumbuh. Seperti hari kemarin, Gerobak Kopi kembali menjadi titik temu, saya juga janjian dengan Yudha untuk bersama ke rumahnya mengambil buku tentang Palestina yang akan dihadiahkannya untuk saya sementara yang lain langsung meluncur ke rumah Alif.
Yudha tinggal bersama Ibunya, dan barbershop bernama Ducktail yang dijalankannya juga menyatu dengan rumahnya. Setelah mengambil buku, saya dan Yudha menyempatkan ke pasar membeli keripik pedas untuk dibawa ke rumah Alif. Ketika kami berdua akhirnya tiba di sana, semua sudah kumpul mengelilingi menu makan siang yang dimasak dan disajikan oleh istri Alif, Dhean. Dalam suasana yang penuh keakraban, kami makan siang dengan lahap. Sesudah makan siang karena waktu yang mepet kami langsung berpamitan untuk melanjutkan ke terminal bis Payakumbuh. Alif juga ikut untuk mengantarkan saya dan rekan-rekan Critical Issues ke sana.
Sesampainya di terminal bis ternyata teman-teman yang lain juga ikut menemani kami ke terminal bis. Ada baiknya juga karena jadwal bis yang seharusnya jam setengah tiga siang ternyata ngaret hingga hampir dua jam dan karena ada teman-teman jadi tak terlalu suntuk menunggu bis yang datang terlambat dari jadwal yang semestinya. Hujan gerimis sempat turun ketika bis datang menjelang sore, kami pun bergegas memasukkan barang bawaan ke bagasi bis. Setelah berpamitan dan berterima kasih untuk semua kebaikan dan bantuan yang diberikan oleh kawan-kawan kolektif Rats, saya dan rekan-rekan Critical Issues menaiki bis yang langsung melanjutkan perjalanannya menuju Medan.
Perjalanan dari Payakumbuh diwarnai dengan pemandangan yang luar biasa dari lanskap Sumatera Barat yang dihiasi perbukitan, lembah dan ngarai; dan dengan jalurnya yang menantang dan pastinya membuat jantung berdebar. Pengemudi yang membawa kendaraan melintasi jalur ini jelas harus berpengalaman.
Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh, tiga kota dalam jadwal “Poison and Spell Tour 2025” di provinsi Sumatera Barat meninggalkan kesan yang tak bisa dilupakan bagi Critical Issues. Semuanya akan kami kenang bersama dengan memori baik yang tersimpan dalam benak. Melewati tapal batas, roda-roda bis pun berputar untuk membawa kami ke destinasi selanjutnya yaitu Medan, ibukota dari provinsi Sumatera Utara.




































