Selinap Backstage: Todong Perekam dan Mengocehlah Evan Seinfeld (Final Part)

Evan Seinfeld bicara tentang PMA, sejarah Biohazard, sampai reuninya yang lontarkan album baru bernada politis, Divided We Fall.
“Di mana para penontonnya?” cetus Evan merespons kondisi pit Custom War yang sore itu cuma berisi seuprit kerumunan. “I feel sorry for them,” katanya merujuk kepada Lorong. “Nobody is watching.”
Tetapi bagi Lorong, jumlah penonton bukan sesuatu yang terlalu penting. Mau ramai atau sepi atau melompong sekalipun, yang mereka pikirkan cuma bagaimana supaya panggung ini tidak mengecewakan Evan Seinfeld. Belakangan Adam Fajar mengatakan banyak penonton tersendat masuk akibat antrian penukaran tiket yang mengular panjang. Enam buah lagu dalam set Lorong sore itu akan menjadi sebuah peristiwa historikal. Vokalis Gustra mengaku sulit tidur tiga hari menjelang penampilan ini. Dulu sekali sewaktu Lorong masih berformasi trio, Gustra terang-terangan meniru gaya Evan, membidani peran sebagai vokalis sekaligus pemetik bass. Lagu yang kerap dipelajari kala tunas itu, “Authority” dan “Punishment”.
Pertanyaannya, bagaimana bisa Lorong menggaet Evan Seinfeld?
Kisah mimpi siang bolong tersebut terjadi secara singkat ketika keberadaan Evan Seinfeld di Bali teridentifikasi pertama kali lewat unggahan bar Gimme Shelter, yang malam itu disinggahinya. Jelas Evan telah stop minum alkohol, kedatangannya didasari rasa penasaran ingin nongkrong di bar tempat Agnostic Front dan Eyehategod pernah menggelar konser. Bak sebuah kebetulan, selalu menunggang Harley Davidson di sepanjang hidupnya, Evan tak kuasa menolak ajakan Custom War yang mengundangnya dadakan sebagai tamu kehormatan.
Adalah suatu kejutan bila Evan kemudian mengutarakan keinginan untuk bisa ikut manggung jika ternyata ada band yang cocok, tidak hanya itu, ia juga minta nama dan fotonya dipampang di poster. Di hari pertama terdapat dua nama hardcore yang dijadwalkan bermain, Kenya dan Lorong. Pihak Custom War menyerahkan pilihannya kepada Evan, beberapa hari selanjutnya Bayu dan Gustra sudah berada satu studio dengannya, melakukan satu-satunya rehearsal guna menghadapi kolaborasi bumi panggang langit tersebut.
Di backstage, Evan dan Lorong tidak lagi membahas perihal kolaborasi, biarkan rileks menelan asam grogi. Sekaleng bir buat kita, segelas matcha bagi vokalis Biohazard. Direntangkan kedua lengan, masing-masing kelima jari Evan saling menyemat, ia lenturkan saraf tulang punggungnya membengkok ke kiri, menahannya sejenak, lalu beralih ke kanan dan ke depan merenggangkan sudut siku pada tulang pinggang dan otot hamstring yang terbalut celana jogger tiga per empat kaki.
“Mungkin aku spiritual,” kata Evan melepas snapback dan menggantinya dengan melilitkan bandana hitam mengelilingi lingkar dahinya. “Tapi aku tetap seorang gangster,” cetusnya tertawa, coba meredakan tensi tegang anak-anak Lorong.
Kelima anggota Lorong berpencar di area backstage menempuh cara masing-masing menangani krisis sebelum manggung. Yang mana tidak kelihatan sama sekali, normal saja. Lorong bukan band kemarin sore, meski terus berganti formasi dan kini memiliki dramer belia berusia 20, mereka sudah ada di scene sejak 2007 di saat gelombang kedua hardcore punk Bali sedang sepi-sepinya.
Tak pernah resmi tercatat, tetapi hikayat dari generasi ke generasi mengatakan momen pertama hardcore punk berjejak di Bali ditandai lewat terbitnya For The Truth ! (Youth Frontline, 1999), kompilasi split antara anak-anak Bali dan Malang. Kau akan mendapatkan posse para dedengkot HC macam Rebel Youth, United Front, Ripper Clown, Finishing Stroke, Today is Struggle, Public of Noise, Struggle Unity, dan Slaughter Head.
Sebelumnya eksis Emocore Revolver, band rapcore besutan Rudolf Dethu, tetapi gaungnya agak jauh tercecer dari generasi di bawahnya. Memasuki pertengahan 2000-an, band-band tadi banyak yang surut, Gustra dan Bayu terpaksa memulai pergerakan baru, menciptakan scene hardcore punk Bali yang lebih relevan sembari memperkenalkan musik mereka dengan menyebar demo dari tangan ke tangan. Atas inisiatif itu pula dihelatlah Hardcore Night, gig berkala setiap hari Kamis dalam dua minggu sekali per bulan di Twice Bar. Itu pun dari 10 band yang bermain, cuma ada empat yang pantas dikategorikan hc punk. Dari situlah ekses jejaring peta hardcore berlangsung, salah satu nama paling julang adalah band political rapcore Geeksmile, kompatriot lainnya termasuk Strikes dan Gommora.
Ketika akhirnya Evan lebih memilih bertamu kepada Lorong ketimbang Kenya, kita hanya bisa memperkirakan pertimbangannya, mungkin: 1) single “Tajam” dari 2022 mampu mewakili selera crossover thrash akan Death Before Dishonor 2) ditambah “Genggam Api”, single paling baru dari 2023, menampilkan komposisi metalcore, Evan suka sekali dengan hardcore yang punya melodi, karena itulah porsinya di Biohazard, bernyanyi cuma merepet layaknya Ozzy on Chuck D.
“Kau tahu band Bali, Superman?” tanya Evan tiba-tiba polos.
“Maksudmu, Superman is Dead?”
“Aku lupa, mungkin itu namanya. . . tetapi mereka sangat bagus. Punk rock, seperti Bad Religion. . . Social Distortion, energinya kuat sekali. I love them! Meskipun aku tak bisa mengerti apa yang mereka nyanyikan. . .
“Lagu apa yang kau dengar, ‘Ephederine King’? ‘Runaway Stripper’? Atau ‘White Town’, mungkin?”
“Aku tak bisa mengingat judul-judul lagunya.”
“Sebenarnya, mereka tampil sebagai headliner malam ini, main terakhir sekitar jam 10-an.”
“No, way! Aku ingin sekali menonton mereka. . . you know what,” kata Evan agak menyeringai bangga, “Tadi malam salah satu gadisku datang, dia orang Lombok, dan kami ngentot sambil mendengarkan katalog Superman di Spotify. Soundtrack yang tepat, all of them! Dan dia, gadisku sangat cantik. . . super seksi, kau mau lihat?”
Siapa yang rela bilang tidak? Dan siapa sanggup menolak karisma seekor bos lendir se-macho sugar daddy Canggu ini?
“Sepuluh menit lagi,” seruak Adam Fajar di tengah potongan rekaman video seekor perempuan mungil berkulit cindo berambut semi pirang—”Yang ini dari Jakarta,” aku Evan—sedang berdiri menggunakan lututnya di atas linen spring bed, berdaster putih menerawang, tersipu si gadis jatuh memeluk pinggul seekor pria bertato tengkorak, berotot tantris, bercelana boxer yang ponselnya merekam sedari tadi.
Skenarionya adalah. . . membuat sex tape—ooops! Salah. Skenarionya adalah, seperti telah sesuai tersusun di repertoar setlist, Lorong akan tampil duluan memainkan tiga lagu orisinal, baru Evan muncul menghabisi tiga lagu cover version. Evergreen hardcore punk karaoke, tadinya ia rekues 7 Seconds, Bad Religion, dan Black Flag, namun atas dalih efektivitas waktu akhirnya dipermudah menjadi Misfits, Ramones, dan setelah Evan menelepon Billy, meminta saran legalitas, mereka sepakat menyertakan “Punishment”. Lagipula ini panggung iseng buat Evan, sebuah aksi kejutan bonus di pekan liburan, kayaknya ia juga tidak minta honor seupil pun. Hitung-hitung pemanasan cilik menjelang tur Divided We Fall keliling Amerika pada Oktober.
Sebelumnya ada banyak kisah lucu yang terjadi di sepanjang dua jam latihan Lorong featuring Evan Seinfeld. Dilaksanakan di studio Rock The Beat di daerah Kesiman, Denpasar. Hal pertama yang diminta di dalam studio adalah matikan AC. Naluri gimnastik berbicara, ia ingin tubuhnya panas berkeringat, main musik bagi Evan sama fungsinya ibarat aktivitas bakar kalori. Lalu urusan teknis. “It’s your first time with mic?” damprat Evan kepada Gustra tatkala suara storing mikrofon tak kunjung cepat dipadamkan. Ketika pukulan dramer mereka beberapa kali ketinggalan tempo, Evan menyuruhnya pensiun saja. Gitar pun tak luput dikoreksi menyoal presisi akor riffs “Punishment” yang melenceng, Lorong biasa main di scale Drop C, sementara Evan di open E.
Bayu ingat impresi heran Evan sewaktu masuk ke dalam studio menemui Lorong. Penampilan fisik mereka jauh dari bayangannya, tentu saja, jika tipikal anak hardcore adalah para masberto macam Freddy Madball atau setidaknya bengal pengendara chopper macam Topper Aryafara, maka kolaboratornya besok tergolong ‘polos’, tidak berselimut tato, kurus-kurus jomplang berbanding lidi dengan penampakan seekor legenda gangsta hardcore yang, yakinlah, sanggup menunaikan 100 kali pull-up restock.

“So weird about this band. Kalian main hardcore dengan badan begini?” ucap Evan, seperti diceritakan Bayu dan Gustra—”malu, nok,” ucap mereka. Ini merupakan momen monumental kedua Lorong bersentuhan langsung dengan komponen NYHC, setelah tujuh tahun silam mereka membuka konser Agnostic Front dan usai manggung Vinnie Stigma naik ke atas panggung membantu Bayu membawakan gitarnya ke backstage seperti seekor paman yang suportif.
Pancar benam mentari menyoroti peredaran ragam makhluk-makhluk di area backstage. Tak jauh dari tempat Evan bersiap jalan menuju panggung, tampak sekawanan fauxhawk, Chelsea hawk, liberty spikes komplotan street punk Turtles Jr. sedang menuai kenikmatan bir sunset menunggu jam tampil. Selain gitaris Buux, dramer Boentar, tidak kelihatan vokalis Bood—ternyata ia harus absen, perhatian tertuju pada seekor bi-hawk yang tengah mengopek kaleng Singaraja dan menenggaknya di antara tumpahan busa. Dia Chema Zurita, bassis Total Chaos yang hari itu punya obligasi persis seperti Evan, menjadi bintang tamu kejutan sebuah band lokal.
Di atas panggung Kenya masih berjibaku dengan jurus-jurus bogem terakhir mereka. Seekor pria berkacamata mempromosikan mereka kepada Evan sebagai band hardcore beatdown terbesar dari Bali dalam dua tahun terakhir, baru saja tur keliling UK, menjadi salah satu line-up Festival Outbreak 2025, dan basis massa mereka terkenal brutal. Setiap show adalah ajang latihan Bal Chagi bagi bocah-bocah tough guy yang mengekspresikan slam dance galak seperti sekumpulan anjing rabies.
“Kami yang menemukannya di New York, violence dance. Pada dasarnya mereka adalah sekumpulan bajingan yang memukuli orang-orang yang tidak ingin terlibat ke tengah pit,” sebut Evan.
Hardcore punk adalah musik intens yang ditulis dengan pikiran jujur dan agresivitas kemarahan. Oleh sebab itu pulalah, banyak orang-orang yang salah mengartikan tindakan agresif dan emosi peluapan amarah dalam hardcore punk sebagai sarana penyaluran kebencian dan arogansi pamer kebelaguan fisik belaka, yang justru malah mendangkalkan semangat keteguhan dan pembangkangan hardcore punk menjadi sekadar musik keras yang memfasilitasi kedunguan kultur bully machismo. Lalu kalau begitu apa bedanya kita dengan gentong sampah?
1312.
Kombinasi angka itu tersyiar akbar di videotron besar latar panggung penampilan Lorong. Penghormatan kepada Affan Kurniawan, supir ojol yang tewas dilindas mobil rantis polisi. “Bergerak Sekarang”, andalan old school dari album New Blood membuka tepat. Tubuh boleh cimit genetika sawo matang, namun energi kemarahan sama bludaknya. Sound bogem mantap. Dramer kick-ass. Gestur lantang. Distorsi abrasif. Hardcore lives! Intro “Beat Your Self” menggulung unduhan riffs berat sepotong CD bajakan Supremacy (Roadrunner, 2006), dan juga One with the Underdog (Trustkill, 2004). Dengan Lorong, agresivitas–kepekatan–kegeraman itu diasuh oleh Hatebreed, Terror, dan setiap album Madball.

Dari pinggir panggung, seolah tak sabar menanti waktu maju ke tengah, Evan Seinfeld tak kuasa menari two-step menangani beat thrash kejam nomor berkerikil “Tajam”. Jemarinya ikut mengepal, bahunya mengayun on-beat. Di sebelahnya Amelia mendampingi sambil mencuplik beberapa momen untuk dijadikan konten, di lengannya tergantung sebuah tumbler minuman berisi cairan warna kuning. Itu oralit, kata Amelia. Sampai saat itu terjadi, rasanya masih mustahil melihat orang berpola hidup sesehat Evan bisa terserang diare. Ia berdiri memunggungi, memberi kita sekali lagi kesempatan memindai detail tato-tatonya, mencari jejak yang sekiranya mengandung bio peninggalan hayati.
Di tengkuknya terukir Mata Leão. Ia mengerjakan album itu tanpa Bobby, yang memutuskan cabut dan membentuk White Devil, band berusia singkat bareng anak-anak Cro-Mags. Billy, seekor antusias Jujitsu, mengadopsi judulnya dari nama teknik cekik mati, rear naked choke seperti foto kover album No Holds Bared. Sebuah kondisi kepala hampir meledak akibat napas tersedak jepitan bisep di belakang leher. Rasio knocked-out: 90%. Secara harfiah, mata leão—bahasa Portugis, artinya‘lion-killer’. Evan menempatkan tato itu di titik yang tepat, di atas jangkauan seekor laba-laba hitam yang bersarang memenuhi hampir sewilayah punggungnya.
Laba-laba tampaknya menjadi simbol insting animal buat Evan Seinfeld. Pseudonim aktor pornonya Spyder Jonez. Ia juga pernah mendirikan band bernama The Spyderz, sebagai vokalis bareng personel M.O.D. dan Ministry—buat yang belum tahu, sekilas info: Evan pernah jadi live member bagi tur Nailbomb di tahun 1995.
Di tengah kaki-kaki laba-laba yang membelalang terdapat aksara tribal DFL, akronim ‘Down For Life’, lagu Biohazard dari tahun 1994 yang bercerita tentang loyalitas omertà, kode tutup mulut di kalangan La Familia Sisilia. Logo Biohazard tercetak di tubuh laba-laba tersebut. Di bawahnya tergurat dua huruf kanji yang dibikinnya bareng Bobby saat tur di Jepang dengan teknik Tebori, 12 jarum tinta yang ditusuk ke kulit menggunakan Sashibo—bambu panjang. Punya Evan artinya ‘respect’, sedang kanji Bobby ada di bagian betis, berbunyi ‘biohazard’. Tidak tahu Danny, tetapi Billy juga punya tato Biohazard di bibirnya, tepatnya di bagian inner lip.
Ketika waktunya tiba, Gustra merangkul Evan lalu mengundangnya ke tengah panggung.
Om Swastiastu!
Meluncur kemudian “Hatebreeders”. Yah, begitu saja. Orang-orang di mosh pit bengong. Berikutnya “Blitzkrieg Bop”. Begitu saja juga. Seribu band Top 40 memainkannya di bar-bar Legian-Kuta. Enjoy Lorong bermain, lepas Evan terboyong.
Nomor terakhir, helicopter double kick.
Punishment! For all my sins, I repent. . .’
Melengkung tulisan di perutnya rajah kapital tribal, BROOKLYN. . . .
Terngiang intro sampling lagunya, dari kalender 1991 film The Punisher, Evan adalah orang yang dulu mengidekannya masuk:
‘Come on God, answer me. . . For years I’m asking why, why are the innocent dead and the guilty alive? Where is justice? Where is punishment? Or have you already answered, have you already said to the world. . . here is justice, here is punishment. Here, in me.’
Pikiran ngehek terbawa ke jawaban Evan atas pertanyaan pamungkas dari sesi penodongan wawancara yang terpaksa terpotong durasi setengah jam lalu.
“Aku bukan orang relijius. Aku tidak percaya dengan agama,” kata Evan.
“Ya tapi sebagai seekor Jews, apa pendapatmu tentang perang yang terjadi di Palestina sekarang. . . apa kau merasa ada pihak-pihak yang sepantasnya dikutuk?”
“Aku tidak mengutuk apa pun atau siapa pun. Aku membiarkan orang-orang menjadi. . .” ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan sepenggal. “Aku tidak memiliki. . .” tak diselesaikannya kembali.
Evan sadar ia harus hati-hati bicara soal masalah ini. “Okay, biar aku jelaskan,” katanya setelah diam sekejap.
“Banyak orang bertanya padaku, tentang hal ini, hal itu. . . aku bilang pada mereka aku tidak memiliki opini. Bodo amat. Aku tidak mau menghabiskan energi untuk melayani jenis pertanyaan seperti yang barusan kau ajukan. Sekali lagi, aku bukan orang relijius. Seandainya kau bisa menemukan siapa Tuhanmu, itu bagus bagimu, kau menemukan kebahagiaanmu. . .” wajahnya kemudian menampakkan mimik gedeg dan melanjutkan.
“. . .tapi yang kebanyakan aku temui dari orang-orang relijius adalah, mereka suka sekali menghakimi orang lain, mereka merasa punya moral yang lebih baik dari orang lain. And I don’t like it, you know. . .”
Baiklah. Jadi di mana kita bisa memandang posisi Evan berpijak, sebagai enabler, ignoran, pasifis, atau secretly zionist?
Semoga bukan yang terakhir. Karena seperti yang diteriakkannya di “F**k the Systems”, nomor pembuka Divided We Fall, setelah diindonesiakan: ‘jangan buang napasmu, ya kau dan orang-orang sejenismu, yang coba memecah belah dengan menghasut mana pihak kiri dan mana pihak kanan.’ Evan Seinfeld menolak untuk terkategori, tergolongkan, dan tergiring oleh sebuah sistem tertentu, termasuk oleh apa yang kita bela.

