X

Selinap Backstage: Todong Perekam dan Mengocehlah Evan Seinfeld (Part 2)

by Rio Tantomo / 9 months ago / 1579 Views / 0 Comments /

Evan Seinfeld bicara tentang PMA, sejarah Biohazard, sampai reuninya yang lontarkan album baru bernada politis, Divided We Fall.


Patron hardcore Evan Seinfeld diasuh classic metal. Di usia 15 ia adalah pecundang berambut gondrong yang bermain bas untuk band cover version lagu-lagu Judas Priest dan Iron Maiden. Bassis favoritnya Geezer Butler, ia juga fans berat Kiss. Scene hardcore New York baru terbuka baginya ketika di tahun ’82 ia menyaksikan Agnostic Front latihan membawakan “Victim in Pain” di sebuah studio tempat ia bekerja sebagai roadie bagi Peter Steele di era Carnivore. Dan sedetik itu pula ia terpukau. Tidak ada sekumpulan hooligan yang pernah menggeber musik seagresif Stigma & Miret cs. sebelumnya, bahkan dalam konsumsi musik ekstremnya selama ini, dan itu mengevolusi selera crossover-nya bertandang mencari celah groove ke wilayah Sheer Terror. Dijamin ia pasti mabuk kepayang sewaktu perdana kena tendang Cause for Alarm (Relativity/Combat, 1986). . . Killing is my business and business is fine!

“Aku sudah pernah menyaksikan Metallica di era awal thrash mereka, Megadeth, Slayer, Mercyful Fate. . . di Brooklyn, kami biasa pergi ke L’Amour untuk menonton band-band underground. Di masa itu tidak ada hardcore di L’Amour, hardcore cuma ada di CBGB di East Village. Bahkan orang-orang masih menyebutnya ‘punk’, istilah ‘hardcore’ belum familiar. . . lalu aku ingat sekitar tahun ’84 atau ’85,  Eddie (Coen) dari Altercation menyodorkan kaset demo Cro-Mags ke tanganku. Itu membantu menajamkan energi dan sensibilitas riffs yang aku inginkan, dan tentu saja menemukan bagaimana cara menciptakan bagian breakdown. Dengan pengaruh metal dan rock yang kubawa, di antara Cro-Mags dan AF (Agnostic Front), dan aku ingat pertama kali mendengarkan kompilasi New York Hardcore – The Way It Is (Revelation, 1988), aku selalu merasa (musik) Biohazard lebih metal ketimbang hardcore.”

Evan bercerita seolah menjelaskan kedudukan bias Biohazard yang rawan diskreditas setiap kali terlibat debat kusir menggubris derogatori seekor FSU Ramallah. Bahwa Biohazard bukan band hardcore, mereka cuma meminjamnya dari tren dan menjual musiknya kepada sekelompok eksekutif berdasi yang tidak peduli sama sekali tentang apa yang mereka bicarakan. Profesi apa yang lebih tepat untuk membandingkannya selain pelacur? Biohazard bahkan harus dikeluarkan dari 50 band hardcore esensial bila majalah-majalah tolol seperti Rolling Stone atau Revolver menulis artikel trivial yang tak kalah tololnya, yang hanya membuat hardcore kehilangan integritas kemandiriannya.

Eeuheum! Itu pasti juga ocehan snob serupa yang terletuskan kepada Turnstile atau Title Fight atau Touché Amoré, evolusi hardcore bagi anak emo. Band-band lembek yang membuat hardcore kehilangan integritas machismo-nya. Bagi anak metal, hardcore artinya membebankan kebencian ke dalam sound beton beatdown, lalu gejrotkan dengan breakdown turun berok.

Warna asli Biohazard sesungguhnya terdapat pada rilisan ‘demo tape 88’. Pengaruh Show No Mercy (Metal Blade, 1983) begitu dalam hingga satu hal yang membedakan unsur thrash mereka dengan A.M.Q.A. atau D.R.I. adalah sound tebal tough guy yang menancapkan klan NYHC pada debut S/T (Magnetic Air, 1990) Biohazard. Meski masih sering kena cibir karena hobi Bobby Hambel menabur solo selayaknya diri Randy Rhoads di hampir setiap lagu, sesuatu yang tidak dilakukan Pete Koller atau siapa pun itu nama gitaris Madball pasca Stigma. 

Solo gitar bukan tradisi vital di hardcore, malahan justru dianggap pamali karena alasan Artemis penurunan daya dobrak. Lagipula solo gitar hanya untuk hippies, itulah kenapa band-band new school macam Earth Crisis atau Strife atau Snapcase mendapat respek mereka.     

“Sewaktu hardcore membesar di L’Amour pada akhir 80-an, musiknya memberi pengaruh penting. . . aku suka nongkrong di scene hardcore, tapi tak lama cabut. Di tahun-tahun itu gelombangnya telah berubah, ada muncul band-band baru, kayak H2O. . . Orang-orang ini mulai memperdebatkan, apa itu hardcore? Mana band yang pantas disebut hardcore? Mulai banyak pelabelan dan definisi. Aku sempat bersitegang dengan Toby (Morse, vokalis H2O), dia menghakimi Biohazard, kadar hardcore kami. . .”

 

Yah dapat dimengerti. Sejujurnya apa yang dituju Toby saat itu, barangkali selain urgensi major label dan jamur klip “Punishment”, single radio-friendly yang dirotasi tinggi di MTV, tersebab lain groove Biohazard yang terlalu funky untuk pantas terklasifikasi dalam, katakan saja ‘kurikulum hardcore metal’. Lucu memang, tetapi namanya juga puritanisme. Bila Merauder parameter elitenya, Urban Dicipline ibarat tensi sumeng di atas ring superbowl. Idola hardcore trendi pada masanya, laksana Rancid bagi Vandals di kalangan bot hitam. Album itu menanggungkan segala hal yang New York pahami tentang keniscayaan hardcore tipikal. Ketimpa sentimen sell-out memang menjadi beban tersendiri, namun barang siapa gagal mengayunkan bahu ketika “Chambers Spins Three” tengah menyalak stereo sebaiknya insaf jadi anak hardcore. Sejati bullshit.

Lagu itu memenuhi seluruh unsur kesanggupan yang dibutuhkan untuk menggelinjang medan pit, lonjak-melonjak pecah benturan. Jump da fuc up! Kita disuguhi beat swag dari kedigdayaan American power groove, riffs metal yang besar, hantaman hardcore yang padat, duet vokal gang yang saling melahirkan tendensi masing-masing: punk rock dan senpi orange 9mm homicide. Dalam nomor quasi rap “Bussiness”, sebuah nomor quasi hardcore, Biohazard mengejek label mainstream, kendaraan yang mereka pakai sebagai famili NYHC untuk meraih plakat rekaman platinum, dengan hasil penjualan album lebih banyak dari populasi warga Staten Island.

Step away. . . yang membedakan Biohazard dan kompatriot rapcore downset. adalah ambisi, seperti diakui Evan sendiri, sedari awal tujuannya bermain musik adalah untuk memburu puncak dunia, bukan cuma menghasilkan musik niche dalam kubangan akar kesejatian, demi menggapaikan status seekor bintang rock kepadanya.

 ‘Music is for you and me,

Not the fucking industry.

         You fucking tell us what is cool,

         you see. . . we come from different schools.’ —- “Business”   

 Alih-alih latah ikutan menghardik “sell-out!”, kau akan menyukai Biohazard kalau kau punya nyali untuk mengatakan Good Charlotte patut mendapat penghormatan setaraf sebagaimana halnya Brian Baker dan semua band yang pernah disinggahinya. Yang mana bullshit. Kau pasti akan mendepak Biohazard seandainya kau melupakan Murphy’s Law di tenungan Bad Brains. Begitu pula jika kau seekor X. Itu pasti. Evan Seinfeld adalah contoh hewani buat para anak hardcore positif. Ia seekor karnivor, dalam artian penganut kedagingan badani. Kau bisa lihat penis seukuran kaleng birnya sedang dicekik memaksa kehendak sodom di film-film porno yang ia bintangi-biayai-sutradarai sendiri. 

Ia mengaku menghasilkan jutaan dolar lebih banyak dalam sebulan di bisnis porno dibanding tur seumur hidup bersama Biohazard, terutama di saat pandemi beberapa tahun lalu. Menyaksikannya berakting mungkin membuat pengikut Ian Mackaye muntah, tetapi tidakkah kau penasaran membayangkan setruman amarah yang bakal tercampak ketika kau memberanikan diri menyetel adegan ngentot Evan Seinfeld, menontonnya, menghayati gulat lenguhan sambil membarenginya dengan tamparan Slapshot, album Sudden Death Overtime (Tang, 1990)? Apa pun sensasi yang mekar di tengahnya, simpan. Biar kau dan ilusi iblis manis di pundakmu yang tahu; seberapa hardcore api libido mampu membakar keteguhan seseorang?       

‘What makes us tick?

         Are we mentally sick?’ —- “What Makes Us Tick”

 “Porno itu bentuk lain dari punk rock. Sama-sama ekstrem. Film porno juga merupakan sebuah pernyataan sosial-politik buatku: kita hidup di dunia yang penuh kekerasan dan senapan dan narkotika, semua itu bisa dianggap normal di masyarakat. Tapi seks tidak. Di Amerika jika seorang anak kecil merokok, hal itu tak dianggap serius, atau anak kecil main video games yang berisi adegan pembunuhan, hal itu pun bukan sebuah masalah besar. Ketika seorang anak kecil melihat toket, tiba-tiba semua orang jadi marah. Itu adalah cara berpikir skizofrenia dalam menilai suatu persoalan. Seks adalah aktivitas alamiah. Semua orang nge-seks, lalu kenapa itu dianggap suatu hal yang kotor? Tidak ada orang yang mati karena masturbasi. Porno adalah stimulasi terhadap sejumlah sel tertentu di otakmu.”       

 Salah satu bagian paling ‘seksuil’ dari Urban Discipline terkandung sebagai interlude pada nomor “Wrong Side of the Track”. Sebuah persembahan riff breakdown orgasmik bagi setiap anak hardcore yang mencintai Slayer. Gemas menelan groove, asyik betul terbawa tempo kresendo – dekresendo trik undakan naik-turun khas new school Danny Schuler, dramer yang bila dibedah lebih serius, sesungguhnya adalah sosok yang menentukan arah kendali permainan Biohazard. 

Signifikansi Danny membawa kompleksitas pada gemuruh tabuh intro tempur “Urban Discipline”, lapisan kulit-kulit dramnya tidak diperhalus, dihantam sekasar tebasan simbal china-nya yang direkam dengan mikrofon studio bertarif $25 per jam. Kesan mentah itulah yang menjaga muruah underground hardcore mereka tidak terjual, terpatri pada helikopter double kick maut yang melegenda di “Punishment” dan bounce beat “Black and White and Red All Over” yang mengganyang elok kemudi pondasi groove Danny Schuler.

 “Ketika mengerjakannya (album Urban Dicipline) kami benar-benar tahu struktur aransemen yang ingin dimainkan, kapan saatnya tempo cepat diubah menjadi breakdown atau kapan tempo pelan harus diperpanjang. Dan kami berempat tiba-tiba memiliki banyak ide baru; Billy adalah seorang screamer sekarang, aku sendiri menyanyikan bagian yang bermelodi dan mulai nge-rap, Bobby tenggelam dengan solo-solo gitarnya, dan Danny. . . dia murni seorang dramer rock, gayanya agak mengarah ke Van Halen, tapi dia hapal semua fundamental dari Black Sabbath dan Led Zeppelin. . . jadi dia bisa bikin groove bouncing yang enak dipakai buat nge-rap.”

Evan mulai terpapar hiphop di kurun ’90-’91-’92, khususnya ketika tersengat album Yo! Bum Rush the Show (Def Jam, 1987). Momen itu terdukung oleh Scott Koenig, manajer Biohazard yang juga bekerja sebagai A&R di Def Jam Recordings sehingga sering kali Evan atau Bobby nongkrong di kantornya dan secara otomatis berkenalan dengan para rapper roster di sana: Flava Flav (yang meminta tanda tangan mereka di atas kaos long sleeve Wrong Side of the Tracks), Chuck D, tentu saja, Big Daddy Kane, Nas, Mobb Deep, dan sempat di sebuah sore yang cerah mereka bermain basket melawan Q-Tip dan Warren G. New York pada paruh pertama 90-an merupakan episentrum bagi virus hiphop dan hardcore. Keduanya saling tumbuh dalam ekspresi kemarahan kaum daki biru yang terepresi kondisi sosial, terberak-berak bertahan hidup dari jebakan pekerjaan buruh rendahan.

Kata Evan, di wilayah tempat lahirnya di Canarsie, bagian tenggara Brooklyn, populasinya didominasi oleh warga kulit hitam dan Puerto Rican. Ada banyak ketegangan rasial setiap harinya, mengingat terdapat sejumlah blok yang juga ditinggali oleh orang-orang keturunan Jews, Irish, dan Italia. Satu-satunya jenis pekerjaan yang valid memperoleh street credential adalah para gangster atau kau dilupakan—dan kebanyakan dari gangster itu berakhir masuk penjara atau terbunuh.

“Hiphop, rap adalah musik jalanan,cetus Evan, “di masa itu rap bukan tentang berlian yang kau pakai, tidak ada yang seperti Jay-Z sialan itu! Buat orang yang tumbuh di Brooklyn hal seperti itu palsu, tidak ada yang memakai berlian di jalanan, berlian adalah barang yang kau beli sebagai hadiah untuk istrimu. Y’know ‘am sayin’?”

Uhm, Jay-who?. . . Ia melanjutkan.

“Rap adalah tentang kehidupan kumuh di subway di mana kau bisa dirampok atau merampok. Biohazard sebuah band metal atau hardcore, whatever. . . tapi lirik kami bercerita tentang jalanan. Kau tahu, Bobby adalah seorang penyair. . . semua lirik hebat kami keluar begitu saja dari rima yang ditulisnya. Aku dan dia sama-sama fans berat Eric B. & Rakim. Aku merasa kami mewakili suatu hal yang baru di kancah hard rock – heavy metal. Kami berasal dari New York, kami cuma ‘anak-anak dari sudut jalan’, y’know ‘am sayin’. . . kami punya estetika tersendiri, kami tidak headbang di mosh pit, tapi dancing, melompat, bouncing up and down.”

“Shades of Grey”, misalnya. Beat trampolin Danny Schuler menjingkrakkan kalian ke langit-langit seperti bola dribble Penny Hardaway, entakan snare-nya memakem cangkem Evan Seinfeld, dengan mengumpamakan fungsinya sebagai pondasi boom bap baginya merepet. “Tears of Blood” adalah nomor hardcore rap gelap, menggerung riff gitar geram Bobby Hambel, the meth-frankenstein bersahut kerongkong liar Billy Graziadei berteriak meladeni melodi repetan tangguh, berima depress, flow barbel, loner-cadence dari seekor masberto pemalu yang bersembunyi di balik mimpi rock star yang kesampaian.

‘No one to blame except myself

         What you call masochism I call wealth

                     Is death life and do we live in hell?’ —- “Tears of Blood” 

Tentang hal itu Evan mengakui: alasannya nge-rap di Biohazard dikarenakan oleh ketidak-percayaan dirinya dalam bernyanyi, dalam bingkai ‘fragile ego Brooklyn shit’, sebutnya. Yang mana akhirnya malah mencetak karakter white boy gangsta miliknya. Habit hiphop semakin menjadi di State of the World Address. Mereka mengundang Sen Dog, rapper Cypress Hill untuk berbagi bar dengan Evan dan Billy di nomor “How It Is”. Bahkan pas Bobby cabut di tahun 1995, bukan gitaris baru yang direkrut melainkan DJ Lethal, turntablis House of Pain dan Limp Bizkit. Nomor “Waiting To Die” dari Mata Leão (Warner Bros, 1996) memperlihatkan betapa dalam sumur hiphop telah menginfus Biohazard, yang secara tidak langsung mempengaruhi terbentuknya pola genre nu-metal yang banyak kena ketus di gerbang tren musik heavy metal 2000-an.

Miskonsepsi rap metal terhadap Biohazard tidak bisa disalahkan, sebaliknya malah justru menggolongkan mereka sebagai pionir. Koneksi Scott Koenig mempertemukan mereka dengan Onyx, grup rap paling hardcore kancah muntab New York City, empat bedebah gundul yang membawa – mengenalkan tradisi slam dance anak hardcore punk ke gig hip hop. 

Lahirlah kemudian Bionyx, meriliskan remiks single “Slam” milik Onyx yang berikutnya mengawali kolaborasi monumental OST. Judgement Night (Immortal, 1993). Sebuah subgenre pembastaran yang berembrio sejak Aerosmith x Run-DMC (1986), lalu Ministry x Grand Wizard & Slogan God (1989), serta tentu saja Public Enemy x Anthrax (1991) mencapai titik pendulangan sempurna. Album kompilasi soundtrack itu memantapkan prototipe rap rock/metal, anugerah yang kemudian menurunkan Deftones, Coal Chamber, Korn, Insane Clown Posse, Purgatory, Rob Zombie ke muka bumi.

Bagaimana tidak, isi OST. Judgment Night gembong semua: Helmet x House of Pain, Ice-T x Slayer, Sonic Youth x Cypress Hill, De La Soul x Teenage Fanclub, masih ada Faith No More, Mudhoney, Dinosaur Jr, Run-DMC, Pearl Jam dll. Tanpa bobot soundtrack se-jeprut itu sudah pasti sekarang kita lupa dengan judul filmnya—JUDGEMENT NIGHT—yang mana memang buruk, seburuk film-film laga Zagarino kalau mau lebay. Biohazard dan Onyx sering saling bertamu di atas panggung masing-masing, di Bacdafucup (JMJ, 1993), mendiang Jam Master Jay yang memproduseri debut Onyx tersebut menempel permainan bas Evan sebagai sample lagu “Shiftee”. Lewat soundtrack itu dan selanjutnya Mata Leão memastikan status rap metal Biohazard bergelimang pengakuan sui generis. 

Tetapi mari mengakui, bertepatan dengan gelombang tren yang menyertai, tetap saja, siapa berpendapat Evan Seinfeld adalah seekor rapper yang bagus sebaiknya jitak jidat kalian. Dalam satu era perbandingan kualitas, sebuah fakta tersaji bahwa empat hari sebelum Urban Dicipline dirilis pada 10 November 1992, suara seekor pemuda gimbal Zapatista bernama Zach bergema ke seluruh dunia memaki negaranya, ‘Motherfuck Uncle Sam, step back! I know who I am!’ di album debut bandnya yang dimodali korporasi kapital Epic Records. Star-Spangled Banner pun resmi dikibarkan terbalik.

Di tahun 1992 itu pula rapper Ice-T melepas “Cop Killer”, nomor terlarang dari album Body Count yang menghunus api di atap-atap pos polisi yang dihangus dendam ribuan massa Rodney King dalam pesta amuk rasial L.A. Riots ’92. Setiap dari kita diperingati oleh bunyi di punggung kaos itu: anger is a gift. Kau tinggal menerimanya, lalu arahkan. Kemarahan Evan menyisakan dua rolet kosong di roda silinder, tiga lainnya berselongsong maut dan ketika pelatuk ditekan, hormon masokis terciduk—chamber spins 3—ia terangsang melihat moncong si bongkok tengah meladeni nyali ke jakun seekor Letda.

Y’know ‘am sayin’. . .

Mentalitas hardcore di antara masing-masing kita berbeda. Cara-cara kita mengontra kontrol sosial berbeda, dalam memilih jalannya, menentukan ke arah mana anugerah kemarahan itu kita pelihara dan seberapa jauh nyali itu berani kita berdayakan. Norma hidup adalah pilihan subjektivitas individu. Bagi para X, artinya taat bernapas tanpa racun, menunaikan PMA atau keras menolak rumah pejagalan sapi, mendukung peruntuhan kebun binatang bagi para vegan milisia front animal liberation. Lain lagi kerumunan Khrisna core yang mungkin mengincar moksha, atau spiritualis rasta pun begundalis-begundalis nihilis yang mengarungi hari dengan sebotol vodkils. Jika kemudian perbedaan membuat kita jadi sering berkelahi, maka utuhkan kesejatianmu, pancang di mana teritori berdiri bersama saudara sekoloni. Itulah kenapa tengkuk kita suka menderit haru setiap kali bergerombol menerjang porsi gang vocal di sebuah lagu lawas, “Free At Last” misalnya, atau “Through My Eyes” atau “Sakit Jiwa” atau “Septic Crew” (Ha!).

Mereka sering mencah guyon musik metal karena bicara tentang makhluk demit macam goblin dan nenek sihir, bagi famili hardcore punk—pun hip hop, yang juga memegang teguh prinsip teritori dan saudara sekoloni—monster mereka menapak di aspal yang sama, tempat kita kena palak lencana aparat, berpijak di tancapan badik si negro ke limpa si Nazi Bonehead karena telah mengempan kepalanya kepada regu patroli rute Brooklyn Bridge sampai plaza downtown, sebagai sesajen Thanksgiving, di mana seekor penggemar Fentanyl tengah menyemprot pilox ke sebuah dinding kasat di Walt Whitman Park: ‘Menggendutlah, kalian belatung babi 600 E Jackson St. Polres Cabang Brownsville.’

CROOKED. — Mana lebih parah, NYPD atau POLDA METRO JAYA? 

Jangan lihat kualitas wordsmith pada kapasitas repetan Evan, ia cuma seekor anak metal dari pojokan Brooklyn. Tidak lebih baik dipadankan jagoan leksikon kabupaten. Terdengar corny sejujurnya, tetapi mungkin memang begitulah cara ghetto Brooklyn bicara kenyataan. Terpampang di depan mata mereka. Apa yang dilihat, itulah yang ditulis, dengan sedikit pretensi tanpa kosmetik. Lirik-lirik Evan keluar seperti gantungan murung di kelima borough New York; rasisme, aparat korup, pemerkosaan inses, induk semang yang dirampok tanahnya. Fasisme dan brutalitas polisi adalah sebuah epitome ignoransi, tidakkah kau muak terus dibajak, dijadikan bidak sosial media? Pantengin ponsel kita disuguhi hiburan kelam genosida, dijadikan tabel statistik, degenerasi kanker bola pingpong. Dipental-pental. Ke mana kita harus berpihak di zaman perang martir urban melawan wabah gerd tak lebih paceklik dari aktivisme palsu berkedok bintang pop?

Dan ketika relevansi pesan yang dimaksud tadi meletakkan kakinya di wilayah Brooklyn, ‘You best watch your back!’ seru Evan di “Wrong Side of the Tracks”.

“Tidak mudah tumbuh-besar di tempat kami berasal, East New York, Brooklyn. Para rapper notorious seperti Biggie dan Wu-Tang datang dari sana. Bagi seorang anak gemuk sepertiku, aku tidak percaya diri, aku takut melihat orang-orang saling bunuh, saling tikam, saling tembak, saling pukul. . . di Brooklyn kau harus mampu hidup di jalanan, harus tahu cara bicara, tahu cara bergaul, tahu dengan siapa kau bisa bercerita dan dengan siapa kau tidak bisa. Kau harus cerdas, kau harus bersaing, kadang kau berhasil – kadang bokongmu kena sepak. In these raw street, you know. . . warriors will come out and play.”

“Five Blocks To The Subway”, nomor yang semestinya masuk ke Urban Dicipline namun gagal karena urusan major label, mengadaptasi insting survival warlok Brooklyn menjalani keseharian hidup. Musiknya sendiri tidak bisa disebut ‘hardcore’, lebih rekat ke ‘Bobby the hand-ball heavy blues’. Liriknya dinyanyikan dari puisi ciptaan Robert James Hambel Jr—ya ayah kandung Bobby—seekor tukang pipa yang setiap pagi menunggu datangnya kereta bawah tanah jurusan Flatbush Avenue ke Manhattan.

Di jarak lima blok jalan kaki menuju stasiun subway, sumbu dan api saling bersulut, nyawamu bisa hilang setiap saat, anak-anak mati di depan gang rumah mereka, orang-orang mengenyam pelajaran dari trotoar jalanan, bonyok, dan meradang. Seekor penguasa blok menyuap polisi supaya lancar jualan dope, perompak dan tukang garong berkeliaran, menjamu dengan ancaman setiap kali kau singgah membayar bea transit di stasiun Brooklyn. Menghadapi kenyataan ternyata adalah trik hidup yang paling sulit untuk dimainkan, berjalan di tepi jurang kehancuran.         

‘Standin’ on the platform and I’m waiting for the train

Good thing I’m underground, now it’s startin’ to rain

         Always stand alone, hold the wall with my back,

         or else you might get pushed on to the tracks. —- “Five Blocks To The Subway”

Thugcore 4 Life, selayaknya kompatriot rapper NYHC Danny Diablo, vokalis Crown of Thornz/Icepick/Skarhead, menyatakan lewat album solo keempatnya, seperti gigi depan Billy Graziadei yang ompong di klip “Shades of Grey” memotret mentalitas jalanan, street fighting men di lagu-lagu Biohazard. Terserah kalian boleh tetap bersikeras menderak mereka sell-out atau meragukan kadar hardcore yang kena tanggung, tetapi jangan lupa ini adalah band yang di tahun 1995 melangsungkan tur bertajuk Divine Alcoholics, bertandem Slayer, 24 jam keran booze fuck barricades!

Biohazard band yang konsisten menolak didirikannya pagar barikade di show mereka, semua orang berpundak sejajar, silakan naik ke atas panggung dan berkelakuanlah. Sikap itu pernah mengganjar peristiwa adu jotos ketika Evan mengundang 50 ribu kepala di Donington ’94 naik ke atas panggung di tengah lagu “Tales From the Hard Side”, memecah riotus pemadaman sound sepihak dari sekuriti. Biohazard ditendang keluar festival setelah Bobby menyembur ludah ke arah petugas dan ngamuk membabat hancur backstage.  

Itu wajar dilakukan. Akar Biohazard tumbuh berkembang sebagai band yang rutin bermain di gig Sunday Matinee CBGB. Mereka sudah pernah mengalami semua yang dilakukan band-band hardcore di New York, termasuk kena tipu label independen yang mendistribusikan album debut mereka.

Evolusi hardcore diserap melalui crossover Slayer dan Agnostic Front, Cro-Mags dan surf & slam Suicidal Tendencies membogem groove dengan Judge sebagai kontrol di garis tipis seminal. Biohazard band hardcore dengan gitaris yang memperkosa melodi seperti Stevie Ray Vaughn kinetik. Masih tidak cukup metal sebenarnya bila bersejajarkan Machine Head atau Pantera. Saat itu kecenderungan tren terhadap grunge di awal dekade 90-an memberi transisi secara naluriah kepada band-band thrash untuk mulai menulis lagu heavy yang mengandalkan groove pada komposisi metal bertempo geram. Anthrax, Coroner, Kreator, Testament, Sacred Reich, Annihilator, Overkill, bahkan Nuclear Assault dan Carcass melakukannya. Groove metal. Kita bisa merasakan dia bergulung. . . jujur saja, machtig seperti Dmize. Entakan riffs gitar yang kaku, beton, merevitalisasi kecepatan dengan pembangunan wall-of-riffs.

Untuk hal groove metal tersebut, tampaknya kalender hardcore 1992 perlu ditelusuri lebih serius lagi karena selain Urban Dicipline, ternyata Helmet ikut merilis album penting, Meantime (Interscope), sophomore yang mendefinisikan sebenarnya wujud subgenre groove metal. Gitaris Helmet, Rob Echeverria, seekor dedengkot NYHC bekas personel Rest In Pieces dan Straight Ahead nantinya akan masuk sebagai personel Biohazard, mengontribusi No Holds Barred (Roadrunner, 1997) dan New World Disorder (Mercury, 1999). 

Pengaruh besar lain, Vulgar Display of Power (Atlantic) juga nongol di tahun 1992—selain Rage Against The Machine, dan tentu saja, La Sexorcisto: Devil Music Volume One (Geffen); White Zombie, meski bukan hardcore punk tetapi nyasar ke kancah itu dan sering main satu poster bareng Biohazard di Pyramid Club, sebuah nite klab markas drag queen di East Village Manhattan. Di tempat itulah dulu Tommy Victor, pendiri Prong pernah mewujudkan show perdana Biohazard ketika mengajak mereka jadi pembuka, circa 1987. Prong di tahun-tahun kemudian, ’92-‘96 – setelah selesai menempuh fase hardcore punk, melepas Cleansing (Epic, 1994), ace of spades bagi rilisan klasik groove metal; tetek bengek subgenre yang kita eufisme-kan saja pengertiannya sebagai bentuk metal dari hardcore mainstream. Itulah kenapa kita tidak sampai hati mendeviasi Merauder dan Subzero sebagau groove metal, padahal merekalah mamang-nya. 

Di kalangan NYHC, saking meluasnya pengaruh groove metal hingga menyebabkan munculnya candaan ‘Jackson Heights groove-metal’, bagi anak-anak hardcore Queens yang memberati musiknya setengah-“sad but true”, mid tempo Metallica-slow-shit kinda. Walaupun kenyataan tidak seburuk itu juga, Scratch the Surface (East West, 1994) produk mutakhir anak-anak Alleyway Crew, Sick of it All adalah album straight ahead hardcore, pure anger energi, cuma saja Koller Brothers memolesnya secara world-wide, dan membukakan scene New York Hardcore buat kita semua. Y’know ‘am sayin’. . .

 Tiba-tiba saja dunia mencintai hardcore. Sepultura jadi hardcore. Slayer bikin kompilasi hardcore. TV menyiarkan hardcore. Toko kaset jualan album hardcore. Bejibun gig hardcore. Anak skate kick flip sambil dengerin “Wilma’s Rainbow” dari Betty (Interscope, 1994). Kita agak menyukai Dog Eat Dog karena All Boro Kings (Roadrunner, 1994) dinilai cukup hardcore dipakai untuk mengimbangi Inside Out, band hardcore kepunyaan rapper RATM. 

Di Bandung circa ‘95, beredar gogon kaset EP Puppen yang dikirimkan Arian13 ke Brooklyn dilepeh, diinjak-injak oleh anak-anak Biohazard karena dianggap plagiator—gogon klasik berusia 30 tahun yang kini terkonfirmasi bohong setelah 13 menyatakan tidak pernah melakukan korespondensi apa pun kepada Biohazard. Isu tersebut menurut perkiraannya difitnahkan scene hc punk Jakarta sebagai bagian dari drama chauvinis, perseteruan kebanggaan teritori antara BDG versus JKT.       

Dalam pusaran global masa itu, Biohazard mendominasi rotasi putar siaran MTV. Klip “Punishment” yang menampilkan segenap homies, slam dancing memenuhi Brooklyn Bridge menggapai puncak chart Headbanger’s Ball, mengungguli di posisi runner-up, “November Rain”. Merekalah band hardcore paling besar di era Kurt Cobain. Get thrashed! Trampoline groove! Trendy as slum! Rough-shod! Killer tattooed-rift! Tough hip-hop kontol kuda! Fuck close-minded people. There are only shades of grey. . .

Menyebut Urban Dicipline rekaman rapcore berarti memahami visi groove Bobby Hambel. Dia berjalan di tengah zona perang, merefleksikan sisi punk rock Billy Graziadei, menumbuhkan  stream of conscious-hate pada diri Evan Seinfeld, sebagai himpunan koloni muntab kelima borough di NY City. Saat si bongkok ditodongkan, menyeringailah kau senyalang dia anak gondrong Poison Idea ~ dari Syracuse, Yonkers, Lower East Side, Buffalo, Tompkins Square, Nassau, Albany, Astoria, Long Island, West Bronx, sampai tongkrongan Skins/Oi! di Sunset Park, mengguncanglah, bertinju dengan kebanggaan dan keteguhan membadani punuk. Di New York, Evan Seinfeld berang dan bernoda. Mabuk ia dikonsumsi ekstasi dan tetesan beling, merongrong fetis akan kejayaan hidup abadi. No sleep ‘til. . .

“Brooklyn, Bronx, Manhattan, Staten Island and Queens

Standing up and fighting is what living here means.

         In order to survive you’ve got to earn your respect,

         the only lessons that you learn are from things that you regret.” —- “Urban Dicipline” 

Pada waktu kutipan-kutipan wawancara ini sibuk disusun, “Death of Me”, single beruntun keempat untuk Divided We Fall (BLKIIBLK, 2025), album reuni Biohazard yang kedua, publis lima hari lalu—17 September, 14 tahun setelah Evan Seinfeld memutuskan cabut. Di luar keajaiban formasi legendaris ini bisa bersatu kembali, mempertimbangkan kedudukan Biohazard sekarang di kalender beatdown 2025, tahun ke sekian kebangkitan post-covid hardcore, siapa yang masih peduli? 

Kumpulkan semua punggawa kelas berat: Knocked Loose, Sunami, Speed, Bayway, Jesus Piece, Pain of Truth, Kublai Khan TX, Gulch (favorit!), ikutkan sekalian jagoan-jagoan nasional kita, bli-bli Kenya, wak-awak Pleazure and Pain, sam-sam Keep It Real, nyong-nyong Defy, kang-akang Bleach, bang-abang Outrage, cak-cak Fraud.

“Death of Me” adalah nomor total beatdown penggugah daya tumbuk chug riffs, merambat seperti derap kapak menggidik, mengingatkan pada Bulldoze di tahun ’96. Ring mosh dipenuhi love language of physical attack, gerinda baling-baling windmill, modern hardcore, sound tebal yang kaku, death-metal-esque menebar solo gitar sebagaimana adat heavy metal Bobby Hambel berurat-akar. Seandainya pesta-pesta besar macam Sound and Fury atau Outbreak tidak lantas menyertakan Biohazard ke dalam line-up 2026 nanti sebaiknya mereka punya alasan yang tepat: telah berubah menjadi festival straight-edge, misalnya. Atau dianggapnya beda planet. . . yang mana menyedihkan. Sebab mengacuhkan Biohazard tandanya melakukan pengotakkan.

Sejak naik panggung bareng lagi di Milwaukee Metal Fest pada 26 Mei 2023, Evan-Bobby-Billy-Danny sadar telah ada banyak tahun-tahun yang hilang, memainkan “Hold My Own” dan mengakhirinya dengan mengingat kembali betapa bouncy-nya jantung ditrampolin saat undangan’step to the rhythm of the Brooklyn beat’ masuk, membuat satu sesi studio rekaman segera dipesan. Mereka merasakan getarannya, sebagaimana Evan menceritakannya dengan bersemangat.

Ada sebuah tangan yang menempatkan kami masuk ke dalam stoples, lalu menguburnya di suatu tempat, seperti mesin waktu . . .” ia berhenti sebentar, berusaha memperlambat intonasi kalimatnya agar tetap zen. “Aku tidak pernah bermain musik dengan mereka selama 12 tahun,” sambungnya, “tapi ternyata Danny, Billy, Bobby—kami semua menjaga kemampuan masing-masing, dengan passion yang serupa besarnya balik ke tahun ‘87.”

Ketika Danny Schuler mengayunkan ketukan dribble yang menggemaskan dan kalian berpogo two-step merangkulnya, yang kita dapat selanjutnya adalah riff madballer, serius, old-school hardcore breakdown. “Forsaken”, single stimulator kampanye reuni ini menebalkan kembali tato-tato yang pudar, sangat classic ‘Shades of Grey’: mana kala memang harus ada lagu-lagu baru, sudah sepantasnya keparat-keparat tua ini menarik taiknya dari Urban Dicipline

Tantang crowd killing mosh dengan single ketiga “Eyes On Six”. Intronya berdenting bak piano horor John Carpenter, sebuah nomor crossover thrash yang balas menghantam kaki di wajahmu. Penyok. Empat single cuplikan Divided We Fall ini tampak menerbitkan sinyal positif terhadap keseluruhan albumnya, dan kemungkinan besar tidak akan mengulangi kesalahan pada percobaan reuni pertama yang gagal di tahun 2011. Gagal karena, meski berhasil menelurkan sebuah album metalcore keren, Reborn In Defiance (Nuclear Blast, 2012), Evan langsung kehilangan minat. Ia lalu hengkang dan kebut di tahun yang sama 2012 meriliskan album penuh Attika 7, band heavy rock bikinannya, meninggalkan Biohazard yang gondok mencoba melanjutkan tur dengan merekrut seekor vokalis-bassis skinhead, Scott Roberts, yang juga bermain gitar untuk album Means to an End (SPV, 2005) selama dua tahun sebelum karam hiatus.  

This record is Urban Dicipline on steroid,” cetus Evan seolah menguatkan posisi Divided We Fall di papan target pengenyekan anak-anak hardcore yang cenderung telah telanjur melupakan. Termasuk juga kita semua.

Maksudnya, mana yang lebih memuaskan dahaga di antara reuni Biohazard dan Have Heart di kalender kombat 2024 kemarin? Have Heart mungkin akan bikin album baru lagi di tahun 2031—itu pun kalau Kei Yasui sedang mood. Sementara di Long Branch, New Jersey, Evan terbang dari Tulum untuk bergabung dengan Danny, Bobby, dan Billy. Bury the hatchet. Menggodok, melepas 12 tahun amarah empat kawan yang lama terpendam, di bawah bimbingan produser Matt Hyde—di luar portofolio mentereng: pernah menangani God Hates Us All (American Recordings, 2001) dan Perseverance (Universal, 2002), kemampuan beliau menggenggamkan sound hardcore metallic yang gigih menjadikan single kedua “F**k the System” memiliki bobot downbeat tersendiri, tampolan ala old school Brooklyn groove pada bagian breakdown yang mengepal shout gang vocal.

FUCK THE SYSTEM!  

Evan nge-rap di nomor itu, juga di “Eyes On Six”. Kembali lagi, siapa berpendapat Evan Seinfeld adalah seekor rapper yang bagus sebaiknya potek jidat kalian. Tanpa menulis cerita ini kita mungkin tidak akan pernah menyadari betapa tersesatnya perkembangan selera hip hop Evan mengekor tren—yang norak, embrio penjamuran pergerakan rap kerak tinja Poris dan PreachJa Records. Ngakak! Di bawah moniker pervert SVG$. Lihat saja! Dari kalender auto-tune 2019. Evan menjelma seekor rapper karbitan studio porno, melampirkan beat trap hasil olahan buntut kepang Drake dan Travis Scott. Tak patut dicontoh, paling tidak buat penggemar creepy rap cempreng B-Real. Single solo itu memperlihatkan seberapa parah krisis L.A. sebenarnya mengikis diri Evan. Omong kosong Hollywood. Degradasi American Dream. Ia menginsyafkan semua. Armed with a mind. Tulum mengubah afirmasinya, melampaui keraguan maskulinitas yang sempat merongsok kepercayaan dirinya.

“Untuk menjadi lelaki kita terbiasa diproyeksikan sebagai seorang yang macho atau tough. Tough guy sejati adalah seseorang yang tidak perlu berakting macho, tapi dia percaya dengan dirinya sendiri, penuh kasih sayang terhadap sesama, dan mampu memaafkan serta murah hati. Itu yang aku sebut kekuatan sekarang.”  

Repetannya di “F**k the System” adalah raw anger seekor old swagger, bukti dari khasiat hidup PMA—positive mental attitude. Energi rap rock superstar Evan Seinfeld sangat meyakinkan, raganya sudah kembali prima terisi oleh, kau tahu, bocah tua dari Canarsie, Brooklyn, seekor anak jalanan yang muak terus-terusan disetir skenario perang. Sebagai pria keturunan Yahudi di Amerika ia tentu mengerti alasan kenapa negaranya tak pernah berhenti bertempur; buruk muka cermin dibelah, mungkin Evan tak lagi heran, tetapi menyadari penuh dengan kemarahan, dan menerima kenyataan di hadapan, bahwa dirinya ikut ambil bagian dalam statistik 340 juta warga sebuah negara besar yang sejahtera dari hasil nge-bandar senjata, dan sama sekali tak punya sedikit pun keraguan untuk membunuh siapa saja orang di dunia ini yang berani coba-coba membikin presidennya kesal.

“Dunia kita (sedang) terpecah belah. Fuck with your system, semua kekuatan absolut yang eksis, seperti negara. . . Mereka ingin mengontrol kita, mereka ingin kita bertengkar, agar menjadi bagian dari sistem mereka. . . aku menolaknya, aku ingin hidup dengan caraku sendiri, you know—”

Kalimat Evan terpotong. Matcha latte pesanannya tiba, diantar oleh seekor pria gondrong blasteran Indo-Amerika yang diperkenalkan sebagai Daniel. Evan sudah berteman dengannya selama 15 tahun. “Dia DJ terkenal,” cetus Evan, “nama panggungnya LA Riots.” Daniel—nama belakangnya ‘Linton’, warga Nusa Dua—menghiraukan komplimen tadi, lalu menyodorkan gelas karton putih ke atas meja.

“Mereka cuma punya susu sapi. Aku ‘gak tau kau mau latte panas atau dingin, tapi aku bawa matcha.”  

 “Susu sapi?” sahut Evan mempertanyakan. Itu tidak sesuai dengan permintaannya. Demi alasan menjaga tingkat kerendahan kalori, ia menginginkan susu almond.

“Cuma itu yang mereka punya. . .” ujar Daniel mengangkat kedua bahunya.  

 Oh, man.” Evan tak punya pilihan selain menerimanya. “I’ll take it, it’ll be perfect on stage.” Berimbun bir dan kaleng-kaleng soda tidak menarik perhatiannya. Satu-satunya minuman yang dibutuhkannya dan tersedia di backstage itu hanyalah air mineral.

Daniel menggodanya. Mungkin sebagai candaan teman lama yang sudah lama tak jumpa, dia pun terkejut dengan perubahan pada diri Evan. Tidak pernah dilihatnya fenomena ajaib seperti ini, vokalis Biohazard minta secangkir matcha latte, bukan absinthe atau Night Train sebelum naik panggung. Bahkan pun bukan segelas kopi. Rokoknya saja adalah vape rasa es teh.

“Waktu aku minta susu almond dan mereka tidak mempunyainya, aku bujuk baristanya untuk mencarinya sampai dapat, karena aku bilang padanya sedang bersama seorang perempuan yang sangat manis.”

LA Riots ketawa ngakak.

I’m a princess, bro!” balas Evan pelan, dengan senyum yang melipat-gandakan kesan coolness, “very secure with my masculinity,” ujarnya menghibur suasana elastis yang tercipta dalam durasi waktu yang kian sempit: tetap tenang, itu kuncinya.

Daniel meloyor pergi. Kembali ke orbit todongan rekorder. “Uhm,” gumam Evan, “sampai di mana tadi kita. . .” Coba diingatnya pokok pembicaraan yang putus, lalu dikecupnya bibir cangkir latte, dan seolah kena sentil, segera kalimat yang tadi sempat menguap melanjut begitu saja, mengalir seperti untaian pendongeng pikun. . .

“Ya tiga lagu (“Death of Me” belum terbit saat wawancara ini dilakukan) yang sudah kami rilis, aku menyukai semuanya. Amazing. Tapi tiga atau empat lagu favoritku, lagu-lagu yang memberiku kepuasan secara pribadi dari Divided We Fall tidak ada di antaranya. Walaupun Biohazard selalu menulis musik dalam konteks keutuhan sebuah album, bukan satu atau dua lagu doang . . . tunggu sampai kau mendengar “Fight to Be Free”, lalu “Warriors”, “I Will Overcome”. . . dan “Word to the Wise”. Buatku, ini adalah album terbaik yang pernah kami—”

Belum sampai kelar pernyataan tadi meluncur, kalimat kembali terputus. Adam Fajar, manajer Lorong, nongol melakukan pekerjaannya, dengan tangan menenteng kertas rundown acara dan repertoar setlist dia berkode: butuh waktu berapa lama lagi. . . sehabis band ini kami on stage. . . satu pertanyaan, cukup, kah?

Tampak dari kejauhan panggung, Kenya hampir memasuki ujung set mereka. Tawaran Adam menanti keputusan cepat. Apa boleh buat. Baiklah. Mari geser suasana rileks ini dengan melontarkan sebuah pertanyaan terakhir, sebagai penutup sesi todong yang seharusnya berlangsung paling tidak sekurang-kurangnya dua jam ini. Entahlah. Berpijar tato bintang hitam kecil di tulang pipi Evan, teringat semangat anti perang yang coba diseru “F**k the System”, dan sekerjap kemudian, dengan sedikit intonasi ragu mau tidak mau, tanda tanya pamungkas itu pun terlepas secara natural, menagih sebuah pernyataan pembuktian sikap resistensi.

Final part