X

Hardcore Bukan Lelucon? Mungkin Beberapa Lagu Hardcore Ini Bisa Sedikit Merubah Persepsi Tersebut

by Prabu Pramayougha / 2 years ago / 1427 Views / 0 Comments /

Sepertinya bahasan akan hardcore (dari berbagai sudut dan konotasi) semakin merebak di era paska pandemi. Entahlah. Untuk baik buruknya, tentu semua itu bergantung kepada konteks. Apa mungkin terlalu banyak orang yang selama pandemi kemarin berkontemplasi akan ‘konsep’ hardcore atau memang pemahaman akan hardcore yang semakin dinamis kian harinya? Jujur sebetulnya saya pribadi tidak mau terlalu kalut akan perdebatan kusir yang kerap kali malah menjadi lelucon di tongkrongan tersebut.

Ah kata ‘lelucon’! Kata tersebut sepertinya menjadi salah satu highlight soal pembahasan hardcore di tahun 2022 ini. Mungkin kamu yang membaca ini pernah melihat frase ‘hardcore bukan lelucon’ berseliweran di lini masamu beberapa waktu lalu? Berkat cuitan salah satu pengguna Twitter yang memaparkan opininya bahwa hardcore bukanlah ceruk musik (atau pola pikir atau pergerakan atau apa pun itu) yang patut diolok-olok mau pun ditertawakan, frasa tersebut kerap kali menjadi template sarkasme favorit terhadap genre musik turunan dari punk rock tersebut dari beberapa pengguna media sosial di luar sana.

Tapi itu pun membuat saya sedikir berpikir, apa memang hardcore sebuah ceruk musik dan pemikiran yang harus selalu serius?

Mungkin iya untuk beberapa orang. Tapi saya pribadi percaya bahwa pendekatan musik bisa datang dari sudut penyampaian mana pun. Apabila konteks sudut penyampauian itu dipersempit dari segi musik dan narasinya, toh memang sudah terpapar di runutan sejarah musik hardcore sendiri bahwa telah ada beberapa band di guratan historinya yang lebih dulu menggunakan pendekatan narasi yang bisa dibilang tidak ‘konvensional’ untuk formula musik hardcore dari masa ke masa.

Misal band-band dari era Youth Crew menggunakan pendekatan visual dan juga lirik yang lebih positif guna menjauhkan aspek nihilisme yang diemban oleh para abang-abangannya di tahun 80-an awal – macam band seperti Black Flag, Flipper bahkan Jerry’s Kids. Jangan lupa juga tentang keberadaan band-band hardcore straightedge militan di tahun 90-an yang memilih pendekatan lebih ‘keras’ karena merasa narasi pergerakan yang dilakukan abang-abangan Youth Crew di dalam lagu-lagunya terasa terlalu lunak dan tidak efektif.

Nah kembali ke konteks ‘lelucon’, nyatanya hardcore pun memiliki sisi humoris tersebut. Tak percaya? Izinkan saya membagikan beberapa lagu hardcore yang mungkin akan sedikit persepsimu bahwa hardcore pun punya sisi lelucon di dalamnya.

Good Clean Fun – “Last Night I Dreamt That an Emo Kid Loved Me”

Dari nama band-nya saja sudah terdengar menggelitik. Good Clean Fun adalah entitas antitesis dari berbagai macam straightedge hardcore band di tahun 90-an yang terlalu serius menjejali nilai-nilai positif ke para pendengarnya. Dengan padanan lirik yang nuansanya lebih ‘ringan’, Good Clean Fun seakan melanjutkan perjuangan 7 Seconds dengan lebih populis – yakni dengan mengingatkan untuk tetap bersikap dan memiliki pemikiran positif di berbagai aspek kehidupan lewat musik hardcore yang lebih catchy.

Sebetulnya hampir seluruh lagu dari band asal Washington DC ini berisi  humor segar skena dan lika-liku tetek bengek di dalamnya. Tapi dari sekian banyak lagu yang ada di katalog mereka, lagu inilah yang rasanya paling relatable. Siapa yang tak pernah hati soal kandasnya romansa? Good Clean Fun dengan riangnya mengingatkan kita semua “Won’t change my life to make a friend, ’cause that’s not me, I won’t be bitter, I won’t be mad, I can be posi alone”.

Crucial Youth – “Youth Of The World”

Ketika gelombang Youth Crew tengah merajalela di tahun 1988, muncul sebuah band yang menjadi predesor Good Clean Fun dengan memberikan diksi yang lebih gamblang (juga komikal) untuk melawan formula hardcore yang terlalu serius kala itu. Mereka adalah Crucial Youth yang berasal dari New Jersey.

Lagu ini adalah salah satu contoh konkret bagaimana Crucial Youth menggunakan selera humor mereka untuk mengajak para pendengar musik hardcore saat itu untuk tidak terlalu pro-Amerika dalam konteks ‘unity’ – yang kerap kali menjadi topik klise banyak lagu hardcore saat itu. Meski terdengar konyol karena mereka sendiri pun datang dari daratan negeri Paman Sam, lirik yang mereka utarakan di lagu ini malahan terdengar lebih masuk akal dan humanis.

Ketika kancah hardcore di Amerika masih terpaku dengan perdebatan East Coast versus West Coast, Crucial Youth memberikan gambaran besar dengan lirik yang ringan bahwa “The world is a big scene” melalui lagu ini. Siapa yang menyangka band penuh lelucon bisa memberikan pesan yang lebih signifikan macam ini?

Grudge – “Cap’n Straightedge”

Konteks lelucon di ranah hardcore tak hanya sebatas lagu atau narasi lirik yang ditampilkan saja. Ada beberapa band yang mencoba melakukannya lebih jauh lagi sampai benar-benar niat untuk membuat sebuah band fiktif lengkap dengan taburan satir di berbagai aspeknya. Salah satunya yang lumayan menarik adalah band asal California bernama Grudge ini.

Mereka adalah band hardcore yang memparodikan secara gamblang tren band-band hardcore Revelation Records yang sedang di atas angin pada era Youth Crew. Tak tanggung mereka pun dengan sengaja ‘merusak’ lagu “Thinking Straight” milik Youth Of Today dengan mengganti liriknya dengan “Drinking’s Great”. Sempurna!

Tapi di rilisan 7” pertama dan terakhirnya, mereka punya beberapa lagu orisinal – salah satunya adalah lagu “Cap’n Straightedge” yang mengolok-ngolok keseriusan para penganut straight edge untuk membuat kancah hardcore ‘lebih bersih’ pada saat itu.

Konon band ini memang hanya sebatas proyek julid dari beberapa scenester West Coast yang tidak menyukai pergerakan hardcore yang sedang pesat di daratan East Coast kala itu. Sungguh sebuah kejulidan yang kreatif. Hmmm atau lebih enak dibilang, sebuah lelucon yang benar-benar niat.

International Superheroes Of Hardcore – “Ebay Revenge”

Sama halnya dengan Grudge, International Superheroes Of Hardcore (ISHC) diproyeksikan sebagai bukan band sungguhan – pasalnya, seluruh personil band-nya adalah para personil unit pop punk modern tersohor New Found Glory.

Pada awalnya ISHC memang dibentuk sebagai bentuk katarsis para personilnya yang sedang jenuh di tengah sesi rekaman mereka sampai akhirnya riff-riff hardcore yang iseng mereka mainkan kala itu malah direkam secara layak dan dirilis sebagai side B rilisan perdana New Found Glory untuk Bridge Nine Records beberapa tahun silam.

Lirik yang mereka utarakan di lagu-lagunya lumayan mengocok perut kalau disimak lebih seksama. Mulai tentang pentingnya mengenakan sabuk pengaman ketika berkendara, bangganya punya abang-abangan macam Madball sampai ingin bertemu dengan Marty McFly untuk meminjam mobil mesin waktunya guna kembali ke masa lampau demi menonton beberapa gigs hardcore seminal pada masanya. Tapi bagi saya, satu lagu yang leluconnya lumayan mengena secara personal adalah lagu “Ebay Revenge” ini. Mereka membahas tentang kultur jual-beli merchandise hardcore di marketplace yang tak luput dari penipuan. Sungguh relatable dengan hobi anak-anak hardcore yang lumayan intens berbelanca merchandise haha!

Semua lagu dari Jud Jud

Hands down. Bagi saya band inilah puncak dari segala lelucon untuk hardcore. ‘Band’ ini hanya dipunggawai oleh dua orang dan lagu-lagunya berformat ‘instrumentalia’ yang keluar dari mulut mereka. Bahkan judul EP mereka dinamai No Tolerance For Instruments – yang konon sebagai pilihan politis mereka karena Jud Jud terlalu straight edge untuk memainkan instrumen musik. Bah!

Uniknya, meski Jud Jud dianggap sebagai band lelucon, eksistensi mereka banyak dipuji oleh para pelaku hardcore sendiri – setidaknya bagi mereka yang memiliki selera humor yang lentur. Ketika Jud Jud masih berkiprah di tempat asalnya, Florida, banyak penggemar hardcore yang suportif terhadap kemunculan dan aksi panggung mereka. Bahkan ada beberapa orang di sana yang sampai membuat flyer sendiri untuk mengabarkan penampilan Jud Jud selama mereka masih aktif pada waktu itu. See? Sometimes being a joker in hardcore won’t harm anyone a bit.

***

Mungkin masih banyak band hardcore punk di luar sana yang sama-sama mengamalkan siratan lelucon dan komedi ke karya mereka. Baik itu memang sebagai lelucon belaka atau pun memiliki kosntruksi artistik yang lebih besar terhadap karyanya. Rasanya tak ada yang salah untuk melonggarkan sedikit tensi keseriusan soal skena atau pun ceruk musik tertentu. Toh pada akhirnya ketika semua orang bisa tertawa bersama, semua hal akan baik-baik saja.

Tagged

#music #listicle #hardcore

Leave a Reply