X

Morbid Monke: Terinfluence Tak Perlu Jadi Copycat!

by Dimas Dritt / 10 months ago / 1195 Views / 0 Comments /

Berbagi obrolan dengan unit art-punk, post-punk.. (persetan terminologi) layak pantau dari Bali bernama Morbid Monke yang brengseknya sering luput dari radar.


Binatang. Caur Impresif. Setidaknya itulah yang muncul di benak ketika menyaksikan pertunjukan live yang mereka labeli “Morbid Show”. Kali ini gerombolan bernama Morbid Monke. Persetan Morbid Angel. Fukk you Morbid Saint. Mampus lah Morbid (Swedia). Saya sedang ingin senang-senang, bukan kesetanan. Kuintet primata ini diisi oleh Kele (vokal), Krisna (gitar), Dewok (brass), Oka (bass), dan Gerby (drum). Menjinakkan.. tidak, lebih tepatnya mengacak-acak pakem struktur musik punk dengan seenak jidat.

Dan mereka berhasil. Art-punk. Post-punk. Dance punk. Entah apapun itu. Terserah!

Mulai bergerilya di keriuhan Denpasar semenjak akhir 2023 dan mulai serius di pertengahan 2024. Yang membuat mereka bajingan, kenapa bisa-bisanya tak masuk radar. Di tengah gelombang post-punk/darkwave/new wave yang sedang membludak. Sialnya yang bagus hanya terhitung jari. Sisanya ampas, hanya coba sok bermain gelap-gelapan padahal komposisinya medioker akut!

“Pokoknya aku gabung terakhir, dia udah ada,” sambil menunjuk sosok dengan kaos buntung Ramones. “Kele emang di vokal”.

“Pas itu ada lagi bassist sama drummer sebelumnya udah bikin komposisi, dia belum punya gitaris. Udah lah pake Krisna, udah gitu jadi gabung-gabungin aja,” Dewok menambahkan.

Photo credits: @8nata_d666

Sebelumnya Krisna memiliki grup eksperimental bernama Lizen, saya tertarik menguliknya lebih dalam. Seberapa besar chord obat bius mereng-mereng ngawang berpengaruh terhadap Morbid Monke.

“Secara materi, komposisi itu…mungkin dapet di feeling main aja sebenernya. Kalau aku senang main pas di sana sama temen-temen bertiga itu. Itu kan sebenernya kita latihan di awal aja. Sisanya setiap manggung tuh kita pasti nggak ada latihan. Ada masanya udah nggak latihan lagi tapi malah jamming di gigs tuh, jadi pas main live langsung lagu baru gitu,” paparnya.

“Itu jatuhnya yang membunuh band sebenernya karena kita nggak pernah latihan sampai sekarang, makanya nggak jalan. Feeling bermain di sana tuh kebawa di Morbid, intinya aku menekankan semua member bisa nyaman tuh saat main.”

“Misal ada ide tapi di Oka, bassist-ku, dia punya riff atau pattern bass yang nggak aku otak-atik gitu. Tiba-tiba ‘Oke ya udah tuh’ itu aku pake. Tapi aku kadang ngasih dan apa yang aku kasih, dia tetep seneng. Tapi poinnya tetep harus masih seneng ya. Intinya yang diambil dari Lizen sih lebih ke feeling itu,” tambahnya.

Sialnya di Bali sendiri mereka terlalu aneh. Mengutip Hunter S. Thompson; “Too weird too live, too rare to die” saat mereka menjabarkan dirinya saya setuju. Mereka menawarkan hal yang tak baru bagi scene Bali yang masih didominasi oleh nama yang itu-itu saja. Membosankan. Di ranah mancanegara, Viagra Boys sudah melakukannya jauh-jauh hari, atau IDLES, bahkan Squid sekalipun. Namun, ada sesuatu substansi yang menarik perhatian.

Dewok bercerita, “Kalau untuk musik yang aneh aku banyak dicekoki mereka, mulai dari Viagra Boys, IDLES, sampai Black Midi. Aslinya aku dulu pemain marching. Marching band, ya dengerinnya paling musik-musik orkestra gitu atau scoring film kayak soundtrack Narnia. Mainstream, denger Queen, Beatles, mainstream banget kalau aku.”

“Kalau saya juga dari yang dulu-dulu juga lumayan tak dengerin sampe yang sekarang pun saya dengerin, sempat main grunge, main gitar itu influensnya mulai dari Nirvana, Alice in Chains sama Pearl Jam. Tapi banyak Alice in Chains sih, saya suka  lirik dark Layne Staley gitu. Jadi lebih dalemnya ya ke Alice In Chains,” ujar Gerby.

“Sampe Turnstile pun aku masih denger, One Step Closer. Hardcore-hardcore yang baru-baru itu masih denger juga,” tambahnya.

“Alice In Chains itu anak haram heavy metal,” sambar saya sambil menerawang menghisap sebatang sigaret dari satu bungkus yang kita putarkan dan bagi bersama. Sianya tak ada arak api. 

“Mereka ada di scene grunge tapi riff-nya total heavy.”

Gerby yang tak menyangka diajak gabung sekumpulan berandal primata mabuk amfetamin berceloteh, “Tumben nih, diajakinnya juga langsung disuruh main bass aku awalnya. Nggak kepikiran bakal main bass. Belum punya alat datang ke studio tuh masih pinjam alat studio.”

“Oh iya? baru tau,” sahut Oka.

“Nih, malah aku ngiranya kan udah ada main dulu kita. Maksudnya, aku kira udah ada alat.”

“Punya kalau gitar. Gitar ada, bass yang belum. Lalu kita Latihannya kan di dedengkot death metal gitu lah, personil Eternal Madness. Dia punya toko yang banyak nyimpen barang-barang gaib juga, kayak bass BC Rich yang tajem-tajem gitu,” jawab Gerby.

“Iya yang bisa buat nusuk orang,” ujar saya sambil terkekeh.

“Habis itu ngulik lagi ngeliat bassline nya Morbid itu juga beda dia kan, mainnya main steady. Konstan gitu, apa ya istilahnya? Steady lah gitu, itu baru juga buat aku, kaya tumben nih ada yang kaya gini,” Gerby melanjutkan.

“Ada kesulitan nggak sih? Maksudnya, untuk komposisi musik kalian tuh gitar sebagai apa ya…sebagai isian aja, bukan penjaga beat gitu,” lalu saya melanjutkan; “Tota pengendali ritmenya dia kan,” sambil menunjuk Oka.

“Ya, beat keeper-nya total di bass sama drum,” Gerby dan Oka mengamini.

“Krisna kan bisa dia apa-apain aja. Seenaknya dia aja mainnya.”

Sekali lagi saya bertanya, “Nah, ada kesulitan nggak sih? Untuk main seperti itu? Biasanya bass yang cuma buat nutup.”

“Antara ada dan tiada,” sahut Oka sambil cengengesan.

“Nah, iya. Emang buat ngisi low doang kan biasanya. Sekarang bassnya di depan. Yang pertama, main steady itu lumayan kalau di aku, karena biasa main gitar yang…aku basic gitar yang main di pos kamling nyanyi sambil mabuk. Sekarang disuruh main steady itu ya…jadi belajar lagi.”

“Musikku paling nge-pop. Aku waktu kecil suka musik itu inget kali SD, sebelum kelas tiga kayaknya. Karena orang tua tuh setiap pagi dan sore selalu nyetel lagu, dan lagunya adalah Dewa, Tipe-X, Jamrud. Dari bapak itu, kalau dari ibu, UB40. Kalau ibu lebih ke yang musik luar,” papar Oka.

“Pertama pengen main drum gara-gara liat Travis.”

“Hampir semua drummer kayaknya gitu ya,” ia tertawa. “Pokoknya pas jaman itu ngulik banget Blink-182, abis itu jadi ngerembet-ngerembet ke temen-temennya, kayak Paramore dan Fall Out Boy. Kayak gitu-gitu lah dari SMP sampe SMA itu dan buat band pun yang kayak gitu. Makin naik, makin umurnya naik, makin lemah langsung berubah total jadi nge-pop.”

“Jadi waktu itu suka White Shoes, kayak gitu-gitu. Terus sempat lama suka banget sama ERK. Jadi makin kesini sukanya yang seperti itu, mainstream,” tambahnya.

“Terus gabung sama mereka awalnya itu diajakin sama Dewo. Karena kami dulu satu marching band.”

Dalam pembuatan EP mereka ternyata hanya Kele dan Krisna member awal yang tersisa. Mini album Feel Alive itu sudah bocor duluan karena beberapa kendala ini itu. Hal yang biasa, beruntungnya ini jadi hal baik untuk mereka menurut saya. Bandit-bandit bius metamfetamin campur sperma kuda ini tak akan masuk radar dan membran telinga saya. Prosesnya pun rumit namun tak perlu waktu lama dalam penggarapannya.

Feel Alive EP

“Dikirim materinya rekaman voice note sama dia,” ujar Oka sambil mengarahkan telunjuknya ke Dewok yang sedang menghisap sigaret kretek murah yang kita bagi. “Pokoknya waktu itu aku cuman bilang ‘kalo bandnya kenceng, aku nggak bisa, Wok.’ Karena udah nggak bisa main kenceng lagi. Dikirimin materinya, tak dengerin, oh beda nih. Tumben dia dengerin lagu kaya gini, abis itu dia ngasih tau referensinya itu Viagra Boys.”

“Baru saat itu tau ada band namanya itu. Jadi lanjut tak cari tau di YouTube, wah kok makin aneh gitu tapi malah makin tertarik. ‘Boleh dah wok’, coba-coba aja nanti kalo cocok pake aja, kalo nggak cari yang lain aja nggak apa-apa. Belajarin materinya pun karena baru dengerin musik yang kayak gitu agak bingung. Karena sebelumnya aku mainnya tuh nge-pop. Jadi kalo nge-pop tuh kan sangat tertata tuh, misalnya verse satu, bridge, chorus dan itu keliatan pecahannya. Kalo di sini nggak.”

Hmm…dasar anak musik yang “sekolah”.

“Terus yang awal tak dengerin tuh kok vokalnya kayak nggak nyanyi. Kok kayak ngomong diiringin musik, makin bingung lah tuh nyari pecah-pecahannya. Jadi waktu itu bener-bener satu lagu tak pecah-pecah tuh dengerin sekian dulu. Lalu tak dengerin lagi, dengerin sampe tak catet, abis itu pas latihan pertama ada lupa-lupanya dikit, untungnya nggak malu-maluin,” oceh Oka panjang lebar.

Kele, si frontman karismatik banyak diam. Hanya ngoprek rumput. Sesekali ia menjawab. Mungkin kurang mabuk. Ingin saya cekoki miras bau pipis kuda, sialnya di “Morbid Show” kemarin ada aturan tak boleh bawa miras. Maklum lah, acara pemerintah. PEMERINTAH KONTOL! (RIP Amenk, surga tempatmu).

Ia hanya menjawab singkat ketika ditanya influence terbesar sekaligus idolanya.

“Nine Inch Nails.”

Kami langsung berjabat tangan dan terkekeh sambil berkelakar “Reznor forever.”

Ada cerita tentang seekor primata yang sulit dijinakkan ini. Ia pernah meruntuhkan properti ketika main di Gimme Shelter. Pertama melakukan ia sudah ditegur. Bangsatnya, ia mengangkangi larangan itu dan kembali melakukannya di lagu terakhir. Hasilnya tentu saja. Ambruk.

“Iggy Pop sama Anthony Kiedis,” jawabnya ketika ditanya siapa yang mempengaruhi liarnya baboon Amazon ini. Ia juga doyan QOTSA terutama album Song for the Deaf.

“Pantas saja,” gumam saya. Ia pun punya tinta maskot Black Sabbath, “Henry”, yang dirajah di dada.

Belum lagi ada kabar simpang siur. Ini tentang mengilhami tiga iman rock ‘n’ roll. Bedanya hanya dua unsur yang diamalkan, bangsatnya ini membuatnya tetap sah dan paripurna dengan cara yang agak absurd. Jadi, ketika sehabis manggung di Gimme Shelter tadi. Kele gontai berat. Ada seorang wanita kulit putih entah kebangsaan mana, saya tak peduli.

Ia menghampiri Kele, mungkin ingin berbincang, memberi pujian, atau lebih dari itu. “Lebih ke flirting sih,” kata dr. Marto yang menyaksikan kejadian tersebut. Tapi entah. Si Bangsat ini memilih joprak di sofa dengan kaos buntung Ramones ketimbang melayaninya. Mötley Crüe pun mungkin akan suit melakukan ini.

Betina tadi akhirnya minggat.

Ketika disuruh mengingat, ia hanya berkata,

“Di mana itu ya?”

Sialan!

Lain lagi dengan Krisna, ia penyembah psikedelik akut dan eksperimental. “Referensi musik, kalau band banyak juga. Maksudnya dari SD kelas empat tuh udah main melodi. Pertama tuh nge-cover ‘Aku Bukan Pahlawan’ SID. Karena di gang rumah tuh ada studio dulu. SMA tuh yang bikin kayak Limp Bizkit, memang kayak Limp Bizkit banget waktu itu. Sampai aku pake cat di kulit,” kenangnya sambil tertawa.

“Sampe pernah coba gitar senar tujuh. Itu berbarengan sama Pink Floyd juga.”

“Berarti udah ngawang sejak awal ya?” sahut saya. Ia hanya tertawa.

“Jadinya sampai ke noise juga, waktu itu Lizen main di gig Chaos Non Musica tapi ya lebih dibawa ke experimental. Aku suka jazz juga, sempet waktu itu jadi volunteer di Ubud Jazz liat Tesla Manaf.” 

“Ada bule tidur, terus bangun dan pergi gitu. Aku bingung, aku masih videoin terus kan, tapi bule-bule itu semua kabur gitu sedangkan aku terpesona lah liat main solo sendiri bisa gini, main delay apa-apa. Looping ina-inu gitu kan. Dan akhirnya sadar range musik untuk si Morbid. Nggak kayak waktu di Lizen, itu nggak ada pakem. Baru tau ada yang mirip-mirip jauh setelahnya. Itu pun satu di Thailand namanya Tuku Digeridoo,” tambahnya.

Jika bicara soal materi, dari mini album sampai maxi-single mereka. Ada sebuah daya magis. Sihir. Entah lah. Biarpun belum terlalu matang, hal menarik di sini adalah racikan sound yang mereka ramu, seahli apoteker tukang racik obat antipsikotik. Dewok banyak ambil kendali dalam penulisan lirik.

Rambutnya gondrong, bertumbuh gempal, brewok lebat. Ia seorang yang polos. Bukan, bukan polos. Ia lebih tepat disebut lugu. Karena ia tidak “polos”, Dewok tidak “Gildan” karena kecewa tak boleh bawa masuk alkohol saat tadi manggung. Sejak SMA ia menulis buku harian yang entah mau dijadikan apa dari berbagai keseharian yang dialaminya. Tak disadari, ternyata itu merupakan draft lirik Morbid Monke di masa depan. Semesta dan rock ‘n’ roll punya cara kerjanya sendiri.

Soal lagu “Paradox” ia berujar:

“Hidup adalah serangkaian paradoks yang harus kita pelajari untuk terima. Kita nggak bisa kontrol segalanya, dan itu nggak masalah.Ketika berhenti melawan apa yang tidak bisa diubah, ada keindahan dalam ketidaksempurnaan.”

Sialan. Saya mengangguk senyum kecut sambil sadar dan cepat-cepat menghisap sigaret kretek yang terselip di tengah telunjuk dan jari manis dalam-dalam agar tak terlihat terkesima karena terlalu gengsi dengan kalimat-kalimat bijak.

Materi baru bertajuk “Schizophrenic” membuat saya merinding di bagian tengah lagunya. Absurd. Jarang sekali merasa setrum voltase tinggi seperti ini, apalagi menyaksikan band baru yang saya tidak taruh ekspektasi apapun. Main judi. Saya bergidik merinding, membatu, bulu tengkuk berdiri seakan memberi respon tanda bahaya. Namun, di saat yang bersamaan lepas landas merasakan bius masuk lewat membran timpani. Riklobacker bangsat!

Ia bicara sedikit sebelum nomor tersebut dimainkan, pengalaman pribadi katanya.

Pertanyaan “Seberapa peduli kalian terhadap kesehatan mental?” pun terlontar. Dewok menjawab, “Kalau dibilang seberapa pedulinya ke mental health sangat-sangat peduli. Karena apa lagi ya…nggak bisa banyak dan detail sih aku cerita. Ada beberapa di lingkaran terdekatku yang mengalami kondisi serupa. Dan peduli aku tuh pengen ngebuka cara berpikir orang melihatnya bukan selalu ke arah yang mistis, karena selalu dikaitkan klenik, misal ketika si wahamnya keluar tiba-tiba ketemu dewa siapa, ketemu hantu apa gitu atau kamu dibilang titisan apa, dibilang istimewa lah, apa lah.”

“Nah itulah yang membuat dia semakin terjebak dan penderitaan skizofrenia itu meyakini dan menyadari itu realitasnya dia, itu yang aku ingin lawan. Menghapus stigma di masyarakat juga bahwa itu tuh nggak harus selalu dikaitkan mistis. Dia cuma sakit. Dia cuma perlu kita dukung dan rangkul.”

Hanya satu nomor yang ditulis oleh Kele bertitel “Loser Doggo!”

“Itu bentuk kekesalan kami terhadap orang terdekat dengan attitude buruk,” papar Krisna.

“Jadi hymn for an asshole gitu, ya?” sahut saya.

Semua mengangguk setuju sambil tertawa.

Trek penuh bius asap bau mirip sajen, “Mary Jane”, saya langsung menerka ini tentang hal tersebut–mariyuana. Tapi entahlah. Komposisinya terlalu meroket menuju “Planet Iommic Vol. 4” tanpa wall of sound setebal Sleep atau Electric Wizard.

Ah iya, mereka selalu submit submission di mana-mana. Mulai dari PICA Fest, Axean Festival, sampai menjuarai Made In Bali. Rasa penasaran muncul mengapa mereka menempuh jalan ini yang saya kira hanya berhenti di era ‘80 sampai 2000-an awal. Cih, usang. Namun, akhirnya menemukan jawaban yang, ya…masih bisa dibilang masuk akal. Grup ini kurang dalam satu aspek penting, yaitu rasa percaya diri.

“Salah satu alasan kami ikut submission sana-sini tuh untuk bikin kami lebih percaya diri pada sesuatu yang kita buat,” ujar Krisna.

Ya, beruntungnya mereka berhasil hingga menghasilkan maxi-single “Eight Ball” bersama Robi dari veteran alternatif rock nomor wahid, Navicula. Hal yang menarik di sini mereka menggubah ulang “Dinasti Matahari”.

Versi aslinya tak groovy sama sekali, malah menjurus ke tribal. Bangsatnya, lima ekor primata ini berhasil menggubahnya dalam waktu singkat. Hanya perlu waktu satu minggu untuk menjadi sebuah anthem nuansa disko joget hura-hura telan molly dan menghipnotis siapapun untuk ikut teriak; “Pewaris sah dinasti matahari!” sambil teler tak karuan karena tambahan secuil bius kuda yang masuk lewat lubang hidung kiri kanan.

“Beri saya alasan buat dengerin kalian! Terserah bicara saja seenak udel! Misal karena musik kalian keren, atau ini, atau apa, blablabla…terserah!” todong saya.

“Kalo itu nggak sih ya, kita belum seberani itu untuk bilang, ‘Oh lagu kita gini’. Cuma, yang bisa aku tarik. Kita melakukan ini semua dengan jujur, Krisna buat musiknya jujur. Aku buat liriknya jujur dari sekeliling kita, dari environment kita, masalah kita dan pengalaman pribadi kita. Oh ya, untuk selanjutnya secara struktur, komposisi lagu, dan blablabla kita bakal nggak monoton di itu-itu saja pakemnya. Mungkin akan ada ngambil licks dangdut mungkin? Siapa yang tahu.”

Sialan Dewok ini memang lugu. Yang perlu diasah oleh gerombolan begundal ini adalah rasa percaya diri terhadap musik yang mereka tawarkan sepercaya diri mereka saat tampil di atas panggung. Merasa congkak dengan menyuguhi materi yang apik bagi saya sama sekali tidak masalah dan sah-sah saja. Tapi, yang perlu digarisbawahi; congkak dan asshole itu beda cerita.

“Akan lebih eksperimental lagi aja mungkin di album. Vokal mungkin udah mulai ada yang nadanya bisa sing along beberapa jadi nggak kaku. Itu sih kayaknya. Kita nggak bakal menyajikan sesuatu yang monoton.”

Dan akhirnya saya menemukan jawaban yang memuaskan dari Dewok. Si lugu berpostur gempal.

“Mungkin yang harus aku bilang, kayaknya denger EP kita dulu sama nonton live ‘Morbid Show’. Itu aja cukup.”

“Iya ya?” tanya saya sambil senyum tipis.

“Soalnya itu aja kayaknya. Kalau bilang harus dengerin, ya harus…tapi kita belum seharusnya  berani sepercaya diri itu,” jawabnya.

Lain hal dengan Oka, “Kalo aku agak percaya diri!” Saya suka dengan optimisme seperti ini. Ia pun melanjutkan; “Buat orang-orang yang bosen dengan musik itu-itu aja. Patut dengerin Morbid!”

“Kesombong gini, Ger,” lanjutnya diikuti gelak tawa dari yang lain.

Pada akhirnya didapat kesimpulan, mereka patut diperhitungkan dan impresif dalam pertunjukan live-nya. Tak peduli di manapun mereka menggeber tiap repertoar dan seberapa banyak orang yang menyaksikan. Tampil dan ugal total adalah hal yang selalu mereka suguhkan. Setidaknya ini jadi jaminan kalau kawanan primata kesetanan metamfetanarki ini wajib disimak panggungnya, serugi-ruginya sekali seumur hidup.

Apakah album mereka nanti akan seimpresif ini? Entahlah. Yang tahu hanya Tuhan, Setan, dan Iggy Pop yang masih doyan telanjang dada biarpun sudah keriput dan renta. Satu lagi yang perlu dicatat, mereka berhasil meramu segala yang berpengaruh bagi musik mereka tanpa harus menjadi copycat, impostor atau terminologi lebih menjijikannya: Viagra Boys-nya Indonesia, IDLES-nya Indonesia, dan blablablabla…tai pedut!

Tagged

#morbid monke #dance punk #post-punk #artpunk