X

Alternative is Here To Stay: Berikut Line Up Microgram Alternative Stage di Pestapora 2023

by webadmin / 6 months ago / 415 Views / 0 Comments /

Microgram kembali lagi dengan Alternative Stage di Pestapora 2023 – dan kalau dilihat line-up-nya, mereka tidak main-main.

Kami teringat akan bagaimana ambisiusnya Microgram untuk menyajikan stage di helatan festival Pestapora tahun lalu. Mulai dari tata ruangan, kurasi artis sampai bentukan suasana yang disajikan kala itu memanglah terkesan berbeda dengan stage-stage lainnya di acara itu – alias suasana edgy dan alternatifnya memang begitu rasa. Tentu itu adalah hal yang bagus bagi kami. Kudos to them.

Di helatan Pestapora tahun ini, Microgram kembali lagi dengan Alternative Stage dan setelah kami lihat line-up-nya, sepertinya mereka lebih tidak main-main. Bahkan tak tanggung-tanggung untuk tahun ini, mereka pun berkoalisi dengan Paguyuban Crowd Surf (kolektif musik asal Jakarta) untuk memperkaya kurasi artisnya. Jadi kami rasa, Microgram Alternative Stage tahun ini wajib kamu sambangi kalau kebetulan kamu akan hadir di Pestapora.

Agar kamu tak merasa asing dengan para penampil di stage besutan Microgram tersebut, berikut kami berikan sedikit info tentang siapa saja mereka. Take notes!


Day 1

Kanekuro

Post-punk mungkin kerap kali terdengar lesu, namun penampilan Kanekuro bukan berarti tak berenergi. Pseudo post-punk asal Bali ini bisa jadi penampil yang mampu men-trigger segala gejala hingga para penonton joget kejang di stage – kalau bisa sampai terkapar dan berbusa.

Rrag

Reputasi Bogor kini terus mencuat akibat mutunya yang semakin terjamah berkat band-band seperti The Jansen dan Swellow.

Di samping nama-nama barusan, Rrag juga tak luput sebagai band berstandar indie rock Bogor yang (buat kami) masih menyandang status underrated namun punya kualitas jempolan. Maka penampilan live-nya pun bukan sesuatu yang patut dilewatkan.

Zeal

Saya pikir, kehadiran Zeal adalah bentuk dari riding the wave yang menyegarkan. Muncul di musim hardcore, mereka malah memainkan pop punk irit durasi.

Tak heran jika band ini bisa jadi entitas amfibi –  pemancing moshpit di gigs musik pukul-pukulan, maupun pemicu air mata di gigs ajang nangis-nangisan. Maka dalam helatan ini, kamu lebih memilih ber-2-step/stage diving ria atau menyiapkan tiga packs tisu untuk menonton mereka?

Sky Sucahyo

Suguhan manis formula musik folk dari Sky Sucahyo bakal buat day-1 Alternative Stage Pestapora jadi syahdu. Terlebih jika penempatannya tepat di jam 4/5 sore. Bukan karena musik folk harus senja, hanya saja penampilannya akan lebih cocok dicicipi di bawah guyuran matahari oranye Jakarta yang hangat. Soal dengan atau tanpa kopi, bukan masalah!

Moongazing and Her

Moongazing And Her adalah reprsentasi indie pop yang terpengaruh oleh hardcore. Selain karena beberapa personelnya berkecimpung di kolam tersebut, katalog musik awalnya pun menunjukan kuatnya pengaruh Title Fight (era Hyperview) di musik mereka.

Meskipun kini secara progresi musik sudah tak begitu terasa, namun kesan raw yang ditawarkan tetap membawa kami pada etos tersebut. Menyatukan manisnya indie pop dengan energi mentah hardcore punk. Mungkin, juga hal ini mampu memicu 2-step di panggung mereka (?).

Swellow

Tahun ini, kami tak ragu buat menetapkan kalau kualitas indie rock Bogor sedang dalam puncaknya. Hal yang jadi representatif untuk anggapan tadi adalah album penuh sekaligus perdana dari Swellow, Katus (2023).

Menjaga utuh klasemen Bogor sebagai penghasil musik non-cadas terbaik di kancah lokal setelah tahun lalu pun berhasil menorehkan album bagus milik The Jansen, Banal Semakin Binal (2022). Maka tak ada ada alasan untuk tidak menyaksikan mereka di Pestapora tahun ini, bukan?

Peonies

Sebagai mana band indie pop pada umumnya, Peonies juga menawarkan sesuatu yang sopan dan manis, dengan balutan kibor/synth serta vokal cewek yang indies.

Approach berbeda dari mereka adalah dengan menaklukan unsur surf ke dalam musiknya. Maka bisa jadi penampilan mereka nanti bakal diramaikan dengan kehadiran pelampung udara macam panggung The Panturas. Pastinya itu bakal jadi experience yang seru!

Bedchamber

Edgy-pop andalan Ibu Kota. Bedchamber selalu hadir dengan materi yang berbeda dari band-band semisal di sekitarnya. Setelah Geography (2018), kini Capa City (2023) jadi bentuk musik yang beyond di kelas indie pop lokal.

Bagi kamu yang menantikan set album terbaru mereka di penampilan live-nya, maka penampilan Bedchamber kali ini tentunya nggak boleh dilewatkan! (Terutama jika kamu tak sempat datang ke festival tetangga).

Milledenials

Terhitung sebagai band muda yang berani melakukan kawin silang elemen-elemen musik tak lazim semacam emo, shoegaze, punk dengan bumbu twinkle, Milledenials berhasil mengupayakan terobosan dan membuat telinga yang tak familiar dengan rujakan style-style musik tersebut jadi lebih mewajarkan. Terlebih, musik macam mereka ini masih bisa dibilang langka di kancah lokal.

VT-00

Saya selalu percaya kalau musik elektronik selalu menarik untuk disaksikan secara langsung. Selain magisnya materi-materi kumpulan VT-00, saya yakin audionya yang menjanjikan bakal lebih tersampaikan energinya ketika penampilan live-nya membius indera penglihatan dan pendengaran nanti.

Ftlframe

Jika imajinasi soal dunia anime dan sekitarnya mampu direpresentasikan dengan baik tanpa kehilangan esensinya di dunia musik elektronik dengan tetap terdengar keren, maka saya rasa Ftlframe adalah formula paling mutakhir yang mampu mewujudkannya di kancah lokal saat ini.

Secara visual, musik dan narasi, Ftlframe mampu membuat image musik underground dan kultur weaboo menyatu tanpa punya kesan berlebihan atau cringe. Maka dari itu, jangan sungkan untuk mengenakan kaus Jujutsu Kaisen-mu dan berdansa liar di dancefloor nanti!

Lair (Obrog-obrog)

Lair dengan set Obrog-obrog tentunya bakal memancing siapapun untuk menggerakan pinggulnya. Musik yang bakal familiar dengan telinga lokal ini pastinya akan membuat helatan Pestapora di Alternative Stage hari pertama nanti jadi lebih meriah, belum lagi jika mereka nekat menyertakan pawai sebagai bentuk totalitas. 


Day 2

Godplant

Salah satu nama yang meskipun kamu belum pernah mendengarkan band-nya, tapi setidaknya familiar dengan namanya. Karena artwork dari album 2018-nya, ‘Turbulensi’, yang begitu ikonik sebagai sebuah merchandise. Distorsi gitar yang tebal, teriakan mencekam, juga permainan tempo dari sang drummer jadi ciri khas musik sludge-metal yang dibawakan oleh Godplant. Sebuah musik pemicu mosh pit yang ampuh.

Brunobauer

Cukup langka rasanya menemukan band emo lokal yang menarik garis referensinya ke arah Jawbreaker, Joyce Manor, dan Modern Baseball yang berada pada spektrum indie-rock.

Dengan kesederhanaan musiknya, Brunobauer berhasil untuk mengisi celah kosong tersebut. Sekaligus memberi warna dan penyegaran di tengah maraknya band emo dengan pendekatan twinkle di ranah lokal.

Huminoid

Membawakan style musik metalcore era 90an, Huminoid siap mengajakmu untuk bernostalgia pada era kejayaan Trustkill Records ataupun Ferret Music. Jika pada beberapa waktu ke depan terjadi fenomena 90s metalcore revival di ranah lokal, maka menurut saya sekstet asal Manado ini merupakan salah satu nama yang beperan di dalamnya.

rekah

Simpan baik-baik agresi dan amarah terhadap kehidupanmu sedari sekarang, karena melalui penampilannya rekah akan mengajakmu untuk bersama memuntahkan semuanya. Trek-trek seperti ‘Kabar dari Dasar Botol’ dan ‘Kereta Terakhir dari Palmerah’ kini semacam menjadi anthem wajib bagi para warga musik arus pinggir untuk menemani dan melewati masa penat yang dirasakan.

Peach

Hadir secara mengejutkan pada pertengahan 2022, kini Peach telah menjadi salah satu band hardcore punk potensial yang hadir di ranah lokal.

Meskipun karirnya terbilang masih cukup singkat, tapi mereka telah mencicipi panggung di berbagai kota dan (bahkan) negara melalui rangkaian tur. Salah satu yang teranyar adalah ketika mereka menjadi opener untuk Fiddlehead di Bangkok, Thailand. Rispek.

Amerta

Menurut saya, berpakaian serba hitam lengkap dengan perasaan suram muram yang dirasakan merupakan (satu-satunya) dresscode tepat untuk meyaksikan penampilan Amerta.

Supergrup yang dihuni oleh personil dari Revenge, Pelteras, hingga Dental Surf Combat ini bakal membuatmu mengawang sekaligus berkontemplasi melalui musik post-metal/sludge bernada minor yang heavy.

Crève, Ouverte!

Crève, Ouverte! merupakan suguhan yang cocok bagi kamu penghamba musik elektronik agresif nan menghentak yang diisi oleh teriakan centil ala Nic Endo, Alice Glass, dan semacamnya.

Ragam eksplorasi bebunyian elektronik yang dilakukan pada setiap materinya bikin trio asal Kalimantan ini kiprahnya harus kamu waspadai ke depannya. Salah satu band yang wajib kamu tonton penampilannya.

Tarrkam

Memainkan musik punk eklektik ala DEVO membuat Tarrkam cukup stand out di tengah banyaknya band hardcore punk di ranah lokal. Pembawaan musik yang unik, pemilihan narasi yang antik merupakan beberapa penyebabnya. Setelah melalui penantian panjang, awal tahun ini mereka baru saja melepas debut albumnya, ‘Fresh Grad’.

Dekadenz

Kolektif musik EDM asal Jakarta yang diisi oleh tiga orang produser/DJ, yaitu Jonathan Kusuma, Aditya Permana, dan Ridwan Susanto. Melalui musiknya, Dekadenz siap membantumu melepas lelah setelah seharian bergerumul di tengah kerumunan mosh pit yang liar tak beraturan sembari me-recharge energimu dengan berjoget tipis di lantai dansa.


Day 3

Natinson

Folk, musik rakyat atau apa pun itu rasanya akan terus berkumandang sampai kapan pun selama ada kegelisahan yang bersemayam di hati setiap umat manusia.

Kurang lebih itu yang bisa menjelaskan akan apa yang duo folk asal Makassar ini. Mereka menyanyikan hal-hal yang menurut mereka penting di ruang lingkup kehidupan mereka sejauh ini. Tentunya hal itu adalah hal yang menarik karena seperti sesuai fitrah musik folk: semua bisa berkorelasi tentang hal personal dari satu individu ke individu lain.

Lamebrain

Kuartet rock asal Bandung ini akhirnya mendapatkan eksposur dan panggung yang sudah seharusnya mereka dapatkan sejak merilis single ‘baru’ mereka beberapa waktu lalu, “The Interview”.

Tak perlu basa-basi lagi, kalau kamu menyukai musik rock berat dengan sentuhan psikadelia-nan-eksperimental-tapi-tipis di berbagai sudut frekuensinya, sudah sepatutnya jangan melewatkan aksi mereka di Microgram Alternative Stage tahun ini.

Gaung

Meski impresi dari alm. Djockie Suryaprogo yang sempat mengkritisi musik mereka ‘tidak memberikan khasanah karena berformat instrumental’, Gaung tetaplah menjadi top-of-mind kami akan band rock instrumental yang punya karya dan artistik yang top-notch.

Kalau kami boleh sarankan, ketika kamu menonton mereka di Microgram Alternative Stage nanti, coba tutup matamu menggunakan kain dan fokuskan saja ke alur frekuensi tata suara yang mereka hasilkan. Believe us, it will be magical.

Impromptu

Just like alternative, pop music is always here to stay. Apa pun bentuknya. Maka kemunculan unit pop alternatif asal Yogya ini di Microgram Alternative Stage tahun ini bukanlah hal yang mengherankan. Karena selain “Closure” adalah lagu yang menarik, mereka pun sudah saatnya diperkenalkan ke gelembung penonton musik yang lebih luas. Let’s see how it goes.

Girl and Her Badmood

Malang tidak pernah gagal untuk memberikan kejutan. Setelah Write The Future, Beeswax dan gelombang roster Haum Records beberapa tahun lalu, unit rock alternative yang terbentuk di tahun 2018 ini adalah salah satu spotlight menarik untuk kamu simak hari ini.

Get stoked to sing “Fallingout” along!

Flowr Pit

Alfath is back and you better watch out! Setelah sempat bersemedi beberapa tahun sejak pandemi, solois indie rock ini akhirnya merilis single beberapa waktu lalu – “Nothing To Recall”.

Mungkin ini waktu yang tepat bagimu yang rindu akan musik dan stage banter menarik dari Flowr Pit. Don’t miss his action this year.

Beeswax

Goddamn, the emo prince of Malang is back. Masih ingat beberapa tahun lalu ketika mereka lolos di helatan audisi We The Fest saat momen injury time? Kami rasa momentum itu harus dibayar dengan lebih mutlak dan masif. Maka ketika mengetahui Beeswax akan bermain di Microgram Alternative Stage tahun ini, kami turut berbahagia akannya. Rejoice!

Nartok

Siapkan kupingmu untuk dihantam rombongan rima terstruktur dan ludahan fakta harian ala Safari dari rapper menjanjikan asal Medan ini. Nartok adalah sosok yang kami rasa punya masa depan cerah di kancah musik nasional dalam waktu dekat – tentu kami tak mengada-ngada dan kamu harus menontonnya langsung untuk membuktikan ucapan kami.

Mamang Kesbor

Lupakan persona Mardial yang penuh canda tawa dan punya segudang twit humor segar, Mamang Kesbor is the real deal. Bahkan ketika monikernya pun masih terkesan konyol.

Album Terbaik di Tata Surya adalah bukti tanpa basa-basi bahwa beliau memanglah produser musik wahid. Tapi apakah penampilan live-nya bisa membayar kewahidan karyanya secara langsung? Jangan lewatkan aksinya nanti!

Salon RnB

Kolektif musik selalu seru untuk ditonton. Selain mendapatkan suguhan pertunjukan yang berbeda dari format mereka masing-masing, biasanya akan ada pancaran persona yang berbeda ketika mereka tampil sebagai satu unit.

Sepertinya itu yang menjadi ekspektasi kami akan aksi kolektif musik RnB dari lima nama muda menjanjikan di kancah musik Indonesia hari ini. Ah lupakan ekspektasi itu, mari kita menari dan vibing bersama mereka nanti.

Elkarmoya (Mariachi Mode)

Setelah membuat panggung Microgram Alternative Stage tahun lalu ramai dan meyakinkan beberapa sosok KOL skena setelahnya, El Karmoya kembali ke Pestapora dengan format yang lebih ambisius: rombongan mariachi.

Entah apa yang ada di benak mereka untuk berani bermain lebih megah macam ini. Tapi tentu rasa penasaran kami pun tak akan terbayarkan sebelum melihat langsung El Karmoya versi tawuran nanti. La puta!


Dengan sedikit informasi dari kami akan line up Microgram Alternative Stage di helatan Pestapora nanti, pastikan kamu untuk menyambangi stage itu di tanggal 22 sampai 24 September nanti. No apologies!

Tagged

#alternative stage #microgram #Pesta Pora