X

Yang Nyata di Balik Bagian Paling Fiksi Serial The Playlist (2022)

by Abyan Nabilio / 2 years ago / 1392 Views / 0 Comments /

Dua dekade lalu, Winamp dan data-data lagu gratis (yang tentunya ilegal) menjadi andalan orang untuk memutar lagu disamping pemutar rilisan fisik. Dengan mudahnya perpindahan data di internet saat itu, orang-orang belum kepikiran bahwa yang akan merajai pasar musik di era selanjutnya adalah layanan streaming digital, hingga Spotify datang. Dengan sekelumit permasalahannya, Spotify disebut-sebut sebagai penyelamat industri musik atau setidaknya memberi kembali sedikit nilai (finansial) kepada karya musik yang nilainya hampir punah. Serial The Playlist  mencoba menceritakan perjalanan Spotify hingga berada di posisi tersebut dari berbagai sisi.

The Playlist merupakan serial enam episode hasil besutan sutradara Swedia, Per-Olav Sørensen, yang dirilis Oktober lalu. Inspirasinya diambil dari buku Spotify Untold, buku nonfiksi yang merangkum lebih dari 70 wawancara terhadap mantan eksekutif Spotify, investor, para pemipin label rekaman, para pesaing dan sumber-sumber terkait. Sørensen mencoba menyampaikan cerita-cerita di dalamnya melalui sebuah rangkaian sinema yang difiksikan.

Serial ini diceritakan dengan cara yang cukup menarik. Setiap episodenya seperti cerita pendek yang terlihat terpisah, seperti kumpulan film pendek dalam omnibus, namun membangun cerita yang lebih luas jika digabungkan. Gaya berceritanya mirip dengan gaya menulis Irvine Welsh dalam novel Trainspotting dan Porno.

Dengan gaya bercerita yang demikian, penonton bisa merasakan sisi dari setiap karakter yang menjadi pemeran utama tiap episode. Setiap karakter pun bisa terasa lebih protagonis di suatu episode dan antagonis di episode yang lain.

You can fool some people sometimes, but you can’t fool all the people all the time

Kutipan lirik “Get Up, Stand Up” dari Bob Marley tersebut akan terasa relevan dengan keseluruhan cerita The Playlist jika kata “fool” digantikan dengan “please“. Penonton bisa merasakan perjuangan Petra Hansson (Gizem Erdogan) dari sisi hukum untuk mendapat akses label rekaman besar sebagai prestasi yang cukup menguras akal dan tenaga. Namun, bagi Andreas Ehn (Joel Lützow), sang pemrogram, keberhasilan itu melecehkan keindahan hasil karyanya karena ia menginginkan Spotify bisa diakses setiap orang secara gratis. Selain itu, sebenci-bencinya penonton terhadap label besar yang serakah, keadaan Per Sundin (Ulf Stenberg) yang harus memecat satu-satu pegawainya tetap bikin kasihan. Perkembangan karakter Daniel Ek (Edvin Endre), dari seseorang yang mencoba mencari solusi dari pertikaian pembajakan yang merakyat dari The Pirate Bay dan Universal Music yang tamak namun lebih menghargai musisi, hingga terjebak versi tamaknya sendiri pun dapat dirasakan dengan halus. Setiap orang memiliki keperluan, tantangan, dan idealismenya masing-masing. Sebagian bisa kompromi dan yang lain tetap pada jalannya. Keadaan tersebut cukup menunjukkan gambaran dunia dengan skala yang lebih kecil.

Tiga episode awal terlihat seperti biopik-biopik berbau positif biasa menuju keberhasilan, namun tiga episode selanjutnya terasa lebih kelam khususnya di bagian Bobbi T. Ia merupakan satu-satunya karakter fiksi dalam The Playlist yang mendapat episodenya sendiri. Bertitel “The Artist”, episode tersebut menceritakan sisi para musikus yang menuntut karya mereka lebih dihargai oleh Spotify. The Playlist, dalam episode epilog  ini, menegaskan bahwa ia merupakan sebuah karya fiksi karena mencoba menggambarkan ketegangan antara para musikus dan  yang dianggap mengeksploitasi mereka hingga masa depan, 2025. Biarpun begitu, episode tersebut lumayan menggambarkan ketegangan beberapa musikus terhadap layanan musik digital ini beberapa waktu lalu.

Di sana, kumpulan musikus melakukan aksi bernama Scratch the Record untuk melawan ketidakadilan yang dilanggengkan Spotify. Bobbi memegang peran penting di sana karena unggahan berisi keluh kesahnya di media sosial menjadi viral dan menarik perhatian orang untuk lebih melirik permasalahan Spotify. Ia mengeluhkan bagaiman ia sudah merilis enam album dalam sepuluh tahun terakhir dengan angka stream perbulan untuk beberapa lagu mencapai 200.000 namun tetap kesulitan membayar biaya sewa tempat tinggal.

Hal serupa memang benar terjadi di dunia nyata. Biarpun pandemi tidak dibahas di The Playlist, namun dua tahun tanpa panggung itu terasa serupa dengan keadaan mendesak yang dihadapi Bobbi T. Sebelumnya, kebanyakan pekerja musik menerima Spotify, bukan sebagai sumber penghasilan utama dari angka streaming, namun lebih pada media promosi keberadaan mereka melalui fitur-fitur seperti Discovery yang menaikan kemungkinan mereka diundang di berbagai panggung. Saat pandemi berlangsung, beberapa musikus lebih dalam lagi melirik penghasilan mereka dari layanan streaming macam Spotify.

Jason Ranti, yang sebelumnya tidak memasukkan katalog musiknya ke layanan tersebut karena alasan tidak mau serakah,  akhirnya mencoba peruntungannya ke sana. Namun, di luar itu, banyak juga yang sudah menggunakan layanan tersebut malah menyadari bahwa karya mereka tidak dihargai secara serius.

Beberapa dari mereka bahkan melakukan gerakan semacam Scratch the Record. Para musikus dan pekerja musik yang tergabung dalam Union of Musicians and Allied Workers (UMAW) misalnya. Tahun lalu, mereka melakukan gerakan yang disebut Justice at Spotify di beberapa kota dunia, Los Angeles, Toronto, São Paulo, hingga Berlin. Sebagian dari tuntutan mereka, melansir Los Angeles Times,  adalah Spotify menaikan bagian untuk musisi sekaligus memberikan transparasi terhadap perhitungan keuntungannya. Selain itu, ketidakadilan sistem algoritma Spotify yang lebih menguntungkan beberapa pihak juga menjadi bahasan.

Ketidakadilan yang terakhir akan lebih cocok dengan musisi independen yang memang mengincar pendengar yang terbatas. Musikus dengan katalog yang masih sedikit atau jumlah stream belum mencapai jutaan mungkin akan merasa pemasukan dari Spotify hanya cukup untuk bayar parkir Alfamart. Keluhan serupa juga sempat disampaikan oleh Deugalih, penulis sekaligus pentolan dari Deugalih & Folks.

Peduli terhadap rilisan digital karena pandemi, ia mengemukakan bagaimana kekesalannya terhadap platform musik digital tersebut melalui sebuah utas di Twitter.

“Spotify ini korup,” tulisnya di pertengahan tahun lalu. “Menempatkan musikus di rantai ekonomi paling bawah selayak negara memperlakukan tak adil pada petani.”

Ia juga membahas bagaimana keuntungan diterima oleh para pembuat daftar putar. Seperti dikatakan sebelumnya, salah satu keunggulan Spotify adalah fitur Discovery yang, bagi pendengar dapat menemukan lagu-lagu yang sesuai dengan selera mereka, bagi musisi dapat memperluas jangkauan mereka. Seperti diceritakan di episode ketiga The Playlist,”The Law”, awalnya fitur tersebut ditujukkan agar para pengguna dapat berbagi daftar putar, namun kini, daftar putar tersebut merupakan salah satu komoditas Spotify.

Beberapa aggregator memiliki akses ke fitur Discovery tersebut. Believe, misalnya. Mereka dapat memilih beberapa artis eksklusif untuk masuk ke beberapa daftar putar yang ada di Spotify dengan pembagian keuntungan yang lebih besar dibanding pengguna Spotify lainnya. Selain itu, mereka juga memberi tip-tip pemasaran musik digital kepada artis-artis eksklusif tersebut. Dengan demikian, artis-artis yang mereka pilih akan memiliki keuntungan lebih dibanding yang tidak masuk daftar mereka.

Pemeran Bobbi T, Janice Kamya Kavander,  bahkan menyesalkan hal serupa. Janice yang memang merupakan musikus asli di dunia nyata merasa bahwa Spotify berpotensi mengurangi esensi bermusik. “Spotify can truly change someone’s life and career, but it’s kind of sad that it’s now a lot about the numbers and what playlist you’re on,” tutur penyanyi soul itu dalam wawancara dengan Vogue Scandinavia.

Seperti dibahas sebelumnya, tidak akan ada bisa memuaskan setiap orang setiap waktu. Spotify pun begitu. Sebenarnya, berapa nilai yang harusnya diberikan kepada sebuah karya musik? Toh, orang juga akan tetap hidup tanpa mendengarkan lagu. Mungkin dulu label-label besar lah yang terlalu mengglorifikasi nilai musik untuk keuntungan mereka dan The Pirate Bay, 4Shared, serta BeeMP3 adalah penyelamat bagi para pendengar miskin. Yang jelas sekarang Daniel Ek masih jadi orang kaya, dengan net worth lebih dari 20 triliun rupiah, sebagai pengusaha sekaligus teknikus, bukan musikus.

Oleh Abyan Nabilio

Tagged

#Spotify #spectacle #review #serial #movie

Leave a Reply