X

Merayakan Kartini Lewat Cerita Perempuan di Film

by webadmin / 1 year ago / 813 Views / 0 Comments /

Menengok perjuangan perempuan lewat film dan merayakan semangat Kartini dengan cara yang lebih dekat.


Setiap bulan April, nama Kartini kembali naik ke permukaan. Dari buku pelajaran, mural di sekolah, sampai unggahan Instagram bertagar #HariKartini. Semuanya mengingatkan kita pada sosok perempuan yang dengan tulus dan penuh tekad ingin memajukan kaumnya, di zaman ketika perempuan bahkan belum diizinkan memilih jalan hidupnya sendiri.

Tapi mari jujur sebentar. Seberapa sering kita benar-benar menghayati semangat Kartini, dan bukan cuma mengutip “Habis Gelap Terbitlah Terang” karena itu terdengar puitis?

Kartini bukan sekadar nama jalan atau inspirasi batik modern. Dia adalah simbol perlawanan yang halus tapi tajam, sopan tapi keras kepala, penuh rasa cinta tapi juga muak terhadap sistem. Semangatnya hidup dalam berbagai bentuk-bukan cuma dalam buku sejarah, tapi juga dalam layar lebar. Lewat film, kita bisa melihat perjuangan perempuan dari berbagai sudut: yang bersuara keras, yang memilih diam, yang jadi pahlawan, bahkan yang cuma ingin hidup tenang tapi terus disudutkan.

Nah, buat kamu yang ingin merayakan Hari Kartini dengan cara yang lebih menyenangkan tapi tetap bermakna, ini dia deretan film yang bisa kamu tonton. Film-film ini enggak cuma seru, tapi juga menyadarkan. Karena sesekali, kita semua butuh dingatkan-perempuan itu kuat. Bahkan saat dunia bilang sebaliknya.

Kartini (2017)

Film ini jelas wajib ditonton saat Hari Kartini. Tapi bukan karena “ya iyalah, judulnya aja Kartini.” Lebih dari itu, film ini berhasil menampilkan sisi manusiawi dari tokoh yang selama ini kita kenal hanya lewat paragraf di buku sejarah. Dian Sastro membawakan sosok Kartini yang cerdas, ambisius, tapi juga rapuh. Kita melihat bagaimana tekanan keluarga, ekspektasi masyarakat, dan perjuangan melawan sistem patriarki membuat hidup Kartini jauh dari mudah. Film ini enggak mengagung-agungkan Kartini secara berlebihan. Sebaliknya, ia menampilkan dilema, kemarahan, dan keteguhan seorang perempuan yang hanya ingin satu hal: kesempatan.

Siti (2014)

Siti bukan Kartini. Dia enggak nulis surat ke Belanda. Tapi perjuangannya? Sama besar. Film ini bercerita tentang Siti, seorang perempuan muda yang harus menafkahi keluarganya setelah suaminya lumpuh. Di siang hari dia jual kerupuk, malamnya kerja di karaoke demi sesuap nasi. Kamera hitam putih membuat cerita Siti terasa semakin sunyi dan getir. Tapi justru dari kesunyian itulah kita melihat kekuatan.

Siti mewakili suara banyak perempuan yang hidup di pinggir, yang enggak masuk berita, yang diam tapi terus melangkah. Kadang, keberanian terbesar datang dari orang-orang yang enggak pernah diminta jadi pahlawan.

Pasir Berbisik (2001)

Pasir, angin, sunyi, dan trauma. Begitulah rasanya nonton Pasir Berbisik. Ini bukan film yang penuh dialog atau aksi cepat. Tapi di balik kesenyapan visualnya, ada cerita kuat tentang hubungan antara seorang ibu dan anak perempuan di lingkungan keras.

Christine Hakim sebagai Berlian, sang ibu, terlihat dingin dan keras. Tapi semua itu lahir dari keinginan untuk melindungi ananya, Daya (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo). Film ini menggambarkan betapa rumitnya menjadi perempuan-yang harus kuat, tapi juga penuh luka. “Berbisik” di judul film ini bukan tanpa makna. Karena seringkall, perempuan dipaksa bicara dalam bisikan. Tapi itu tidak berarti mereka tidak bersuara.

Hidden Figures (2016)

Tiga perempuan kulit hitam jenius bekerja di NASA di tengah masa segregasi rasial di Amerika. Mereka enggak cuma jago matematika, tapi juga harus pintar menghadapi diskriminasi. Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson membuktikan bahwa menjadi perempuan kulit hitam bukan penghalang untuk menaklukkan luar angkasa.

Film ini bukan hanya tentang roket dan angka. Ini tentang keteguhan hati, tentang bagaimana perempuan bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dapat tempat duduk di ruangan yang penuh pria kulit putih. Hidden Figures mengangkat kisah nyata yang selama ini tersembunyi. Dan lewat film ini, suara mereka akhirnya terdengar.

The Help (2011)

Dibalik dinding rumah-rumah mewah di Jackson, Mississippi, ada kisah pembantu rumah tangga yang diperlakukan seperti bayangan. Aibileen dan Minny—dua perempuan kulit hitam—dipaksa tunduk oleh sistem yang rasis dan patriarkal. Tapi ketika Skeeter, seorang jurnalis muda, datang dengan niat menulis buku tentang kisah mereka, semuanya berubah.

The Help adalah kisah tentang keberanian untuk bicara saat semua orang ingin kamu diam. Kadang lucu, kadang bikin nangis, tapi menyentuh. Film ini nunjukin bahwa perubahan dimulai dari satu orang yang cukup nekat buat bertanya: “Kenapa harus begini?”

Thelma & Louise (1991)

Kalau kamu pengin nonton film perempuan yang badass, ini dia. Thelma dan Louise awalnya cuma mau liburan. Tapi setelah satu kejadian tragis, mereka jadi buronan. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan kekerasan, pengkhianatan, tapi juga kebebasan.

Film ini jadi ikon feminis karena nunjukin bahwa perempuan juga bisa ambil alih kendali atas hidupnya-meskipun dengan cara yang penuh resiko. Ending-nya legendaris, dan sampai sekarang mash jadi simbol pembebasan perempuan dari relasi yang menekan.

Wadjda (2011)

Wadjda ingin sepeda. Itu aja. Tapi di Arab Saudi, keinginan sederhana itu bisa jadi perlawanan. Karena di negaranya, anak perempuan enggak boleh naik sepeda— katanya bisa merusak kehormatan.

Lewat cerita Wadjda, kita lihat bagaimana anak kecil bisa jadi cermin dari sistem yang sempit. Film ini jadi sejarah sendiri karena disutradarai oleh perempuan-Haifaa al-Mansour—di negara yang bahkan melarang perempuan nyetir mobil waktu itu. Tapi Wadjda tetap melaju. Dan kamu, setelah nonton ini, mungkin bakal lebih menghargai kebebasanmu.

Leila and The Wolves (1984)

Ini bukan film biasa. Ini film yang meledak dalam kesunyian. Leila adalah perempuan yang menjelajahi sejarah Palestina dan Lebanon, bukan sebagai penonton, tapi sebagai saksi dan pejuang. Lewat montage, simbolisme, dan potongan sejarah, kita dibawa melihat peran perempuan dalam konflik yang seringkali hanya menampilkan laki-laki. Film ini enggak gampang ditelan, tapi sangat powerful. Karena sejarah juga punya sisi yang feminin, yang selama ini sering disapu bersih oleh narasi kekuasaan. Leila hadir sebagai pengingat bahwa perempuan bukan pelengkap cerita-mereka bagian utamanya.

Little Women (2019)

Dari semua film tentang perempuan, Little Women adalah salah satu yang paling relatable dan abadi. Adaptasi novel klasik Louisa May Alcott ini enggak cuma soal empat bersaudara-Jo, Meg, Beth, dan Amy—tapi juga tentang pilihan-pilihan yang harus diambil perempuan dalam hidupnya.

Jo, si penulis keras kepala yang ogah nikah karena ingin hidup bebas. Amy, si ambisius yang sering disalahpahami. Meg, si “konvensional” tapi penuh cinta. Beth, si lembut yang selalu jadi penopang. Masing-masing mewakili sisi perempuan yang berbeda-dan semuanya sah. Film ini indah secara visual, emosional secara cerita. Greta Gerwig, sang sutradara, berhasil ngasih napas baru pada kisah lama ini. Setelah nonton, kamu mungkin bakal mikir: “Ternyata jadi perempuan itu enggak ada rumusnya. Semua bisa valid selama kita memilihnya dengan sadar.”

Mulan (1998/2020)

Mulan bisa dibilang salah satu karakter perempuan paling ikonik yang dikenalkan ke generasi milenial dan Gen Z. Versi animasinya (1998) penuh lagu-lagu catchy dan humor, sedangkan versi live action-nya (2020) lebih serius dan heroik. Tapi intinya tetap sama: seorang perempuan menyamar jadi laki-laki demi menyelamatkan ayahnya dan melindungi negerinya.

Mulan adalah perlawanan terhadap norma gender klasik. Di saat masyarakat bilang tempat perempuan adalah di rumah, dia justru naik kuda dan berperang di garis depan. Bukan karena dia pengen diakui, tapi karena dia peduli. Film ini ngajarin kita bahwa keberanian enggak mengenal gender. Bahwa jadi perempuan enggak selalu harus lembut atau menurut. Kadang, jadi perempuan juga berarti: melawan. Dan tetap sayang keluarga di waktu bersamaan.

***

Dari Kartini sampai Mulan, dari pesisir selatan Jawa sampai jalan-jalan di Massachusetts, semua kisah ini nunjukin satu hal: perempuan itu kompleks. Mereka bisa rapuh sekaligus tangguh. Lembut tapi ngotot. Diam tapi menyimpan badai. Dan justru di situlah letak keindahannya.

Hari Kartini seharusnya enggak berhenti jadi hari selfie dengan kebaya atau caption panjang soal “emansipasi”. Tapi jadi momen kita benar-benar mendengarkan—cerita mereka yang sudah bersuara sejak lama, tapi baru sekarang kita punya cukup keberanian buat mendengar. Film, dengan segala daya magisnya, bisa jadi pintu pembuka. Bukan akhir dari perjuangan, tapi awal dari kesadaran. Jadi, mulai dari nonton, mulai dari empati, mulai dari diri sendiri.

Dan ingat: kalau kamu perempuan—cerita kamu juga penting. Jangan ragu buat jadi pemeran utama dalam hidupmu sendiri.

Teks: Gren Rain