Love Language, Physical Attack: Fetis Bertumbukan Terlampiaskan di Pusara Pit Speed di Gimme Shelter Bali

Menengok kembali panggung Speed di Gimme Shelter Bali, bertumbuknya mosher, spirit mentah juga love languange hardcore tough guy di sebuah show: physical attack.
beatdown/biːt-daʊn/adj: berdentum secara sonik; digebuk sampai bonyok, dipalu hingga terpendam masuk enam kaki ke dalam tanah
Satu sepak retak kacamata. Yang berikutnya datang bertubi, hujan telapak sepatu, saatnya pergi. Melipir ke kiri coba cari celah menaiki sebuah meja papan demi bisa melongok nomor pembuka “REAL LIFE LOVE” selesai dibawakan. Sebelum akhirnya melompat, pindah lagi menemukan menemukan posisi nyaman di atas panggung. Tepatnya agak menyamping ke arah belakang bahu Kane Vardon yang tampak lucu untuk ukuran seekor dramer beatdown. Berkumis block core mirip Borat, postur bermainnya canggung, sedikit tergopoh meski kelihatan rileks dan tidak sekalipun ada jangkauan ropelnya yang meleset. Steady diet of nothing. Mengayun groove dribble memandu two-step berjamaah, menghantam udara di antara kepal kanan dan kiri yang bergantian menyilangkan tinju ke arah selangkangan kaki yang juga ikut menari, menyelaraskan lonjakan adrenalin seolah sedang memukuli, menendangi seekor parasit imajiner dengan amarah swag dansa pogo.
Sekitar 300 mutan melakukan gerakan tari serupa. Setiap tubuh yang berguncang menggurat varian emosi masing-masing. Menggeram, bersenang, luwes, kaku, saling menubruk, cuek tersikut serius meningkahi malam sengit breakdown di area skatepark di halaman belakang Gimme Shelter, kuil rock & roll tengah sawah tempat Eyehategod, Agnostic Front, Sheer Terror, Total Chaos pernah manggung.
“DON’T NEED” digelontorkan kepada mereka: cabikan bass itu ketika Aaron Siaow membiarkan kita semua melolong, ‘I’d give it all away!’ laksana semburan youth crew kala rebutan renggut mic. Paket lengkap old school NYHC, mereka mendapatkan groove intronya dari Madball, breaks hoop Judge, pekik gitar slam death metal, martil penutup beatdown lengket yang membuat Speed dijuluki Australian Hatebreed.
Kelihatan seekor bule bertampang mirip John Joseph, vegan motherfucker bekas vokalis Cro-Mags, berhasil menangkap semua elemen tersebut. Kaus Crown of Thornz yang dikenakan menyebut petunjuk berapa usianya—seekor uncle hardcore gaek, tentu saja, berdiri tanpa geming di bibir panggung, tak memedulikan benturan-benturan yang menyenggol tubuhnya. Sesekali ia ikut terombang-ambing gelombang mosh, namun tak setetes pun doyong serta lihai menangkis terjangan kaki yang mengarah ke wajahnya. Slogan pengasihan ‘old punk never die we just stand in the back’ jelas tidak berlaku. Pengalaman telah mengajarkannya cara selamat mengarungi pit, seandainya malam itu terjadi 23 tahun lalu barang pasti dirinya sudah berkobar, mencelat terbang ke tengah kubangan sana, siap jontor menuruti pecutan vokalis Jem Siouw.
“Bangkit kalian semua!” Dua kali ia mengulangi dalam Inggris, aksen Oz-strine Singlish-nya menyengat aroma balsem urban cokin-cokin Jelambar. “Saya mau lebih banyak stage dive lagi. Tunjukkan ke saya 1000 stage dive dalam 50 detik ke depan!”
Dentang snare Kane Vardon menghitung empat ketukan. . . “SHUT IT DOWN” meluncur deras, cepat, tumpah ruah, siku menyerempet pelipis. Love language: physical attack. Fetis hardcore madness. Mabuk cinta. Pecah chaos. Sensor tubuh menggeliat liar meningkahi energi mentah sebuah lagu bravado yang ditujukan menyemprot mereka eksploitator, poser parasit scene yang cuma hadir untuk mengeruk keuntungan coolness, biasanya kontol-kontol fake persona begitulah yang hobi jual nama buat nonton gigs dan lebih banyak bikin pose kamera daripada stage dive. It could be me. . . otherwise you, poster boy
‘Talking like a pimp/I’m not impressed/Keep flexing hard/When all I see is, a-weak-little-fuck/Keep-it-shut!’
Jadilah otentik, petik pesan lagunya. Jangan tipu diri sendiri. Khususnya kalau kau mengaku hardcore. Harkat yang selalu dijunjung tinggi Jem Siouw, seekor pemuda minoritas generasi pertama keluarga migrasi Cina Malaysia-Australian yang terasing di scene underground Sydney. Show HC pertamanya dialami saat berusia 12 menonton Stronghold, band hardcore punk asal Adelaide seangkatan Parkway Drive yang sudah bubar, dan praktis hanya ada dirinya dan seorang teman yang sama-sama berwujud kontet, kuning, sipit, pesek di sana. Tidak ada satu pun band HC yang disaksikan, didengarnya ketika itu mampu mewakili identitasnya sebagai peranakan blasteran.
Kesadaran alienasinya terbit: ia bukan dan enggan, alih-alih membuntuti fantasi ‘white people hardcore’, Jem Siouw mengekspos kesejatian diri dengan mendirikan band yang merefleksikan keutuhan eksistensinya. Seperti sebuah kebetulan yang disengaja, kecuali gitaris Joshua Clayton, tiga personel lainnya memiliki darah campuran; saudara kandungnya, Aaron Siouw, gitaris Dennis Vichidvongsa keturunan Laos, dan Kane Vardon setengah Indian.
Pada masa awal kemunculan Speed ketika Demo 19 (Last Ride, 2019) dirilis banyak abang-abangan HC Sydney meremehkan status bocah bawang mereka; ibarat anak kemarin sore tertuduh poser yang bisa dapet kontrak rekaman karena prestasi pergaulan. Namun alasan paling hina dari terciptanya stigma ‘poser’ yang diterima didasari oleh diskriminasi ras mereka. Sentimen kebencian terhadap keturunan Asia meningkat pesat di Australian sepanjang musim pandemi 2020, orang-orang sipit kerap digebukin di tengah jalan gara-gara bangsa mereka dianggap sebagai penyebab munculnya virus Covid-19, bangsa pemakan kelelawar. Vandalisme kebencian menyebar ke segala penjuru Sydney, di aspal dan pagar taman kota, stasiun bus, plang gedung konstruksi dan tembok-tembok garasi rumah warga keturunan tercoreng:
‘COVID-19 – CHINA DIE!’
‘SHAME ON U CHINA GO HOME YELLOW DOG’
‘DEATH 2 DOG EATERS’
Kepada Crack Magazine Jem Siouw mengatakan, “Ketika kita berkecimpung di sebuah persekutuan tribal kayak hardcore, pasti akan ada sekelompok orang yang protektif menjaganya agar tetap steril, tidak tercemar oleh orang-orang ‘asing’, aku banyak bicara mengenai permasalahan tersebut.”
“Buat kami sangat penting untuk menunjukkan identitas band ini karena hal itu memberi dampak besar terhadap orang banyak, terutama orang-orang Asia di scene ini. Mereka merasa terkoneksi dengan kami, akhirnya mampu melihat sesuatu yang nyata pada diri mereka. Lagian kalau kau poser di “ hardcore, kau bakal kegep dengan cepat. Memang begitulah adanya,” lanjutnya.
Sudah bawaan orok hardcore untuk mengintimidasi. Dari sejak zaman Ian MacKaye masih menoleransi stage dive di konser Teen Idles, Minor Threat sampai era post-hardcore di mana ia mengharamkannya bersama Fugazi, dari peleburan agresivitas liar punk rock seperti yang dipraktikkan Negative Approach, SSD, Ten Yard Fight, melodic poetic chaotic Converge, Dead Swans, More Than Life sampai Sunami yang membengis tough guy, hardcore selalu punya seribu genggaman siap tinju. Dengarkan “WE SEE U”, untuk setiap bibir yang mengepal, tonjolan bisep, acungan jari tengah, pondasi bertarung di klipnya, kau akan mengerti alasan kenapa rata-rata lagu hardcore punk dibikin pendek.
Detonator anger trip. Setiap kata meradang kegigihan, berdampak keras menantang dedikasi, setiap kali entakan riff itu menggaruk ubun-ubun, mengantarkan mutasi amarah yang membuat kita rela merajah lengan ‘we’re not in this alone’, lagu-lagu pendek hardcore punk adalah deklarasi lugas terhadap hal-hal yang kita yakini, intensi oposisi yang sering kali kejam kepada siapa pun yang berlawanan. Sekali tonjok klimaks sudah.
Gaplok kilat. Di Gimme Shelter, repertoar disusun padat. “WE SEE U” diurut setelah nomor “AIN’T MY GAME”, dua nomor yang mengandung unsur kekacauan optimum. Hawa panas menggumpal di tengah pit, Jem Siouw merasa perlu terlebih dulu menyulut pantat-pantat mutan di dalamnya biar meledak.
“Kalian sudah merusak mikrofon sejak lagu pertama,” katanya sambil meluruskan kabel yang terinjak-injak, “dan itu persis seperti yang ingin aku lihat!”
Kerumunan pit bersorak mengetahui mereka telah bersenang-senang dengan sebagaimana mestinya pesta sebuah gig hardcore memuntahkan energi mentah.
“Hey!” seru Jem Siouw. “Teman-temanku ada di sini, keluargaku ada di atas panggung, Kamilah Gang Called Speed! Live and pride, this is hardcore! Dan malam ini adalah panggung perdana kami di Bali!”
Gemuruh menyambar teriakan pit menyambut kedatangan band beatdown viral generasi TikTok. Dibalas Jem Siouw dengan retorika standar musisi luar negeri yang sedang tampil di negara tak berbahasa Inggris; mencoba bicara bahasa lokal. Trik hiburan yang tak pernah gagal setiap kali diandalkan mencairkan kebekuan. Pasti ia melakukannya di setiap kota yang disinggahi.
“Epa kabakhrr. . . Injirh! Injirh, bro! Baghus! Ghila bhang-getss, ghila bhang-ggets!”
Tentu saja yang dimaksudnya, ‘anjir!’. Sungguh kurang ajar sekali siapa pun orang yang memberitahunya, seharusnya kasih ia kata-kata yang lebih santun cermin keramah-tamahan budi pekerti bangsa kita, semisal ‘cicing cai’, ‘jembut pitak’, ‘daki edeb’ atau minimal ‘aku suka dubur’. Di Jakarta lima hari sebelumnya, Jem Siouw melontarkan pujian bermartabat, “Bah-lihl Nghen-thot!”
Ia menyerocos lebar. “Aku dan kamu, kita keliatan mirip. Aku dan Aaron, kami punya keturunan Malaysia, tapi maafkan aku ‘gak bisa ngomong bahasa Indonesia, sedangkan aku bertemu anak-anak hardcore di sini mereka semua bisa bicara bahasa Inggris. . . kami malu, bro. . . aku berharap bisa berkomunikasi dengan kalian. . . tapi kami telah menjalani tur Asia ini selama sebulan, dan rasanya ‘gak terlalu penting apakah aku bisa bicara Vietnam, atau Tagalog, atau Bahasa. . . karena kita bicara dalam satu bahasa yang sama malam ini! Kalian tahu apa itu?”
Mikrofon diarahkan ke kerumunan yang riuh menjawab berkelakar-kelakar.
“What?!” Ia pura-pura tuli.
“Hard-coreeee!” cetusnya menyerangsang aba-aba. “Jadi aku beri tahu kalian semua, please kindly. . . speak my fucking language! Stage dive! Sing along! Express Yourself! Get the fuck up here! Dan tunjukin seperti apa itu sebenarnya hardcore Bali!”
Membara pit dipantiknya. Jarinya menuding tegas wajah-wajah mutan barisan depan. Joshua Clayton kembali membuka dengung feedback, belum juga intro riff dimulai tapi satu aksi koprol back flip mendahului, menyabet segundukan kepala yang telah siaga memasang kuda-kuda antisipasi. Warna seringai begitu bahagia menyusul estafet jungkir-jungkir tubuh yang lain.
“Open the fucking pit!” seru Jem Siouw keras.
Maka terbelahlah. Arus terus berulang tiada mengering sepanjang “AIN’T MY GAME” berlangsung. Wawut-wawutan lepas kendali, berhamburan, merangkul, berlarian, terbang dari atas panggung. Ruang kosong yang terbuka di tengah zona tumbuk diakomodasi banyak sekali pameran jurus kungfu speed kick, ninja kick; tendangan keledai—kaki mengayun ke belakang tanpa menengok, tendangan topan—kaki berputar 360 derajat, tendangan kuda—tendangan membungkuk dengan satu tangan di udara. Semakin melambat ketukan beatdown disajikan motorik pogo pun disesuaikan. Windmill keluar, gerakan memutar kedua tangan serupa baling-baling menyebabkan orang-orang yang cukup waras menjauh, sementara mereka mutan para pendamba orgasmik benturan fisik malah menghampiri, ikut mendampingi dengan memutar kincir baling-baling tak kalah sengit. Sedikit kena tinju bagus buat mental. Melihat adegan tersebut seperti menyaksikan sirkus dua helikopter yang sedang saling pancing memohon tabrakan terjadi.
Sebagai orang yang punya koleksi bilur dari mosh pit Terror JKT ’11, Have Heart JKT ’08, Madball BDG ’13, Hatebreed JKT ’10, Bane JKT ’12, Power Trip DPK ’20, Agnostic Front JKT ’18, Earth Crisis JKT ’17, Sick of it All ’13, Youth of Today JKT ’13, Comeback Kid JKT ’08, Suicidal Tendencies JKT ’13, GAG Bali ’23, MDC JKT ‘17, DRI JKT ’12, panorama kekacauan konser Speed Bali ’26 benar-benar sebrengseknya menggoda niat lebam menggumuli amarah. Mengingatkan pada apa yang pernah diparodikan Sick of it All dalam klip “Step Down”. RIP Lou Koller – #nowplaying “Just Look Around”.
Classic two step NY style merebak ketika tembang hardcore karaoke “All My Angels” melanjutkan susunan repertoar. Terutama layanan breakdown di bagian bridge, pemandangannya sporadis, sangat lentur, begitu swag mereka menari; two step adalah gerakan dasar yang menghubungkan adrenalin menuju tingkatan berikutnya. Fuck barikade! Semua orang dipersilakan naik dan berdansa di atas, lantai panggung berdentak-dentak diserbu ratusan tinju throwdown yang disertai power stomp kaki gorila ngamuk. Ruang panggung yang sempit tidak juga menghalangi terciptanya beberapa floor punch dan lawnmower dance—atau dansa cabut rumput, gerakan tangan mencabik-cabik dengan pinggang membungkuk saru seperti sedang memunguti uang koin di tanah. Sebelum mereka terpuaskan dan turun secara ngehek dengan cara berbeda-beda; ada yang melayang bak Superman atau melakukan headwalk berjalan menginjak-injak kepala lalu terpeleset meraih sembarang pundak di kerumunan sebagai landasan mendarat darurat.
Pedoman bertumbuk di pusara pit: 1) Kalau lagi males kena gebok mending jauhi pusat tumbukan ataupun riak-riaknya, minggir sebelum band mulai, ‘gak ikutan moshing bukan artinya kau pengecut 2) Karena para makhluk mutan ini adalah pedansa serius, jadi jangan remehkan mereka, tapi seandainya kau tetap nekat, anything that gets your blood racing is probably worth overdoing, rileks kau akan tersenyum ketika satu dengkul liar menjotos pening jidatmu 3) Surf. Slam. Revolt. 4) Pegang selalu, kau masuk pit untuk bercinta, buang niat melukai 5) Tanpa bermaksud body shaming, kalau ada stage diver sekuda nil Hoya Roc Guerra hormati dia, jangan lantas menyingkir dan terimalah tumbukan dengan support saudara se-HC, lagipula you got all the crews behind you 6) Bantu siapa pun yang terjatuh, termasuk dirimu yang tadi terjerembap ketiban kuda nil, pasti bakal ada yang menarik berdiri pantatmu 7) Ini hardcore sport, jangan merokok atau tenteng botol kaca di pusat area tumbuk, selain berpotensi melukai juga bisa bikin kepala kau dipecahin botol karena sok jagoan 8) Seteru moshkiller pantas ditantang adu jurus kungfu di tengah ruang kosong sebelum wall-of-death 9) Upayakan jangan terlalu trance, sempatkan diri perhatikan sekitar, violence dance bukan cuma soal tumbukan doang, kau akan merasakan ledakan amarah hardcore punk dalam seni tarian bengal menyaksikan polah ricuh pedansa berjibaku mendobrak batasan gerak.
Pada saat itu Jem Siouw telah menelanjangi dadanya. Otot barbel tulang beton. Bahunya kokoh, dada bidangnya atletis, zero gelambir. Keringat segar membasahi sekujur badannya setelah delapan lagu konstan ‘bakar kalori’. Ia adalah seekor powerlifter, begitu juga Dennis Vichidvongsa, yang malah memiliki karir profesional sebagai atlet angkat beban selama 10 tahun dan menguasai jiu-jitsu. Maskulin langganan crossfit, sempurna seekor maskulin beatdown sejati. Penampakan tubuh sesehat itu, dengan primalitas terjaga sepanjang show membuat kita berpikir orang ini pasti punya cadangan batere energi tiada habis.
Padahal seluruh personel Speed tengah dilanda kelelahan usai menempuh 10 jam perjalanan darat dari Malang, baru sekitar pukul 12 siang mereka sampai di Bali yang menjadi kota terakhir dalam rangkaian tur Asia perdana kali ini, meliputi 18 titik panggung di 10 negara. Sebelum naik panggung terintip Jem Siouw menghirup oksigen kaleng dan mengendus balsam untuk menyegarkan diri.
“Kami telah bermain di berbagai jenis venue di tur ini, dan di Asia venue yang disediakan bisa begitu unik, bisa sangat berbeda. Tidak peduli itu sebuah gudang atau rumah tempat tinggal seseorang atau aula konser, dengan musik yang kita mainkan, hardcore, kita akan menciptakan ruang sendiri. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada venue yang indah ini, Gimme Shelter.”
Jem Siouw memulai kembali orasinya, panjang dan berapi, bercerita tentang identitas rasnya. Ia terkenal lantang membicarakan soal identitas otentik bandnya, berkoar lewat lirik-liriknya yang lugas, di sesi wawancara, di setiap orasi panggung-panggungnya.
“20 tahun lalu aku datang ke gig hardcore pertamaku. Tidak ada banyak orang Asia. Aku berdiri di sana dan berpikir, fuck. . . the mosh pit, the style is crazy, the riffs are fuckin’ insane, aku merasa berada di tempat yang seharusnya. Tapi tahun demi tahun berlalu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. . .”
Ia berhenti sebentar, ketika bicara dirinya terus berjalan mondar-mandir menyisir sisi depan panggung.
“Aku ‘gak tau apa kalian mengerti yang aku maksudkan. . . di Bali, melihat banyak sekali orang berbeda warna kulit yang hadir di sini, aku seperti menyaksikan diriku dalam diri kalian. I feel like I belonged. Aku merasa kedatanganku diterima. Kalian membuat kami dicintai, seriously bro. . .”
Scene hardcore Australia mengalami momen kebangkitan penting pasca pandemi Covid-19, generasi baru lahir selepas kejayaan band-band metalcore era 2000-an seperti Parkway Drive serta kebesaran rombongan Adelaide hardcore macam Day of Contempt, Shotpointblank, I Killed the Prom Queen. Sekaligus mengakhiri kebosanan status quo di mana gigs sepi penonton, bubarnya sejumlah band tua, banyak label rekaman runtuh, dan dalam beberapa hal, warga Australia sudah akrab dengan situasi isolasi. Letak geografis yang menyerong ke selatan bumi Antarktika menjauhkan mereka dari rute tur band hardcore internasional. Benua raksasa dengan total populasi tak lebih banyak dari penduduk Jabodetabek, utamanya berlokasi di kota-kota dan pusat urban di pesisir timur yang terpisah ratusan kilometer mengharuskan scene di setiap kota tumbuh mandiri tanpa pandangan sentralistik.
Dipupuk melalui solidaritas komunal sejumlah label rekaman lokal, sebut saja Best Wishes, Life Lair Regret, Last Ride, Reason and Rage, Greyscale, NoPatience, band-band muda Australia mengimplementasi etos DIY mereka masing-masing. Selama periode pandemi 2020-2021, dengan tidak adanya gigs, nama-nama World of Joy, Blindside, Nerve Damage, Primitive Blast, Falcifer, Denial, banyak mengurung diri, merekam materi di studio mempersiapkan masa depan cerah scene hardcore Australia.
Cetak biru generasi itu salah satunya terkompilasi dengan baik lewat rilisan This Is Australia: Volume Two (Last Ride, 2021). Berisi 10 band hc berdarah segar, Speed mengikutsertakan “WE SEE U”, sisanya menengahkan ragam hibrida 70’s street punk, post hardcore revival, metallic crossover, dan katalis youth crew otentik. Beberapa yang pantas diberi perhatian khusus adalah: Culture Shock, III Nature, Smash, Psalm, Miles Away.
Speed didirikan oleh lima orang yang sedang berada di depan gerbang usia 30. Angka tersebut memengaruhi perilaku mereka sebagai band hardcore. Ketika band-band beatdown lain sering terlibat perkelahian di panggung dan berpesta dekaden, anak-anak Speed telah menikah dengan pekerjaan formal menyambung hidup. Jem Siouw adalah guru seruling, Aaron Siouw seorang desainer yang memiliki jenama fesyen sendiri, Del Saato yang juga memproduksi semua merchandise Speed, terutama artikel jersey mereka yang sering dipakai oleh Travis Barker dan Kourtney Kardashian. Joshua Clayton pegawai sebuah kantor agensi marketing, sementara Dennis Vichidvongsa dan Kane Vardon bermain di band hardcore Sydney lain bernama Relentless.
Mereka mencoba membangun geng dengan menyebut bandnya Gang Called Speed, seperti diakui Jem Siouw, yang dimaksudkan agar dapat dimaknai serupa a Tribe Called Quest. Pada 2022 band ini baru cuma punya 8 lagu dan pengalaman tak lebih dari 12 kali manggung saat melakukan terobosan main di Festival the Sound and Fury di Los Angeles. Itu kali pertama mereka menginjakkan kaki di Amerika, dan sebagai band udik yang terbiasa tampil di hadapan 100 orang di Sydney, kini ditonton 5000 kepala yang menyanyikan setiap lirik, berjibaku sengit di moshpit meningkahi “Not That Nice”.
Jem Siouw mengungkapkan dalam wawancara dengan situs fashion SSense, “Rasanya seperti atap rumah yang tercabik lepas dan sekarang kami dapat menatap keseluruhan hamparan langit luas.” Namun di luar kesuksesan itu ikut memunculkan berbagai pantulan kegelisahan eksistensial, sebagai refleksi dari ‘apa sebenernya tujuannya bermain hardcore sekarang?’, ‘Apa arti semua keberhasilan ini?’, ‘Pesan apa yang bisa ditawarkan kepada audiens yang membludak di luar bayangannya sewaktu memulai Speed dulu?’, ‘Bagaimana caranya kami tetap mampu berkontribusi pada scene Sydney?’, ‘Seharusnya kesuksesan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun scene Sydney?’
Termasuk sebuah pertanyaan paling krusial, ‘Dapatkah kami terus tumbuh semakin besar dan besar, tapi masih tetap mampu menjaga kemurnian hardcore itu sendiri?’
Sorotan terhadap Speed meledak pesat usai menuntaskan show di Sound and Fury. Segera kelima anggotanya memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka. Dari hardcore untuk hardcore. Dua tahun berikutnya terbit album penuh kedua, Only One Mode (Last Ride/Flatspot, 2024). Lalu mereka menghabiskan enam minggu tur Amerika menjadi pembuka Knocked Loose, tampil di venue berkelas teater di depan ribuan mata setiap malam. Juga sejumlah acara yang jauh dari gelagat hardcore, contemporary art space Kunstverein Nuremberg di Jerman dan bersama Turnstile di L’Olympia dalam pagelaran Paris Fashion Week. Atmosfer sureal bagi sebuah band hardcore baru meletek, sebuah tantangan adaptasi berat, harus berkomunikasi menyebarkan pesan dan memenangkan hati sebegitu banyak orang.
Ujiannya adalah tidak terserang sindrom rock star. Godaan popularitas juga mengandung risiko perubahan artistik untuk bisa menggapai audiens lebih masif. Dikutip dari wawancara Joshua Clayton dengan Wall of Sound, ia meyakinkan bandnya tidak punya niatan berubah, tidak berminat jadi terlalu besar sampai harus tampil 300 kali per tahun, dan mereka tetap ingin bermain di tempat-tempat kecil bagian dari komunitas. Karena itulah identitas Speed sebenarnya, tidak akan pernah berkompromi meninggalkan etos DIY hardcore. Misinya tak berubah: band yang mengadvokasi kultur hardcore di Australia dan loyal menempatkan scene Sydney sebagai prioritas pertama dan utama.
Speed merupakan produk yang lahir dari hasil lingkaran pertemanan scene. Mereka membawa energi identitas tersebut dalam setiap langkahnya, sekali saja dilepaskan pudar sudah kemurnian hardcore. Secara tradisional hardcore selalu mematri sikap kebanggaan patriotis teritorial, mirip dengan hip hop; jika kau berasal dari Palu, maka otomatis kaulah penggambaran Palu Hardcore atau kau berasal dari Singkawang, maka kaulah representasi Singkawang Hardcore dan seterusnya. Kita mencitrakan scene tempat kita berasal, perwakilan karakter sound, kultur, gairah yang digenggam sepanjang hayat. Hardcore adalah komitmen terhadap DIY. Jenis musik ekstrem yang cukup mudah dimainkan, dan mungkin musik beton dengan riff paling konyol yang pernah diciptakan. Kalau kau tidak ketagihan ketika mendengarkannya atau memainkannya, sebaiknya kau berhenti. Hardcore adalah musik orang-orang gua, diperuntukkan bagi spesies primitif yang dipenuhi kemarahan.
Beatdown hardcore Speed dengan jelas menerangkan itu semua. Sound mereka berat dan purba dan kaku, truly old-school beat-you-up. Tidak pernah bawa sound engineer ketika tur. Benar-benar hanya mengandalkan agresivitas energi yang dilandasi gairah meluap terhadap musik yang mereka mainkan. Namun di balik imaji gahar tersebut, terselip kerapuhan yang membentuk maskulinitas. Speed secara terbuka mengekspresikan sensitivitas tanpa harus kehilangan esensi machismo. Bicara tentang keluarga, self-acceptance, introspeksi diri, kehilangan, kesedihan. Kelembutan lirik-lirik lagu mereka membantu menjelaskan alasan kenapa orang-orang bersemangat terjun ke pusara mosh pit: dunia memang brengsek, dan cara terbaik untuk bertahan hidup adalah dengan memuntahkan amarah.
Di atas panggung suara Jem Siouw keluar ganas seperti gonggong Doberman, guttural growl berlumuran siraman geng vokal di mana-mana. Ia seekor frontman, provokator setengah motivator yang memiliki kemampuan menggerakkan massa setara pemimpin sekte. Semua orang bisa jadi anak hardcore, mengutip Miles Davis: “The note is only 20%, The attitude of the motherfucker who plays it is 80%.”
“Banyak sekali band mau datang ke Bali, ke Indonesia. . . karena scene di sini gila. Indonesia punya scene hardcore terbesar kedua di seluruh dunia. Lebih besar dari Australia. Fucking real, and fucking pure. Aku hanya ingin bilang satu hal pada kalian. . . tidak peduli siapa yang akan datang ke kota kalian, tidak peduli band apa pun yang datang ke Bali, remember this bro. . . nothing is more important than Bali hardcore!”
Seandainya 300 kepala yang berada di hadapannya adalah tentara garda revolusi, bodo amat hal serupa telah diucapkannya di tiap kota sepanjang tur Asia ini, bisa dipastikan mereka semua akan ikut bertempur bersamanya sampai darah penghabisan. Jem Siouw melanjutkan pidatonya, dengan nada yang ditingkatkan lebih kuat.
“You know why, motherfucker? Hanya kalian para bajingan di dunia ini yang paling berhak mengklaim Bali Hard—coreee! Sekarang aku ingin kalian, to get the fuck up with me! Dari barisan depan sampai ke belakang, dari sebelah kiri sampai ke kanan! Open the stage! Everybody jump! Go get mad!”
Maka sekali lagi, terbelahlah. “KILL CAP” dibawakan, tribute untuk teman-teman yang mati bunuh diri. Jem Siouw menyebutkan nama-nama mereka sebagai penghormatan. Gelombang mosh pit mencapai puncaknya malam itu. Rusuh, bahkan bule ‘Crown of Thornz’ tangguh di depan tadi terguling saking agresifnya pergerakan massal membeton bogem.
“Terserah kau berkulit hitam, cokelat, putih, kuning, ungu, abu-abu, apakah kau gay atau straight, dance!”
Speed menutup show dengan lagu terakhir, “THE FIRST TEST”, suara seruling dan satu teriakan heroik. . . FREE PALESTINE!








