BAGIAN 4: Melintas Sumatera Menyebrang Malaya hingga Siam, Sebuah Catatan soal “Poison And Spell Tour 2025” dari Critical Issues

Dari Kuantan lanjut ke Penang, meski singkat namun persinggahan di Penang begitu berkesan: dari gigs sampai kulinernya yang menggoda lidah.
Pelesiran di Penang
Senin, 24 November 2025, pagi itu adalah menit-menit terakhir rombongan tur Critical Issues di Kuantan, saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi di dalam ruang tunggu keberangkatan menunggu panggilan untuk menaiki bis. Mendekati jam sembilan, pintu gerbang keberangkatan dibuka dan penumpang diperkenankan untuk menaiki bis. Kami memuat barang bawaan ke dalam bagasi, dan menaiki bis yang akan kami tumpangi ke Penang. Dengan waktu tempuh kurang lebih sembilan jam, perjalanan darat kali ini mungkin yang terjauh yang pernah ditempuh oleh Critical Issues dalam dua kali melakukan tur di semenanjung Malaysia. Seperti bis yang sebelumnya kami naiki dari Kuala Lumpur ke Kuantan, bis ke Penang ini juga sama nyamannya walau harga tiketnya masih terjangkau. Hal itu juga cukup menjadi bahan perbandingan dengan bis yang biasa kami naiki di Indonesia, dan kami pikir itu juga dipengaruhi oleh faktor harga BBM yang lebih murah di Malaysia.
Dari informasi yang sempat saya cari tahu sebelumnya, Penang adalah salah satu negara bagian Malaysia yang berada hampir di sisi utara Malaysia atau lebih tepatnya di pesisir barat laut semenanjung Malaysia. Wilayahnya terbagi menjadi dua yaitu Pulau Penang dan wilayah daratan Seberang Perai. Tujuan yang akan dituju oleh Critical Issues adalah George Town yang berada di Pulau Penang.
Dari informasi bis yang dipesan, untuk bisa sampai ke ibu kota Penang itu nanti sepertinya kami harus menaiki kapal feri penyeberangan. Seperti tur Critical Issues sebelumnya, moda transportasi yang digunakan dalam tur kali ini juga adalah tri matra, kombinasi transportasi darat, laut, dan udara. Dari semua anggota rombongan tur Critical Issues mungkin hanya Dewi yang sebelumnya pernah ke Penang, dan saya pribadi cukup penasaran akan George Town baik secara kultural maupun kulinernya karena setahu saya nasi kandar aslinya berasal dari Penang. Dalam perjalanan di atas bis, saya kembali mengulik laman- laman informasi soal Penang di internet untuk menambah referensi.
Tapi kalau mundur sedikit ke masa perencanaan tur, ada cerita soal jadwal gig kami di Penang yang diorganisir oleh Akmal Komal di Ruas Store. Pada awalnya saya dihubungkan kepada Komal lewat bantuan Mailen (Tampui Records) yang kebetulan juga sedang mempersiapkan tur Sukatani di Malaysia. Dari pembahasan awal Mailen dan Komal, Critical Issues akan main bersama Sukatani untuk jadwal di Penang. Mendengar kabar itu, saya, Ken, Måm, dan Mär sangat antusias karena pasti akan seru, dan kami pun juga belum pernah melihat penampilan Sukatani secara langsung. Tanggalnya pun sudah disepakati yaitu pada 27 November 2025, sehari sebelum jadwal gig Sukatani di Kuala Lumpur pada 28 November 2025. Komal bahkan sudah sempat membuat desain flyer untuk acaranya, bahkan kami pun sudah memasukkan tanggal yang disepakati untuk jadwal di Penang ke dalam poster “Poison and Spell Tour 2025”. Namun, dua minggu sebelum tur dimulai Komal menghubungi saya, dan bilang ada perubahan untuk jadwal di Penang menjadi tanggal 26 November 2025. Komal bilang alasannya adalah karena dia ada agenda untuk pergi ke Bangkok. Saya dan rekan-rekan Critical Issues tak masalah dengan itu, tapi Sukatani tak bisa menyesuaikan jadwal keberangkatannya sehingga mereka tidak jadi main di Penang. Untuk itu Komal pun harus menyusun ulang line-up untuk acaranya, dan juga membuat flyer baru.
Kembali ke perjalanan bis, walau durasi perjalanan cukup lama tapi tak terasa melelahkan, yang tak lain tak bukan karena infrastuktur jalan yang bagus. Bis yang kami tumpangi sempat berhenti di area peristirahatan, dan kami seperti biasa memanfaatkannya untuk turun meregangkan badan, buang air, merokok, atau jajan cemilan dan minuman ringan. Dari informasi yang tertera dalam informasi pemesanan tiket, bis diestimasikan tiba pada sekitar waktu maghrib di Terminal Penang Sentral yang terletak di Butterworth, Seberang Perai. Saya menyempatkan menghubungi Komal untuk konfirmasi titik temu di terminal, dan dia memberi tahu nanti akan ada Shaik yang menunggu di sana untuk membantu kami menaiki kapal feri penyeberangan ke George Town, Pulau Penang. Sebab semalamnya tidak cukup tidur, saya kembali mencuri waktu tidur di perjalanan dalam bis. Terbangun sewaktu bis sepertinya keluar dari jalan bebas hambatan, dan dengan mata yang baru terbuka setengah, terlihat di luar jendela bis mulai mendekati gedung Terminal Penang Sentral. Saya beri tahu yang lain bahwa kita sudah sampai, dan bersiap untuk turun. Dan, seperti perjalanan darat sebelumnya, bis kali ini pun tiba tepat waktu. Di pelataran area kedatangan, kami turun untuk mengeluarkan barang dari bagasi, dan belajar dari kejadian Måm di Kuantan, memeriksa ulang bawaan pribadi agar tidak ada yang ketinggalan.
Setelah masuk ke dalam gedung terminal, saya menghubungi Shaik, dan dia menunggu kami di lantai atas di depan sebuah minimarket. Kami naik eskalator, dan menemui Shaik yang terlihat tergesa, sehingga kami hanya berkenalan singkat untuk kemudian meminta untuk mengikutinya ke Terminal Feri Sultan Abdul Halim yang terhubung dengan terminal bis. Dia bilang agak terburu-buru karena kami harus mengejar jadwal keberangkatan kapal feri; apalagi di waktu rush hour pulang kerja. Setelah membeli tiket, Shaik melepas kami di pintu masuk area keberangkatan, dia tidak ikut karena masih menunggu istrinya, dan melanjutkan tongkat estafet dengan memberi kontak rekannya, Mont, yang sudah menunggu di Terminal Feri Raja Tun Uda di George Town. Dengan gerak cepat kami langsung bergerak masuk hingga sempat dibentak seorang pegawai berketurunan India untuk jangan membuka pintu sebelum ada instruksi, walau tak lama kemudian dia membukakannya. Kami langsung lari ngebut untuk naik kapal bersama beberapa penumpang lain, dan begitu kami masuk, pintu rampa dinaikkan, dan kapal berlayar menembus hari yang mulai gelap. Pantas saja Shaik tergesa karena nyaris kami ketinggalan kapal, dan harus menunggu jadwal penyeberangan selanjutnya. Sementara langit terlihat begitu tidak bersahabat, awan sepertinya akan menurunkan hujan lebat.
Kapal feri berlayar stabil dalam kecepatan menengah di atas Selat Penang yang sepertinya sedang sedikit bergelombang. Kapal merapat di pelabuhan terminal feri, dan akhirnya kami menapakkan kaki di George Town. Berlima kami keluar dari pelabuhan, menuju tepi jalan besar tempat Mont menunggu. Dia menyambut dan kami berkenalan singkat, dan bilang akan membawa ke Ruas Store terlebih dahulu agar kami bisa meletakkan barang. Pilihannya, bisa jalan kaki, atau naik mobil sewa daring. Kalau bisa jalan kaki, kenapa tidak. Tapi begitu kami baru beberapa langkah di pedestrian, hujan turun dengan deras. Akhirnya opsi berubah, dan memesan mobil. Sambil menunggu, saya memperhatikan sekitar yang bangunannya sebagian besar sepertinya masih dari era kolonial Inggris. Mont bilang dia memesan dua mobil karena di Malaysia ada batasan jumlah penumpang dan barang, dan kami pun mengetahui itu. Dan, benar saja sewaktu mobil pertama sampai pengemudinya yang berketurunan Tionghoa langsung bilang hanya bisa tiga orang dan barang tidak boleh ditaruh di atas jok mobil. Saya, Ken, dan Mär naik di mobil itu, sementara Dewi dan Måm bersama Mont menyusul di mobil kedua yang tak lama datang.
Kami turun di Jalan Pintal Tali di pinggir deretan rumah toko, hujan masih turun sehingga harus bergegas mengambil barang dan menepi untuk berteduh di pedestrian pertokoan. Mobil yang ditumpangi Mont dan yang lain kemudian datang, dan dia membawa kami naik ke ruangan atas Ruas Store. Ruangnya terletak di lantai dua, bersama dengan sebuah studio lukis, dan studio musik. Kami hanya menaruh barang saja di situ karena Mont mengajak untuk langsung pergi mencari makan. Ide yang tepat, dan kami langsung diajak ke rumah makan nasi dalcha. Berjalan kaki, lokasinya tidak begitu jauh dari Ruas Store. Saya bertanya kepada Mont, mengapa tadi Ruas Store sepi dan kedai kopinya tutup, karena niatnya saya tadi langsung mau beli kopi. Dia bilang kedai kopi dan record store memang tidak buka di hari Senin, dan menjelaskan jadwal buka dari Ruas Store memang agak santaI.
Mont malam itu mengajak kami ke Nasi Dalcha Kassim Mustafa yang berlokasi di pinggir Jalan Chulia. Tanpa basa-basi lagi kami langsung memesan, dan menunjuk lauk ini dan itu. Memang lapar kadang membuat gelap mata. Mont menjelaskan nasi dalcha dan nasi kandar hanya berbeda tipis dengan nasi kandar, dan sepertinya malam itu pun lidah saya tak terlalu mengindahkan itu karena nasi ayam kuah kari yang dimakan malam itu enak sekali, dan pastinya kuah karinya disetel banjir. Setelah selesai menyantap nasi dalcha yang lezat dan mengenyangkan, kami bergerak untuk kembali ke Ruas Store. Keluar dari rumah makan saya memperhatikan lingkungan rumah makan itu yang sepertinya dekat area Little India dengan adanya kuil dan juga mesjid di dekat situ. Chulia sendiri adalah istilah untuk orang India Muslim. Kehidupan multiras, multietnis, dan multikultural ini yang menjadi salah satu daya tarik wisata dari George Town. Suasana dan hal yang sama juga dirasakan ketika Critical Issues menyambangi ke Melaka pada tur sebelumnya.
Hujan yang tadinya turun rintik-rintik sudah berhenti ketika kami berjalan kembali ke Ruas Store. Bangunan di kiri dan kanan jalan ramai dengan hiruk pikuk yang menghidupkan deretan bar dan kedai kopi di jalan besar, kios pedagang makanan Tionghoa di lorong jalan, ekonomi pariwisata berputar di George Town malam itu. Tapi Pulau Penang bukan hanya punya itu karena setahu saya di sini juga adalah sentra produksi produk berteknologi tinggi di Malaysia, dan salah satunya adalah microchip. Jalan pulang memang kerap terasa lebih cepat, sesampainya kami kembali ke Ruas Store, Mont memberikan kami kunci akses untuk membuka pintu depan, dan kunci ruang lantai dua, dan pamit untuk pulang. Kami berterima kasih, dan langsung naik untuk membongkar barang, beres-beres dan bersih-bersih.
Tak lama di ruang atas Ruas Store, saya turun ke depan lagi karena saya lihat di deretan seberang ada kedai kopi tiam, belum minum kopi dari tadi dan mesti ngopi ini. Disitu saya memesan kopi o panas, dan tertarik dengan satu menu yaitu Pav Bhaji. Setelah pesanan tiba ternyata adalah menu khas India, roti bun yang dipanggang mentega disajikan dengan cocolan kari sayuran kental, dan acar. Kaget juga saya karena porsinya besar, dan tadi barusan makan. Tapi tak apa memang saya bilang ke yang lain mau sejenak me time dan minum kopi, dan ini sepertinya memang perlu waktu yang agak lama untuk menghabiskan roti dengan santai. Ken, Måm, Mär, juga keluar bersama Dewi untuk mencari beberapa barang di minimarket di jalan besar.
Saya yang kaget kenapa kopi tiam ada menu India diberikan penjelasan oleh pegawainya konsep kedai itu memang melebur kebiasaan sarapan dari tiga bangsa yaitu Melayu, Chinese, dan India, dan itu tercermin dari menunya, dari kopi o, nasi lemak sampai pav bhaji yang malam itu saya pesan. Menarik juga idenya pikir saya, kopi tiam yang ternyata juga baru mulai beroperasi di Jalan Pintal Tali itu. Saya masih nongkrong di situ ketika yang lain kembali dari minimarket, saya minta kunci dan bilang akan menyusul naik. Masih cukup ternyata lambung saya menerima muatan tambahan, atau mungkin malah ini makan malam karena nasi dalcha itu sebenarnya adalah makan siang yang terlewat. Entahlah, yang penting ternyata menu yang saya pesan tadi tidak terlalu mahal.
Malam itu tidak ada kegiatan lain kecuali istirahat, dan kami duduk-duduk di area tengah sambil merokok dan berbincang soal perjalanan tadi. Saya dan Ken sudah tidak membeli rokok sejak dari Kuantan, dan memilih membeli tembakau yang lebih awet dari rokok bungkusan, dan oleh karena itu maka menjadi lebih ekonomis. Apalagi harus niat kalau mau merokok sebab harus dilinting terlebih dahulu, tangan harus rajin kalau merokoknya klepas klepus. Stok sudah mulai menipis, dan nanti mungkin perlu mencari minimarket yang menjual tembakau.
Ruang kami menginap berada di bagian depan tepat bagian yang menghadap pinggir jalan, saya pikir ketika sudah menggelar matras untuk tidur akan tenang nyenyak sampai pagi. Oh, ternyata tidak, sebab bar di sebelah kalau malam berubah menjadi klab dengan musik house yang berdentum keras. Alamak! Bagusnya saya membawa penyumbat telinga, yang biasanya untuk menangkis suara dengkuran kali ini punya musuh yang lebih masif, dan lumayan efektif ternyata walau sayup masih terdengar. Berselimut dentuman musik elektronik, malam pertama di Penang diakhiri dengan tidur pulas setelah perjalanan darat dan laut singkat hari itu.
25 November 2025, hari kedua dari rencana lima hari empat malam di George Town, dan jadwal day-off pertama di ibu kota Penang itu. Dalam tur kali ini kami sengaja melebihkan waktu untuk pelesiran di beberapa jadwal dalam tur seperti sewaktu di Kuantan. Tujuannya agar tidak tegang terus, dan capek karena perjalanan, ditambah adaptasi yang harus dilakukan di tiap destinasi. Mengendorkan sedikit jadwal perjalanan agar tidak hanya menyinggahi, tapi kami juga kami sempat melihat kota yang didatangi. Mungkin hanya dengan tur bersama band kami bisa datang, dan tidak tahu apakah akan ada kesempatan lain untuk bisa datang lagi. Jadi kalau istilah orang Medan, raun raun lah sedikit.
Hari itu dimulai pagi dengan sarapan bersama di kedai kopi yang saya datangi semalam, niatnya itu setelahnya kami akan jalan- jalan sambil menemani Dewi mencari rumah makan nasi hainan. Sarapan pagi itu adalah kopi, roti bakar srikaya, dan telur setengah matang, menu sarapan khas kopi tiam. Saya sempat mengirim teks kepada Mont untuk rekomendasi aktivitas atau kuliner, dia memberikan beberapa referensi, dan maaf kalau tidak ada yang menemani kami dalam hari-hari di George Town.Tapi kami merasa malah bagus juga seperti itu, karena kami jadi malah ada waktu untuk mengembalikan interaksi aktif antar sesama rombongan tur, quality time. Sewaktu sarapan saya juga membahas soal cuaca Penang yang kerap tiba-tiba hujan, dan juga informasi soal negara bagian Kelantan serta Thailand Selatan yang mengalami bencana banjir. Siklon Tropis Senyar sepertinya mulai menimbulkan efek berupa fenomena cuaca yang ekstrim. Dari yang portal berita juga saya membaca beberapa provinsi di Sumatera juga diguyur curah hujan yang tinggi. Obrolan itu juga sempat membuat kami berpikir untuk membeli payung untuk selama di Penang daripada malah jadi malas jalan-jalan karena hujan, sebab langit pun terlihat mendung hari itu.
Usai sarapan, walau langit mendung kami tidak mengurungkan niat untuk jalan-jalan sembari mencari kedai laksa yang direkomendasikan oleh Mont. George Town bisa dijelajahi dengan berjalan kaki, dan itu pula yang kami lakukan untuk menuju Penang Road Famous Laksa yang berlokasi di Lebuh Keng Kwee. Berpandukan GPS, kami berjalan melewati deretan bangunan lama, dan Dewi sempat mengajak kami masuk ke sebuah thrift store bernama Fujiyama untuk melihat-lihat. Kami pun masuk dengan mode Rojali atau Rombongan Jarang Beli, dan Rohali alias Rombongan Hanya Lihat-lihat. Saya berhenti cukup lama di bagian jaket militer yang harganya cukup membuat mengelus dada, karena jaket M65 produksi tahun 1970-an yang saya pakai saja adalah pemberian dari bapak saya. Setelah puas cuci mata kami keluar, dan melanjutkan perjalanan.
Hujan gerimis mulai turun sehingga kami mempercepat langkah, bagusnya bentuk bangunan di sana di desain dengan lorong pejalan kaki sehingga bisa menghindari tetesan air hujan. Setelah melewati pasar kami tiba di Penang Road Famous Laksa yang berada di sebuah jalan kecil yang sudah cukup ramai dengan pengunjung. Kami harus antri dan menunggu untuk mendapatkan meja untuk lima orang. Saya memesan Asam Laksa karena penasaran dengan makanan khas Penang itu. Disajikan dengan mie tebal dari tepung beras, rasanya sangat meriah dengan kuah asam kental. Kuahnya itu dibuat dari asam jawa, terasi, ikan, dan rempah yang menciptakan sensasi rasa asam yang juga gurih dan menyegarkan, comfort food. Selain itu rekan yang lain juga ada yang memesan kwetiau karena sepertinya Asam Laksa tidak cocok di lidah sehingga saya yang menghabiskan asam laksa yang sudah dipesan sebelumnya.
Selesai makan, gerimis mereda, dan karena cuaca agak kurang asik dibawa jalan-jalan kami memutuskan untuk kembali ke Ruas Store. Kami sengaja memilih jalur yang berbeda agar paling tidak masih bisa melihat lingkungan yang berbeda dalam perjalanan pulang. Sesampainya di Ruas Store kami bersantai, dan menunggu kedai kopinya buka sehabis maghrib untuk nongkrong dan ngopi. Dari informasi yang diberitahu Mont, hari Selasa sampai Jumat Ruas Store buka dari jam tujuh malam sampai jam sebelas, dan hari Sabtu dan Minggu di akhir pekan baru buka lebih cepat dari jam tiga sore. Mär agak ada masalah alergi kulit, dan keluar sejenak mencari apotek untuk membeli obat. Saya menyempatkan untuk power nap sejenak, dan bangun menjelang maghrib untuk mandi begitu juga rekan-rekan lain. Jam tujuh malam kami turun ke bawah, dan sudah ada Mont bersama rekannya Tati di Ruas Store. Saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi pun memesan kopi, kemudian mengobrol dengan Mont dan Tati. Selain itu, saya, Dewi dan Måm juga menghabiskan waktu membolak balik piringan hitam, CD, dan kaset yang ada di depan area barista. Måm memilih dan membeli beberapa kaset, sementara saya menandai beberapa kaset untuk dipikirkan akan saya beli atau tidak. Selain record store ternyata ada skateshop juga di Ruas Store, sungguh membuat saya terkagum-kagum dengan tempat itu serta Komal dan kawan- kawan yang menjalankannya. Mont cerita Ruas Store harus membayar izin keramaian untuk music venue yang cukup mahal karena berada di tengah kawasan George Town.
Di tengah sesi nongkrong dan obrolan yang seru, saya merasa lapar dan mengajak yang lain untuk mencari makan, Ken dan Mär menyambut ajakan saya kecuali Måm dan Dewi yang belum lapar. Bingung mau makan apa, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk kembali ke Nasi Dalcha Kassim Mustafa karena sudah tahu rasanya dan pasti kenyang. Pegawai restorannya seperti mengenali kami yang malam sebelumnya juga makan di situ, dan melayani kami dengan ramah. Setelah makan kami kembali ke Ruas Store, dan lanjut nongkrong di kedai kopi hingga tutup sekitar jam sebelas malam. Naik ke ruang atas tempat kami menginap, dan malam itu band yang menyewa ruang untuk studio musik tengah latihan. Saya sempat mau tidur lebih cepat malam itu karena cuaca sejuk yang mendukung, tapi karena suara musik yang merambat dari studio ke ruangan kami sepertinya tidak memungkinkan untuk tidur. Band itu baru selesai latihan hampir tengah malam, dan kebisingan berlanjut dengan volume keras musik elektronik dari bar di sebelah yang malam itu sepertinya juga diwarnai keributan kecil semacam percekcokan pengunjungnya di jalan di depan Ruas Store. Akhirnya saya rebahan sambil scrolling medsos di ponsel, sambil sesekali menimbrung rekan-rekan yang masih ruang tengah sambil merokok. Baru dini hari saya bisa tidur dengan memasang penyumbat telinga seperti malam sebelumnya, sementara rekan yang lain sepertinya begadang.
Rabu, 26 November 2026. Sewaktu bangun pagi menjelang siang hari itu saya cukup terhenyak karena ketika membuka media sosial di ponsel ramai dengan berita soal banjir besar yang menimpa beberapa daerah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Ketiga provinsi itu kami singgahi pada fase awal “Poison and Spell Tour 2025” sehingga ada dampak emosional yang mendalam ketika mengetahui bencana yang terjadi di sana. Saya menghubungi kawan-kawan di tiga region itu dan menanyakan kabar, mereka bilang banjir bandang yang terjadi sangat parah dan menimbulkan kerusakan yang masif. Mereka pun belum tahu pasti kondisi di daerah yang terdampak langsung karena adanya gangguan jaringan telekomunikasi dan listrik. Saya meminta mereka untuk berkabar, dan memberi tahu kalau ada yang kami bisa coba lakukan untuk membantu. Bahkan Dana yang sedang ke Medan dari Banda Aceh tidak bisa pulang karena jalur jalan yang terputus karena banjir, dan bersama itu barang yang kami tinggalkan di Banda Aceh pun belum bisa dikirim dan tertahan di sana untuk waktu yang belum bisa ditentukan.
Dengan pikiran soal banjir yang melanda Sumatera, kami bersiap untuk agenda hari itu yang niatnya adalah menemani Dewi berburu nasi ayam hainan. Rumah makan nai ayam hainan yang dekat dengan Ruas Store ternyata sudah tutup, dan kami akhirnya mencari ke lokasi yang lebih jauh. Saya tidak paham letaknya karena kami hanya mengikuti Dewi yang memandu dengan peta GPS. Sesampainya di titik lokasi ternyata kedainya pun sudah beres-beres untuk tutup karena semua menu sudah habis di jam makan siang itu, dan akhirnya kami mencari secara acak dan menemukan sebuah kedai nasi ayam hainan kecil yang masih buka.Dan karena sudah kepalang jalan jauh, kami memutuskan untuk makan disitu saja. Cukup enak walau tidak begitu spesial, lumayan lah untuk mengganjal perut, karena agenda jalan-jalan hari ini masih cukup panjang.
Tujuan selanjutnya hari itu adalah mendatangi Padang Kota Lama, lapangan terbuka di pinggir laut yang juga menjadi lokasi dari gedung Town Hall dan City Hall. Kami melewati daerah Pecinan dengan jalan-jalan kecil yang siang ramai dengan wisatawan. Ketika melewati Museum Kamera, Dewi kepingin masuk tapi ketika naik untuk masuk museum ternyata ada biaya masuk hingga kami pun mengurungkan niat untuk melihat-lihat dan kembali ke luar museum. Dalam perjalanan kami juga melewati Pinang Peranakan Mansion, dan Cheah Kongsi Temple. Mengikuti peta, kami berjalan hingga ke sampai ke ujung King Street, dan terlihat lah Padang Kota Lama. Lumayan juga ternyata jalan kaki ke sana, apalagi hari itu tumben cuaca sangat cerah dalam artian kami dibuat berkeringat. Menyisir pinggir lapangan terbuka kami melihat bangunan Town Hall dan City Hall warisan era kolonial. Dan, kalau dari ceritanya di Padang Kota Lama ini adalah titik pendaratan dari Kapten Francis Light pada tahun 1786. Dia mengambil alih Pulau Pinang menjadi koloni Inggris dan mendirikan George Town. Kisah klasik kolonialisme. Di pinggir pantai juga ada tugu peringatan perang Inggris, dan kami kemudian duduk-duduk bersantai menikmati semilir angin laut di siang yang cerah itu.
Setelah puas, kami bergerak dari Padang Kota Lama karena Dewi hendak ke bank untuk mengambil uang di ATM. Memeriksa lokasinya di peta, kantor bank yang dituju berada di Lebuh Union. Melewati kantor-kantor perusahaan dan jasa keuangan, sepertinya daerah yang kami tuju adalah distrik bisnis di George Town. Saya sendiri belum hendak mengambil uang kas band yang akan ditukarkan menjadi Bath untuk di Thailand, dan memutuskan besok saja sekalian memeriksa terminal bis di sebuah pusat perbelanjaan sebagai opsi transportasi untuk bandara. Seberesnya Dewi mengambil uang, kami pun lanjut untuk jalan pulang ke Ruas Store. Dan kembali kami mencari jalur yang tidak biasa agar bisa sekalian jalan-jalan cuci mata dengan melewati kawasan Little India.
Dewi, Ken, Måm, dan Mär sempat singgah ke minimarket untuk membeli rokok dan minuman sebelum kami sampai di Ruas Store. Melelahkan juga ternyata perjalanan wisata kota kami hari itu hingga sesampainya di ruang atas Ruas Store, saya menyempatkan untuk meluruskan badan sejenak. Masih ada waktu sebelum bersiap untuk gig yang akan berlangsung malamnya. Kami semua baru bersiap-siap untuk turun ke bawah sehabis maghrib karena hari itu Ruas Store juga mulai buka jam tujuh malam. Sebelum kami turun ke bawah, Mont datang dan bilang kami sudah bisa soundcheck. Kami turun satu level di area tangga masuk, tempat pintu akses venue, dan itu pertama kali kami melihat tempat itu. Venue musik yang mantap, panggung yang tak begitu besar dalam ruangan yang mungkin berkapasitas 300 orang kalau penuh, lengkap dengan PA, backline dan sistem tata cahaya yang sangat layak.
Beres soundcheck kami kembali ruang atas untuk menyiapkan barang lapakan, sementar selanjutnya rekan-rekan dari Gejala yang datang jauh dari Ipoh, dan juga The 3 Stoogrind yang akan melakukan soundcheck. Ketika kami turun, Komal baru saja datang dan itu adalah pertama kali kami bertemu dengan dia sejak menginjakkan kaki di George Town. Dia minta maaf baru sempat datang karena sebenarnya dia tinggal di daratan Seberang Parai, dan harus menyeberang untuk ke George Town. Kami pun memahami, dan kami sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan dia malam itu.
Lapak merchandise yang kami bawa disiapkan di meja area luar Ruas Store, venue-nya sendiri bisa diakses dari tangga dalam Ruas Store, tapi untuk gig goers masuk dari tangga di pintu samping yang biasa kami lewati untuk ke tempat menginap di ruangan atas. Tadinya kami pikir karena hari Rabu tak ramai yang akan datang, tapi malah sebaliknya banyak juga yang hadir malam itu termasuk para personil band yang juga akan main malam itu. Komal bilang lumayan untuk gig di hari kerja. Stok kaos tour yang kami bawa sudah tidak terlalu banyak dan hanya menyisakan yang berukuran besar, dan begitu pula stok kaset serta CD pun mulai menipis.
Dengan jam delapan kewat tiga puluh menit yang tertera dalam flyer, Komal mengatakan acara akan dimulai agak santai malam itu. Sembari nongkrong di meja lapak, kami juga mengobrol dengan teman-teman yang datang ke Ruas Store malam itu. Yang berbeda dengan di Kuala Lumpur, kawan-kawan di Penang berbicara dengan dialek tersendiri, dan begitu pun ketika kami sedang di Kuantan. Dewi dan Mär juga sempat ke minimarket untuk membeli beberapa kaleng bir untuk menemani nongkrong malam itu, sementara saya seperti biasa memesan kopi di kedai kopi Ruas Store yang long black-nya lumayan enak.
Saya tidak memperhatikan waktu tapi mungkin sudah lewat jam sembilan malam atau mungkin hampir jam sepuluh baru music venue mengeluarkan bunyi distorsi gitar dari amplifier. Gig goers pun mulai naik ke atas setelah sebelumnya mengantri di tangga untuk membeli tiket.
Band pertama yang bermain malam itu adalah The 3 Stoogrind, band grindcore komedi dari Penang. Malam itu mereka berkostum rompi seperti pekerja konstruksi, mengingatkan saya pada Terapi Urine. Mereka memainkan set yang tight dengan celetukan lucu di antara tiap lagu dalam repertoarnya malam itu. Setelah mereka turun panggung, crowd yang datang keluar dari venue, dan memberi waktu untuk band berikutnya bersiap-siap yaitu Gejala. Kuartet yang berasal dari Ipoh itu menyertakan pemain terompet dalam line-up personilnya, dan itu sesuai dengan musiknya yang memainkan ska punk. Sudah jarang juga saya melihat band ska punk, sehingga saya penasaran dengan penampilan mereka. Musiknya enerjetik dan mengingatkan saya pada band asal Inggris, Citizen Fish. Vokalisnya juga sangat komunikatif dengan bahasa Melayu yang kental dengan dialek Perak.
Dalam rundown malam itu, selanjutnya adalah G.A.M. Berarti ada dua band dari negara bagian Perak yang main malam itu, Gejala dari Ipoh dan G.A.M dari Taiping. Dari yang saya kulik sebelumnya, G.A.M. baru melepas demo mereka pada awal tahun 2025. Penampilan mereka malam itu agresif dan cukup nyentrik. Bermain dengan slebor tapi ganas, G.A.M. membakar crowd di moshpit malam itu. Penampilan yang memukau dari band yang namanya adalah akronim dari Gods Are Malevolent. Komal bilang ke saya Ruas Records akan merilis kaset kuartet asal Taiping itu.
Setelah gempuran agresi, malam itu sedikit diredam oleh penampil selanjutnya yaitu Deklarasi, grup lokal dari George Town. Berformat duo, Deklarasi digawangi oleh pasangan suami istri, Apit dan Ayu, dan mereka memainkan musik electronik yang semacam mengingatkan saya pada Prospexx dari Singapura. Dan bukan membawa nuansa pesta, duo itu membawakan musik yang liriknya sarat dengan muatan sosial politik. Deklarasi are family matters, karena selain personilnya yang suami istri, malam itu anak perempuan mereka pun ikut berkolaborasi menyumbangkan suaranya dalam penampilan malam itu di Ruas.
Pendinginan selesai, tempo kembali bersiap dinaikkan oleh Sasau! yang juga adalah roster dari Ruas Records. Mereka bermain tanpa ampun menghamburkan formula hardcore punk yang ganas bukan kepalang. Apalagi vokalisnya yang tampil brutal dan agresif, dan saya sempat salah sangka walau badannya gempal tapi dia sangat lincah. Mereka bermain tight dan sepertinya juga crowd favorite malam itu. Sempat ada keributan kecil ketika Sasau! main tapi sepertinya karena salah paham dan diselesaikan dengan baik-baik. Dari melihat penampilan mereka malam itu, seusai mereka main aya langsung menanyakan kaset mereka kepada Komal.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam dua belas lewat tiga puluh menit ketika tiba giliran Critical Issues main di penghujung acara malam itu. Dan kami senang sekali karena teman- teman yang datang masih tetap bertahan. Setelah preparasi singkat, tanpa basa-basi kami langsung gas pol tanpa rem, dan direspon dengan agresi maksimum di moshpit. Interaksi timbal balik dari kawan-kawan malam itu memberikan energi lebih walau kami bermain di tengah malam, dan mungkin jadwal main termalam dari semua gig dalam tur kali ini. Sebelum turun ke bawah, seusai set kami menyempatkan untuk mengajak kawan-kawan yang masih di atas untuk berfoto bersama.
Ketika turun ke bawah untuk nongkrong ternyata Ruas Store ternyata sudah tutup, dan Komal juga mengajak kami untuk mencari makan. Untuk sesi makan malam sehabis acara kami ditemani oleh Komal, Mont, dan Tati serta para personil G.A.M. Berjalan kaki dari Ruas Store, kami semua pergi ke kedai pinggir jalan yang menjual mie instan dan teh halia. Teh halia adalah minuman teh dibuat dengan campuran jahe dan susu, hangat dan tepat untuk malam di George Town. Sambil makan dan minum, kami mengobrol di kedai itu. Komal bilang dia akan berangkat besok ke Bangkok dalam rangka untuk ikut maraton di sana bersama teman-teman yang biasa nongkrong di Ruas Store, dan juga kebetulan ada konser Marduk dan Cryptopsy juga di sana yang ingin ditontonnya, itu lah makanya dengan terpaksa dia harus merubah jadwal yang sebelumnya sempat disepakati. Kami memahaminya, dan yang pasti sudah bisa dibantu dibuatkan gig di Penang saja kami sudah senang.
Malam semakin larut dan kami kembali ke Ruas Store, lanjut sesi menghela asap dengan geng G.A.M, dan setelahnya baru bubar bersama Komal. Komal mengatakan santai saja di Ruas walau nanti tak ada orang yang standby di sana. Kami berterima kasih atas semua bantuan dia dan kawan-kawan di Ruas Store. Hari yang panjang, dan malam itu kami kembali istirahat dalam gempuran musik house dari bar tetangga.
Kamis, 27 November 2025, setelah gig yang seru semalam, hari ini kembali adalah jadwal day-off di George Town. Pagi itu, Saya, Ken, Måm, dan Mär sempat kembali mengobrol soal situasi bencana banjir di Sumatera, dan membahas sepertinya harus mengambil inisiatif untuk mengalokasikan dana kas band untuk dana solidaritas korban banjir sekembalinya kami ke Indonesia. Dari berita yang kami terima keadaan di daerah terdampak ternyata memang sangat parah, dan itu sangat mengusik pikiran kami untuk berbuat sesuatu yang kami mampu untuk bantu.
Agenda hari itu tidak banyak, misi utamanya adalah datang lebih cepat ke restoran nasi ayam hainan. Kami keluar lebih cepat siang itu, dan menuju rumah makan yang tak jauh dari Ruas Store yang kali ini masih buka. Ada stiker Michelin Star di depan rumah makan bernama Goh Thew Chik Hainan Chicken Rice itu, semacam penanda jaminan rasa. Kami masuk dan memesan lima porsi nasi ayam hainan, Dewi yang penggemar berat nasi ayam hainan terlihat bahagia sekali siang itu. Kami makan dengan lahap, dan memang enak sekali, dan pastinya sumber energi yang memuaskan untuk beraktivitas hari itu.
Selesai makan, kami melanjutkan rencana hari itu yaitu mengunjungi Plaza MWE untuk mengambil uang di ATM dan juga menengok terminal bis Komtar yang juga bertempat di dekat situ. Misi ke teminal bis adalah untuk mengulik opsi pilihan transportasi yang akan kami gunakan untuk ke bandara dari George Town. Kami berjalan kaki ke sana, lumayan untuk kardio hari itu karena jaraknya lumayan juga ternyata. Di Plaza MWE, saya langsung menuju ATM untuk menarik mata uang Ringgit yang nantinya akan kami tukarkan menjadi mata uang Bath sebagai pegangan ketika tiba di Bangkok.
Setelahnya kami kembali ke Ruas Store dengan memilih jalur yang berbeda seperti biasa sekalian jalan-jalan agar dapat pemandangan yang berbeda. Tidak ada banyak hal yang dikerjakan sore itu di Ruas Store, kami hanya bersantai sambil sesekali ke luar untuk jajan ke minimarket. Malamnya kami juga mencari makan di tempat yang berbeda, Måm, Mär, dan Dewi ke Chinatown sementara saya dan Ken kembali ke Nasi Dalcha Kassim Mustafa. Tapi ada yang menarik malam itu karena tiba-tiba kami mendengar bunyi letupan kembang api yang bersahutan, bingung ada apa akhirnya saya keluar. Di jalan besar saya melihat ternyata ada semacam pawai dari kelompok masyarakat Tionghoa, saya tidak tahu ada perayaan apa tapi jalan dipenuhi orang dan kendaraan hias yang berbaris panjang mengular. Ken juga turun untuk melihat keramaian yang sangat semarak malam itu.
Sesudah puas melihat pawai, saya kembali ke ruang atas Ruas Store, dan mengobrol rencana besok untuk ke bandara. Setelah dipertimbangkan akhirnya kami memutuskan untuk naik mobil sewa daring saja, sebabnya adalah daripada repot untuk jalan kaki dan membawa barang ke terminal bis dan mesti menunngu bis lagi, dan lebih baik sekalian saja langsung ke bandara dari Ruas Store. Pertimbangan lain adalah ramalan cuaca yang memperkirakan hujan akan mengguyur Penang esok pagi. Bahkan malam itu pun hujan, dan kami mengobrol tidak sampai larut malam karena harus bangun lebih pagi.
Jumat, 28 November 2025. Kami bangun dan bersiap dari jam enam pagi, mengemasi barang dan membawanya turun ke teras Ruas Store yang pagi itu masih tutup, dan memesan mobil sewa daring. Sengaja kami berangkat lebih pagi agar sempat sarapan terlebih dahulu di bandara. Mobil yang dipesan datang, dan karena rombongan lima orang dengan barang kami menyesuaikan dengan memesan mobil SUV. Mengingat aplikasi ramalan cuaca, betul sekali, pagi itu hujan turun cukup deras.
Penang International Airport berlokasi sekitar enam belas kilometer dari George Town, dan berdekatan dengan kawasan industri Bayan Lepas. Dari estimasi yang kami lihat di peta, perjalanan ke bandara sekitar satu jam. Dalam perjalanan ke bandara yang melewati jalan tol, kami keluar dari kawasan George Town dan melihat sisi lain dari Pulau Pinang. Meninggalkan kawasan kultural, dan masuk ke kawasan yang lebih modern dengan gedung bertingkat, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sentra industri teknologi tinggi dengan pabrik yang berjejer di kiri kanan jalan tol. Lalu lintas pagi itu juga ternyata cukup padat, rush hour orang yang berangkat bekerja. Wajar saja peta memberikan perkiraan satu jam untuk tiba di bandara, tapi kami juga tidak diburu waktu karena berangkat cepat.
Sesampainya di bandara, agar tidak kalang kabut saya masuk duluan memeriksa tempat kios pembungkusan bagasi, lokasi konter check-in, dan juga check spot tempat makan untuk sarapan pagi itu. Konter check-in untuk jadwal penerbangan ke Bangkok belum dibuka, sehingga kami membungkus bagasi saja dahulu dan setelahnya memutuskan untuk makan di sebuah gerai di pelataran depan bandara. Memilih menu termurah yaitu nasi goreng, dan saya pastinya memesan kopi hitam yang pagi itu juga datang dengan gelas ukuran besar, dosis kafein yang masif untuk memulai hari. Memang datang lebih awal ke bandara adalah hal yang penting selain tidak tergesa juga meminimalisir kemungkinan ketinggalan pesawat di negara orang, hal yang tidak diinginkan apalagi untuk band D.I.Y dengan budget yang ketat.
Waktu hampir jam sembilan ketika kami masuk dan mulai mengantri di konter check-in. Saya cukup cemas karena memikirkan kemungkinan bagasi yang kelebihan bobot seperti yang terjadi sewaktu penerbangan dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur. Satu demi satu barang dinaikkan dan disusun di timbangan, dan angka menunjukkan tepat delapan puluh kilogram, bobot maksimal sesuai dengan kuota bagasi tiket penerbangan yang dipesan. Saya melompat karena senang sehingga pegawai yang melayani kami pagi itu tersenyum simpul, rekan- rekan yang lain pun lega karena berarti kami tidak ada pengeluaran ekstra. Hal penting sebab akibat overweight bagasi di Aceh, kami harus melakukan efisiensi keuangan selama di semenanjung Malaysia.
Setelah semua urusan bagasi dan tiket selesai kami lanjut ke konter pemeriksaan imigrasi dan masuk ruang tunggu. Dan seperti penerbangan lainnya, saya harus membuka sepatu lars steel toe yang saya pakai yang mengundang tawa dari Dewi karena saya menenteng sepatu dan hanya berkaos kaki ketika melewati alat pemindai metal. Kami masuk ruang tunggu tanpa masalah, dan menunggu jadwal penerbangan yang direncanakan berangkat pada jam sepuluh lewat tiga puluh pagi. Dalam ruang tunggu keberangkatan, pengeras suara mengumumkan bahwa penerbangan ke Bangkok dipindah ke gerbang di ruang tunggu lain. Kami pun mengikuti instruksi untuk pindah gate, dan sempat bertemu dengan Dina dan rekannya, teman dari geng Ruas Store yang hari itu terbang ke Bangkok untuk menyusul Komal dan kawan- kawan. Dia naik pesawat yang sama dengan rombongan Critical Issues.
Menunggu keberangkatan, saya dan rekan-rekan Critical Issues sempat mondar-mandir mencari ruangan untuk merokok. Setelah usaha pencarian yang tidak membuahkan hasil akhirnya kami kembali ke bangku dengan mulut yang masam. Di layar pengumuman jadwal penerbangan, pesawat yang akan kami tumpangi masih on-schedule. Ketika panggilan penerbangan diumumkan kami pun bergegas mengantri untuk memasuki pesawat. Suasana mulai berubah dimulai dengan pramugari yang menyambut kami dengan ucapan “Sawasdee kha” sebuah ucapan salam dalam tradisi Thailand. Kami menduduki bangku sesuai nomer yang tertera di tiket, dan menunggu semua penumpang masuk. Bahasa yang digunakan di dalam kabin tidak lagi didominasi bahasa Melayu yang masih kami pahami, tapi bahasa Thailand yang sangat asing buat saya dan kawan-kawan. Pintu pesawat ditutup, kru kabin memberikan petunjuk keselamatan, sabuk pengaman dipasang, dan pilot memberikan instruksi pada kru kabin untuk mengambil tempat mereka. Mesin meraung menuju landasan pacu, dan pesawat lepas landas. Bersama pemandangan Pulau Pinang di balik jendela pesawat, kami memulai perjalanan untuk petualangan Critical Issues selanjutnya di Bangkok.
To be continued..

































