BAGIAN 3: Melintas Sumatera Menyebrang Malaya hingga Siam, Sebuah Catatan soal “Poison And Spell Tour 2025” dari Critical Issues

Catatan Poison And Spell Tour 2025 berlanjut dan saatnya mereka bertandang ke Kuala Lumpur dan Kuantan, menggiring pembaca untuk merasakan pengalaman yang sama.
BAGIAN 3: MENYEBERANG KE MALAYA
Misi melintas Sumatera dalam jadwal “Poison and Spell Tour 2025” yang diakhiri di Banda Aceh membuka fase lanjutan dari tur Critical Issues di akhir tahun 2025 yaitu perjalanan mancanegara ke semenanjung Malaysia. Setelah dalam tur sebelumnya Critical Issues sempat menyinggahi Malaka dan Kuala Lumpur, pada kesempatan kali ini selain kembali menyambangi Kuala Lumpur juga bertandang ke Kuantan dan Penang.
Back to Kuala Lumpur
19 November 2025. Penerbangan dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur berdurasi satu jam tiga puluh menit. Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) hampir jam tiga sore waktu setempat, ada perbedaan satu jam antara waktu di Malaysia dengan Waktu Indonesia Barat. Kami turun dari pesawat menuju konter permeriksaan imigrasi dan lanjut untuk mengambil bagasi. Tak ada hambatan yang berarti kecuali untuk bagasi peralatan musik gitar dan bass yang harus diambil di fasilitas pengambilan khusus bagasi dengan bentuk besar. Setelah melewati pemeriksaan pabean bandara KLIA kami pun keluar ke area kedatangan, saya, Ken, Måm, dan Mär tidak langsung ke terminal bis karena menunggu rekan kami Dewi yang penerbangannya juga baru tiba di Kuala Lumpur.
Dewi adalah sahabat kami dari Bali, seorang fotografer yang sebelumnya juga sempat ikut tur bersama Critical Issues. Senang sekali karena dalam tur kali ini Dewi juga berkesempatan ikut serta dan menyusul kami berempat ke Kuala Lumpur dari Bali. Sementara menunggu Dewi keluar ke area kedatangan, saya mencari panel listrik untuk mengisi daya ponsel saya, dan karena saya lupa membawa travel universal adapter saya harus membeli di toserba di area kedatangan. Adapter diperlukan karena di Malaysia colokan listrik umumnya menggunakan kaki tiga berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan steker kaki dua. Saya mengisi daya ponsel di colokan dekat toilet umum. Ketika saya tengah di situ, ada kegaduhan yang diakibatkan oleh seorang warga Malaysia keturunan Tionghoa yang memasuki toilet perempuan dan berkelakuan sangat mengganggu. Saya pikir sepertinya orang itu ada gangguan jiwa karena seperti tak mengindahkan orang-orang. Sebelum saya sempat menyaksikan akhir dari insiden itu, Dewi sudah keluar ke area kedatangan.
Setelah menyambut Dewi, rombongan tur yang menjadi lima orang langsung menuju terminal bis KLIA. Untuk itu kami harus turun ke lantai bawah untuk kemudian pindah ke bagian gedung lain, dan cukup susah karena harus naik elevator dengan antrian yang cukup ramai sementara kami membawa trolley dengan banyak barang.
Saya selalu menganggap bahwa KLIA adalah bandara yang rumit, apalagi di tur sebelumnya pada tahun 2023, hampir ketinggalan pesawat ketika jadwal penerbangan dari Kuala Lumpur ke Pekanbaru. Sore itu walau sedikit ribet dan jalur yang rumit, sampai juga kami ke terminal bis dan membeli tiket untuk tujuan KL Sentral. Tak lama menunggu, speaker mengumumkan panggilan untuk naik bis yang akan kami tumpangi. Keluar dari area tunggu ke parkiran bis, kami naik setelah barang-barang dimasukkan dan disusun di bagasi. Dengan fitur perayauan internasional yang diaktivasi di telepon seluler, saya lalu menghubungi NoBeat kawan kami dari Gorgeous Eye yang mengorganisir gig untuk jadwal di Kuala Lumpur. Dia akan menunggu kami berlima di stasiun KL Sentral.
Setelah sebelumnya bertungkus lumus dengan jalur Sumatera, kami berlima senang sekali karena bisa tiba di Kuala Lumpur dengan selamat dan kembali melakukan tur di Malaysia. Yang utama adalah bisa keluar dari bandara tanpa ada masalah apapun dari pegawai imigrasi dan pabean setempat. Hal itu karena sempat diberitahu oleh beberapa kawan di Malaysia soal beberapa band dari Indonesia yang sempat bermasalah dengan pihak-pihak terkait ketika mendarat di Malaysia
Perjalanan dari KLIA ke stasiun KL Sentral sekitar satu jam lebih, dan walau bukan pengalaman pertama tapi tetap sepanjang perjalanan kami masih berdecak kagum dengan infrastruktur di Kuala Lumpur; bukan karena rumput tetangga selalu lebih hijau tapi karena memang seperti itu adanya. Saya tidak melihat jam ketika kami tiba di KL Sentral tapi langit masih cukup terang, dan NoBeat sudah di sana sewaktu kami turun dari bis. Melepas rindu karena NoBeat dan rekannya, Pdoih, Nana, dan Choi dari Gorgeous Eye juga lah yang membantu kami ketika tur Critical Issue ke Kuala Lumpur tahun 2024 lalu. Di situ NoBeat memberi pilihan mau pergi makan dulu atau langsung ke rumah kontrakan di Bangsar, kami memilih untuk ke rumah kontrakan dulu untuk meletakkan barang-barang yang kami bawa agar tak merepotkan. Untuk ke Bangsar kami harus naik LRT dari KL Sentral, dan dari situ menyambung jalan kaki ke rumah kontrakan.
Rumah kontrakan di Bangsar atau Bangsar Punk House yang menjadi tempat menginap adalah tempat yang cukup ikonik. Pada tahun 2013, saya sempat menginap di sana ketika tengah tur ke Kuala Lumpur bersama ((AUMAN)). Setelah meletakkan barang-barang di kontrakan yang berada di lantai satu, NoBeat mengajak kami makan di kedai nasi lemak pinggir jalan langganannya di dekat situ. Kami yang melewatkan makan siang pun makan dengan lahap walau harus bergegas karena hujan gerimis turun. Bergegas pula kami kembali ke rumah, tapi karena melipir ke warung serba ada membeli beberapa keperluan malah kami terjebak hujan yang turun dengan deras. Menunggu cukup lama kami akhirnya memutuskan untuk lari berhujan-hujanan ke kontrakan.
Di rumah karena basah kuyup maka saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi sekalian mandi dan bersih-bersih. Sesudahnya kami mengobrol dan mengejar cerita dengan NoBeat, dan dia bilang Pdoih akan datang malamnya ke rumah Bangsar, dan dia akan keluar juga untuk latihan bersama bandnya, Nista. Saya memperhatikan banyak yang berubah dari lingkungan sekitar rumah Bangsar dengan banyaknya gedung-gedung yang mengelilingi; saya berpikir lingkungannya dalam bahasa beratnya semakin tergentrifikasi. Seperti kebanyakan kota besar mungkin itu harga yang harus dibayar untuk modernisasi.
Kami masih menunggu Pdoih datang ketika NoBeat pamit untuk keluar pada jam sepuluh malam. Tak lama baru kemudian Pdoih datang dan tanpa basa-basi langsung mengajak kami nongkrong sekalian makan malam. Tempat yang kami datangi adalah pusat jajanan India muslim atau mamak dalam istilah di Malaysia. Kami memesan makanan dan minuman walau menu roti canai ternyata sudah habis malam itu. Obrolan dengan Pdoih pun mengalir sambil menikmati makanan yang kami pesan. Setelahn makan Pdoih dia mengajak kami untuk pindah ke kedai lain di persimpangan jalan dekat rumah Bangsar untuk nongkrong bersama Choi yang pulang kerja. NoBeat juga menyusul ke sana, begitu pula teman kami Mailen dari Tampui Records. Obrolan menyambung dan kami nongkrong di kedai itu hingga dini hari sebelum pulang ke rumah Bangsar untuk istirahat, dan berpisah dengan Pdoih dan Mailen untuk malam itu.
Choi dan NoBeat tinggal di rumah Bangsar bersama Chem dan Amir, mereka berempat berbagi sewa rumah. Karena tidak ada kamar kosong maka saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi kebagian tempat di ruang tamu. Untuk itu Choi menyiapkan seperangkat perlengkapan tidur berupa tilam dan selimut ekstra yang bahkan lebih dari cukup untuk kami berlima. Obrolan masih berlanjut sebentar sebelum akhirnya kami semua merebahkan diri dan istirahat. Cukup lelah juga hari itu dan esoknya juga akan banyak aktivitas yang akan dilakukan.
Kamis, 20 November 2025. Dengan iringan bunyi mobil yang melintas di flyover jalan besar, dan suara mesin berat dari proyek konstruksi di dekat rumah Bangsar, kami bangun menjelang siang. Sebelum keluar, sambil bergantian mandi, saya, Ken, Måm, dan Mär membongkar dan membereskan barang yang akan dibawa ke gig malam itu. Membongkar tas, memisahkan merchs sesuai ukurannya, menghitungnya kembali dan membuat catatan untuk memuatnya kembali tas terpisah yang akan dibawa ke venue nanti. Tapi sebelumnya, siang sampai sore kami akan jalan- jalan sejenak untuk mengisi waktu selagi di Kuala Lumpur. Setelah semua mandi dan segar, kami siap sedia untuk jalan-jalan bersama Choi dan NoBeat. Mereka berdua akan membawa saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi makan siang.
Saya masih belum tahu hendak dibawa kemana kami berlima oleh Choi dan NoBeat. Dari sejak keluar dari rumah, mereka berdua terus berdiskusi soal tempat yang asyik untuk makan siang, dan sepertinya Pdoih juga memberikan opsi lokasi makan siang lewat pesan teks. Saya pikir kami bebas dan akan ikut saja kemana Choi dan NoBeat akan membawa kami. Akhirnya, rombongan yang bertujuh itu berjalan kaki dari Bangsar ke ke stasiun KL Sentral. Dari KL Sentral kami semua naik kereta monorail dengan tujuan ke stasiun Chow Kit, tapi ternyata lokasi tempat makan masih jauh dari situ sehingga harus berjalan kaki lagi. Saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi tak masalah dengan itu malah seru karena bisa jalan-jalan dan melihat suasana di area perniagaan Chow Kit yang legendaris, dan kalau dari ceritanya banyak migran dari Indonesia yang berniaga di sana.
Sambil berjalan kaki, saya memperhatikan orang-orang yang hiruk pikuk dan barisan toko- toko lama yang sepertinya banyak juga yang sudah tidak aktif lagi, dan yang mengejutkan adalah ada rumah makan Minang, RM Sederhana di Chow Kit. Restorannya cukup besar dan posisinya cukup strategis di pinggir jalan besar. Hal yang membuat saya terpengarah seperti ketika melihat ternyata ada rumah makan Ayam Gepuk Pak Gembus sewaktu berjalan kaki di Bangsar. Choi dan NoBeat bilang akan mengajak kami ke kedai nasi kandar, dan Pdoih sudah menunggu di sana. Kedai yang dimaksud adalah Nasi Kandar Saddam yang berlokasi di jalan Tuanku Abdul Rahman. Sampai di sana, Pdoih bukan lagi sedang menunggu tapi sudah mulai menikmati nasi kandar yang dipesannya, dan kami yang baru datang pun langsung memesan makanan. Soal nasi kandar, makanan yang populer di Malaysia ini adalah nasi yang dibanjiri kuah kari dengan beragam lauk pauk pilihan yang aslinya adalah berasal dari Penang. Kami makan dengan tangan yang berlumur kuah kari, dan memang sedap juga Nasi Kandar Saddam. Dan disitu juga saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi mendapat pelajaran dari makanan yang dipesan karena sotong dan kari kambing harganya lebih mahal dari lauk lainnya. Dewi dan Ken memesan nasi kandar dengan kedua lauk itu sehingga jatah uang makan untuk sehari habis dalam sekali makan. Tapi tak apa yang penting perut terisi, dan dengan porsinya yang besar sepertinya kenyangnya juga lebih lama.
Selesai makan kami mengobrol sejenak dan membahas rencana selanjutnya yang niatnya adalah mengunjungi Tandang Store. Rombongan yang sebelumnya bertujuh pun bertambah satu orang dengan bergabungnya Pdoih. Dari kedai nasi kandar kami berjalan kaki ke stasiun Medan Tuanku untuk naik kereta monorail dengan tujuan stasiun Maharajalela. Turun di stasiun, rombongan jalan kaki ke Bangunan Zhongshan yang tak jauh dari stasiun. Bangunan Zhongshan yang berlokasi di Kampung Attap itu adalah suatu kompleks yang oleh pemerintah setempat dialih fungsikan untuk aktivitas seni dan industri kreatif. Kami menyinggahi Tandang Store yang berada di lantai dua Bangunan Zhongshan. Sayang sekali Wan Hazril pemilik dari record store itu tidak di sana sore itu, dan hanya ada Matnoor yang menjaga toko dan menemani kami di Tandang Store.
Cukup lama kami di sana, membolak-balik plat, memperhatikan kaset, dan CD yang tersusun di rak, dan saya mengobrol dengan Matnoor yang sebelumnya sempat ikut tur bersama Milisi Kecoa ke beberapa kota di Indonesia termasuk di Sumatera. Di situ juga NoBeat memberi tahu saya malam itu juga ada acara DJ di Bangunan Zhongshan yang bertajuk Spoiler Room, sebuah acara yang diorganisir scene musik elektronik untuk merespon event Boiler Room yang diadakan di Kuala Lumpur. Sebentuk usaha perlawanan terhadap Boiler Room yang dianggap terlibat dengan kejahatan di Palestina dengan masuknya investasi dari firma KKR yang punya kepentingan ekonomi di Israel dalam aktivitas bisnisnya. NoBeat juga menambahkan gig yang diorganisir oleh Gorgeous Eye di Moutou juga bagian dari usaha perlawanan untuk memberikan opsi acara musik di malam yang sama dengan acara Boiler Room.
Tak terasa hari semakin sore, dan NoBeat mengingatkan sepertinya sudah harus bersiap-siap untuk ke venue. Selain itu masih ada barang-barang yang harus diambil di rumah Bangsar. Untuk itu rombongan pun dipecah dua, saya, Ken, dan NoBeat ke rumah Bangsar dengan mobil yang dipesan daring, sementara yang lain langsung ke Moutou yang menjadi venue untuk gig malam itu.
Mobil yang ditumpangi oleh saya, Ken, dan NoBeat melalui lalu lintas rush hour Kuala Lumpur yang cukup lancar tanpa kemacetan di hari Kamis sore itu. Setibanya di rumah Bangsar, saya dan Ken hanya tinggal mengeluarkan barang yang di bawa karena sudah disiapkan semua sebelumnya. Untuk ke venue, kami menunggu Nana, istri Pdoih, yang sedang dalam perjalanan dari tempat kerjanya untuk menjemput saya, Ken, dan NoBeat di rumah Bangsar. Cukup lama juga kami bertiga menunggu Nana, mungkin karena rush hour. Setibanya Nana, semua barang dimuat di bagasi mobilnya, dan langsung bergerak ke Moutou yang berlokasi di area Chinatown di Petaling Street.
Tiba di lokasi, Nana memarkir mobilnya di area parkir, dan terlihat juga Måm, Mär, dan Dewi yang tengah berjalan dan sepertinya juga baru tiba. Saya memanggil, dan mereka menghampiri mobil untuk membawa barang yang saya dan Ken bawa dari rumah Bangsar. Moutou sendiri berada di lantai empat di sebuah ruko tua di Lorong Panggung. Sebuah ruang yang dikelola oleh seniman yang kerap digunakan untuk beragam aktivitas dari mulai pameran sampai pertunjukan musik yang bersemangat DIY (Do-It-Yourself). Saya, Ken, Måm, dan Mär membereskan merchandise di meja lapak, dan melakukan soundcheck sesudahnya. Masih ada waktu untuk bersantai, dan karena di area panggung dilarang merokok maka kami pun nongkrong di rooftop yang bisa melihat pemandangan kota dan kelap-kelip lampu dari gedung-gedung yang mengelilingi area Chinatown.
Setelahnya karena lapar, kami berniat jalan-jalan mencari makan. Kami berpencar, saya bersama Ken sementara Måm dan Mär bersama Dewi. Bingung mau makan apa, saya menemukan kedai yang menjual mie kari di sebuah lorong, dan memutuskan untuk makan di situ bersama Ken. Bukan pengalaman pertama, saya mencoba mie kari sewaktu Critical Issues tur ke Melaka pada tahun 2023. Semantara saya dan Ken makan di kedai mie kari, Måm, Mär, dan Dewi juga jalan- jalan mengitari Chinatown sambil Mär juga biasanya sekalian mencari toko miras.
Usai makan, saya dan Ken hendak kembali ke Moutou tapi berjumpa dengan personil Nista yang sedang ngobrol dan merokok di pinggir jalan, dan kami pun ikut nimbrung untuk bertegur sapa dan sebatang rokok. Karena mereka masih hendak mencari jajanan maka saya dan Ken naik duluan ke Moutou, dan tak lama Måm, Mär, dan Dewi pun menyusul. Acara baru akan dimulai jam sembilan malam, tapi beberapa gig goers sudah mulai berdatangan untuk membeli tiket. Acara yang diorganisir oleh Gorgeous Eye malam itu bertajuk Sonic Hangout Vol.16 dengan empat band dalam line-up termasuk Critical Issues.
Sambil menunggu, kami ngobrol dengan teman-teman yang datang dan ada juga teman dari Batam yang kebetulan sedang di Kuala Lumpur. Beberapa kawan-kawan yang sempat datang ke gig Critical Issues di Rumah Api pada tahun 2023 juga ada yang hadir, termasuk kawan-kawan dari band Rohgon yang juga main di gig Kuala Lumpur pada dua tahun lalu. Selain itu datang juga Talib Joe dari Hardcore Detonation Records yang menggelar lapak distronya di sebelah lapak Critical Issues.
Pdoih yang bertugas menjaga meja tiket bilang untuk acara di hari Kamis, gig malam itu cukup ramai. Mendekati jam sembilan, feedback mulai mengaung dari amplifier yang sedang dipersiapkan oleh band pertama malam itu yaitu False Flag. Malam dipecah oleh kuartet muda dari Kuala Lumpur itu dengan gempuran hard edge chain punk dan teriakan kasar yang tenggelam dalam gema reverb dan delay, luapan kemarahan yang intens.
Selanjutnya adalah Nista, band hardcore punk/powerviolence energetik dengan NoBeat sebagai frontman. Ini bukan kali pertama Critical Issues berbagi panggung dengan mereka karena Nista juga main satu gig di Melaka sewaktu tur pada tahun 2023. Tidak hanya itu, waktu itu NoBeat juga menemani Critical Issues dari Melaka sampai ke Kuala Lumpur. Untuk kesempatan kedua melihat NIsta, mereka tak mengecewakan dengan performa energetik yang maksimal membalut amarah yang membuncah, short, fast, and sharp. seru! Lumayan untuk band yang personilnya pemuda yang tak lagi muda.
Setelah Nista turun, panggung diambil alih oleh Shtypës. Ketika mereka bersiap-siap, saya memperhatikan pemain bassnya Danny yang juga adalah vokalis dari False Flag. Pemain drum Shtypës juga bermain di False Flag. Chik, vokalis Shtypës membuat saya terpikir wajah dan setelannya semacam perpaduan dari teman saya di Bandung, Ferry Fun, dan pemain drum dari The Hydrant. Dari set dimulai, Shtypës langsung memuntahkan agresi maksimum yang konfrontatif. Bagai zombie ganas, kuintet itu menggelontorkan hardcore punk stomping rage tanpa jeda hingga akhir.
Waktu menunjukkan hampir jam sebelas malam ketika tiba waktu Critical Issues untuk main sebagai band penutup di gig Gorgeous Eye di Moutou malam itu. Malam itu kami bermain empat belas lagu dalam repertoar seperti biasanya, dan satu encore atas permintaan dari crowd luar biasa yang datang malam itu, our utmost respect for you! Senang sekali melihat teman- teman yang datang memberikan support untuk acara yang berlangsung di hari Kamis malam. Dan, pastinya seru berkesempatan melihat energi band-band muda dari scene Kuala Lumpur seperti False Flag dan Shtypës – saya sempat salah menyebut nama bandnya karena pelafalannya yang tidak lazim. Walau sempat terjadi insiden, seorang fotografer yang sepertinya secara intensional ditimpa oleh seorang yang stagedive, dan sepengetahuan saya insiden itu sudah langsung diselesaikan di tempat malam itu juga.
Acara diakhiri dengan kehangatan karena kami tak langsung bubar jalan tapi masih hangout di rooftop Moutou. Mam dan Mär yang menjaga lapak merchs Critical Issues juga sibuk meladeni teman-teman yang memberi support dengan membeli rilisan dan merchs yang dibawa. Saya dan Ken meladeni
personil Rohgon dan juga teman-teman lain yang berkumpul mengobrol berbagi minuman dan berbagi helaan asap. Obrolan yang seru dari mulai musik, scene, sampai situasi sosial politik nasional di Malaysia dan juga Indonesia; yang khususnya membahas soal gerakan protes pada Agustus dan September 2025. Seperti kepala yang semakin berat, obrolan malam itu cukup berat juga, tapi sempat mencuri dengar juga obrolan Choi di ruang sebelah membahas dan memberi komplimen untuk permainan drum Ken.
Di tengah keseruan, saya dan Ken sempat mencari Mar yang tadinya nongkrong bareng tapi tahu-tahu menghilang. Baru kemudian diberi tahu oleh NoBeat bahwa Pdoih dan Nana sudah mengajak Måm, Mär, dan Dewi ke tempat makan agar tidak kemalaman. Barang- barang dan beberapa peralatan band juga sudah dibawa bersama mereka. Saya, Ken dan teman- teman yang masih di Moutou tadinya hendak nongkrong lagi sebentar untuk kemudian bersama Choi dan NoBeat langsung pulang ke Bangsar. Salah satu alasannya karena minuman masih cukup banyak, salah satunya adalah sebotol tuak Serawak. Tapi kemudian NoBeat dikabarkan oleh Pdoih untuk langsung saja menyusul ke tempat makan karena lokasinya juga di Bangsar tak jauh dari rumah kontrakan.
Selain itu mereka juga masih menunggu karena kedai nasi lemaknya kehabisan stok nasi. Lalu kami pun turun dari Moutou dan di parkiran sempat bertemu dengan fotografer yang sempat tertimpa di moshpit, dan saya mengobrol sejenak dengan dia untuk memastikan dia tidak apa-apa. Sempat juga mengobrol sejenak dengan pasangan yang mengelola Moutou, Ah Lap dan Leong ketika mereka juga hendak pulang.
Akhirnya saya, Ken, Choi, dan NoBeat jalan ke lokasi untuk memesan mobil sewa daring dengan botol tuak yang kami terus tenggak karena enak. Rasa dan tampilannya menarik karena tidak seperti tuak kebanyakan di Indonesia yang berasa sepat dan berwarna keruh, tuak Serawak berwarna sedikit bening, seperti melewati proses fermentasi yang lebih lama. Kami menunggu mobil bersama dengan rekan- rekan NoBeat personil Nista. Seteguk demi seteguk mengalir walau NoBeat bilang minumnya pelan-pelan jangan langsung ditenggak dari botol, tapi karena rasanya enak dan tidak ada gelas, langsung saja di-glek. Di pinggir jalan bersama botol yang terus dioper, mobil Grab tiba menjemput empat pemuda tipsy yang tak sudah- sudah mengoceh di dalam mobil dari sejak naik hingga sampai diturunkan di dekat kedai nasi lemak di pinggir Jalan Telawi daerah Bangsar. Kami berempat pun bergabung ke meja yang disusun panjang oleh teman-teman yang sudah datang duluan dari Moutou. Namun walau datang duluan mereka pun masih menunggu nasi matang dan belum memesan makanan.
Ketika nasi matang datang, semua langsung meruyak ke kedai nasi lemak seperti zombie, perpaduan antara tipsy dan juga lapar. Semua sibuk memilih menu, memesan minuman, dan membayar makanan dan berulang alik kembali ke meja dan mengambil tempat untuk makan. Nasi lemak memang tepat mengganjal perut sesudah acara, gurih dan mengenyangkan. Suasana kembali semarak dengan makanan di meja, obrolan mengalir bersama makanan yang disuap. Seusai makan karena malam semakin larut, rombongan pun memutuskan langsung bubar. Tapi bersama makanan yang lahap disantap, tuak yang sudah dihabiskan sebelumnya dan minuman-minuman ditenggak sebelumnya semacam bergejolak di dalam perut, hingga sebelum naik mobil saya sempat memuntahkannya. Nasi lemak yang baru saja ditelan alhasil dikeluarkan lagi. Sial! Tapi kali ini saya kontrol dan terkendali tidak ambyar seperti sewaktu di Medan.
Kami pulang ke rumah kontrakan dengan diantarkan oleh Nana dan Pdoih yang membawa mobil dan juga Mailen. Di pelataran parkir depan bangunan rumah kontrakan, malam itu kami berpisah dengan Pdoih, Nana dan Mailen. Perpisahan yang dalam harapan untuk nantinya bisa berjumpa kembali dengan teman-teman. Gorgeous Eye termasuk Choi dan NoBeat. Dengan lambaian tangan kemudian kami menaiki tangga ke rumah kontrakan di lantai tiga. Malam itu kami akan mengemasi barang dan menghitung catatan lapak terlebih dahulu sebelum tidur. Pertama agar besok paginya ketika hendak ke stasiun bis semua sudah tinggal angkat, dan kedua karena ada sejumlah dana yang pembayaran lewat akun Wise milik NoBeat. Jadi agar semua urusan selesai sebelum tidur. Selain itu, kebiasaan lain di kala tur adalah mandi malam sebelum tidur apabila besoknya ada jadwal keberangkatan pagi, agar pada paginya tidak repot menunggu untuk mandi. Hampir jam dua pagi semua urusan baru selesai, kami semua tidur kecuali Choi yang masih mengobrol dengan temannya di pinggir jalan depan. Dengan segala aktivitas yang cukup melelahkan hari itu, sayapun langsung tidur dengan nyenyak.
Jumat, 21 November 2025. Pagi itu NoBeat membangunkan saya jam enam, agar ada waktu bersiap-siap dan tidak terburu-buru mengejar kereta untuk ke Terminal Bersepadu Selatan, tempat saya dan rekan-rekan akan naik bis ke Kuantan dari Kuala Lumpur. Jadwal keberangkatan bis adalah jam sepuluh lewat empat puluh menit, paling tidak kami sampai di sana satu jam sebelumnya. Dengan segala persiapan yang singkat pagi itu, sekitar jam tujuh lewat saya dan rekan bergerak dari rumah ke stasiun Bangsar bersama NoBeat.
Tak jauh dan bisa berjalan kaki, walau agak sedikit repot dengan segala barang yang dibawa. Hari itu weekdays dan ritme Kuala Lumpur pagi itu cukup cepat dan ramai termasuk stasiun Bangsar. Masuk ke bangunan stasiun Bangsar, menuju anjungan tiket mandiri untuk membeli koin tiket, dan naik eskalator ke area penumpang di jalur LRT yang hendak kami naiki. Walau cukup repot dengan segala barang yang kami bawa, tapi kalau dipikir malah jadi aktivitas kardio pemanasan yang menyehatkan di pagi itu. Ketika LRT datang, pintu gerbong terbuka dan rombongan semua masuk kecuali Måm yang tertinggal di luar dengan muka yang memelas di balik jendela bersama tas ransel besar dan case gitarnya.
Saya lalu meminta tolong kepada Dewi untuk mengabarkan Måm yang ketinggalan kereta agar tenang, dan naik kereta berikutnya untuk turun di stasiun Mesjid Jamek. NoBeat memberikan titik temu di stasiun itu karena akan turun di situ juga untuk ganti kereta. Saya, Ken, Mär bersama Dewi dan NoBeat tiba terlebih dahulu di stasiun Mesjid Jamek. Kami turun untuk menunggu Måm yang muncul dari kereta berikutnya dengan cengengesan. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki kereta jurusan stasiun Jalur Putra Heights. Dari sana kami semua turun dari kereta di stasiun Bandar Tasik Selatan. Lokasi Terminal Bersepadu Selatan tak jauh dari stasiun, dan bisa berjalan kaki lewat fasilitas jembatan penghubung.
Kami masuk gedung terminal dan menuju konter penukaran tiket bis dengan menunjukkan bukti tiket online yang kami pesan lewat bantuan Mailen. Setelahnya kami naik ke area keberangkatan, gerbangnya belum dibuka, saya dan dewi menyempatkan melipir ke toserba untuk beli sarapan ringan untuk kami semua.
Roti, kue dan kopi kami nikmati sambil menunggu panggilan masuk, dan mengobrol dengan NoBeat. Dia sempat bilang agak takjub dengan kami yang cukup terorganisir hingga sempat memikirkan untuk mempersiapkan sarapan pagi. Saya menjawab sepertinya itu masuk dalam perencanaan, agar paling tidak hal yang mendasar bisa terpenuhi selama perjalanan tur, dan disesuaikan dengan anggaran keuangannya kami juga. Walau dari pengalaman tidak selalunya juga semua yang terpikirkan akan selalunya sesuai yang direncanakan, sebab Murphy’s Law selalu menunggu setiap saat dalam tiap kemungkinan.
Gerbang masuk area keberangkatan dibuka, dan kami semua rombongan Critical Issues berpamitan dan berterima kasih kepada NoBeat yang sudah berkenan untuk selalu direpotkan. Dengan lambaian tangan, kami berpisah bersama tiket yang satu demi satu dipindai untuk masuk ke ruang tunggu bis yang akan membawa kami ke Kuantan. Petualangan berlanjut, sampai jumpa lagi Kuala Lumpur.
Tempoyak dan Persahabatan di Kuantan
21 November 2025, pagi menjelang siang di ruang tunggu keberangkatan bis di Terminal Bersepadu Selatan. Bis yang akan ditumpangi dikabarkan masih on-schedule sewaktu saya bertanya kepada pegawai yang bekerja di meja informasi. Masih ada kurang lebih empat puluh menit lagi sebelum waktu keberangkatan yang dijadwalkan pada jam sepuluh lewat empat puluh menit waktu setempat. Tidak terburu-buru dan juga tidak terlalu lama menunggu, pas! Masih sempat untuk melanjutkan mengunyah sarapan dan menyeruput kopi yang tersisa, buang air ke toilet, mencari tempat merokok yang ternyata tidak ada, dan kembali ke bangku menunggu bis tiba. Santai.
Bis terlihat memasuki jalur pemberangkatan jam sepuluh lewat tiga puluh menit waktu setempat. Panggilan diumumkan di speaker, pintu keberangkatan dibuka, tiket diperiksa, dan kami masuk ke area pemberangkatan. Tidak ramai penumpang yang berangkat ke Kuantan hari itu sehingga proses memuat barang cepat sebab hanya barang rombongan Critical Issues yang memenuhi bagasi bis. Pengemudinya punya sikap ramah yang alamiah, dan menanyakan banyak hal termasuk soal kami sebagai band. Seberesnya barang dimuat di bagasi, kami menaiki bis dan mengambil tempat masing-masing sesuai tiket. Tepat sekitar jam sepuluh lewat empat puluh, bis yang kami tumpangi bergerak keluar dari terminal dan berangkat menuju Kuantan. Dan, yang menyenangkan adalah pengemudinya memberikan sambutan dan doa keselamatan untuk semua penumpang lewat sistem pengeras suara dalam kabin bis.
Tapi yang utama adalah bangku bis yang kami tumpangi besar, lega, dan nyaman sekali untuk perjalanan sekitar lima jam yang akan ditempuh dari Kuala Lumpur ke Kuantan. Tapi walau begitu karena masalah di ruas leher tulang belakang, saya tetap harus memakai cervical collar untuk menjaga leher saya tetap stabil apabila tertidur. Mencegah lebih baik daripada masalah kesehatan kumat di negeri orang. Bangku yang nyaman dan lapang membuat saya langsung tertidur, dan mungkin juga karena memang badan masih ingin mencuri waktu tidur yang kurang. Saya terbangun ketika pengemudi mempersilakan penumpang untuk turun dan bersantai karena bis akan mengisi bahan bakar sekaligus berhenti sejenak di SPBU di area peristirahatan.
Saya, Ken, Mär, Måm, dan Dewi pun turun dari bis dan menuju area tunggu penumpang di dekat sebuah toko serba ada yang ramai orang keluar masuk untuk berbelanja camilan dan minuman ringan. Jadi semakin terlihat ramai karena semua orang juga bergerombol di depan mini market untuk menghindar dari hujan gerimis yang turun di siang itu. Sialnya tidak boleh merokok sehingga saya dan rekan lainnya mesti bergeser ke area terbuka di luar SPBU untuk merokok di bawah pohon yang cukup besar untuk bisa sedikit menahan tetesan gerimis. Setelahnya kami melipir kembali ke SPBU, dan langsung kembali masuk ke bis setelah kami lihat si pengemudinya menaiki bisnya. Daripada berdiri di luar menunggu panggilan, lebih baik langsung nyaman di dalam bis. Tak lama bis pun keluar dari area SPBU, dan melanjutkan perjalanan.
Kembali memasuki jalan bebas hambatan, dan hujan langsung mengguyur cukup deras. Sepertinya waktu itu cuaca di semenanjung Malaysia juga mengalami pengaruh dari Siklon Tropis Senyar yang berpotensi menimbulkan fenomena cuaca ekstrim. Sedikit menepis pikiran soal skenario terburuk bencana hidrometeorologi, cuaca yang pas dan bangku yang nyaman kembali membuai mata untuk terpejam. Saya terbangun karena telinga semacam terasa penuh dan bindeng, dan ketika melihat ke luar jendela bis, panorama dihiasi bukit-bukit di kiri kanan jalan, sepertinya memasuki daerah dataran tinggi. Dari sepengetahuan saya sepertinya ini sudah memasuki Pahang, negara bagian dengan bentang alam pegunungannya. Kalau di kalangan wisatawan mungkin dikenal karena Genting Highlands, sebuah kompleks hiburan dan kasino di pegunungan Titiwangsa.
Dalam catatan perjalanan di Banda Aceh saya sempat bercerita soal Taman Sari Gunongan dan Putroe Phang, permaisuri dari Sultan Iskandar Muda yang sebagai bukti cinta dibuatkan sebuah kompleks taman istimewa dengan salah satu bangunannya adalah Gunongan, bangunan berupa miniatur gunung karena dia rindu kampung halamannya di Pahang. Sang permaisuri, Putroe Phang atau Putri dari Pahang yang dari catatan sejarah bernama Puteri Kamaliah yang berasal dari Kesultanan Pahang. Dalam kesempatan tur ini saya menyaksikan hubungan simbolis Gunongan itu dengan bukit dan pegunungan yang dilewati dalam perjalanan bis memasuki Pahang hari itu. Mungkin trivial dan tidak penting, tapi menjadi hal yang istimewa bagi saya karena menjadi semacam pengetahuan baru dari pengamatan langsung dalam perjalanan tur.
Negara bagian Pahang membentang dari barisan gunung Titiwangsa di barat, dan pesisir Laut Cina Selatan di timur. Kota yang kami tuju, Kuantan adalah ibukota negara bagian Pahang yang berada di pesisir timur semenanjung Malaysia. Dan walaupun kontur alamnya cukup dinamis tapi perjalanannya tidak semenegangkan dan melelahkan seperti jalur darat Sumatera, salah satu faktornya mungkin adalah karena fasilitas dan infrastruktur jalan di Malaysia yang terhitung bagus, perjalanan pun menjadi aman dan nyaman.
Perut sudah mulai menggeliat karena saya dan rekan lainnya tidak sempat makan siang, dan niatnya makan berat sekalian sore ketika tiba di Kuantan. Dan, bis juga sudah melewati daerah pegunungan dan memasuki zona landai yang sepertinya sebentar lagi akan sampai di Kuantan. Bis memasuki Terminal Kuantan Sentral sekitar jam dua lewat tiga puluh menit waktu setempat, dan menurunkan penumpang di area kedatangan. Kami mengeluarkan barang dari bagasi bis, kemudian saya menghubungi rekan kami dari Noise Cave, Asrul. Dia mengabarkan sedang dalam perjalanan ke terminal bis untuk menjemput kami. Asrul datang dengan Bopix rekannya yang juga membawa mobil sebagai antisipasi apabila mobilnya tidak cukup untuk membawa Saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi beserta barang yang kami bawa.
Setelah menyusun barang di dua mobil yang menjemput tiba-tiba paras muka Måm berubah seperti baru teringat sesuatu, dan itu adalah tas kecil berisi dompet termasuk paspor yang sepertinya tertinggal di bangku bis. Alih-alih beramah tamah, sore itu malah diwarnai ketegangan. Måm sedikit panik karena bis yang ditumpangi tadi sudah keluar dari area terminal, tapi ditenangkan oleh Amy, vokalis dari Sëek. Amy yang juga sedang di terminal hendak mengambil barangnya yang juga ketinggalan di bis. Dia juga dari Kuala Lumpur untuk mengambil merchandise bandnya, dan sempat datang ke gig di Moutou. Amy akan membantu menghubungi agen bis yang kami tumpangi, dan akan mengabarkan apabila sudah ada informasi. Måm pun sedikit tenang, dan kami menaiki mobil Asrul dan Bopix keluar dari terminal sembari menunggu kabar dari Amy.
Dalam situasi yang sudah terkendali, tawa saya lepas karena mengingat soal Måm yang dua kali berurusan soal paspor setelah ketika di awal hendak berangkat tur lupa bawa paspor. Tak lama Amy mengirimkan pesan teks kepada Asrul dan memberi tahu tas kecil Måm yang tertinggal ada di bis yang tadi ditumpangi dan bisa diambil di pool bis. Kami yang tadinya hendak ke tempat makan terlebih dahulu akhirnya langsung menuju pool bis untuk mengambil tas kecil Måm di sana.
etelah membereskan urusan itu, nuansa yang tadinya tegang pun berubah menjadi tenang. Pertemuan kami untuk pertama kalinya dengan Asrul yang diwarnai drama menjadi hal yang juga mencairkan obrolan di mobil yang saya tumpangi bersama Ken dan Måm. Dewi dan Mär berada di mobil Bopix yang notabene adalah personil dari band SS/Block. Asrul membawa kami ke rumah makan nasi ayam Hainan yang berada di Bukit Sekilau. Dewi senang sekali karena dia penggemar berat nasi ayam Hainan. Kami memilih meja, dan kemudian memesan makanan. Dalam kondisi lapar sebenarnya semua juga akan kami lahap, tapi menu nasi ayam madu di kedai itu memang enak. Ketika kami sedang makan, langit yang sedari tadi terlihat mendung akhirnya menurunkan hujan yag cukup deras. Seusai makan akhirnya kami pun bersantai sejenak karena hujan, dan mengobrol dengan Asrul dan Bopix.
Setelah hujan agak mereda baru kami keluar dari restoran. Sebelum kami ke Noise Cave, Asrul hendak ke toserba untuk membeli cemilan dan minuman, serta Måm dan Mär juga minta tolong diantarkan ke kedai yang menjual rokok kretek. Tidak semua warung atau toserba menjual rokok kretek dari Indonesia karena biasanya masuk secara ilegal, sehingga hanya warung tertentu saja yang menjualnya.
Setelah itu baru kami ke Noise Cave yang berada dalam sebuah kompleks pertokoan di lantai atas sebuah shop lot atau ruko. Barang kami turunkan dari mobil di parkiran dan dibawa ke atas, dan Asrul meminta untuk memasukkannya ke ruang kontrol studio yang akan menjadi kamar kami selama menginap di Noise Cave. Selain kami, disana juga ada Zang, pemain bass Slakt!, dan temannya yang sedang waktu istirahat dari pekerjaan mereka. Secara pembagian ruangannya, selain studio dan distro di bagian depan dan tengah, Asrul dan kawan- kawan juga ada workshop sablon kecil di bagian belakang. Kami diperkenankan memakai kamar mandi dan toilet yang berada di lorong paling belakang. Ketika mandi saya tertawa melihat sabun Caveman Cleaner 3 in 1 Hair, Face and Body yang ada dalam kamar mandi Noise Cave, satu sabun untuk semua, cocok untuk para manusia gua crusties yang menghuninya.
Tidak ada agenda yang signifikan di hari pertama kedatangan Critical Issues di Kuantan, jadi kami santai dan menyempatkan untuk meluruskan badan sejenak. Saya tertidur di sofa sampai kemudian dibangunkan oleh suara obrolan heboh, yang ternyata adalah Amy dan kawan-kawan Seek yang datang ke Noise Cave untuk latihan. Mereka cerita malam itu Sëek akan latihan dengan formasi personil baru dengan satu orang gitaris tambahan, dan pemain drum baru. Sempat melihat sebentar kuintet itu latihan dari ruang kontrol studio yang menjadi tempat kami menginap, kemudian Asrul mengajak kami keluar makan. Sambil berjalan kaki ke tempat makan yang tak jauh dari Noise Cave, Asrul bilang dia malam ini juga akan latihan dengan Slakt!. Bandnya itu sempat tak jadi main karena jadwal kerja personilnya, tapi karena band penggantinya Distaste juga berhalangan akhirnya Slakt! pun main. Efeknya adalah gig di Kuantan sempat dua kali ganti flyer informasi acara. Kedai yang kami datangi cukup besar dan menyajikan menu yang beragam, dari nasi goreng sampai tom yam. Semua pun memesan makanan dan minuman, saya memesan mie goreng, dan kopi O panas yang ketika diantar ke meja datang dengan gelas ukuran besar seperti yang dihidangkan kalau sedang melayat. Beres makan kami kembali ke Noise Cave, rekan-rekan Asrul di Slakt! pun sudah datang yaitu Zang yang sempat ketemu sorenya, pemain drumnya, Faiz, dan vokalisnya, Luqman. Sempat mengobrol sejenak sambil menunggu Sëek selesai latihan, dan sempat bercerita soal Anca, vokalis Koteka Is The Reason, yang juga membantu Critical Issues untuk menghubungkan dengan organizer di Bangkok. Anca sudah beberapa kali ke Kuantan, dan wajahnya mirip dengan Faiz. Obrolan terhenti ketika Sëek selesai latihan, karena giliran Slakt! untuk masuk ke studio.
Walaupun band dari semenanjung Malaysia, saya sudah mengetahui Sëek sebelumnya karena mini album bertajuk “Manusial” dari band muda asal Kuantan itu dirilis oleh label rekaman independen di Bogor, The Seat of Piss Records. Sambil mengobrol dan membereskan peralatan musik yang habis mereka gunakan latihan, Amy mengenalkan kembali rekan-rekannya, Alep bermain gitar, dan juga Zack yang baru bergabung sebagai gitaris kedua, lalu Delan yang bermain bass, serta Irfan pemain drum yang menggantikan adik Zack yang sebelumnya bermain drum di Sëek. Bersama mereka malam itu juga ada teman mereka, Din dan Azri. Amy menanyakan apa rencana kami untuk jadwal day-off, saya menjawab kami masih belum tahu kecuali hendak ke pantai. Amy dan kawan-kawan menawarkan rencana yaitu hiking ke sebuah bukit pada pagi harinya, dan pergi ke pantai sesudahnya. Saya dan rekan-rekan pun menerima saran dari mereka karena seru juga aktivitas fisik di alam untuk agenda day-off di Kuantan.
Ruang tengah semakin ramai dengan bergabungnya Slakt! yang beres latihan, kemeriahan semakin ditambah dengan perangkat stereo Noise Cave yang tidak berhenti memutarkan kaset dari band-band hardcore punk. Obrolan semakin riuh ditemani berkaleng bir yang tadi sempat dibeli oleh Asrul, dan juga helaan asap dari lintingan yang beruntun digulung. Lewat tengah malam menjelang dini hari baru kemudian teman-teman Sëek pamit untuk pulang, dan Azri juga bilang dia akan datang lagi esok siangnya untuk menemani jalan-jalan keliling Kuantan bersama Asrul. Kami menyambutnya dengan baik dan berterima kasih. Setelahnya, saya, Måm, Dewi, Ken, dan Mär pun pamit kepada Asrul untuk istirahat di hari pertama kami di Kuantan. Yang lain tidur susun ikan sarden di kasur dalam ruang kontrol studio, agar lega, saya tidur di ruang tengah dengan membentang matras yoga, meniup bantal leher, membalur anti-nyamuk, dan menarik sarung sebagai selimut. Persiapan yang menjadi ritual rutin personal sebelum saya tidur di kala tur.
Sabtu, 22 November 2025. Bangun agak siang, saya dan rekan-rekan bergiliran mandi karena siang itu hendak diajak keluar. Hanya ada Asrul di Noise Cave karena Zang sudah keluar ke tempat kerjanya. Kami yang sudah bersiap duduk menunggu di ruang tengah, dan Azri memenuhi janjinya tadi malam dan datang untuk menemani kami jalan-jalan di Kuantan. Azri bilang untuk naik mobilnya saja karena cukup untuk memuat tujuh orang sehingga Asrul tak perlu membawa mobil. Kami semua menaiki mobil Siang itu Asrul dan Azri membawa kami ke sebuah tempat wisata bernama Teluk Cempedak. Dalam perjalanan ke pantai itu, Asrul menunjukkan beberapa istana dan bungalo mewah Sulltan Pahang yang kebetulan kami lewati. Sesampainya di sana ternyata pantainya sangat pantai wisatawan dengan fasilitas resort dan gerai-gerai restoran cepat saji, dan kami pun agak malas juga untuk turun dan jalan-jalan. Saya bilang lebih baik langsung makan siang saja, dan Azri pun membawa mobilnya keluar dari area Teluk Cempedak.
Asrul dan Azri sempat berdiskusi soal destinasi siang itu, dan akhirnya mereka membawa kami ke sebuah restoran yang menghidangkan menu tradisional Pahang. Tempatnya bernama Jaman Tory Resepi, setelan dekorasinya semacam rustic dengan nuansa kampung dan dekorasi barang-barang vintage. Nama restorannya sendiri Jaman Tory adalah istilah yang artinya jaman dahulu, jadi Jaman Tory Resepi adalah resep jaman dahulu kalau diartikan dalam bahasa Indonesia. Dan, memang namanya sesuai dengan nuansa dan menu yang ditawarkan.
Awalnya saya cukup terkejut dan penasaran ketika Asrul cerita soal di Kuantan ada tempoyak, pais atau pepes ikan patin atau brengkes kalau disebut di Palembang, dan bahkan ada Pekasam atau Bekasam kalau di Palembang. Bekasam adalah ikan yang diproses fermentasi dengan nasi yang saya pikir hanya ada di Sumatera Selatan. Saya, Ken, Mär, Måm, dan Dewi masing-masing memesan ikan salai masak lemak chili api, pekasam goreng dan tempoyak. Bagi saya itu adalah momen emosional karena tak pernah terbayang di Kuantan saya bisa merasakan makanan seperti di rumah, we eat like brother like another mother. Saya bahkan menampung pekasam dan tempoyak yang tak habis dimakan rekan-rekan lain untuk saya sapu bersih. Sungguh makan siang yang memuaskan dan mengenyangkan.
Setelah makan dan membayar tagihan di kasir, kami semua keluar ke parkiran untuk merokok karena tidak diperkenankan untuk merokok di dalam rumah makan. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa klepas klepus dengan bebas, merokok di luar adalah hal yang selalu kami biasakan selagi berada di Malaysia. Sehabis itu Asrul mengajak untuk nongkrong sore sambil ngopi di Warmroom Cafe. Kedai kopi kecil itu berlokasi deretan pertokoan di dekat sebuah SPBU di Jalan Sultan Al Abdullah, dan di sebelah kedai kopinya ada distro, Warmroom Store. Asrul bilang kedai kopi itu milik Apis, personil dari band skramz Piet Onthel, yang juga mengelola venue musik Warmroom Space. Ketika sedang nongkrong, kami sempat berjumpa dengan Apis yang sore itu datang untuk memeriksa kedai dan hendak bersiap melapak dengan mobil yang diubah menjadi kedai kopi bergerak. Kami berkenalan dan mengobrol sebentar sebelum dia pamit untuk lanjut karena ditunggu istri dan anaknya. Personil Sëek, Amy dan Irfan, sempat datang menyusul dengan motor ke Warmroom Cafe karena mereka juga hendak ke Noise Cave, dan karena hari semakin sore maka kami semua pun bergerak ke Noise Cave agar bisa bersiap untuk gig yang akan berlangsung malamnya.
Dalam perjalanan, Måm minta kembali menyinggahi warung yang didatangi sehari sebelumnya untuk membeli rokok kretek. Asrul juga menyempatkan ke toserba, membeli bir dan minuman sebagai stok untuk gig nanti malam. Sampai Noise Cave tak banyak yang perlu dipersiapkan kecuali meja-meja yang akan digunakan untuk lapak merchandise dan penjualan tiket. Selagi gig goers belum datang, Sëek, Slakt! dan Critical Issues yang akan main menyempatkan untuk soundcheck. Setelah semua beres, kami pun kembali bersantai di ruang tengah sementara satu demi satu orang mulai berdatangan untuk acara yang diberi tajuk Noise Session Vol.47.
Dengan akses masuk menaiki tangga, ketika di atas semua harus membuka sepatu atau alas kaki lainnya kalau mau masuk studio menonton gig atau berkeliaran di Noise Cave. Bagi saya dan yang lain, kalau di Palembang hal itu adalah seperti dahulu kalau studio gig di Groovies Studio, tapi karena semakin banyak yang datang menjadi semakin kerap muncul kasus sepatu yang tertukar. Pemusik darkwave dari Kuala Lumpur, MRizal juga sudah datang bersama seorang rekan. Dalam rundown, proyek musiknya, MRizalMustBeDestroyed akan akan menjadi penampil penutup gig. Tadinya hendak dimainkan di awal sebagai pemanasan, tapi saya protes karena lebih baik main terakhir agar lebih pecah; hal yang masuk akal, dan disepakati.
Selanjutnya kami semua bersiap untuk berparti di malam Minggu itu. Yang datang setelah membeli tiket – dan membuka sepatu – boleh mengambil cocktail untuk diseruput di ruang belakang. Ruang tengah juga semakin riuh dengan obrolan dan perangkat stereo yang menyemburkan distorsi dalam volume maksimum tanpa henti, krezi! Saya melihat jam di ponsel sudah jam delapan, Asrul bilang santai acara akan sekitar jam sembilan. Menunggu acara mulai selain mondar mandir. Saya dan rekan Critical Issues yang lain menongkrongi sofa yang tepat di dekat meja lapak kami. Sudah ada beberapa kaset dan kaos yang terjual, lumayan untuk di awal, dan pastinya selalu terima kasih kepada yang memberi support dengan membeli merchs dan album rekaman fisik; denyut nadi dari tur yang kami jalankan adalah dukungan yang diberikan semua teman-teman.
Kurang lebih jam sembilan, atau entah saya tidak begitu memperhatikan waktu saat itu, para personil Sëek satu demi satu masuk ke dalam ruang studio Noise Cave. Amy dan kawan- kawan mulai mempersiapkan instrumen mereka untuk set malam itu, drum dan bass mulai berdentum diiring gitar yang mulai meraung dan mengaung dengan efek flanger atau phaser, entah lah karena saya selalu susah dan salah membedakan kedua efek itu. Semua yang datang malam itu pun mulai berbondong masuk ke studio melewati pintu tebal berat yang harus ditutup kembali agar suara dari dalam teredam. Sëek mengubah atmosfer menjadi amarah yang tercekat dengan gitarnya yang ganas tapi mengawang, dan teriakan vokal delay dan reverb tebal. Membalut lirik yang politikal, Amy juga menyuguhkan aksi panggung yang teatrikal dengan kain yang menutup matanya. Dan, sepertinya semua yang datang malam itu pun sepakat; Sëek delivered a superb performance that night.
Selanjutnya dalam program acara malam itu adalah Slakt! Saya sempat mengintip sesi latihan mereka malam sebelumnya, musik mereka agresif, kasar, dan mentah, dan dengan adrenaline rush dalam suasana live show pasti akan berbeda bila dibanding melihat mereka kala latihan. Dan, iya betul sekali Slakt! menjadi macam monster yang mengamuk, raw hardcore punk yang digeber tanpa belas, gas tidak dikasih kendor. Rasa penasaran saya terpuaskan secara maksimal. Dan sepertinya saya punya band favorit baru setelah melihat Slakt!.
Band ketiga di malam itu adalah Critical Issues dalam gig pertama kalinya di Kuantan. Saya, Ken, Måm, dan Mär seperti gig lainnya dalam jadwal tur kali memainkan repertoar empat belas lagu. Kami bermain cukup lepas, dan senang sekali semua yang datang ke gig di Noise Cave malam itu juga menikmati dengan berdansa liar. Studio yang berpendingin ruangan sejenak agak terasa hangat. Rekan kami Dewi, seorang fotografer yang ikut bersama Critical Issues juga terlihat sibuk mengambil gambar dengan kameranya dari sejak awal acara. Set malam itu diakhiri dengan keringat yang merembes kaos, dan juga tos serta pelukan kawan-kawan yang memberi support.
Tapi malam belum berakhir, masih ada MRizalMustBeDestroyed yang kembali memecah Noise Cave Studio malam itu dengan irama darkwave/post-punk. Walau musiknya muram tapi suasana malam itu terasa menyenangkan dengan teman-teman yang berkumpul dan mengekspresikan dirinya dengan berdansa, bahkan ada beberapa yang terlihat berdandan ala goth dan memang hendak melihat penampilan MRizal malam ituitu. MRizal sudah melepas beberapa single, dan satu mini album, dan dalam repertoarnya di gig malam itu, selain nomer orisinal, mereka juga menyelipkan sebuah lagu dari Portishead yang berjudul “Glory Box”. My favourite song!
Sisa malam masih panjang setelah MRizalMustBeDestroyed menyelesaikan setnya, dan sesi nongkrong pun berlanjut usai acara. Minuman kembali dituang, dan gelas-gelas kertas kembali berputar, obrolan kembali riuh dalam iringan musik yang menggelegar dari perangkat stereo di ruang tengah Noise Cave.
Tapi sepertinya sebelum kepala terlalu berat, teman-teman menyarankan agar sejenak keluar untuk makan karena sepertinya perut mulai terasa lapar. Dan rombongan yang ramai itu pun berjalan kaki dari Noise Cave ke rumah makan yang malam sebelumnya sempat saya datangi bersama Asrul. Sampai di sana, meja-meja pun disusun memanjang agar semua bisa bergabung makan bersama di satu meja, dan makanan serta minuman pun mulai dipesan. Walau cukup ramai, tapi pramusaji melayani dan mencatat pesanan dengan sangat lihai. Obrolan pun berlanjut bersama makanan pesanan yang satu demi satu datang.
Dari yang saya perhatikan, apabila dibandingkan dengan di Palembang, ada satu hal yang mungkin berbeda di Kuantan yaitu pengemudi kendaraan bermotornya tidak kerap atau membabibuta menekan klakson. Selama saya dan rekan-rekan Critical Issues di sana bahkan tidak terdengar suara klakson kendaraan sama sekali, bukan berlebihan tapi itu kemudian dibenarkan oleh Asrul yang bilang orang di sana menekan klakson apabila memang sudah benar-benar mengganggu atau menghalangi jalan. Dan dia bilang itu juga mungkin karena ritme kehidupan orang di Kuantan juga bisa dibilang santai.
Setelah makan, dan semua beres membayar makanan masing-masing, rombongan pun kembali ke Noise Cave. Sempat dibahas kembali rencana agenda day-off esoknya, dan ada pertimbangan kedua khususnya soal rencana hiking ke bukit pada pagi harinya. Hal itu dikarenakan sepertinya malam itu kami semua sudah pengar, dan lebih baik tidak usah dipaksakan bangun pagi untuk hiking. Dan kami menyepakatinya, aktivitas outdoor besok lebih baik ke pantai saja. Malam semakin larut, dan satu demi satu yang masih tersisa di Noise Cave mulai mengambil tempat untuk merebahkan diri dan menginap di sana malam itu begitu pun kami. Suara dengkuran yang mulai bersahutan menutup hari yang menyenangkan di Kuantan.
23 November 2025, hari Minggu dan juga hari day-off di Kuantan. Betul sekali kami semua bangun menjelang siang dengan kepala sedikit pengar, bayangkan apabila mesti bangun pagi untuk hiking seperti yang direncanakan sebelumnya. Kami mandi dan bersiap tanpa terburu-buru, santai karena kami akan ke pantai. Perut agak sedikit keruyukan ketika sedang duduk di ruang tengah menunggu teman-teman datang hingga saya sempat memakan roti di meja yang sepertinya dibeli semalam. Asrul yang melihat dan menyadari saya lapar pun bilang agenda pertama kita hari itu adalah makan siang. Ide yang tepat, makan dulu baru ke pantai. Aleep datang dengan membawa mobilnya, dan rekan-rekan Sëek yang lain ada yang datang dengan motor. Rencananya mereka semua akan naik mobil Aleep. Kami semua yang ada di Noise Cave pun turun ke area parkiran. Saya, Ken, Mär, Måm, dan Dewi serta Asrul bersama di mobil Azri.
Keluar dari area parkiran, siang itu kami pergi ke daerah pantai tapi sepertinya karena akhir pekan cukup ramai yang makan siang rumah makan yang ada di sana hingga mencari pilihan lain. Akhirnya kami melipir ke sebuah rumah makan dengan menu khas India. Setelah memarkir mobil, seperti biasa karena rombongan yang ramai maka meja harus disusun memanjang. Kami dibantu oleh pramusaji rumah makan yang ramah dan kooperatif, setelah beres kemudian dia langsung mencatat pesanan kami. Khasnya makanan di sana adalah nasinya disajikan di atas daun pisang, dan cara penyajiannya pun menarik. Pertama, lembar lembar-lembar daun pisang diletakkan di atas meja untuk tiap orang. Kedua, pramusaji datang untuk menuangkan nasi yang bisa nasi putih atau nasi biryani ke atas daun kami masing-masing. Ketiga, kemudian pramusaji datang lagi dengan membawa pelengkap sajian yaitu acar dan chutney, sayur pare, serta kari dan seperti sebelumnya disendokkan ke atas daun tiap orang, dan juga bersama dengan loki kecil yang berisi sup rasam. Keempat, terakhir menu tambahan yang dipesan dan juga keripik papadam dihidangkan di atas meja. Setelah semua lengkap sesuai dengan protokol penyajiannya baru kami semua makan. Cukup menarik karena bagi saya dan rekan-rekan Critical Issues termasuk Dewi menjadi semacam pengalaman baru. Spektrum rasanya pun cukup meriah dan mengejutkan dari asam hingga pedas walau soal selera kembali ke lidah masing- masing. Siang itu, MRizal dan rekannya yang masih di Kuantan juga bergabung bersama kami untuk makan siang bersama.
Setelah beres makan, kami masih santai dan menjauh dari area makan ke teras restoran yang ditumbuhi pohon beringin besar untuk merokok. Yang ada malah bukannya kembali ke meja makan, kami malah nongkrong di situ, sehingga kami meminta meja untuk dibereskan saja. Masih ada rencana ke pantai hari itu, tapi MRizal dan rekannya tidak ikut sehingga kami pun berpamitan dengan dia untuk lanjut. Setelahnya kami kembali menaiki mobil untuk menuju pantai Cherating.
Cukup jauh juga ternyata pantai Cherating dari kota Kuantan, sekitar empat puluh lima menit dengan melalui jalan tol. Pantas saja tadi kawan-kawan bilang jangan terlalu siang bergerak ke sana karena takutnya malah terlalu sore sehingga terlalu singkat jadinya waktu untuk main di pantai. Sepanjang perjalanan Azri dan Aleep mengemudikan mobilnya beririringan, walau sempat karena Aleep salah jalan maka kami yang berada dalam mobil Azri pun jadi ikut salah jalan.
Sesampainya di Cherating, kami tak sabar untuk langsung ke laut tapi pertama kami harus ke bungalo yang disewa dulu untuk menaruh barang dan berganti pakaian. Semuanya sudah diatur oleh Amy yag ternyata sempat lama tinggal di Cherating untuk bekerja dan juga surfing. Amy menceritakan ombak di pantai Cherating memang bagus untuk yang gemar surfing. Dia juga menambahkan bahwa karena anak-anak kecil di sana tidak ada fasilitas lapangan untuk bermain bola atau sejenisnya, mereka malah juga didorong untuk bermain surfing dengan suatu inisiatif yang menyediakan papan surf dan pelatihan untuk anak-anak lokal Cherating.
Bungalo yang disewa di Cherating untuk sore hari itu berbentuk rumah panggung dari kayu seperti rumah lokal, dan selain area yang kami datangi ada juga hotel dan resort mewah di area sebelahnya. Setelah semua barang diletakkan dalam bungalo, kami langsung bergegas ke pantai. Dan langsung terlihat para surfer sedang menunggangi ombak termasuk Amy yang langsung berpisah dari kami untuk berselancar. Kami lebih memilih untuk bermain air dan berenang, sembari santai di pinggir pantai.
Buat Saya, Ken, Mär, dan Måm, momen ini adalah semacam balas dendam karena tidak sempat main air di laut ketika di Lhokseumawe dan Banda Aceh. Satu hal yang saya cukup sadari adalah pantainya bersih sekali tidak ada sampah yang berserak atau berceceran. Cukup lama kami main di laut, dan sempat sejenak menepi untuk nyemil dan minum. Amy sempat bilang ombak lagi bagus, maka itu banyak yang datang untuk surfing di akhir pekan itu termasuk kawan kami Qamar yang datang dari Melaka. Saya dan rekan-rekan Critical Issues sempat bertemu dengan dia sewaktu tur ke Melaka pada tahun 2023 lalu, Qamar adalah pengelola Bangunan MLK yang menjadi tempat gig waktu itu. Senang sekali tak sengaja bisa berjumpa kembali dengan Qamar, dan bersamanya datang juga Bidin, vokalis dari Heranam dari Kuala Lumpur, keduanya memang surfer.
Kami bergerser dari pantai kembali ke bungalo bersama langit yang perlahan semakin gelap menjelang maghrib dan laut yang naik pasang. Sembari bergantian untuk mandi dan berganti, nongkrong pun pindah ke teras bungalo. Obrolan pun membahas rencana untuk jalan-jalan di tengah kota Kuantan malamnya. Setelah semua selesai ganti baju, kami pun keluar dari bungalo bersama semua barang yang dibawa. Barang selesai dimuat di bagasi, kami bergerak kembali ke kota Kuantan. Hujan turun mengguyur di perjalanan pulang, bagusnya mereda ketika kami masuk kota Kuantan karena masih ada rencana untuk keluar lagi malam itu. Sesampainya di Noise Cave, dan barang diturunkan kami bersiap keluar kembali dan kali itu saya memilih untuk naik motor bersama Irfan, pemain drum Sëek. Malam itu kami makan di kedai yang tak jauh dari pinggir sungai Pahang, dan jalan-jalan ke taman di area Menara Kuantan 188 sesudahnya. Sebagai trivia, Sungai Pahang adalah sungai yang terpanjang di Malaysia.
Sesi jalan malam pusat kota Kuantan berlanjut ke Kuantan Art Street yang cukup ramai malam itu, mungkin karena malam minggu area itu dipenuhi orang yang sedang pelesiran begitu juga kios-kios yang menjajakan ragam jajanan. Tembok di kiri kanan Kuantan Art Street dihiasi grafiti dan juga seni instalasi yang membuat kawasan itu jadi nyeni. Kami juga sempat lewat lorong yang banyak pedagang barang bekas, dan disitu saya sempat melihat lapakan buku bekas. Saya terlihat sebuah buku yang menarik, bersampul warna merah dengan gambar Baphomet menghiasi sampul depannya. Buku itu ditulis dalam huruf Jawi atau aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu, dan saya sempat mempelajarinya ketika sekolah menengah pertama di Tanjung Pinang, Kepulalauan Riau. Judul buku yang diterbitkan pada tahun 1979 itu adalah “Singkap Rahasia Jin, Syaitan, dan Malaikat”, walau sempat ragu akhirnya saya beli seharga RM 20. Dari situ Dewi ditemani rekan-rekan sempat singgah ke sebuah toserba yang menjual produk-produk Korea untuk beli jajanan. Saya sendiri sibuk mencari toilet umum karena kebelet pipis, namun karena tidak ketemu akhirnya terpaksa pipis sembarangan di pojok suatu bangunan. Setelah puas jalan-jalan baru kami kembali ke Noise Cave.
Sesampainya di Noise Cave hujan turun dengan deras, dan kami bersyukur bukan ketika tengah di luar. Amy dan kawan-kawan masih nongkrong di Noise Cave sembari menunggu hujan reda. Di situ Aleep mengabarkan tas yang dibawanya sepertinya hilang atau tertinggal di dalam kamar bungalo yang disewa di Cherating, dan karena panik dia memutuskan untuk kembali ke Cherating. Amy juga membantunya menghubungi penjaga kunci bungalo agar Aleep bisa dibantu masuk dan memeriksa kamar. Aleep panik tasnya hilang bukan tanpa alasan, itu karena di dalamnya ada kartu absen digital yang diperlukannya untuk bisa masuk kerja esoknya. Ikut cemas menunggu kabar, dan ternyata betul sekali tasnya ditemukan tertinggal di bungalo.
Noise Cave malam itu juga tidak sepi karena ada beberapa kawan lain yang datang untuk nongkrong bersama, dan baru bubar ketika menjelang tengah malam. Azri menginap di Noise Cave malam itu, agar tidak repot bolak balik untuk mengantarkan kami ke terminal bis esok paginya. Setelah obrolan yang membahas dari soal hal kultural Kuantan sampai sosial politik, dan sesi menghela asap yang bikin batuk, baru para penjaga terakhir Noise Cave tidur termasuk saya. Cukup melelahkan juga hari itu, dan pagi nanti jadwal bis menunggu, setelah membentang matras, tak banyak ini itu saya langsung bablas tidur.
Senin, 24 November 2025, bangun pagi di awal pekan yang terasa lamban di Kuantan. Bis berangkat jam sembilan berarti saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi mesti di terminal sekitar jam delapan. Kami semua mempersiapkan diri, dan membereskan barang-barang bawaan. Azri juga sudah bangun dan bersama Asrul membantu memuat barang ke dalam mobil, Asrul juga akan membawa mobilnya untuk mengantarkan kami ke Terminal Sentral Kuantan. Jam tujuh kurang kami mulai bergerak tapi sebelumnya untuk menunaikan misi makan Nasi Kerabu, menu sarapan khas Kuantan. Selalu kelewatan karena selalu bangun kesiangan, dan pagi itu adalah saatnya untuk unlocking nasi kerabu. Tapi agar tidak kelewatan bis, kami mencari yang dekat saja, dan makanan khas daerah mau makan dimana saja asal di tempat asalnya pasti enak. Tapi saking dekatnya ternyata dekat sekali dengan Noise Cave. Nasi kerabu sendiri adalah nasi gurih berwarna biru karena dimasak dengan rebusan bunga telang, dan disajikan dengan serundeng, sayur, dan lauk tambahan serta kerupuk. Setelah rasa penasaran terpuaskan dengan sarapan yang enak dan mengenyangkan, kami lanjut bergerak menuju terminal bis.
Di Terminal Sentral Kuantan tak disangka ternyata ada Amy yang hendak ke Kuala Lumpur karena dia bekerja di sana. Akhirnya kami nongkrong sejenak sambil merokok di parkiran sembari menunggu Amy masuk gedung terminal untuk naik bis. Amy naik bis jam delapan, sementara bis yang kami tumpangi ke Penang baru akan berangkat satu jam lagi. Setelah Amy berangkat, kami masuk ke dalam ditemani oleh Asrul dan Azri. Bis masih sesuai jadwal, dan panggilan masuk area keberangkatan pun belum diumumkan, masih sempat mengobrol dengan Asrul dan Azri. Berterima kasih atas semua bantuan dan kebaikan, dan pastinya semoga tidak merasa direpotkan dengan kehadiran rombongan tur Critical Issues. Saya pribadi tak menyukai momen perpisahan karena pastinya akan sangat emosional, tapi bagi saya, saya merasa Kuantan seperti rumah kedua dengan persahabatan yang kami temukan di sana. Pengeras suara mengumumkan panggilan masuk ke ruang tunggu, dan setelah pelukan perpisahan terakhir, saya, Ken, Måm, Mär, dan Dewi pun masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Terima kasih Kuantan, kenangan takkan lekang tapi kami harus berangkat ke Penang.




























































