X

10 Anime untuk Meningkatkan Semangat Ngeband

by Abyan Nabilio / 2 years ago / 925 Views / 0 Comments /

Anime punya pesona tersendiri yang bisa membuat penontonnya ingin melakukan apa yang pemeran utama di dalamnya lakukan. Jika Anda merupakan pecinta anime sejak dini di masa 2000-an, kemungkinan besar Anda punya koleksi Tamiya, Beyblade, atau Crush Gear. Anda juga mungkin sempat ikut sekolah sepak bola (SSB) setelah mengagumi kehebatan kapten kita semua, Tsubasa Ozora, biarpun entah berapa lama bisa istikamah jadi atlet bola sekolah karena ada masa di mana semua anak laki-laki ingin jadi pemain bola.

Karena itu, Consumed ingin memberikan rekomendasi anime soal band-bandan untuk jaga-jaga siapa tahu pembaca kami adalah anak-anak band yang semangat ngebandnya sedang lesu karena sibuk bekerja, persaingan band yang ketat, atau tidak kunjung dipanggil ke festival padahal akhir tahun ini festival musik bejibun di mana-mana.

Ini lah sepuluh anime yang dapat ditonton untuk menaikan semangat ngeband Anda, atau setidaknya membuat Anda ingin kembali memegang alat musik.

Beck

Biarpun namanya sama, namun anime ini nampaknya tak punya hubungan dengan Beck David Hansen.  Akan tetapi, tidak mungkin bicara korelasi antara anime dan band tanpa menyebut judul satu ini. Koyuki, sang protagonis, adalah orang yang akan menjawab “Iya” jika ditanya, “Suka Tele juga, A?”

Beck dipenuhi dengan lagu-lagu yang agak jauh dari musik-musik yang biasa mengiri animasi Jepang. Kebanyakan lagu yang dibawakan Koyuki dkk. senada dengan rok-rok alternatif 2000-an, ditambah sedikit nuansa Red Hot Chili Peppers dan Rage Against the Machine jika sang vokalis utama, Chiba, sedang ikut manggung.

Anime ini juga berisi drama-drama yang mungkin dialami anak band di dunia nyata, seperti kerja sampingan menjadi kuli proyek atau membantu usaha keluarga dan lulus dari sekolah tanpa ijazah.

K-On!

Jika dibanding dengan yang sebelumnya, tentu serial ini lebih tepat disebut moe. Kenapa? Karena lebih banyak adegan makan kue dan minum teh dibanding band-bandan.

Kalau dilihat sebagai anime soal band, K-On! memang terlalu menye-menye. Namun kalau memandang anime ini sebagai hakikatnya yang sebenarnya, serial ini cukup gagah untuk ukuran moe. Les Paul yang digunakan Yui dan Mustang yang digunakan Azu-nyan digambar cukup detail dan tidak semua anak band mampu membeli kedua gitar tersebut. Jika gadis-gadis menggemaskan ini saja bisa bikin band, kenapa Anda tidak?

Detroit Metal City

Judul ini mungkin menjadi yang paling komedi dibanding semua judul di daftar ini. Menceritakan tentang pecinta pop Swedia dan Shibuya-kei culun, Soichi Negishi, yang terjebak dalam persona Johannes Krauser II, anime ini akan cocok dengan kalian yang punya aksi panggung garang namun kalem di dunia nyata.

Di bawah moniker Krauser II, Negishi merupakan pentolan beringas dari band death metal, Detroit Metal City (DMC). Dengan band tersebut, ia membawakan lagu-lagu keras dengan lirik yang kelewat cabul yang aksi panggungnya bahkan serupa Rammstein lengkap dengan budak yang siap disodomi, bersebrangan dengan musik yang sebenarnya ingin ia mainkan. Ketenaran DMC selalu membayang-bayangi niat Negishi untuk memulai karier pop yang penuh kedamaian.

Your Lie in April

Yang satu ini bukan soal band-bandan tapi setidaknya ada alat musik yang dimainkan di dalamnya. Anime ini menceritakan tentang pianis cilik bertalenta yang bahkan mendapatkan julukan manusia metronom, Kosei Arima, yang berhenti bermain piano karena trauma masa lalu. Ia menemukan kembali semangat bermusiknya setelah bertemu penggesek biola eksentrik, Kaori Miyazono.

Perjalanan bermusik Kosei dan Kaori dalam 22 episode Your Lie in April akan menaikkan minat penontonnya untuk bermain piano atau biola, sembari membuat lelaki dewasa menangis di ujung episode terakhir dengan pelintiran alur yang tragis namun manis.

Anonymous Noise

Jika disimpulkan, Anonymous Noise merupakan kisah cinta segitiga, antara teman kecil, Nino, Yuzu, dan Momo, tipikal anime shoujo kebanyakan. Namun, unsur band-bandan di dalamnya membuat serial ini jadi lebih menarik.

Nino, sang karakter perempuan utama, merupakan vokalis sekaligus gitaris dari band bermasker, In No Hurry to Shout. Ia sering kali menggila di atas panggung, membuat rekan-rekan satu bandnya harus menyesuaikan tempo dengan Nino yang kadang bernyanyi tak terkendali dengan suaranya yang semi-semi berteriakn dan kadang keluar nada, sedikit menimbulkan ironi dengan nama band yang dipilih.

Given

Given menceritakan tentang perjalanan sebuah band dan kisah asmara antarpersonelnya, Mafuyu Satō, Ritsuka Uenoyama, Haruki Nakayama, dan Akihiko Kaji. Kisahnya berkutat pelepasan trauma masa lalu dan perjalanan menuju hubungan yang lebih dewasa. Dan ya, keempat personelnya adalah laki-laki.

Anime ini masuk dalam golongan yaoi atau BL (boys’ love). Namun, nampaknya Given tidak seprogresif serial-serial masa kini dengan pesan yang ke-Netflix-Netflixan. Yaoi biasanya ditulis oleh perempuan dan ditujukkan untuk pasar perempuan. Bokep lesbian juga lebih banyak ditonton laki-laki, bukan?

Nana

Ini adalah kisah dua orang bernama Nana, Nana Osaki dan Nana Komatsu, yang dipertemukan oleh takdir dan menjalani hidup bersama dalam sebuah apartemen di Tokyo. Akan tetapi, mereka bukanlah pasangan kekasih. Nana menceritakan tentang kedua karakter yang punya kepribadian berbeda menjalani hidup baru di kota besar setelah menginjak usia 20 tahun.

Nana Osaki datang ke Tokyo untuk menjalani karier bermusiknya sebagai pentolan dari Black Stones, sedangkan Nana Komatsu ingin mengejar pacarnya yang lebih dulu datang ke kota tersebut. Sebagai anime shoujo, serial ini penuh dengan drama dewasa muda yang mungkin terjadi di lingkungan band-bandan, seperti gonta-ganti pasangan atau hamil di luar nikah.

Carole & Tuesday

Carole & Tuesday merupakan karya terbaru Shinichiro Watanabe, yang sebelumnya terkenal dengan Cowboy Bebop dan Samurai Champloo. Kombinasi antara musik dan animasi yang eksentrik merupakan ciri khas Watanabe, karena itu saat ia membuat anime soal musisi, hasilnya tidak perlu diragukan lagi.

Carole merupakan kibordis jalanan yang selalu dipecat dari pekerjaan sampingannya, sedangkan Tuesday merupakan anak orang kaya yang kabur dari rumah dengan bekal gitar Gibson akustik. Keduanya bertemu secara tidak sengaja dan akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah duo. Biarpun berlatar di masa depan yang terletak di Mars, perjuangan bermusik mereka lumayan relevan dengan kehidupan musikus-musikus masa kini. Mereka merupakan musisi organik dengan saingan para musisi yang produsernya memanfaatkan AI yang membaca algoritma pendengar untuk menciptakan lagu yang sudah pasti laku. Selain itu, pengaruh media sosial juga dibahas di sana.

Layaknya beberapa episode Cowboy Bebop, tiap episode Carole & Tuesday diberi judul tembang-tembang hit pada masanya, sepeti “Immgrant Song”,  “God Only Knows”, dan “Only Love Can Break Your Heart”. Komedi khas Watanabe juga bisa ditemukan di sana, bayangkan ada kuartet transgender yang menyanyikan lagu dengan harmonisasi suara khas grup berujung Sisters “50-an namun dengan lirik yang super ngawur dan tak mungkin lulus sensor siaran radio.

Kids on the Slope

Satu lagi hasil karya Shinichiro Watanabe dan sepertinya satu-satunya karya Watanabe yang diangkat dari manga.  Kids on the Slope akan bisa dinikmati oleh setiap pecinta jaz yang juga suka anime.

Serial ini menceritakan tentang persahabatan dua anak SMA, Kaoru dan Sentaro. Kaoru merupakan pianis klasik yang tertarik mempelajari musik jaz setelah bertemu Sentaro, penggebuk drum dengan lingkungan rumah yang sedari dulu dekat dengan jaz. Beberapa jazz standard dimainkan dalam serial ini. “But Not For Me”, “Lullaby of Birdland”, dan “Moanin’” merupakan beberapa di antaranya.

Kisah pertemanan dan eksplorasi mereka terhadap jaz juga diwarnai ketegangan sosial yang terjadi di Jepang  pada pertengahan “60-an. Sentaro yang merupakan peranakan Amerika kerap mendapat perlakuan diskriminatif karena kondisi pascaperang, sedangkan senior sekaligus peniup terompet, Junichi, terlibat demo pergerakan mahasiswa, Zenkyoto.

Fooly Cooly

Disingkat FLCL, anime ini masuk daftar hanya karena ada bas Rickenbacker 4001 biru di dalamnya, sudah itu saja. Sedikit sekali alat musik dimainkan di FLCL kecuali untuk dijadikan senjata pemukul oleh Haruko Haruhara, karakter sentral perempuan yang merupakan alien ber-Vespa. Sisanya, hanya ada pertarungan robot sci-fi yang keluar dari jidat yang absurdnya kadang tak masuk akal namun menghibur dan menggelitik.

Di samping keanehannya, FLCL berisi lagu pengiring dari The Pillows yang lumayan bisa dinikmati.

Tagged

#k-on #detroit metal city #beck #anime #your lie in april

Leave a Reply