TRACK TALK: Tarrkam – Nekat (EP, 2025)

Nekat main jauh: mengorbit keluar angkasa sampai kental logat betawi, Tarrkam masih doyan (musik) gado-gado dengan wacana meyakinkan yang disebut ‘Space Punk’.
Fantasi space punk Tarrkam mulai mengental ketika sang sinte wizard Denny “Banon” Aulia mengubah formasi mereka menjadi kuintet sejak debut album penuh gemilang namun terbuang, Fresh Grad (La Munai, 2023) dilepas. Bersamaan dengan itu dicantolkan embel-embel egg punk sebagai buntut dari berpendarnya aura teleportasi berupa radiasi ulang-alik menembus hemisfer imajiner absurd bermental dork. Kita memahami aksioma egg punk dengan merujuk pada kreasi anak-anak haram seni murni, para komikus macam Mayatschism, Athonk atau Bronzelani Anti-S. Sn. Kalau menurut kalian mereka terlalu ‘chain punk’—kontra ideologi egg punk—mungkin Rabuns, The Popo atau Ula Zuhra lebih bisa mewakili. Khususnya untuk mencitra betapa kartun hardcore punk Tarrkam mampu mengunyah warna alas tumit kita kala menginjak jakun seekor buser.
Selayaknya animasi adopsi karya-karya Crumb, Mœbius, Gilliam, Trudeau, Haring, Steadman, Roiland & Harmon, Parker & Stone, Pettibon atau Plympton—komponen penting egg punk, selain bermandikan ngiang-ngiung synthesizer juga mengambil unsur komikal yang ngenyek, senapan laser kaum quirky, weirdo, nerdy, beserta segenap pemuda-pemoody anxiety dalam upaya melancar gelisah, melukis ironi humor tai tong-psiko. Daripada mendamprat bengis model Wattie Buchan, anak-anak kikuk ini melucuti ledekan satirikal Monty Python dan menciptakan kosmos berisi lelembut-lelembut kon. . .ny(t)ol.
Bahkan vokalis Rahmad “Ape” Sumantri pun dikenal seekor ilustrator. Ia menggambar, membidani semua kolase klip dan artwork Tarrkam. Tokoh-tokoh bikinannya berartistik ‘cakar ayam’, menunjukkan selera seni gambar yang membuat hidung para kanonik mimisan saking snobnya ilmu teori mereka. Sebaliknya, Ape menggambar dengan bebas secungkring oretan pensil orang-orangan sawah bocah TK, seaneh, seamatir skill animator gadungan lulusan kios percetakan Jalan Waru Rawamangun. Estetika gores kulit Darby Crash, tak perlu proporsi. Hayati MV Kameleon, Ape menyuguh permainan technicolor dari mata acid Tino Sidin, menampilkan suku bunglon yang melotot, sprinter pelintas waktu, monster berantah daya ilusi seekor maniak video game pengudap batang krayon.

Untuk EP Nekat, Ape melangitkan kepalan Tugu Voltus ditampak dari POV permen magic pops. Pasti cita-citanya dulu—mungkin masih sampai kini, ingin jadi Sariban atau Ultraman C. Apa pun itu, afdal sudah aspek visualitas egg punk Tarrkam. Adalah ia dan Banon yang sebenarnya pertama menanamkan embrio saat keduanya membentuk duo Beta Daemon; kembali ke kalender sakit 2020 dan mereka sempat menelurkan tiga single yang mencetak tatanan proto dari empat lagu rilisan extended play ini.
‘Do you ever feel sickened by a madness of the world?’
Yup. Hidup jelas sudah gila. 3 + 3 = 333. Cucuk di hidung. Politikus pasti tukang ngibul. Seks menjerumuskan. Hujan menyembur mayat. Sawit menetap bencana bagi dunia kita yang dikuasai edeb & germo. Siapa yang tidak pernah merasa mual menyaksikan semua kejijikkan itu berarti dialah jagalnya.
Sumbu pertanyaan yang coba disundut barusan dipenggal dari gubahan lirik Ape buat lagu PSBB, dari maxi-single pandemi milik Beta Daemon. Ia ber-spoken word meniru begawan selokan kita, Adipati Kuda. . . musiknya melacur ke mana-mana: dub-synth-wave bercampur insul AstraZeneca, mengambil pengaruh post punk Magazine, gitar-bergitar marquee moon, menampilkan catchy line Debby Harry yang centil sekaligus muram. Tetapi sejujurnya bukan lagu itu yang dimaksudkan, melainkan Resonansi Sinar Gama jika kita ingin melacak darimana datangnya sihir aural dimensional one-way ticket to pluto, “SpacePunk”, sebuah lagu yang akan menentukan arah musikal Tarrkam ke depannya.
Sihir aural tersebut tentu berasal dari pancaran radiasi sinte sang wizard. Imajikan Gary Numan tengah keranjingan doping meth, melek seminggu lalu terobsesi eksperimen kanibal suara Nintendo 64 dengan Minimoog murah hunting di pasar bekas. Dia ingin jemarinya berselancar di atas tuts-tuts yang bergelombang seperti alarm keberangkatan sebuah stasiun intergalaksi. Hasilnya bunyi komputasi intro “SpacePunk” sanggup mengubah bentuk kita menjadi makhluk 64 bit, terjebak di sebuah ekspedisi distopik menghirup serpihan debris liukan trompet bintang tamu Kuntari.
‘Egg punk: codename DK.
Dead Kennedys – Alternative Tentacles. Californian punx.
Geza X, weird punk, sonic reducer.
Kamen Rider KW Super. Surf Mummies. 100 juta tenaga kuda.
Devo-lution Abad 21.’
Orbit Tarrkam melesat cepat, mempertahankan akar satelit raw power. Level agresi yang membuat mereka akan selalu terdengar lo-fi mau secanggih apa pun instrumen bawaan Banon. Karena pada dasarnya kelas Tarrkam tetaplah sebuah unit punk ‘antar-kampung’, simple saja. Kokpit antariksa mereka bau tumpahan Intisari. Namun prima digempur otot lincah tulang kerbau gebukan steroid D.H. Peligro pada setiap tabuhan kuli Bagas “Encek” Wisnu, seekor budak drum dengan jangkauan versatile melampaui standar waras. Sampai-sampai ia khusus dibikinkan festival pribadi, menampilkan dirinya bermain nonstop di semua band yang pernah diperkuatnya—dan yang mengagumkan sebagian besarnya aktif hari ini dalam waktu bersamaan—dari crossover thrash, post metal, Boston hardcore, hc punk, melodic punk, experimental, hip hop, indie pop hingga modern rock medioker ‘gak genah.
Kemampuan menggoda-gado beragam jenis musik memudahkan Encek melakukan pelayanan groove tanpa keluh yang dibutuhkan setiap cukilan ranjau Stefanus “Epan” Yonathan, jenius gitar anti lampu sorot. Lewat kunci ganjil yang tak teridentifikasi dan serba rupa kejahilan prog, pelintiran jenaka, eksplosi autis Epan-lah dimensi komikal Tarrkam mencapai tingkat ekstraterestrial yang menjadikan mereka band punk antik planet gabir, bukan konsumsi Kingkong Festival. Tarrkam terlalu twisted, sedangkan kalian cukup gampang dipuaskan—tipikalis, uh?—dan agaknya sulit untuk memahami alasan stoa kenapa terdapat 24 jam dalam sehari dan juga 24 botol dalam satu krat bir, apakah itu sebuah kebetulan?
Beberapa lagu album Fresh Grad membuktikan perilaku menyimpang Epan untuk urusan memilin kord gitar; sebut saja chainsmoker, siaran eksplisit, guru alip, produk-produk mutakhir, ohayo ipin, ia benar-benar memperlakukan lagu-lagunya seperti tengah mengerjakan bootleg film-film skor Adult Swim.
Sodorkan nama-nama berikut: Keith Levene, Greg Ginn, East Bay Ray, Dr. Know, D. Boon, Frank Zappa, Rowland Howard, masing-masing telah diblender, termasuk melahap acak classic punk disonan macam Saccharine Trust, The Fall, Fire Engines, Wire atau Flipper. Memberikan Tarrkam stimulasi keotik, energi kisruh pogo rikuh. Yah. . . memangnya mau bagaimana lagi sensor tubuh kita berkutik merespons instruksi plonco dari barak penangkaran anak-anak sundal di lagu “Tentara”?
“Sikap sempurna! Jalan jongkok, grak!”
“Siap, laksanakan! Mohon izin, kapten, boleh saya berak dulu?!!”
“Brengsek kau anak beruk! Persis ibu kau! Push-up 100 kali!”
Begitu snare marching merentet, menatar jalannya apel terik menghormat sang saka dalam iringan mars sinte Banon dan biduan jenderal kancil Rahmad Sumantri memeriksa garis embarkasi pasukan, niscaya kita pun tak kuasa menuruti perintahnya. Jalan di tempat selayaknya prajurit tolol komedi Warkop – berbaris di satu arah menghadap kiri dan kanan; ini trek ngenyek batalyon cengengesan, loreng-loreng tonggos si Boneng ODGJ keparat. Sebuah parodi berlakon ‘kodok ijo’. Sedikit mengingatkan pada adegan salvo Unknown Soldier-nya The Doors, dengan mengompas ‘30 botol bir Sersan Tukiman’-nya Remy Sylado, Ape memberanikan diri mengemas tipis-tipis vokalnya berlogat ngapak betokaw; anak punk kena pentung tamtama, minta ampun dia kapok menjerit rengekan jempol blues Benyamin Sueb yang kejepit pintu.
Gambang Kromong Über Alles.
Sebuah preseden berlian. Semisal Ape sudah merasa mentok, bosan mencondong ke Barat—ke Jello Biafra, Dick Manitoba, Ron Reyes dan kawan-kawan dia lagi-dia lagi, mungkin kelak tiba baiknya ia mengarahkan lagak personanya mengimbuh kepada Benyamin Sueb. Kenapa tidak? lelucon ‘kodok ijo’ yang dilontarkan di lagu “Tentara” adalah secercah bakat lenong yang terpendam, dan sesungguhnya Ape telah menitiskan se-jigo dua jigo aksen semur jengkolnye cablak. Toh, lagian ada Banon. Sihir sintetisnya pasti mampu menghasilkan langgam salendro cap Mothersbaugh sehingga membuat sound amok Epan, groove badak Encek, maupun Haryo “Oyob” Widi yang garis bassnya selalu bergulung nasal tidak kagok mengaransemen lagunya tetap berdetak seberangas wild punk in the streets. Kalau perlu kontraskan sekalian, ajak Rebecca Theodora jadi Ida Royani-nye si Ape Sueb.
Tentang band-band egg punk yang berutang baptis kepada Devo. Dalam konstelasi bunglon Tarrkam, dengan bekal fluiditas tak terelakkan mereka coba beranjak dari sekadar meraba bayang samar sebuah subgenre punk baru yang muncul setelah disimpulkan lewat meme dan forum wacana scenester internet menuju soliditas space punk. Bukan saja sebagai judul lagu semata, tetapi paten pengentalan warna musik Tarrkam. Ape sempat menyebut sebuah band Inggris bernama Henge—kuartet pseudonym yang menyilangkan electro funk, acid rock, dan synthwave, gaya khas yang dijuluki sepihak dengan ‘cosmic dross’. Jikalau Hawkwind atau Ash Ra Tempel dan Ecstatic Vision sah digolongkan space rock, lalu pasal apa yang membuat space punk mustahil dieksiskan selaku sebuah subgenre? Tarrkam akan ditasbih menjadi perintis awalnya, setidaknya di Indonesia.
Ngakak. Tetapi mending buang omong kosong perlombaan pionir macam begitu. Terlalu menyeriusinya berdampak menurunkan derajat kita sefeodal debat senioritas Berry Septic versus kelancangan netizen bau kencur perkara siapa dulu-duluan sosok hardcore di blantika underground kita. Ngakak (lagi). Tetapi apa ya kira-kira lontaran khotbah Berry bila ditanya soal wacana space punk? Semoga angin beliung membawa artikel ini ke hadapannya dan dengan segala hormat suhu mohon beri kami pencerahan—‘ajarkan pelurumu menembus kepalaku.’
Space punk bagi Tarrkam merupakan pengerucutan elemen egg punk yang penuh sound polifonik, bertema rural fiksi-sains konduktor tarian jemari sinte Banon, temperatur asing mencolok sequencer bercangkang electro punk yang liar mbalelo unsur pop pada tuts organ synthesizer. Inti dari space punk adalah mainkan synth dengan nyeleneh atau hapus sama sekali. Risikonya, mau tidak mau mereka akan terdengar otentik karena belum ada satu pun band pendahulu yang sejati mempraktikan. Paling The B-52s ilham terdekatnya atau Sigue-Sigue Sputnik atau The Upstairs sebagai basis new wave, bisa juga menilik dari produk-produk cyberpunk kayak film Blade Runner atau anime macam Akira dan Cowboy Bebop.
Di lagu “Demi Keluarga”, meski liriknya tidak bicara hal kosmik, namun nuansa janggal yang merebak semenjak Banon menekan not pertama dan teka-teki gitar surf punk Epan mengiringi melodi vokal Ape yang kedengaran seperti sedang mengeja tumpukan kalimat mewujudkan manifesto space punk termaksud. Plus-minus kehadiran Doddy Hamson kita anggap saja sebagai pelengkap untuk mengisi bagian interlude gaya Sabbathian yang telanjur mengalir parau seolah tengah memartil palu godam. Bibir jontor. Jidat benjol. Gigi berjarang. Dagu sobek. Sakit mental. Ape berhasil sembuh dari fase nirnur masuk rehab—kini sudah setahun sober—dengan Nekat, ia menahkodai Tarrkam bangkit menantang zaman yang dua tahun terakhir ini mereka hiatuskan.
‘Stop bacot, ngentot!’ umpat Ape di lagu “CCTV”, mengadu kecepatan jemari Banon, kerikil noise Epan dengan pemakian agung kepada ekor-ekor pendekar intelek Twitter. Doi si SJW sok bermoral, buzzer berdengkul kopong, politisi berlidah tikus, selebriti pelacur bertuhan endorsement, komika berkedok wacana proksi, tukang pamer, tukang julid, tukang curhat murahan pengidap narsistik disorder, diem elo semua, ngentot! Fiuh! Bahagia rasanya mendengar Ape berteriak seelok itu—ia merasa dipenjara society, oleh media sosial sarang monyet berisik nomor wahid.
Kegilaan dunia tidak akan pernah sembuh, sudahkah Anda marah hari ini?
Dengan Fresh Grad dan Nekat yang futuristik, sudah sepantasnya Tarrkam dibikinkan serial kartun mereka sendiri—coba tolong Kolibri Records difasilitasi. Sebab kelangkaan spesies macam begini wajib diadaptasikan supaya dapat tetap hidup dan berkembang biak selamanya.