TRACK TALK: Kelelawar Malam – Kesurupan (Grieve Records, 2026)

Kesurupan bukan sekedar tajuk, tapi merujuk pada evolusi album barunya. Entah kesambet atau justru terilhami, sila pendengar yang simpulkan.
Hampir satu dekade pasca Jalan Gelap (2017), sebuah album bagi para budak-budak siap kena pecut dari majikan horror metal punk, Kelelawar Malam, akhirnya turun dari langit. Seperti disambar kilat. Eksploratif di sini adalah satu diksi yang patut digarisbawahi. Beri ia cetak tebal. Beri cawan lalu menyulang dengan sompral. Entah hal baru atau bukan. Namun, jika bicara spesifik jenis musik ini, punk, tentu eksperimen mendalam pada komposisi vokal terasa terlalu teknis. Baiklah. Untuk Danzig mungkin tak serepot itu.
Riff kiamat membuka gerbang astral menuju sarang iblis, “Misteri” terasa seperti psychobilly murahan film seram kelas B. Layaknya The Cramps yang melebur carut marut bersama dengan segala tontonan horror lokal dari Sundel Bolong (1981) hingga Bayi Ajaib (1982). Pengabdi Setan (1980) ke Ratu Ilmu Hitam (1981). Hampir semua ketakutan tersebut sudah pernah mereka angkat jadi tema lagu. Kini Kelelawar malam mengangkat segala sesuatu yang bisa dibilang lebih general.
Dengan eksperimen dan eksplorasi yang dibahas di paragraf awal. Sosok Tanya Ditaputri (eks-FLEUR!) dapat mandat sebagai produser vokal untuk album ini. Di sini lahir lah segala hal-hal serta suasana beraroma “lokal”, terutama vokal. Kelelawar Malam sudah melakukan hal ini, namun semakin mempertegasnya dari pola hingga pemilihan nada yang semakin diluar bayangan. Tanya Ditaputri kini tergabung dalam duo Rattles bersama salah satu rekan bandnya terdahulu.
Silahkan simak semua trek kecuali trek pembuka. Di album ini saya melakukan survei ngawur kepada beberapa kawan. Semakin bertanya semakin liar jawaban yang didapat.Baiklah kita mulai dari “Kesurupan”, unsur ngeri malah muncul dari suasana musik punk rock ala Social Distortion. Setidaknya tunggu sampai chorus melolong dengan langgam Mike Ness dan Iwan Fals. Hah! Kejauhan! Ada yang bilang jika dengar album ini membuatnya merasa tak perlu pikir jauh soal siapa grup mancanegara yang selaras dalam nuansa musik.
Bajingan! Saya sepakat dan yakin ini semua karena Sayiba Von Mencekam bersenandung seperti kebanyakan grup lokal. Oke. Lupakan sedikit soal Iwan Fals kesetanan Danzig, saya selalu ingat itu jika bicara tentang gerombolan horror metal punk ini. Beberapa nama yang terlintas di beberapa benak yaitu Superman Is Dead, sampai yang paling gila ada yang menyebut Shaggydog. Tak bisa disangkal. Segumpal daging bernyawa yang ingin disebutnya (eks-)street punk. Ya, pakai “eks”. Dengan penuh kewarasan ia menyebut Marjinal.
‘Murka sang setan
Bagaikan macan
Merasuk dalam
Tubuh si Fulan’ — ”Kesurupan”
Satu hal yang saya tangkap dari vokal Von Mencekam, benang merah dan identitasnya seperti…baiklah, buat sederhana. Rahang kaku ini terlalu mengganggu untuk ngoceh panjang. Ia seperti orang yang tidak sedang ketakutan, melainkan sudah terlalu lama hidup bersama sesuatu yang menakutkan. Mengerti sampai sini? Mari lanjutkan. Interlude yang muncul setelah Iwan Fals muda disurupi Mike Ness nyanyi “Story of My Life”, bawa hawa dingin seperti bau menyan samar di ruang terang. Ya, masih sopan. Sopan di sini berkonotasi negatif karena supaya kalian tahu ada sesuatu yang bergerak di ujung mata. Mengintip dari balik pintu setengah tertutup.
Jika diamati lebih jauh benih-benih ini sudah terasa di album Jalan Gelap, khususnya pada repertoar “Desmodus Rotundus”. Bedanya, tema yang dibahas di album lebih general. Kematian dirangkul secara terbuka dan romantis seperti di nomor bertitel “Cahaya” dan “Kosong”. Yang satu merupakan kepasrahan, satunya lagi merupakan putus asa yang penuh harapan. Dua nomor penting yang jadi favorit saya.
Isian gitar Al-Maut tak kalah sangar (jika jamet memiliki makna negatif). Ah, taik lah! Kunyah itu menyan di pertunjukan kuda lumping. Minum air jampinya! Ya. Jamet totok. Satu yang perlu diakui; ia adalah virtuoso pahlawan gitar dan sialnya tak masuk radar hari ini. Dengan kejametannya tentu. Kita tahu riff-riff maut yang muncul dari permainan mendiang Eben dan Chainsaw Rick, tapi ada hal lain di sini. Al-Maut ibarat virtuoso yang terlalu blues saat main heavy metal, lalu terlalu metal untuk punk rock tiga kunci. Hendrix. Iron Maiden. Misfits. Ramones.
Sempat menyaksikan Kelelawar Malam hanya main beberapa lagu lebih dari setengah dekade silam di Spasial karena Al-Maut terlalu teler hingga joprak dan yang lain mengaku tak mampu memainkan lagu mereka sendiri tanpa sosoknya. Rasa percaya pada hal tersebut pun tumbuh ketika lihat satu bajingan blues mentok kanan jago gitar merasa kewalahan mengulik isian-isian gitar di album Jalan Gelap.
‘Dan terkutuklah buah hatiku
Kamu munkarkan aku tanpa kau ragu
Terucapkan lah kata dan kau membatu
Teruslah begitu sepanjang waktu…’ — “Khundang”
Ngomong-ngomong soal Ramones yang tiba-tiba merasuk di nomor cerita rakyat “Khundang” pada bagian chorus. Kisah Malin si durhaka. Trek ini punya sihir pelet dan bikin rela jadi pelayan kegelapan. Melempar ingatan ke salah satu repertoar terbaik yang pernah diciptakan Ramones di periode nafas-nafas terakhirnya. Bukan “I Wanna Be Sedated” atau juga “KKK Took My Baby Away”. Ya, jawabannya adalah “Poison Heart” dari album Mondo Bizzaro (1992).
Dua single yang sudah dilempar sebelumnya, “Budak Kelelawar” dan “Harut Marut” barang tentu jadi jagoan instan klasik. Mereka sudah khatam jati diri sendiri. Nomor penutup, “Tulang Belulang”, disusupi spoken words petuah semi dakwah Jeffry Waworuntu saat main peran sebagai Kyai Ahmad Pramuja. Tepat setelahnya, isian gitar jamet rock ala Slash di beberapa katalog Guns ‘n’ Roses menyayat batin. Sial. Komposisi di album ini membuat agak berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya yaitu absen kegelapan ala Darkthrone era crust punk heavy metal ortodoks (khususnya The Cult Is Alive dan F.O.A.D.) dan lagi-lagi yang paling mudah dilihat dari departemen vokal.
Tak ada lagi shout out menggeram sambil pasang pose meremas testikel di udara. Semua jadi harmonisasi paduan suara ordo vampir di kastil pengap nan gelap. Jika berharap seperti diskografi mereka terdahulu sepertinya patut kecewa. Jika ingin hal baru yang tak ada salahnya untuk disimak? Sila bakar menyan, redupkan lampu. JANGAN GELAP TOTAL. Putar Kesurupan sampai ada wahyu untuk tobat atau semakin masuk lingkar setan penuh jerat.
‘Wahai maut, penuhi dengan suara yang tak akan terlupakan,
sampai nanti kami menjadi tulang-belulang…’ — “Tulang Belulang”
