X

TRACK TALK: Avhath – Avhath (self-released, 2026)

by Dimas Dritt / 2 days ago / 20 Views / 0 Comments /

Empat belas tahun sudah Avhath mematangkan album, untungnya tak mengecewakan, ia hadir secara destruktif dan desperatif– manifestasi sepadan eksistensi mereka.


Empat belas tahun untuk menempa zirah tahan banting untuk terus tancap demi perjalanan menuju lubang pekat di depan yang entah ada apa di dalamnya adalah ekplorasi telanjang panjang nian. Hanya kabut dan sarang galagasi bertoksin maut di mulut gua di bibir pantai. Sebuah isra dari seonggok daging punya nyawa. Bugil bukan berarti tak punya identitas. Dirinya sempat tak mau membuat senjata paten bernama album. Pada akhirnya, setelah hampir satu setengah dekade, ia butuh untuk menyapu bersih rasa gusar hingga lesap.

Mungkin sudah waktunya. Avhath melakukan ini. Prajurit telanjang loncos bangun dengan DNA yang sudah mengalir dalam darah hitam dan masih perlu zirah baru untuk memolesnya jadi solid dan makin tangguh. Eksplorasi manunggal itu jadi kumpulan baju besi tadi. “Genesis.” didapuk menjadi pembuka. Instrumentalia hampa yang punya nyawa. Terkadang orang-orang salah paham soal arti hampa.

Mereka memandang sebagai ruangan kosong yang beradab, lemari tanpa isi, langit malam yang tidak peduli siapa yang masih terjaga. Padahal, jika kalian pernah duduk sendirian jam tiga pagi lewat lima belas menit dengan kepala penuh sisa residu apa yang terjadi di hari itu, kebingungan yang mengikat erat di otak bagian depan. Kemudian disokong amigdala dan telinga mulai berdenging, maka disitulah kekosongan tidak pernah berada di pihak netral dan punya makna.

Sampai akhirnya berdesing hujaman nada minor “Manic Vision” merangsek dengan aba-aba ketukan drum janggal. Lantas tremolo picking sayat nadi masuk merenggut kosong tadi. Atmosferik. Ini zirah yang akhirnya dikenakan dengan ambience penggilas rasa waras tandas di bagian tengah, lengkap dengan riffing old school death metal totok. Menghunus tajam hingga si prajurit tadi tergopoh-gopoh di intro “Cynic”.

Pelindung kakinya menghentak tanah. Stomping menuju maut mengorbankan diri pada sarang parasit iblis jelmaan Cthulhu. Tiga menit kurang tiga detik yang mampu membalut blackened crust hingga psikedelia pusaran air jadi jembatan tanpa aba-aba death metal old school menghantam dari dasarnya. Berat, kasar, busuk. Seperti hujaman besi di baju zirah lalu tepat mendarat di tulang rusuk. Akhirnya? Semaput tak sadarkan diri.

Artwork untuk album metal adalah hal krusial dan pantang untuk tidak diberi lampu sorot. Foto “Let There Be Red” karya Yogi Kusuma, sebuah lampu gantung merah darah menyerupai sosok mahluk yang sudah disebut di atas. Terkesan jahat dan misterius hingga akhirnya mampu menumbuhkan interpretasi dan tentunya akan berbeda di tiap pasang mata yang melihatnya. Hanya dua kata, apik dan representatif.

“Constant Departure” mengganggu (dalam artian positif) tanpa perlu kebut dan ugal, mirip keheningan yang mengepul pelan, tanpa lekuk, tanpa arah, seperti asap kelabu yang menolak pergi dan menolak diam. Sebuah kepergian yang tidak pernah sampai. Tak ada ledakan, hanya ketegangan yang meregang di tulang belakang. Sialan, ini adalah kesendirian pahit yang diulang-ulang sampai kehilangan makna, seperti bruksisme saat ansietas melanda.

Ada kenikmatan kecil yang kejam.

Terasa eksperimental memang. Dan Avhath tak sekali dua kali melakukan ini sebelumnya. Saya coba taruh perhatian pada trek selanjutnya, “Recurrence”, disini kekosongan itu mulai merayap lagi dari ujung kaki. Si prajurit dengan zirah barunya itu kena tipu daya. Parasit sebenarnya ialah baju besi yang sedang ia pakai. Sinkronisasi semua instrumen yang setengahnya didominasi overdriven bass dan permainan drum sederhana namun kompleks. Gitar pun dibuat beberapa layer sebagai penopang betapa mematikannya si benalu ini. Ada teriakan. Ada bisikan…

Dia menumpang. Mula-mula cuma satu pelat dingin di sela rusuk. Satu sel yang membelah diri secara diam-diam saat tubuh sibuk tidur pulas. Lalu besi menjalar ke tulang. Paru. Pusat saraf. Menjadikan daging cuma bagian dari pupuk untuk sebuah logam. Logam hitam tanpa jiwa, hanya dingin yang pelan-pelan menggerogoti dari dalam, seperti musim dingin yang memutuskan tinggal di dadamu dan menolak mati. Layaknya seorang pesimis pada umumnya, kalian tak melawan dan tak memujanya.

Sialnya, besi itu dari luar terlihat seperti sesuatu yang memiliki kekuatan besar. Dan itulah adiksi. Kecanduan. Dosis pertama terasa seperti zirah yang hangat dan pas, sentuhan yang bilang; “Tenang saja, kamu aman”. Dosis kesepuluh, dia sudah menjalar ke semua tempat yang dulu kalian sebut; Aku. Tubuh rehat jadi rumah dan dan akhirnya menyerah jadi inang.

Di bagian selanjutnya saat semua instrumen menggempur, kalian tahu ada sesuatu sedang pesta makan-makan di dalam. Kunyahan dari rahangnya sangat terasa, tapi setiap kali mencoba menanggalkan besi itu, yang ikut copot malahan dagingmu sendiri. Terpaksa harus pakai terus sampai mampus. Bukan karena nikmat, tapi karena tidak ada lagi bagian dari diri yang bisa dipisahkan darinya. Tragis tapi indah. Tapi tragis. Mengenaskan.

Bangsat… akhirnya lumat lagi riklobacker. Entah ini zirah yang ke berapa. Dua setengah? Tiga? Peduli setan! Trek selanjutnya menghenyak. Jagoan saya di album ini, “Clawed Skins”, mari gamblang tanpa sehelai benang pun tersisa. Dibuka oleh beat yang mengingatkan pada “Total Funeral” milik Watain. Punk-ish. Agresi tolak ampun berdurasi singkat. Prajurit itu siuman berdiri tegak menantang. Aransemennya legit dan riff mengoyak secara simultan membuatnya jadi trek solid terjang dan maju serang, biarpun tahu menang tak akan datang.

Pembuktiannya mencuat pada “This Forlorn Being”, degup jantung cepat terbalut sengsara. Tubuhnya kini renta. Mampus kau dikoyak derita! Melodinya mengalun bening, atmosferiknya mengambang seperti asap dupa tanpa aroma, si prajirit malang yang berkutat dengan adiksi itu merangkak kembali ke tempat teduh dengan lutut berdarah dan harga diri yang sudah dijual per-gram. Dikhianati oleh yang makhluk lain setinggi lima kaki. Seonggok daging bernyawa. Atau ini hanya delusi? Entah. Yang sudah elas, daging memang pengkhianat kelas wahid. Mudah lapar. Gampang sakit.Kerap lupa janji. Maka dia pulang kepada yang tak berbentuk, berkilau samar di sudut ruangan, mengitari kepala seperti lalat berpesta di atas bangkai. Melodi itu menjelma jadi itu kilau yang menjalar dari tembok.

Di saat yang sama, kebisingan tak tertahankan menyamar jadi bebunyian syahdu. Senyum busuk entah milik siapa, mungkin milik terapis kejiwaannya atau mungkin milik bayangan pada cermin yang selalu ia tatap nanar setiap malam. Selalu ada bara, dan selalu ada rumah. Lantas rumah itu selalu terasa seperti pelukan, sampai kau sadar yang memelukmu sedang makan. Gemetar, meringkuk, menggigil, tinggal menunggu kapan enyah. Lagu ini tidak menghakimi si pecandu, melainkan mengiringinya masuk lagi ke liang yang sama sambil menyalakan cahaya remang. Melodius dengan atmosfer bengis.

Makhluk itu siapa? Tentu dirinya sendiri. Ya, sosok yang kerap muncul di cermin tadi. Saya suka “amassed” yang didapuk jadi single album ini. Tak banyak basa basi. Avhath meringkas kalut barusan jadi sebuah nomor keji terbalut death metal ortodoks 90-an. Pada akhirnya “Cinereal Gaze” menutup album dengan tempo yang merayap seperti gentayangan setan, seakan besok pagi entah kebangkitan atau kiamat. Tak perlu repot-repot menerka mana yang pasti. Tak perlu pula lah terburu-buru di sini. Setiap ketukan jatuh pelan seperti abu yang turun di lembah setelah api kehabisan alasan untuk padam. Api itu seperti pelayat yang baru jalan tujuh langkah menuju jalan pulang kemudian sudah lupa siapa yang dikubur tadi.

Tatapan kelabu itu milik si prajurit di ujung perjalanannya. Jahitan zirahnya mulai lepas, kata-kata yang dulu terdengar seperti sumpah sumpah serapah cuma jadi bahasa sandi yang tak dipahami siapa pun. Ambisi tenggelam dibentuk ulang menjadi bayangan masa lalu. Dia bersumpah pada ritus dengan lingkaran kosong melompong, bahwa mati dan kekosongan adalah tujuan utamanya. Simpul-simpul menegang. Puja-puji penuh noda dan penglihatan-penglihatan lama dilumat jadi penglihatan hampa.

Empat belas tahun fragmen berakhir dengan pandangan datar ke arah abu-abu. Tak ada yang menang, tak ada yang selamat, hanya besi yang akhirnya cukup lelah untuk berhenti menunggu. Dan kalau benar besok adalah kiamat, Avhath memainkannya seperti orang yang sudah lama bercumbu dengan hal itu. 

Tagged

#avhath album #metal #metal punk #avhath #BLACK METAL