Jangan Biarkan Iblis Itu Menang Atau. . .

Jesse Hughes, vokalis Eagles of Death Metal adalah alasan kenapa rock & roll harus selalu dibicarakan dengan cinta, hasrat seksual dan perilaku bengal.
Sedang dicandu asmara tingkat buta, Jesse Hughes merasa tidak tega meninggalkan istrinya meringkuk sendirian di kamar hotel dengan perut melilit digigiti bakteri akibat sembarangan makan sayur mentah. Sebagai konsekuensinya ia hadir agak mepet di Gimme Shelter, sekitar 30 menit jelang show. Kelihatan ganteng, bersetelan kasual serba hitam jins-dress boots-oblong ketat bertalikan suspender putih yang menempelkan padanya kontras wangi seekor bintang rock parlente. Kumis boleh redneck tapi gestur flamboyannya tak terelakkan, sedikit gemulai ia meng-“humprey bogart”-kan setiap orang yang menyapanya, meladeni beberapa permintaan foto di sepanjang langkah menuju bar guna menemui Madè J, pemilik Gimme Shelter yang telah menunggunya dengan segelas gin tonik. Bukan wiski, bahkan bukan sekedar Bintang pun, yang ia pesan sesampainya di bar adalah kola tanpa campuran apa pun kecuali jeruk nipis dan es batu. Pemandangan yang sejujurnya mencurigakan, atau lebih tololnya mengecewakan. Jesse Hughes tidak minum alkohol sebelum manggung, salah satu kasanova paling foul mouth di muka gurun, dan ia berdiri di pojok sana—akhirnya menyalakan rokoknya, mencoba menyetarakan posisi di antara kerumunan. Mata empat personel The Cramps dari poster klasik era zombie uban Bryan Gregory yang tergantung di seberangnya memberi tatapan dingin, ramah menyambut seekor tamu baru, “Welcome to the Temple, are you dead yet?”, yang diterimanya ringan lewat satu embusan tembakau. Jeda waktu sempit telah habis, rahmati malam seronok rock & roll ketika Jesse Hughes beranjak naik panggung, mengundang hadirnya geliat iblis-iblis seksi kecupkan ciuman berantai ke pinggul-pinggul yang mendamba.
“Fuck Bali Belly!” seru Jesse usai menyelesaikan “Boys Bad News”.
Datang dalam rangka bulan madu, ia memang tidak mengharap banyak dari panggung malam itu. Hitung-hitung bonus hadiah pernikahan dari sohibnya, Madè J, gitaris The Fuck Boys, sebuah band all-stars pengiring rapper Mickey Avalon bareng Gusti Adi Wibawa slapper The Hydrant dan dramer Josh Freese—tobat kalian kalau sampai ‘gak tahu siapa dia—yang beberapa singlenya sempat diproduseri Jesse 2022 silam.
“Bodo amat mau cuma dua orang yang nonton atau 30, 300, 400, I don’t give a shit. Aku suka tampil, aku suka main musik, dan aku belum pernah manggung di sini. Sama kayak orang-orang yang hobi mengoleksi hal-hal bodoh, aku suka mengoleksi pengalaman di tempat-tempat di mana aku pernah manggung, you know what I mean?” akunya.
Bandnya malam itu berformasi kuintet; dua member The Hydrant, gitaris Vincent Saputra dan Gusti Adi Wibawa, dramer Agraless multi-instrumentalis sejuta band macam Devildice, Nevach, Strikes, dan Windu Estianto kibordis Supersoda, Navicula. Dua kali latihan saja cukup bagi musikus kaliber mereka untuk tangkas menguasai 15 nomor repertoar.
“Aku persilakan mereka yang pilih lagu-lagu Eagles of Death Metal, sementara aku menentukan semua cover version,” sebutnya.
Tidak mengherankan bila kemudian set malam itu berakhir sensual, Jesse menutupnya dengan “Careless Whisper” dan mengganti belalai erotis sax dengan melodi gitar fuzz yang berhasil menyetrum biji kelot George Michael, sang pemilik asli lagunya tergelitik keenakan di alam baka. Lainnya ia menggubah-ulang Animals, Ramones, Screamin’ Jay Hawkins, David Bowie. Sementara sepasang iblis cilik saling melumat lidah di tengah crowd, seekor mujer berparas botoks tak kuasa menahan kejalangannya menjambret nakal, tak sudi melepas target binal di atas panggung. Sedari awal konser terus menebar tensi lacur tatapan cleavage toket bola voli. Sekali momen Jesse ingin merokok tapi kehilangan korek api, dia menghampiri dengan binar rubah sundal dan menyalakan sebatang untuknya.
Tramp stamp menantang bahaya. Begitu Jesse melompat turun panggung, usai Madè J membajak ujung set memainkan “I Wanna Be Your Dog”, ia telah menunggu di situ, membisikkan sesuatu sambil menyodorkan satu undangan ganjen: sebuah g-string leopard yang dihirup aromanya terlebih dulu oleh Jesse sebelum diselipkan ke dalam saku celana. Sungguh waktu yang tidak tepat, tentu saja kelar manggung Jesse segera pamit cabut, ada istri yang keracunan menunggu di hotel dan ia sedang tidak berminat bikin masalah. Tak jauh dari Gimme Shelter, skuter yang memboncengnya berhenti sebentar, g-string leopard dibuang ke selokan sawah.
Esoknya Jesse muncul di lobi hotel, hampir pukul tengah malam. Waktu yang langka untuk sebuah jadwal wawancara. Saya sempat berfirasat positif alias ngarep saat ia meminta ditemani membeli coke terlebih dulu sebelum kami mulai berbincang. Dalam hati berpikir, “Gile juga, nih bangsat satu. Anda Perdana aja ‘gak bakal segitu nekatnya ngajak jurnalis baru kenal buat beli drugs.” Saya, tentu saja harus memperjelas status keamanan dengan bertanya dalam Inggris cap tempe, “Kamu ‘emang ‘udah kenal sama bandarnya?” Jesse menatap saya, “What do you mean?” Anjing, detik itu juga saya kecele. Bahwa yang dimaksudnya Coca-Cola. “Dude, era narkobaku ‘udah selesai. Aku ‘gak bisa memakainya lagi,” ujarnya dengan Inggris aksen California gurun yang bervibrasi seperti suara bariton gitar twang, berat, kendur namun tetap artikulatif.
Lalu dikatakan ia melakukannya dengan tekad cold turkey—berhenti total seketika tanpa pergi ke rehab atau menggunakan zat plasebo. “Aku pecandu speed selama 25 tahun. Aku bertemu dengan istriku dan tiba-tiba saja aku ‘gak mau pake drugs lagi. Saat hidupmu ‘udah dipenuhi oleh keindahan, kamu ‘gak punya tempat untuk hal kayak ‘gitu lagi,” ujarnya. Itulah alasan kenapa bukan masalah baginya bersedia menemui saya di waktu selarut ini, seperti diakuinya, perjalanan seperempat abad mengisap crystal meth telah mengacaukan ritme sirkadian tubuhnya secara alami. Terutama yang berhubungan dengan jam tidur; ia bisa terbangun selama apa pun yang diinginkannya dan bisa tidur kapan pun dirinya mau, tanpa harus pake drugs.
Kami pindah ke balkon luar di lantai dua yang terletak di samping kamarnya. Istrinya sudah terlelap di dalam sana, seekor tato artis yang baru saja dinikahinya enam bulan lalu dan berusia enam tahun lebih muda dari anak lelakinya. Makin tua makin bergerigi. Fun Kaya Fun. Jesse tidak suka menutupi cerita hidupnya, ia akan membeberkan semuanya dengan senang hati bila ditanya. Tanpa sensor. Kumis Yoshimite Sam membuat raut wajahnya tampak selalu datar ketika berbicara, meski sedang tertawa sekalipun.
Batang-batang tak berhenti dibakar, puntung-puntungnya memenuhi asbak, dua ekor perokok lokomotif duduk berhadapan dalam satu meja coba melebarkan obrolan dari soal drugs, bencong-bencong Palm Springs, Josh Homme dan desert rock antics, Penembakan Bataclan, Islamophobia sampai benar, saya setuju dengannya, kita berhak mengantungi izin kepemilikan senjata api supaya dapat bernapas dengan nyaman di dunia ini.
Dan ya, Jesse Hughes sedang jatuh cinta setengah mati, karena istrinya disebut melulu di hampir setiap jawaban.
Jadi ‘gimana rasanya menjalani cold turkey, apa kamu mengalami halusinasi atau memimpikannya di dalam tidur (terkekeh) atau. . . yah, hal-hal semacam itu?
You know, agak lucu kamu menanyakan itu, karena aku sangat penasaran apa yang akan terjadi pas pertama kali memutuskan berhenti. Kayak, mungkin aku akan memimpikannya, mungkin aku akan membuat masalah, atau mungkin aku akan salah tingkah di tengah kerumunan? Tapi aku harus jujur, dan aku ‘gak bermaksud membanggakan apa pun di sini karena ‘gak semua orang bisa melakukannya. Ketika berpikir aku sudah selesai, aku ‘gak akan pernah menyentuhnya lagi. Aku ‘gak memikirkannya lagi. Aku ‘gak punya keinginan memakainya lagi. Dan aku bersyukur untuk itu. Kayak 12 Steps Program, katanya kalau menjalaninya, saat kamu sampai pada tingkat yang terakhir, obsesimu terhadap ketagihan akan menguap hilang. Dan aku jadi pecandu narkotika bukan untuk kabur dari situasi mana pun.
Kamu cuma ingin bersenang-senang?
Aku memakainya untuk mencari pengalaman. Aku telat menggunakan narkotika, usiaku sudah 25. Sebelumnya aku ‘gak pernah suka rasanya. Lalu aku mulai menikmatinya, tapi kalau sedang tur aku berhenti pakai, karena aku ‘gak suka dengan bayangan kalau aku harus kelabakan mencari narkotika di sebuah kota yang asing buatku. Itu mengerikan. Aku ‘gak mau melakukan itu. Dan aku cuma mau memakai narkotika tertentu dengan kualitas tertentu. Yah, jadi ketidak-konsistenan kualitas narkotika selalu menakutkanku. Tapi akhir-akhir ini, kenikmatan itu bergeser, rasa enaknya ‘udah ‘gak sama lagi buatku. Dan ketika sesuatu mulai menyebalkan, aku selalu bertendensi untuk menghentikannya. You know what I mean? Aku ‘gak pernah merasakan paranoid, ‘gak pernah—
Kena bad trip?
‘Gak pernah. Never fixed VCR that weren’t broken (terkekeh). Tapi (narkoba) bikin aku jadi kejam. . . sedikit lebih kejam, padahal secara alami aku bukan orang yang kejam. Aku suka dengan manusia, you know. . . saat aku bertemu istriku, aku dapat melihat sesuatu yang sebelum ‘gak pernah ‘kupikirkan, dan (narkoba) juga bikin aku menjauh dari musik, yang mana merupakan masalah serius. Saat hal tersebut terjadi, aku benar-benar bertekad untuk berhenti. Tapi kecanduan narkotika adalah sebuah habit, sama susahnya dengan menghentikan kebiasaanmu menggigiti kuku.
Apa narkotika membantumu menulis musik?
‘Kupikir tadinya iya, namun ternyata ‘gak juga.
Beneran?
Buktinya aku masih menulis musik sekarang, musik yang lebih bagus dari sebelumnya. Aku bernyanyi lebih baik, aku tampil lebih baik, dan aku menikmati keduanya dalam waktu yang bersamaan. Speed membuat segala hal terasa seperti satu hari yang panjang. Aku ‘gak menyukainya. Aku ingin merasakan, aku ingin ikut ambil bagian, aku ingin bisa mengingat semua yang terjadi. Dan aku telah melewati cukup banyak weird shit di hidupku yang ‘gak perlu lagi diperburuk dengan memakai narkotika. Kamu tahu, saat seseorang berada dalam pengaruh drugs, hal itu dapat mengacaukanmu seketika. Dan sekali orang tahu kamu dalam pengaruh drugs. . . karena aku ‘gak pernah menyembunyikannya, aku ‘gak pernah berpura-pura bersih. I pretty much wore it on my sleeve. Otomatis membuat orang di sekitarmu akan berpikir, “Ah, omongannya ‘gak pantes didengerin – doi teler!” Jadi, kenapa harus merendahkan kredibilitas diriku sendiri? Seperti itulah sekarang aku memandangnya. Dan. . . ya aku harus berterima kasih kepada istriku, you know, dialah yang meyakinkanku. Kami berdua penganut Kristen. Aku seorang Kristen yang taat. Istriku selalu punya cara untuk menjelaskannya dalam kerangka yang ‘gak bisa ‘kudebatkan. Kayak, “’Gimana ceritanya kamu seorang Kristen tapi kamu juga seorang pecandu?” Lalu kemudian semuanya terakumulasi. . . aku kena serangan jantung parah, sangat parah. Aku masuk dalam daftar pasien cangkok jantung, tapi aku merasa bugar sekarang. . .
Kapan itu terjadi?
Sekitar setahun lalu, saat aku berhenti pakai. Untuk pertama kalinya aku punya masalah kesehatan serius. Sejujurnya ‘udah ada dua ring terpasang di jantungku dan aku tetap pakai drugs. Bodo amat. Kemudian aku bertemu istriku, dan. . . rasanya dangkal untuk diucapkan, tapi cinta menaklukkan segalanya. Cinta sejati benar-benar merupakan suatu kekuatan yang nyata.
Seperti yang Nick Cave bilang, “I believe in love.”
Yeah, aku percaya dengan cinta. Cinta sejati yang tidak egois, you know. . . Pernah ada satu kejadian ketika aku pingsan, hilang kesadaran dan kepalaku robek. Saat aku bangun dan melihat wajah istriku, itu tatapan yang ‘gak mau lagi ‘kusaksikan. Aku seorang penghibur. Dalam konteks pekerjaanku sebagai penghibur, aku harus bisa menghadirkan kegembiraan. Sebagaimana orang Prancis bilang, Je poursouis le bonheur. . . I bring good times. Kejadian tadi itu bukanlah kegembiraan. Aku ‘gak mau menghadirkan lagi kecemasan dan kekhawatiran. Aku harus membuangnya. Maksudku, bukan seperti itu cara untuk hidup, itu bukan kehidupan. Hal-hal semacam itu mempercepat kematianmu.
Apa kejadian itu berhubungan dengan tato di jarimu? (menunjuk ke arah punggung jari telunjuk dan tengah Jesse yang bila digabung menggurat abjad berbunyi: “OD”)
Oh, ini dari “The Blues Brothers” (dua lengannya dikepalkan dan direkatkan menghadap ke depan sehingga jelaslah sudah, masing-masing huruf di enam punggung jemarinya, dari kelingking kanan sampai jari tengah kiri membentuk sebuah nama: ELWOOD, satu dari duo karakter utama di film tersebut, sementara jari tengah kirinya berhias sebuah cincin nikah).
Ah, I see.
Kamu ‘udah pernah menontonnya?
Beberapa kali. Tapi ‘udah lama banget, aku lupa kapan terakhir kali menyelesaikan film itu.
Yang lucu dari tato itu, istriku yang membuatnya. Dia tanya, “Mau tato apa?” Dan ‘kujawab, “Elwood.” Katanya lagi, “Serius?” Tentu saja. Aku ingin namanya terabadikan di kulitku, it’s fucking hilarious! Ini tato baru favoritku.
Ada dua ring di jantungmu, tapi aku lihat kamu ‘gak bisa berhenti merokok dari tadi. A hell-chainsmoker.
Oh, aku cinta rokok. Setiap kali mengobrol aku pasti merokok, beri aku sebuah tugas, dan aku akan mengerjakannya sambil merokok.
Kamu ‘gak khawatir jantungmu stop mendadak?
‘Gak terlalu.
Baiklah.
Lagipula ini bukan speed.
How’d you fancy your sigarets?
Aku suka Camel blue, rokok itu ‘gak ada di sini, jadi aku beli Camel white. Karena mengandung TAR lebih sedikit, mungkin, aku ‘gak begitu tahu perbedaannya, tapi rasanya enteng, mudah diisap. Merokok memberiku sesuatu untuk dikerjakan. Itu kebiasaan yang sulit dihentikan.
Betul sekali, mungkin aku bisa stop pakai drugs suatu hari, tapi rokok berat, kayaknya itu yang akan menyebabkan kematianku nanti.
Yang mana lucu. Speed, no problem. Rokok, rough. Tapi aku ‘gak pernah merasa benar-benar ingin stop merokok. Lihat, itulah intinya. Aku ‘gak punya dorongan sama sekali untuk melakukannya, untuk berhenti mengisap rokok. ‘Gak akan pernah mau. Tapi suatu hari nanti istriku pasti akan memintaku berhenti.
Yeah, dia akan memaksamu.
Well, dialah bosnya.
Imajinasikan sebuah film, adegan apa yang akan tersaji berdasarkan situasi di Rancho De La Luna circa ’97-’98 ketika kamu merekam lagu-lagu untuk Dessert Session Vol. 3 & 4 (Man’s Ruin, 1998)?
Well, pasti sangat liar. Ada satu fakta terselubung, lagu-lagu itu ‘gak direkam di Rancho De La Luna—
No way!
‘Gak ada yang tahu ini, rekaman itu dilakukan di—
Jangan-jangan, sorry aku potong. . . setiap album Dessert Session ‘gak ada yang direkam di Rancho De La Luna?
Watch your head, brother.
Oh, man. . .
‘Gak banyak yang tahu kalau rekaman itu dilakukan di bekas studio porno bernama Monkey di Palm Springs. Apa yang terjadi sana, sungguh gila luar biasa. Ada banyak waria, teman-teman transgender yang nongkrong bareng perek-perek dan para pemadat, kami berada di tengah itu semua. Benar-benar magis. Tapi yang spesial buatku, itu adalah momen menyaksikan teman baikku, Joshua (Homme, dramer Eagles of Death Metal, pendiri Kyuss, Desert Sessions, Queen of the Stone Age, Them Crooked Vultures) memulai suatu bakat yang di kemudian hari mengganjarnya predikat jenius. Aku sangat mengagumi Joshua, sedikit memujanya sebagai pahlawan. Bukan cuma karena dia temanku, dan kami bersekolah di satu SMA yang sama—di sanalah aku pertama kali bertemunya—tapi memang ada aura legenda yang melekat padanya, dan aku menyaksikan tumbuh-kembang dirinya sejak awal. Aku menonton konser perdana Queens of the Stone Age di sebuah tempat bernama Rancho El Café de Mexico di Palm Desert. Ah, sebenarnya aku punya rekman film tentang itu, entah kusimpan di mana. . . (diam sejenak, tampak berpikir, mengingat sesuatu). Yes, aku akan menemukannya dan merilisnya suatu hari nanti.
Please do. Everybody is waiting here. Di rekaman itu kamu merekam tiga lagu yang cukup aneh—
Kami merilis tiga lagu, tapi merekam empat lagu—
Cukup aneh karena suara vokalmu yang growling—
Itu Cole Lew. Dan suara itu berkaitan dengan cerita awal berdirinya band ini. Teman kami, Cole Lew seorang fanatis death metal. Suatu malam kami nongkrong di sebuah bar bernama The Beer Hunter, dan ada satu orang yang memasang lagu Scorpions, kalau ‘gak salah inget, “Wind of Change”. Lagu itu sangat pelan—
Fiu fufu, fiu fufu, fifuuu. . . (bersiul mengikuti signature Klaus Meine)
Sangat pelan. . . tapi orang itu malah lompat gila-gilaan, rockin’ out. Kami semua yang menyaksikannya seolah ‘gak percaya, kayak, “Dude, lau kenapa?” Dan dia malah jawab, “What?! Ini baru namanya rock & roll!” Kami menyahutinya, “No, ini bukan rock & roll!” Dia balas, “Dude, ini heavy metal!” Kami makin heran, “No, ini bukan heavy metal!” Lalu dibalasnya lagi, “Dude, ini death metal!” Josh (Homme) nyeletuk, “It’s like fucking eagles of death metal!” Kami semua langsung, “Whoa!”. Di mobil dalam perjalanan pulang sambil ngisep ganja, Cole Lew berseloroh, “Dude, sini gue setelin elo berdua lagu death metal sejati!” Dan dia pasang Vader. Semalaman itu kami menertawakan, mengenyeknya. Setiap kali ingin mengganti lagu, kami akan berteriak, “Putar eagles of death metal!” Tapi keesokan paginya, kawan sekamarku membangunkanku, “Tuh, ada Josh di depan pintu,” dan dia mengojok-ojokku, “Bakal kayak ‘gimana musik eagles of death metal menurut lau?” Dan itulah sejarah bagaimana band ini lahir. So, yeah. . . itu bukan vokalku, tapi Cole Lew.
Wah, menarik. Karena itu yang terjadi saat aku pertama kali menemukan kalian, misinterpretasi dengan namanya.
Right, banyak orang yang juga mengalaminya.
Dan ketika mendengar albumnya, “No way! This is too sexy for death metal”.
Yeah, visi musikalku memang diambil dari beat penari telanjang dan lagu-lagu country.
Dari sejak itu aku sadar ini hanya semacam lelucon sarkas khas anak-anak Amerika.
Yeah, sangat sarkastis. Maksudku, kami sampai punya seorang DJ. Kami mengolok-olok semua band yang juga punya personel seorang DJ saat itu. Semua band pasti punya DJ di medio akhir 90-an. Kayak, “Come on, dude, dengan semua scratching dan tai kotok seperti itu?!” Jadi kami melakukannya juga, mencoba beradaptasi, demi untuk menertawakannya. Kami orang-orang yang sangat serius dalam bersenang-senang. Kami serius ketika kami melontarkan lelucon. Kamu tahulah, ada banyak band lain yang juga “serius”, kami satu-satunya band yang serius fokus pada kegiatan bersenang-senang. You know what I mean? Dan banyak orang membenci kami karena itu. That’s cool.
Tapi serius, waktu pertama kali mendengar Death By Sexy (Downtown, 2006), aku benar-benar tertipu. I want Obituary! (Tertawa)
I love death metal, tapi itu bukan musik Eagles of Death Metal. Tapi kalau kamu memikirkannya lebih jauh, Little Richard adalah salah satu pahlawan terbesarku, dan ‘gak ada lagi orang yang lebih death metal dibanding Little Richard. Maksudku, sewaktu ia pertama kali muncul, orang-orang takut padanya. Album-album rekamannya dibakar, orang-orang terintimidasi olehnya, mereka mencoba melarangnya manggung. ‘Gak ada yang lebih death metal dibanding itu. Death metal adalah sebuah state of mind. Sama kayak orang-orang bilang kalau punk rock juga adalah sebuah state of mind. Johnny Cash, misalnya. Dia adalah anak punk pertama. Jadi buatku, Little Richard adalah musisi death metal pertama. Well, di album perdana itu, album Desert Sessions, Cole menyanyikan sesuatu tentang mayat bayi dan tetek bengek macam itu. Aku sebenarnya ‘gak terlalu menangkap apa yang ia nyanyikan, tapi kedengarannya cukup bengis. Bagi kami, itu cuma. . . (kalimatnya terhenti, lalu menggeser sedikit topiknya langsung menuju poin) Kami bukan death metal, juga bukan The Eagles. Kami ruang ganjil di tengahnya. Mungkin seperti itulah cara terbaik untuk menjelaskannya.
Apa kamu pernah tersesat di tengah gurun?
Well, aku seorang Eagle Scout (pangkat tertinggi dalam hierarki pramuka). Aku seorang anggota pramuka, jadi aku sangat mahir membaca arah. Di gurun banyak banget orang yang tersesat, tapi selama kamu mampu melacak letak matahari, kamu akan tahu di mana posisimu berada. But yeah, aku beberapa kali pernah tersesat, I love the desert, aku sering banget melakukan perjalanan, berkeliling di tengah gurun, pergi ke suatu tempat tanpa tujuan.
Sendirian?
Oh, yeah. Aku suka banget jalan-jalan naik sepeda motor sendirian di tengah gurun. I love it. Dan aku juga suka sekali jalan kaki, ‘gak ada orang sama sekali di tengah sana, sangat berbahaya sebenarnya. Ketika kami masih muda, pas remaja, gurun terasa kecil sekali. Kosong melompong. ‘Gak ada banyak orang. Kami hanya punya beberapa lampu lampu lalu lintas, dan setiap sudut kota (Palm Springs) dipagari oleh gurun, kami harus menerobosnya terlebih dulu untuk sampai di kota berikutnya. Tapi pada praktiknya, banyak peristiwa gila terjadi di sana. Banyak orang-orang Hollywood punya rumah di sana, Presiden Amerika Serikat pernah datang ke sana, semua tim olahraga menginap di sana. Sudah barang tentu mengundang banyak kegilaan. Maksudku, Liberace (pianis homo legendaris) tinggal di sana, yang mana sangat aku gemari. Aku cinta Liberace. Kota itu adalah Mekkah-nya gay. Ada banyak banget laki-laki homo. Banyak, ba-ng-et. Beberapa pria yang ‘kuanggap sebagai figur ayah bagiku, ironisnya adalah para lelaki homo. Tapi maksudku, aku seorang penari di San Francisco, yeah. . . aku punya kehidupan yang cukup menarik.
Termasuk pengalamanmu bekerja di sebuah toko porno.
Well, bekerja di industri porno tentu sangat menarik. Tapi aku beritahu apa yang ‘kupelajari. Porno adalah industri yang sangat gelap. Dan perempuan dihancurkan, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Berat bagiku mengalaminya. Itulah kenapa aku ‘gak bertahan lama di sana. Laki-laki dan perempuan sama saja, para bintang porno itu diperlakukan dengan sangat buruk. Lalu bayangkan dampak yang disebabkan olehnya terhadap pernikahan orang-orang. It’s just, kamu tahu. . . aku ‘gak bermaksud mengutuk mereka yang berkecimpung di sana, setiap manusia punya hak kebebasan memilih. Tapi ketika kamu mulai menciutkan manusia dengan melihat mereka dari sudut pandang organ fisiknya saja, kamu bukan lagi seorang humanis. Kamu tahu Ted Bundy?
Yeah, aku menonton beberapa film dokumenter tentangnya.
Di satu wawancara dengannya, ia bilang, “Semua bermula dari (majalah) Playboy pertamaku.”
Ugh.
Itu sebuah pernyataan kuat. Aku ‘gak mau menjadi Ted Bundy. Tapi juga aku pun menyaksikan kejadian-kejadian gila yang keren. Banyak sekali, man. Aku berkesimpulan: tidak ada orang yang lebih tangguh di dunia ini selain lelaki homoseks. Gay men will fuck you up, dude! Jangan coba-coba cari masalah dengan mereka. Karena menjadi homo membutuhkan keberanian yang sangat besar. Pikirkan seberapa besar pengorbanan mereka. Seberapa tangguh kamu harus menjalani kehidupan, terutama di era 70-an dan 80-an, you know. . . ayahku mati akibat AIDS. Jadi aku punya hubungan yang sangat intim dengan orang-orang di dunia homoseks.
Apa yang terjadi dengan ayahmu?
AIDS membunuh ayahku di tahun 80-an. Saat itu sebutannya masih Gay-Related Immune Deficiency Syndrome, GRIDS. Itu nama awal AIDS. Kamu akan ditempatkan di sebuah tabung plastik dan ‘gak bisa menyentuh orang lain. Aku menyaksikan betapa tangguh, kuat, tegar untuk berani mengakui diri sebagai gay. Tapi aku tahu aku straight. Aku hanya merasa nyaman bergaul, menghabiskan banyak waktu nongkrong dengan laki-laki dan perempuan homo. Itulah alasan kenapa aku pindah ke San Francisco, aku pikir kota itulah Mekkah-nya gay, ternyata bukan, tapi Palm Springs. Ya, Cathedral City dan Palm Springs. Di dua tempat itu aku nongkrong di bar gay sejak berusia 16. Hidup berjalan sangat keras dan cepat, yeah. . . that’s cool, aku menikmati setiap detiknya.
Pernah penasaran ‘gimana rasanya jadi homo, ‘gak?
No.
Aku ‘gak percaya.
Not at all. ‘Gak ada alasan buatku untuk merasa penasaran terhadap hal itu, karena aku berada di tengah pergaulan gay setiap saat. Aku ‘gak pernah punya pengalaman homoseksual. . . (tertawa) well, itu sebuah kebohongan. Maksudku, aku ‘gak pernah terlibat hubungan seksual secara intim dengan sesama lelaki. Tapi aku suka dengan mereka. Itulah kenapa debut album kami, Peace, Love, Death Metal (AntAcidAudio, 2004) memajang bendera transgender. ‘Gak ada orang yang menyadarinya, yang mana hal itu membuatku terkejut. . .
‘Kupikir unsur itu kelihatan banget (Kent Harli, fotografer yang dari tadi sibuk menjepret kami ikut melempar suara).
Ya kami terdepan, kami sudah duluan melakukannya.
Sekarang aku ‘gak bisa berhenti memikirkan tulisan di kausmu, aku melihat fotonya di Instagram tempo hari, “Josh Homme Made Me Violently Gay.” Sungguh menggemaskan.
Aku suka banget kaus itu karena aku menyayangi Josh. Aku mencintai pria itu. Dia sahabat terbaik yang pernah ‘kumiliki. Dia adalah salah satu orang paling berharga yang pernah ‘kukenal di hidupku.
Yeah, aku menonton adegan elevator di film dokumenter Nos Amis (HBO, 2017) pas kalian berpelukan sangat erat seolah kamu merasa tenang sekaligus bahagia berada di dekapannya. Cukup haru melihatnya.
Aku akan jujur, saat momen itu tertangkap aku sedang merasa sangat sendirian. Ketika dia muncul perasaan itu hilang. Gestur itu sangat berarti, dia ‘gak perlu hadir di sana, dia ‘gak perlu datang—
Tapi dia ada untukmu dan bermain drum sebagaimana mestinya Eagles of Death Metal, sesuatu yang sudah jarang dilakukannya.
Seperti itulah dirinya. Dia adalah sosok luar biasa dalam segala spektrum yang bisa dibayangkan. Seorang musikal jenius dalam tingkatan yang tertinggi. ‘Gak ada orang lain yang mampu menyamainya, dan ‘gak akan ada orang seperti dirinya lagi.
Kamu punya panggilan sayang untuknya, “Baby Duck.”
Karena perawakannya mirip dengan tokoh kartun Baby Huey, he’s a Big Baby Duck.
Dan untukmu, “Boots Electric.”
Well, julukan aslinya adalah “Fruit Boots.” Karena aku bermain roller blade, dan juga karena aku bergaul dengan banyak orang gay setiap saat. Saat era rock & rollku dimulai, aku menyesuaikannya dengan mengubahnya menjadi “Boots Electric.” Ada alasan lain di balik itu, biar ‘kuberitahu kamu. Nama panggungku yang asli sebenarnya adalah Jesse “The Devil” Hughes. Tapi ibuku ‘gak menyukainya. She fucking hate it.
Kamu memberitahu ibumu siapa nama panggungmu?
Well, dia melihatnya tertera di album. Aku inget banget momen waktu dia membaca liner notes-nya, dan aku ‘gak akan pernah melupakannya. Dia membolak-balik halaman sampulnya dan. . . (mempraktikkan mimik wajah protes seorang ibu yang marah bercampur jengkel dan kecewa).
(Terkekeh).
Ibuku adalah pahlawan terbesar di hidupku, bukan soal besar untuk mengubah julukan panggungku agar ibuku dapat merasa sedikit nyaman dengan dunia rock & roll yang ‘kujalani. You know what I mean? Ibuku salah satu orang paling hebat yang pernah ‘kukenal, aku mengagumi perempuan itu.
Aku ingat kau bilang dalam salah satu adegan lain di Nos Amis: “Kalau kamu seorang penggemar Eagles of Death Metal, maka kamu adalah orang yang suka bersenang-senang dan kamu menyayangi ibumu.”
Memang itu kuncinya. Kamu harus bersenang-senang, dan kamu harus menyayangi ibumu. Aku bukan tipe anak yang suka mengucap “F Word” di depan ibuku. You know what I mean?
Yeah, aku pikir kamu seorang pemuda blangsak sebelumnya.
Well, mari kita pakai referensi dari Ted Bundy yang lain. Ted Bundy berhasil merayu semua korbannya dan membawa mereka ke mobilnya karena pesonanya sangat menawan. Ada alasan kenapa aku punya julukan “The Devil”. Aku terkenal punya temperamen buruk dan aku punya kebiasaan melakukan balas dendam dengan cara aneh yang ‘gak pernah kalian pikirkan sebelumnya. Tapi sekarang aku suka dengan manusia, pengalaman jahat masa lalu mengubah kepribadianku seiring berjalannya waktu. And I’m a sweetheart. Tapi kalau kamu coba-coba cari masalah dengan orang yang ‘kusayangi, sebaiknya kamu melarikan diri. Buatku, arti cinta adalah, aku bersedia melakukan apa pun untuk orang yang ‘kucintai. Bukan cuma rela mati, aku juga sangat siap untuk membunuh. Sifat seperti itu menakutkanku, karena aku jadi sulit diprediksi. You know what I mean?
Yeah. Tapi mari kita kembali ke tengah gurun. Bagaimana caramu menjelaskan seperti apa sound desert rock yang sejati?
Banyak yang bilang, you know. . . beberapa orang akan mendefinisikannya dengan ‘metal – sangat Black Sabbathesque’. Tapi buatku, saat kami remaja aku menuhankan Captain Beefheart dan Frank Zappa. Kami memandang diri kami sebagai gerombolan outsiders di scene musik L.A. Dan acuan kami sangat mengarah ke band-band SST (label rekaman milik Greg Ginn gitaris Black Flag). Yeah, Minutemen, fIREHOSE, dua band itu begitu besar pengaruhnya untukku, sangat influensial. Punya kemampuan teknis hebat, dan berbasis jazz. Maksudku, kami suka jazz. Kami mendengarkan musik-musik yang ‘gak disukai orang banyak. Kayak Can. Dan aku seorang penggemar fanatis Brian Eno, Here Comes the Warm Jets (Island, 1974) adalah album yang fantastis, menurut keyakinanku merupakan album musik terbaik yang pernah dibuat. Kami orang-orang avant-garde versi gurun. Iklim gurun membuatmu jadi orang yang kasar. Membuatmu tangguh. Dan sangat sulit untuk bisa bertahan hidup di gurun. Kamilah dunia kecil kami sendiri, sebuah mikrokosmos dari. . . (mengubah arah penjelasannya) di dunia nyata mungkin kami seperti tinggal di sebuah akuarium yang ‘gak kami sadari bahwa itu sebenarnya sebuah akuarium. Sebuah akuarium yang kami pikir adalah seluruh alam semesta, yang mana bagus karena hal tersebut menjaga kami tetap bersifat privat. ‘Gak banyak orang yang mencoba untuk datang ke sana. Kami ingin tetap menjaganya sebagai sebuah scene bagi anak-anak gurun. Josh mendongkraknya hingga kelihatan di peta. Banyak band datang ke Palm Desert pada masanya, orang ‘gak tahu kalau itu tempat terakhir di Amerika yang. . . maksudku, Jimi Hendrix sempat manggung di Palm Desert sebelum mati. Eric Burdon dari The Animals punya rumah di sana. Black Sabbath manggung di sana tahun ’71 dan menyebabkan kerusuhan parah. The Rolling Stones menulis “Brown Sugar” di Joshua Tree. Koneksi antara gurun dengan musik sangat besar dan luas. Gram Parsons mati OD di Joshua Tree. Jadi historinya telah berlangsung melampaui dari sekadar musik yang generasiku ciptakan. Saat masih bocah aku sangat beruntung pernah menonton Black Flag main di Palm Desert, di sebuah klab kecil. . .
Siapa vokalisnya, Keith (Moris), Ron (Reyes), atau Henry (Rollins)?
Henry Rollins. Sangat menakjubkan. Di sebuah komunitas kampus yang ‘kuikuti, Carl Sagan datang sebagai dosen tamu memberikan kuliah di kelas astronomi. That’s fucking amazing. Kami ‘gak pernah kehabisan talenta-talenta terbaik di area kecil ini. Setiap orang saling bergaul tanpa batasan kelas sosial. Kami punya orang-orang tajir dan para kelas pekerja, ‘gak ada lapisan lain di tengahnya. Untuk bisa bertahan hidup kami harus memiliki kemampuan bertarung. Kami harus mampu menjaga diri sendiri. ‘Gak akan ada orang yang datang untuk membantumu. Tapi hal itu membentuk sebuah mentalitas yang unik. Hampir semua orang memakai speed, narkotika favorit manusia gurun.
Sama kayak di Indonesia (tertawa).
Yeah, itu drugs rakyat, gampang dibuat, dan murah. ‘Gak banyak kegiatan yang bisa dilakukan di kota-kota gurun. Kami ‘gak benar-benar bisa berkegiatan di luar rumah dengan tenang. Seseorang bisa saja membunuhmu tiba-tiba.
Kemarin malam di depan panggung aku beberapa kali teriak, “Send me to the Death Valley, please!” (tertawa)
Yes, aku ingat itu. Aku pernah ikut kemping pramuka di sana, temperaturnya dapat berubah dengan sangat drastis, dari 120 derajat bisa turun sampai ke 51 derajat dalam 30 menit. Hanya di sana tempat di dunia ini di mana penurunan temperatur suhu udara dapat terjadi sebegitu ekstrem. Dari yang tadinya panas melepuh tiba-tiba kita menggigil beku. Jika kami pergi mendaki dan bergerak teralu jauh dari pusat camp, kami akan terperangkap marabahaya ketika matahari mulai terbenam. Kami harus bisa kembali ke camp sebelum matahari menyentuh horizon, atau akibatnya kami bisa mati kedinginan—dan itu terjadi hanya berselang 30 menit setelah kulitmu melepuh terbakar.
Itulah kenapa mereka menamakannya “Death Valley.”
Itu tempat yang mengerikan, karena kita ‘gak akan mampu bertahan hidup di sana.
Bicara tentang jalan-jalan di gurun, mengingatkanku pada ekspedisi gila Hunter S. Thompson menempuh jalur itu di bukunya, Fear and Loathing in Las Vegas.
Kamu ingat kompetisi balapan gurun yang diikuti Raoul Duke di ceritanya, Mint 400? Aku pernah memenangkannya tiga tahun lalu.
Fuck, no!
First place, baby. Dengan mengendarai dune buggy, mengenakan helm. It was fucking awesome! Aku sadar para pembalap lain meremehkan kami—aku bertanding dengan beberapa petarung MMA, tapi hasil akhirnya kamilah yang mengangkat trofi juara. Fucking epic!
Kamu memainkan flute yang ‘gak kedengaran di “Someone’s in the Wolf”, lagu Queen of the Stone Age di Lullabies To Paralyze (Interscope, 2005).
Josh sedang menjahiliku saat itu, tapi ‘gak masalah. Flute mungkin bisa dibilang instrumen musik pertamaku, sejak aku berusia tujuh tahun.
Berulang kali mendengarkannya, tetap saja aku ‘gak bisa menemukan suara flute di lagu itu.
Ada, tapi terkubur di bawah sana. Kita bisa memainkan flute dan mengeluarkan suara yang berbeda. Hampir setiap instrumen mampu kedengaran sintetis asal kita tahu cara melakukannya. Pada dasarnya synthesizer adalah suara tiruan dari suara yang sudah pernah dihasilkan oleh alam semesta. Coba kamu tonton video Herbie Hancock memainkan piano, dia bisa membuatnya terdengar seperti synthesizer. Dia mengoprek dan menghasilkan weird shit dengan piano. So, yeah. . . kami mencoba menghasilkan weird shit lewat flute, kami menempelinya mikrofon dan menyambungkannya ke sebuah prosesor. Aku ‘gak ingin orang-orang tahu kalau aku bisa memainkan flute. Itu bukan kemampuan yang mau aku bagi ke orang banyak.
Apa kamu punya cerita tentang Josh Homme yang sebaiknya jangan diceritakan ke publik?
Aku ‘gak bisa melakukan itu (terkekeh). Tapi aku punya satu cerita yang menarik, sesungguhnya ini cerita yang manis. Terjadi di pernikahanku yang lalu. Aku punya mantan istri yang melahirkan anak kandung lelakiku. Ketika anakku lahir, itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku, rasanya hampir sama dengan hari pernikahanku dengan istriku yang sekarang. Dan satu-satunya temanku yang datang mengunjungiku adalah Joshua.
Ke mana teman-temanmu yang lain?
Mereka punya kehidupan masing-masing. Tapi Joshua datang jauh-jauh dari tengah tur bandnya, melakukan perjalanan istimewa pulang ke gurun demi membawakan anak lelakiku sebuah mainan jenius yang didesain untuk merangsang otak bayi. Saat itu aku sedang duduk di teras depan dan melihatnya jalan kaki dari jarak seperempat mil. Kamu ‘gak mungkin ‘gak bisa melihatnya, tubuhnya tinggi dan besar. Dia datang untuk mengagumi anakku yang cantik dan baru lahir. Aku sangat menyayangi pria itu.
Dia sering menyelamatkan hidupmu, kan?
Sering banget. Kami saling menyelamatkan hidup satu sama lain. Yang pernah ‘kulakukan untuknya memang ‘gak tercium radar, buat dia aku lebih seperti senjata rahasianya.
Berbincang denganmu sekarang, entahlah tiba-tiba saja di benakku muncul kalimat ini, (memperlihatkan tulisan yang baru saja saya guratkan secara kapital di halaman note book berbunyi: ROCK & ROLL WRECK.).
A wreck? Yeah. Seperti sebuah kecelakaan kereta api. A wrecking ball. Kamu ‘gak akan bisa berhasil membangun sesuatu kecuali kamu menghancurkannya terlebih dulu. Tapi aku di sini sedang ‘gak ingin menghancurkan apa pun. Aku hanya ‘gak suka mengikuti aturan konvensional. Aku cuma ingin melakukan sesuatu dengan benar, ‘gimana pun caranya. Dan terkadang melakukan sesuatu dengan benar adalah sebuah tindakan ilegal. Jadi, aku lebih suka melakukan sesuatu secara ilegal daripada melakukan sebuah kesalahan. Seperti itulah caraku menjalani hidup, meskipun akhirnya banyak memberiku masalah. But that’s okay.
Mungkin “ROCK & ROLL WRECK.” adalah kesimpulanku terhadap musik Eagles of Death Metal; yang seksi, eksentrik, narkotik, juga quirky, dan glamor. . . entahlah, ‘gimana menurutmu?
Musik yang ‘kutulis ditujukan untuk semua orang. Aku ingin semua orang bisa menikmatinya. Tapi aku seorang weirdo. Jadi aku suka semua jenis musik. Semuanya aku telan dan aku muntahkan kembali menjadi Eagles of Death Metal.
Salah satu pengaruh terbesar yang ‘kurasakan datang dari doo-woop.
Oh, kamu bisa menangkapnya. Pengalaman musikal pertamaku ditularkan dari nenekku dan ibuku. Nenekku mengajakku menonton Ray Charles, dan dia ‘gak bisa berhenti mendengarkan doo-woop, yang mana adalah musik yang luar biasa romantis, karena aku menulis musik untuk perempuan. Itu rahasia terbesar penulisan musikku. Aku suka perempuan. Aku suka wanita. Aku menulis musik untuk mereka. Bahkan Little Richard pun mengerti hal itu, dia menulis musik untuk perempuan.
Padahal dia gay.
Yeah, dia ‘gak punya hasrat pada perempuan.
Salah satu impresiku adalah, musikmu membuatku ingin berjoget walaupun sebenarnya aku ‘gak suka berjoget.
Yeah, aku sangat suka joget. Maksudku, Funkadelic – George Clinton adalah salah satu pahlawan musikal terbesarku—
Aku tahu cerita itu, kamu menghabiskan ribuan dolar demi mengikuti tur Parliament keliling Amerika, menonton seluruh 40 show mereka.
No, 54 shows. Gila banget. Mereka ibarat Grateful Dead buatku. Hampir di setiap pertunjukan itu cuma aku satu-satunya anak kulit putih di sana. Tapi aku belajar sesuatu, semua ini bukan tentang warna kulit selama kamu mencintai musiknya. Aku ‘gak pernah menonton konser seperti itu, mereka bermain sepanjang empat sampai enam jam penuh, nonstop. Garry Shider (gitaris Funkadelic-Parliament aka P-Funk) dengan popoknya, dan ada sekitar 30 orang di atas dengan beat yang sekalipun ‘gak pernah berhenti. Suatu waktu aku menyaksikan George Clinton di New Orleans, konsernya harusnya mulai pukul 9 malam, tapi dia baru muncul pada tengah malam. Hari ini ‘gak ada promotor yang berani menyelenggarakan konser berdurasi tiga jam. Aku pun ‘gak menyadarinya, seakan lupa waktu sampai tahu-tahu konser telah selesai dan pas aku keluar dari gedung pertunjukan ternyata langit terang, matahari sudah terbit. Aku ‘gak percaya. . . enam jam! Maksudku, kokain crack narkoba yang enak, kan? Zat itu benar-benar mengeluarkan manfaatnya dan aku rela tersesat bersamanya. George Clinton menulis musik yang. . . ada satu episode kartun Bugs Bunny di mana dia mengendus aroma kue pai sampai mencengkeram hidungnya, itulah yang ‘kurasakan dari mendengar musik beliau. Musik seperti itu jugalah yang ingin aku tulis. Musik yang memiliki aroma sangat kuat hingga mencucuk hidungmu atau telingamu, dan kamu ‘gak kuasa menghindarinya. Aku suka ritem yang konstan, karena ibuku memberiku pelajaran tentang hidup lewat berjoget. Ketika kamu punya masalah, jogetlah.
Dia menggunakan joget sebagai metafora—
No. Joget secara harfiah. Ketika aku mengalami pergulatan batin sewaktu masih remaja, ketika aku punya masalah, dia akan menyetel musik dansa dan kami akan berjoget. Itu akan membuat perasaan buruk pergi, uhm. . . mungkin ‘gak akan membuat masalahmu selesai tapi kamu mampu memitigasi dirimu lewat itu. Seakan setiap masalah kelihatan lebih mudah untuk ditangani.
Siapa tukang joget favoritmu?
Richard Simmons. Karena dia akan membuatmu senam sambil berjoget. Dan bisa membuat fisikmu jadi sehat. Richard Simmons besar peranannya di hidupku, sangat memberiku influens, baik secara musikal maupun penampilan panggung. Ibuku sering menyetel album rekaman Richard Simmons dan senam bersama teman-teman seksinya. Ada gerombolan ibu-ibu bahenol datang ke rumahku dengan baju ketat dan senam beramai-ramai. That was awesome. Jadi sekarang kapan pun aku mendengar suara lelaki homo, aku jadi sangat sange. Itu fenomena Freudian yang cukup aneh, dude. For, sure.
Dari semua albummu, aku paling suka Boots Electric memainkan The Best Song We Never Wrote (UMe, 2019). Mungkin karena aku selalu suka cover version. Ada Guns N’ Roses, Ramones, AC/DC, uhm. . . apa lagi, ya. . .
Love & Rockets, Mary J. Blige—
Ah, Mary J. Blige! Itu aneh tapi sekarang aku mengerti kenapa kamu memilihnya.
I fucking love her. Itu salah satu lagu terbaik yang pernah direkam industri musik. Seri berikutnya kami akan memasukkan Kylie Minogue, dan juga Bachman-Turner Overdrive—
Hal yang paling keren dari album itu adalah, musiknya tetap terdengar seperti Zipper Down (Downtown Recordings, 2015), karaktermu kuat melekat.
Well, aku punya teori tentang menulis lagu cover version. Kamu harus tetap jujur dengan upaya konstruksi ini. Kamu ‘gak boleh kehilangan spirit lagu aslinya, tapi kamu juga harus jujur pada dirimu di saat bersamaan. Kalau kamu serius melakukannya, bukannya malah menjadikannya lelucon, dan kamu menghormatinya, kejujuran itu akan keluar dengan sendirinya. Aku selalu dapat mendengar sesuatu yang lebih dalam dari sebuah lagu. Sebagai contoh, saat mengerjakan “So Alive” aku tahu idola terbesar Love & Rockets adalah T. Rex. Jadi ‘kubayangkan, ‘gimana kalau aku menarik lagu itu kembali ke formula awalnya? ‘Gimana kalau aku jadikan saja lagunya seperti diciptakan oleh T. Rex? Dan itu berhasil. Karena sesungguhnya sukma lagu tersebut adalah T. Rex.
‘Gimana dengan “It’s So Easy”?
‘Kupikir lagu Guns N’ Roses akan terdengar menarik seandainya digubah ulang dengan gaya James Brown. Dan ada satu cerita kenapa aku memilihnya, karena suatu waktu kami pernah ditendang dari line-up tur Guns N’ Roses, dan Axl Rose mencemooh dengan menyebut kami “The Pigeons of Shit Metal” (memperlihatkan lengan kiri bagian atasnya yang terajah gambar salib Appetite For Destruction yang dihinggapi kawanan tengkorak burung dara). Saat itu aku berpikir, “Whoa, awesome!” dan sejujurnya kejadian itu cukup membantu karirku ke depannya. Tapi aku suka dengan Guns N’ Roses, jadi aku hanya—
(Tertawa) Memangnya, apa yang kamu lakukan di tur itu?
Kami cuma main di satu pertunjukan, itu era yang labil bagi Guns N’ Roses di era Chinese Democracy (Geffen, 2008). Mereka bukan Guns N’ Roses. Mereka adalah G dan R, Uns dan Oses-nya menjadi Velvet Revolver. Tapi aku menghormati mereka, dan itu rasa hormat yang pantas diberikan. Terlepas dari apa yang terjadi saat itu, fucking “It’s So Easy” adalah salah satu lagu kesukaanku di Appetite For Destruction (Geffen, 1987), rekaman rock & roll terakhir yang pantas dianggap sebagai album berbahaya. Sangat jujur, album rock & roll paling murni yang pernah dibuat. Bodoh kalau kamu sampai menyangkalnya, seenggaknya buatku. Jadi kayaknya bakal lucu kalau kami menggubahnya ulang dengan mengundang sejumlah penari telanjang dari Jumbo Clown’s Room sebagai penyanyi latar.
Dan kenapa kamu memilih “Moonage Daydream” di antara lagu Bowie lainnya?
Well, kami merekamnya di Third Man Records di salah satu bilik pemotongan pita ril milik mereka sehingga kami bisa langsung mencetaknya menjadi piringan hitam. ‘Kurasa hal itu keren karena David Bowie, dia datang dari masa depan. Apa yang akan terjadi bila kami merekamnya seolah beliau adalah Robert Johnson?
Album itu seperti menceritakan perjalanan musikalmu. Satu lagu lain yang mengecohku adalah “The Hunger”, itu lagu Distillers favoritku tapi aku ‘gak mengenalinya ketika mendengarkan versimu.
Aku main flute di situ. Memang lucu ketika kita menerjemahkan sebuah lagu milik orang lain melalui jiwamu, dengan kord yang persis sama, yang keluar dari diri kita, you know. . . seperti Cat Stevens, setiap kali aku tengah dilanda masalah atau sedang sedih, aku mendengarkan “Trouble” karena lagu itu mampu berbicara kepadaku. Man, aku ‘gak bikin musik yang ‘gak mau ‘kudengarkan. Aku mendengarkan semua musik yang ‘kutulis. Jadi aku punya standar atas apa yang ‘kuciptakan. Ketika merekam sebuah lagu, aku mencoba mencampurkannya dengan berbagai referensi dari musisi-musisi hebat lainnya. Seandainya ‘kupikir hasilnya memuaskan, referensi tersebut akan ‘kupertahankan. Jika jelek, aku akan memulainya lagi dari nol. Kalau aku bisa menggabungkan David Bowie dengan The Rolling Stones ke dalam musikku dan ‘gak ada yang perlu dieliminasi, tandanya aku sudah berjalan di jalur yang benar.
Kita semua adalah penggemar musik, pernahkah kamu berada di posisi mengalami starstruck? Karena kamu pasti punya banyak kesempatan bertemu langsung dengan idola-idolamu.
Yeah, aku sempat bertemu dengan beberapa idolaku. Tapi aku ‘gak pernah mengalami startstruck sampai di titik bibirku terkunci saking gugupnya. Tapi saat bertemu David Bowie, aku dibuat terpesona olehnya dan merasa malu. Momen paling starstruck yang pernah ‘kualami adalah pas bertemu Brad Pitt. I fucking love Brad Pitt, dia lelaki paling ganteng yang pernah dilahirkan ke dunia.
Rambutmu tampak seperti Brad Pitt sekarang. . .
Percayalah, aku selalu ingin terlihat mirip dengan Brad Pitt (mengibaskan rambut belah tengah pirangnya yang jatuh menggantung hingga ke ujung matanya). Aku selalu merasa beruntung punya kesempatan untuk bertemu para idolaku, itu pengalaman yang menakjubkan. Tapi pertemuan itu terjadi dalam konteks diriku yang juga seorang seniman. Jadi ketika aku tahu Paul McCartney mendengarkan Peace, Love, Death Metal dan Death By Sexy atau Gene Simmons suka menyetel albumku di mobilnya, rasanya seperti memenangkan sebuah penghargaan tanpa piala. Kamu ngerti, kan? Diakui oleh beberapa orang tertentu adalah sebuah validasi yang ‘kubutuhkan.
Menyinggung Gene Simmons, ‘gimana kamu membandingkan Destroyer (Casablanca, 1976) dengan Love Gun (Casablanca, 1977)?
Well, konser rock pertamaku adalah menyaksikan KISS saat tur Destroyer. Dan ‘gak ada yang mampu menandingi tujuh album pertama KISS. ‘Gak ada lawan yang sebanding. KISS, dengan tata rias dan pengaruh besar kultural yang disebabkan, mudah bagi kita untuk mengatakan betapa brengseknya lagu-lagu mereka. ‘Gak ada satu pun musisi di dunia hari ini yang luput dari pengaruh KISS, entah hal itu mereka sadari atau ‘gak akui. Kami pernah sekali main sepanggung dengan Spinal Tap, itu momen yang spektakuler, bertemu Michael McKean sangat berarti besar buatku. Tapi sekali lagi, aku memandangnya bukan cuma dari posisi aku senang dapat bertemu dengan para idolaku, tapi mereka juga harus mau menemuiku. Dengan begitu semuanya membumi, ‘gak ada yang berderajat lebih rendah.
Sama sepertiku, ketika aku harus mewawancarai seorang musisi sering kali aku terserang grogi tapi begitu pertanyaan pertama dilontarkan, semuanya segera berangsur setara. Aku sebagai jurnalis ‘gak merasa lebih rendah dibanding, misalnya Jesse Hughes, seorang rock star. All is cool. Kita sama-sama sedang bekerja di sini.
Kamu tahu, ketika aku bertemu musisi atau orang yang ‘kuidolakan, hal pertama yang ‘kupikirkan adalah, aku ingin mereka menyukaiku. Tapi setelah aku memandangnya lagi lebih dalam. . . bukan, merekalah yang seharusnya khawatir apa yang sedang ‘kupikirkan ketika mereka bertemuku. Itu pikiran dua arah. Kalau kamu mampu mempertahankan cara berpikir seperti itu semuanya akan berlangsung lancar. Aku selalu memandang setiap situasi adalah situasional, dan apa yang kita kerjakan di dunia seni ini adalah sebuah anugerah, mimpi yang magikal. Sebuah rahmat istimewa. Kini saat aku bertemu idolaku, hal pertama yang ‘kuperhatikan adalah, apakah mereka juga menghormati karya yang sudah ‘kubuat? Dan ketika aku bertemu dengan idolaku dan dia bersikap songong, maka mudah bagiku untuk mencap, “You’re kind of a dick!” Aku ‘gak pernah berpikir kalau kita punya hak untuk memperlakukan orang lain seperti kotoran. Satu-satunya alasan aku ada di sini adalah karena orang-orang menyukai karyaku, itu yang membuat para seniman terasa penting. Aku ingin tetap humble, kerendahan-hati adalah sesuatu yang bernilai penting.
Kamu sangat humble sekarang, bersedia memberikanku wawancara di jam setengah satu pagi di depan kamar hotelmu.
Oh, you’re awesome, dude. Kemarin ketika kamu meminta wawancara, seketika itu juga aku langsung tertarik denganmu. Aku pikir, “Fuck yeah, I’ll talk to this guy, why wouldn’t I?” Aku mau saja melakukannya saat itu juga sehabis manggung jika saja istriku ‘gak sedang sakit. Aku harus pulang ke hotel menemani istriku.
Thank you.
Dan aku sangat menikmati obrolan kita ini. Pertanyaan-pertanyaanmu berbobot dan respectful dan aku bisa lihat kamu telah mempersiapkannya dengan serius (menunjuk ke arah note book). Really fucking awesome.
(Terkekeh, dan bangsat saking tersipunya rokok saya jatuh ke lantai. Maksud hati ingin mengacuhkannya dan lanjut ke pertanyaan berikutnya tapi Jesse membungkukkan badan lalu memungutnya untuk diberikan kembali ke tangan saya)
Kamu mau menyalakannya? (menyodorkan korek api).
Yeah, sure. (saya meraihnya, menyulut rokok dan melanjutkan obrolan). Di konser semalam, aku langsung pergi ke bar dan memesan dua shot tequila begitu kamu memainkan “I Put a Spell On You.”
Oh, itu salah satu lagu favoritku sepanjang masa.
Screamin’ Jay Hawkins, he’s so cool.
Karena dia aku ada di sini. Maksudku, dialah sang raja. Tanpa dia, ‘gak akan ada Alice Cooper atau Turbonegro, juga Marilyn Manson. . . ‘Gak akan ada penyanyi dengan rias wajah dan kostum yang keluar dari peti mati menggendong seekor monyet.
Dan jubahnya. . . sama seperti kamu juga sering kali mengenakan jubah.
Oh, I love capes. Aku punya banyak koleksi jubah. Aku berkecimpung di dunia bisnis pertunjukan. Aku penggemar berat (aktor) Tim Curry. Setiap tahun aku memproduksi gelaran Rocky Horror Picture Show. Aku suka sekali pakai riasan, itu memudahkan diriku untuk bertransformasi. Apa yang kamu lihat di atas panggung adalah diriku di kehidupan sehari-hari. Aku suka mengenakan bermacam-macam kostum di rumah, aku suka banget berdandan, aku bergonta-ganti pakaian setiap saat. Kadang membuat istriku gila, tapi mau ‘gimana lagi, aku menyukainya.
Apa itu artinya kamu suka menyembunyikan dirimu, di balik kostum dan musikmu?
You know, ini mungkin terkesan aneh tapi bagi orang-orang sepertiku, kami harus menciptakan sebuah persona di atas panggung. Tapi sebaliknya, hal semacam itu malah menyingkap jati diriku. Sebelum terjun ke dunia musik, aku sering kali bersembunyi, cenderung berpura-pura, you know. . . aku harus mempresentasikan sesuatu. Tapi sekali lagi, sisi terjujur diriku, sisi paling tulus dari diriku ada di atas panggung. Karena itulah yang akan disaksikan orang-orang. Mereka akan tahu ketika kamu menampilkan omong kosong. Aku ‘gak pernah merasakan demam panggung atau gugup, ‘gak pernah sekalipun. Itu sesuatu yang aku banggakan.
‘Gak pernah merasa mual sebelum naik panggung (tertawa)?
Never. Itu akan membuat Joshua dan teman-teman bandku kesal. Di tur pertama Eagles of Death Metal, ‘tiap malam aku turun dari panggung dan Joshua berdiri di sebelahku bertanya, “Kamu ‘gak grogi, ‘kan?” Dan aku bilang, “Fuck no!”. Di band ini akulah yang bertugas memberitahu mereka, lalu kenapa aku harus merasa gugup? Aku suka berada di atas panggung. Aku suka dengan penontonku. Buatku, ‘gak ada itu istilah “kami dan mereka”. Kita semua rock and rollers. Kita ada di sini untuk melakukan hal yang sama, hanya saja berbeda peran. Peranku ada di atas panggung, sedangkan kalian ada di hadapanku. Aku ‘gak suka melakukan sesi “meet and greets” karena aku selalu ada di luar venue menemui penontonku. Kami baru menyelesaikan tur Amerika Serikat, manajerku bilang, “Kita akan melakukan ‘meet and greets’, kita bisa menghasilkan banyak uang.” Dan aku jawab, “Ngapain?” Aku sendiri yang akan menemui mereka di luar, nongkrong, berfoto-foto, ngobrol. Aku ‘gak berdiam diri menunggu di bus atau sembunyi, aku ingin menemui penontonku, aku ingin tahu siapa mereka, aku ingin menyapa anak-anak mereka, aku ingin tahu apa hari ini mereka berulang tahun. Hal semacam itu memberiku bahan untuk dibicarakan di atas panggung, yang mana sejujurnya aneh setelah apa yang pernah ‘kualami di Paris. Tapi aku ‘gak bisa menjelaskan kepadamu kenapa aku bereaksi seperti itu. Mungkin setelah peristiwa di Paris harusnya aku jadi seorang paranoia, aku butuh sekuriti di mana-mana, tapi aku ini ‘gak terlalu penting, dude. You know what I mean? Aku ‘gak bisa membiarkan orang-orang jahat itu menang. Pikiran untuk merasa takut terhadap orang lain karena seseorang yang jahat mengancamku adalah sesuatu yang ‘gak pernah aku turuti. Aku sudah menetapkan diri untuk ‘gak pernah takut terhadap apa pun. Maksudku, kalau waktuku untuk mati telah tiba, aku tahu ke mana aku akan pergi. Aku tahu ke mana jiwaku akan mengarah. Aku ‘gak ingin mati, aku ingin hidup. Aku cuma takut hidup dengan cara yang keliru. Aku bersyukur memiliki takdirku sekarang karena aku bahagia berada di atas panggung. ‘Gak ada seorang pun yang dapat merampok rock & roll dariku, terutama para iblis brengsek itu. Berada di atas panggung adalah kegembiraan sejati buatku. Hal terbaik di dunia adalah mampu menghibur orang-orang yang kita sayangi. Kalau mereka bisa nongkrong denganku untuk beberapa jam dan hal itu mampu melupakan sejenak kejadian-kejadian buruk hidup mereka, artinya aku telah menunaikan pekerjaanku dengan baik. Aku ada di Bali sekarang, mengobrol denganmu dan lihatlah tempat ini. Aku ada di surga sekarang ngobrolin rock & roll denganmu, nikmat apa lagi yang kita dustakan dari dunia ini? ‘Gak denganku, maksudku. . . dude, aku akan naik pesawat besok, pulang ke rumah dan—
Oh, liburanmu akan berakhir besok?
Yes, aku sudah berada di sini selama seminggu.
Beruntung sekali aku bisa menemuimu di malam terakhir ini.
This is awesome. You know, rock & roll adalah penghubung yang ajaib, kita berdua dipertemukan olehnya. Jika kamu ingin membicarakan topik politik pun, fuck it, aku ‘gak keberatan meladeninya. I don’t give a shit about that, selama pandangan politikmu ‘gak merusak, selama kamu bukan seekor iblis, aku ‘gak punya masalah, dude. Let’s fuckin dance!
Kamu sudah cukup pulih dari peristiwa penembakan di Bataclan?
You know, rasanya masih aneh menerima pertanyaan menarik seperti ini. Aku ‘gak masalah membicarakannya dan aku mudah sekali tersentuh secara emosional.
Emosimu terpampang gamblang di sepanjang Nos Amis.
Well, karena memang sangat emosional. Kejadian itu berpengaruh kuat sekali, dan aku ‘gak bisa berhenti memprosesnya selama, mungkin 10 tahun. . . no, 11 tahun. Aku ‘gak mau mengatakan kalau lukanya mustahil sembuh, sebab aku ‘gak pernah bermimpi buruk tentang kejadian itu. Aku ‘gak pernah menjadi pribadi yang penuh kebencian setelahnya, tapi juga ‘gak bisa benar-benar selesai dengan itu. Kejadian itu tertanam di memoriku selamanya. Beberapa hal taik yang ‘kusaksikan, maksudku. . . tubuhku penuh bekas luka dari malam itu. Tapi rakyat Prancis dan segenap army rock & rollers dari seluruh dunia mendukung, berdiri bersamaku. You know, ada banyak sudut pandang untuk menjelaskan situasi yang kami alami. Tapi aku ‘gak terlalu ambil pusing dengan ragam perspektif brengsek yang beredar, terserah apa pun perspektif yang kamu yakini—bisa saja aku melihat ini sebagai sebuah tragedi yang menimpaku dan akulah korbannya. No, bukan akulah korbannya. Ya memang sesuatu yang mengerikan telah terjadi, sesuatu yang sangat kelam. Tapi di tengah itu semua aku dapat melihat rasa cinta yang besar dari demonstrasi kemanusiaan yang menyatukan niat serta naluri kebaikan terbesar yang pernah ‘kualami, dan masih berlanjut sampai hari ini. Buatku, itulah hal terbaik yang benar-benar pernah terjadi. . . dan aku ‘gak bermaksud mencari elemen terang dari sebuah tragedi, tapi aku melihat orang melompat mengadang peluru untuk melindungi teman-teman yang mereka sayangi. Alkitab mengatakan, cinta sejati adalah milik mereka yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk orang-orang terkasih. Aku menyaksikan hal tersebut berulang kali. Meskipun harga yang dibayar amatlah mahal, tapi itu sebanding dengan darah mereka. Akulah saksi mata dari pengorbanan kasih sayang terhebat yang pernah eksis. Itulah arti peristiwa tersebut buatku, orang-orang terbunuh, tapi orang-orang juga mengorbankan nyawa mereka untuk orang-orang yang mereka sayangi.
Bali pernah dua kali mengalami tragedi bom bunuh diri, dan di kota asalku, Jakarta juga cukup sering terjadi serangan teroris.
Yeah, kalau kita membiarkan para teroris itu menang, mereka akan terus menggentayangi isi kepala kita. Dan mereka berhasil menggerogoti kita, tapi bukan begitu caraku memandangnya. Aku melihat spirit rakyat Prancis bangkit, mereka menolak untuk dikalahkan. So yeah, harga pengorbanannya memang besar. Dan seandainya aku berkuasa menentukan takdir, aku akan membuat peristiwa itu ‘gak terjadi, tapi bukan aku yang berkuasa. (Suaranya bergetar seolah menahan tangis) Aku percaya Tuhan ‘gak akan menguji di luar kemampuan kita, jadi seandainya aku memang harus mengalaminya berarti aku mampu menanganinya. Pundakku penuh dengan tanggung jawab. Akulah sosok yang harus bicara untuk Bataclan, itu tanggung jawab yang berat, tapi juga sebuah kehormatan. Dan aku mengembannya dengan serius, sungguh-sungguh serius karena banyak nyawa telah melayang. . . mereka bukan korban, merekalah para juaranya. ‘Gak ada yang “membunuh” mereka. Aku ‘gak melihat satu pun pecundang malam itu kecuali mereka para pelaku kekerasan. Aku ‘gak tahu satu pun nama para pembunuh, dan aku ‘gak ingin tahu karena persetan dengan mereka. Aku memikirkan teman-teman kita yang mati dan teman-teman kita yang selamat dan punya keberanian untuk datang lagi ke konser rock & roll. Mereka terus mengirimiku surat, mencoba meyakinkanku untuk terus menulis musik. That’s powerful. Uhm, aku berhasil selamat dari malam itu, that’s awesome, that’s magical. Aku ‘gak bisa disebut korban karena aku hidup. Aku bukan korban karena aku menjadi saksi mata dari cinta yang menakjubkan. Keindahan bisa tampak mengerikan, bisa tampak sangat buruk. Keindahan bisa kelihatan sangat hebat dan diciptakan oleh sesuatu, you know. . . kamu pernah melihat ledakan atom?
That mushroom cloud looks fucking beautiful.
Yeah, sangat cantik, ‘kan? Kamu pernah melihat tornado? Aku pernah diterjang tornado, fucking destroy everything. Tapi itu pemandangan yang indah dan megah. Aku melihatnya sebagai cahaya. Terdapat cahaya di ‘tiap sendi kehidupan. Aku ‘gak akan membiarkan siapa pun menempati sebuah sudut di otakku, orang jahat ‘gak bisa hidup di sini (menunjuk dahinya sendiri ). Mereka ‘gak berhak mendapatkan sedetik pun waktuku. Saat aku melihat orang-orang ditembaki, dibunuhi, itu mengerikan. Tapi ketika aku menyaksikan seseorang orang mengorbankan nyawanya untuk teman-temannya, itulah keindahan. Memori itu lebih sepadan untuk diingat dibanding sisi gelapnya. Keberanian itu, keteguhan hati itu, untuk menolak menyerah di tangan musuh. That’s beauty, mengerikan. . . it’s terrible with beauty, dan menginspirasikan arti sebuah pengorbanan besar. You know, kalau kita fokus pada anger, lama kelamaan akan menjadi kanker. Kalau kita fokus pada kebencian, itu akan berkembang menjadi penyakit hati. Serangan terorisme sebenarnya mengincar otak kita, dimaksudkan merasuk ke dalam hati dan pikiranmu sehingga bahkan ketika ‘gak terjadi apa pun, kita merasa ketakutan. Rasa takut bukan sesuatu yang ‘kuhidupi, dan bisa dipastikan aku ‘gak takut menghadapi para pengecut. Mereka yang seharusnya takut denganku.
Kamu tinggal di Amerika, di mana orang diberi hak untuk memiliki senjata api secara legal.
Lihat ini (menyingkap leher kaus kutung hitamnya dan mengeluarkan kalung emas berbandul sepucuk Colt). Tuhan menciptakan lelaki dan perempuan, senjata api menjadikan kita sederajat. Berkali-kali aku mengatakannya, karena memang seperti itulah kebenarannya.
Uhm, I don’t get it.
Kalau kamu pegang senjata dan aku juga pegang senjata, kita sama-sama bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kalau hanya para penjahat yang pegang senjata, mereka akan semena-mena. Kamu pernah melihat sebuah situasi di mana seseorang berada di dalam pintu, sementara polisi berada di luar dan saling meminta agar salah satu dari mereka mau menyerahkan senjata? Kenapa? Karena ketika satu pihak melakukannya posisinya ‘gak seimbang lagi. Aku berani taruhan jutaan Yahudi yang dibantai di Holocaust ‘gak akan mau menurut ketika digiring menuju kamar gas kalau saja mereka memegang senjata sebagaimana tentara Jerman. Atau ribuan orang yang mati di Perang Yugoslavia ‘gak akan mau diperintah masuk hutan untuk disembelih kalau mereka juga pegang senjata. Mereka ‘gak akan berani memperkosamu kalau kamu pegang senjata, It’s true. . . Orang-orang ‘gak berani menantang polisi karena mereka ‘gak memegang senjata. Yeah, dan kalau ada orang yang mencoba merampokmu, kenapa kamu ‘gak berani melawan dan lebih memilih menyerahkan uangmu, karena kamu ‘gak pegang senjata.
Sangat masuk akal.
Aku hanya seorang realis. Aku ‘gak bermaksud menyinggung hal-hal politik. Aku ‘gak bermaksud memancing keributan, aku cuma pernah punya pengalaman, dan senjata api membunuh lebih banyak orang di tempat di mana orang-orang ‘gak diizinkan untuk memiliki senjata api.
Kamu pernah menembak seseorang?
‘Gak pernah satu pun. Tapi aku pernah kena tembak.
Damn.
Yeah, saat aku berusia 17. Aku terjebak di tengah perkelahian geng dan satu peluru menghantamku (kerah kaus bagian kirinya ditarik memperlihatkan bekas luka di bagian selangka kiri). Urusan senjata api itu aneh, man. . . kenapa bukan pemerkosaan atau penyerangan, pemukulan fisik sebagai kejahatan tingkat pertama? Maksudku, mobil membunuh lebih banyak orang dibanding apa pun. Serangan teror terbesar disebabkan oleh tabrakan kendaraan. Jadi kenapa kita ‘gak bisa melarang orang untuk berkendara di malam hari? It’s retarded. Aku hanya berpikir secara logis, tingkat kejahatan terendah di Amerika terjadi di daerah yang mengizinkan kepemilikan senjata api.
Yeah, aku bisa mengerti.
Ada alasan di balik kenapa Uni Soviet dan Amerika Serikat ‘gak saling menghancurkan satu sama lain dengan bom nuklir, karena mereka sama-sama memilikinya. Dan kamu pasti sadar, kami (USA) mencoba mencegah beberapa negara lain untuk membuat bom nuklir. Kenapa? Karena itu membuat mereka setara. Aku ‘gak suka hal semacam itu. Aku berharap dapat tinggal di sebuah negeri dongeng di mana ‘gak ada seorangpun yang punya senjata api. Yah, kamu tahu. . . kalau seseorang mencoba untuk melukai ibumu, kamu ‘gak mungkin cuma melindunginya dengan merengek, “Please stop!” Kamu harus balik menghancurkan mereka. Dan ‘kupikir aku percaya setiap orang harus memiliki suatu perangkat khusus untuk membuat mereka dapat hidup dengan tenang. Aku percaya setiap orang berhak atas air bersih. Aku percaya setiap orang harus punya akses ke makanan dan aku percaya setiap orang harus punya akses untuk menjamin bahwa ‘gak akan ada orang jahat yang bisa melukai mereka. Dan sebelum polisi-polisi memiliki kemampuan supranatural, kejahatan akan selalu bisa menyambar kita. Kita ‘gak selalu bisa mengandalkan polisi, aku ‘gak berharap seseorang akan datang membantuku. Aku akan melindungi diriku sendiri, you know. . . buatku, sikap menyerahkan tanggung jawab begitu saja kepada pemerintah adalah sebuah tindakan lepas tangan. Kenapa bukan kita sendiri saja yang menyelesaikan masalahnya? You know what I mean. . . Aku orang praktikal. Seringkali orang mencapku sebagai konservatif brengsek, aku bukan orang seperti itu. Aku liberal kiri, tapi kalangan pers suka sekali menyebutku golongan kanan. Aku bukan orang politik, aku bodo amat dengan hal itu dan ‘gak ada orang bisa memaksaku untuk mau ambil peduli. ‘Gak akan ada orang yang bisa mempengaruhiku untuk membenci seseorang dan aku menolak percaya sesuatu yang ‘gak nyata. Seperti contohnya, aku bukanlah bagian dari kaum bumi datar. Aku ‘gak percaya bumi itu datar. Cuma orang dungu yang percaya bumi itu datar. Aku punya beberapa teman yang percaya itu, salah satunya bilang, “Dude, kalau bumi itu bulat, yang kita lakukan saat traveling hanyalah terbang lurus ke atas, kemudian bumi bergerak di bawah kita lalu kita turun kembali.” Aku membalasnya, “Dude, lau pernah liat akuarium bulet? Kalau lau angkat, tuh akuarium semua isinya ikutan gerak, cuma karena kita ‘gak bisa liat atmosfer bukan berarti hal itu ‘gak berwujud. Sama persis kayak air, mereka ikutan bergerak, bukan cuma wadahnya doang. Isi akuarium ‘gak cuma berputar di dalam wadah itu doang – mending lau berenti ngisep lem, deh!”. Kamu pernah naik pesawat terbang, kan? Maksudku, ‘gimana bisa hal-hal yang bersifat celestial. . . (tiba-tiba omongannya terhenti, ia memutar lehernya, melihat ke atas ke arah kegelapan langit Pererenan). Dude, dua titik hijau di atas itu apa, ya? Kamu lihat, kan? (tampak sepasang sepasang cahaya laser berwarna hijau melayang statis di tegak langit malam).
Shit, kayaknya kita sedang diawasi.
(Mimik Jesse datar, tentu saja ia tidak percaya). Apa itu sebuah menara?
Nah (tertawa), itu layangan. . .
What?
Layang-layang, orang Bali hobi main layangan.
Oh, a kite! Itu maksudku! Itulah poin yang ingin ‘kusampaikan. Itu cuma layangan. Tapi ‘gimana kalau ada orang yang memotretnya secara blur? Lalu orang-orang akan menganggapnya sebagai alien. Dungu. Kagak ada alien.
Yeah, yeah kamu ‘gak percaya alien (terkekeh).
Fuck! No, dude, ayolah! Kalau kita melihat bintang, cahaya itu berusia jutaan tahun. ‘Gak ada yang bisa datang ke sini tanpa kita lihat kemunculannya dari jarak jutaan mil. Sampai sejauh ini, ‘gak ada seupil pun! Fakta berikutnya, untuk mampu mencapai bumi, mereka harus berstatus superior, correct?
Yes.
Superior ‘gak sembunyi. Superior ‘gak seperti seorang Leprechaun (peri jantan nan kontet dari cerita rakyat Irlandia). ‘Tiap kali kita (merasa) melihat mereka, mereka menghilang. Superior menampakkan dirinya dan berdiri di sini. Ketika pasukan Roma nongol, mereka ‘gak sembunyi di balik pohon. Mereka berparade di depan mata kita semua, memamerkan kekuatannya. Superior doesn’t hide. Kamu tahu siapa yang bersembunyi? Para penipu. Kamu tahu siapa lagi yang bersembunyi? Pesulap dan trik sulapnya. That’s what fucking hides. Namun biar ‘gimanapun, memang terkandung komponen spiritual. Mungkin aku masih bisa mempercayai adanya ruang antar-dimensi. Aku seorang Kristen. Alkitab mengatakan hal-hal gila yang tampak seperti film fiksi-sains. Iblis akan menggoda kita: “Yeah, aku berasal dari luar angkasa.” Tentu. “I’m from fucking Jupiter.” Right. “Aku dari Mars.” Percayailah apa pun yang kamu yakini. Tapi luar angkasa, dude, kita tinggal di sebuah tempat unik bernama “clean space”. Sangat unik untuk ukuran galaksi ini. Bahkan dengan menggunakan sebuah alat penyamaran sekalipun, ‘gak ada yang bisa datang ke sini tanpa membakar separuh langit semesta. Karena selain bumi, it’s just fucking debris. Bebatuan aneh ada di mana-mana. ‘Gimana caranya mereka bisa menciptakan lintasan? Kita ‘gak bisa bergerak secara lurus di ruang angkasa. Kalau sampai menabrak gumpalan debris dalam kecepatan tinggi yang memungkinkan mereka untuk dapat mendarat di sini, pastinya mereka akan menghancurkan semua benda yang dilaluinya. Sekarang kita membicarakan jarak tahunan cahaya secara eksponensial sebab mereka mesti bermanuver untuk menghindari gumpalan debris, dan fuck. . . ‘gimana caranya mereka dapat mengetahui posisi yang tepat saat semua di alam semesta ini selalu terus bergerak? Bayangkan saja, hari ini masih ada orang yang percaya dengan Bigfoot, bahkan para park ranger telah mengakui mereka merekayasa jejak kaki Bigfo0t yang pertama demi menggenjot turisme di Taman Nasional.
Persis dengan crop circle.
Dude! Aku pernah bikin crop circle. Gampang banget (berdiri untuk mempraktikkan). Ambil empat buah tali, dua di antaranya yang berukuran besar. Yang kamu lakukan selanjutnya adalah tancapkan pasak di tengah, ikat masing-masing tali-tali tersebut dari ujung ke ujung lalu lingkarkan ke pinggangmu dan mulailah berjalan membentuk lingkaran. Kalau kamu mengerjakannya bersama 15 orang lain, yeah akan terpola sebuah simbol aneh yang keren. Itu bukan kode sandi bagi alien untuk mendarat, dude. Memangnya mereka mau ngapain kalau datang ke sini? Hal itu malah melawan intuisi. Jadi biar ‘kutekankan, kita bisa membangun mesin yang mampu menembus wormhole dan tetap tersamarkan. Gagasan tentang alien muncul di tahun 30-an, saat itu orang-orang merasa skeptis, tentu saja, sehingga mereka harus membuat crop circle untuk membuktikannya. Lagian, kenapa juga ilmu fisika alien harus berdasarkan dari ilmu milik manusia? Dude, kita memiliki kemampuan untuk membuka pintu-pintu, kita bisa pergi ke Northrop Grumman (perusahaan aerospace asal USA) dan melihat arsip-arsip mengenai teknologi angkasa yang telah dikembangkan sejak tahun 80-an. Di sana ada landasan mendarat bagi pesawat ulang-alik atau bangkai kapal luar angkasa yang sedang diperbaiki. Mereka punya pesawat jet yang dipakai untuk mengevakuasi satelit. Umat manusia telah memikirkan semuanya, dude. Kapal tercepat di dunia, SR-71 sudah dikembangkan sejak tahun 40-an, sialan. Dan pesawat itu sudah kuno, ‘gak bisa dipakai lagi. So, no! There’s no fucking aliens from outer space, dude.
Gagasanku tentang alien—
Kamu percaya dengan alien?
Nope.
Of course, karena kamu cerdas, dude.
Menurutku alien adalah imajinasi manusia terhadap masa depan mereka sendiri. Nantinya kita akan berpindah keluar Bumi dan beremigrasi mengisi seluruh alam semesta ini, meski pasti butuh waktu miliaran tahun untuk itu. Pada saat itu terjadi bentuk tubuh manusia akan mengalami evolusi menyesuaikan diri dengan situasi planet yang akan ditinggali, itulah kenapa wujud alien tampak aneh, tapi tetap hampir beranatomi seperti manusia.
I love Star Trek, dude, dan Star Wars, tapi aku ‘gak percaya mereka nyata. Kalau bisa aku ingin sekali mempercayai keeksisan mereka, bahwa Luke Skywalker itu nyata. Aku selalu ingin mengenakan kostumnya untuk Halloween. But fuck, tetap saja dia bukan makhluk nyata. Orang-orang yang mempercayai keberadaan alien biasanya sulit untuk meyakini keberadaan Tuhan. Aku sempat berargumen dengan beberapa orang dan mereka berhasil ‘kukelabui. “Dude, lau ‘gak percaya alien?” kata mereka, dan aku menjawabnya, “Okay, ‘gimana dengan Tuhan, apa lau semua mempercayai keberadaan-Nya?” Kata mereka, “Ah, lau percaya dengan sihir kalau ‘gitu.” Tunggu sebentar, artinya kita sama-sama mempercayai sihir. “Jadi lau juga ‘gak percaya dengan teori evolusi?” Aku jawab, “Maksudmu monyet ajaib yang bisa bicara yang ‘gak pernah kita temukan fosilnya?” Tapi kita mampu menemukan kerangka komplet dinosaurus hampir di mana-mana – bukan cuma tulang atau serpihannya tapi keseluruhan kerangkanya, dan ‘gak cuma satu doang. Tyrannosaurus ditemukan dalam bentuk struktur lapisan tulang, dan ada lima, enam, dua puluh spesies berbeda di satu area. Tapi kita ‘gak mampu menemukan satupun kerangka komplet monyet ajaib yang bisa bicara atau seekor ikan dengan kaki atau hewan-hewan transisional lainnya. Get the fuck out of here!
Okay, kembali ke musik. Tadi kamu bilang inspirasi terbesarmu menulis musik datang dari perempuan.
Well, lagu-laguku memang ‘kutujukan untuk perempuan. Tapi lagu-laguku adalah tempatku untuk membuatku merasakan kemenangan. Ketika hal menjengkelkan terjadi, aku meyiapkan sebuah tempat agar masalah itu ‘gak tambah memburuk, dan sering kali aku menempatkan masalah-masalahku ke dalam lagu itu dan di sanalah mereka hidup, bukan lagi di diriku. Jadi lagu itu seperti sihir voodoo bagiku. Beberapa laguku memang bercerita tentang perempuan-perempuan di hidupku. “Cherry Cola” tentang temanku, namanya Cherish. “Miss Alissa” tentang perempuan bernama Alissa. Lagu-lagu itu bercerita tentang kesangeanku dan berahi untuk menyetubuhi mereka. Tapi makna sebetulnya adalah soal transaksi narkoba, ada yang lancar tapi ada pula yang berbelit. Kadang gelap, kadang penuh kesenangan, sebuah selera humor terhadap sesuatu yang buruk rupa. Aku ‘gak suka menyembunyikan apa pun, aku menikmati semua yang ‘kukerjakan. Bahkan aku sendiri menikmati segala perbuatan kelamku, dan kelak aku akan diadili oleh Tuhan karenanya. Tapi terhadap dunia, I don’t give a fuck. Aku ditahbiskan sebagai pelayan Tuhan, dan aku menjalaninya dengan sangat serius. Panggung adalah gereja buatku. Itulah kenapa aku selalu mengucapkan “Amen!” setiap kali menyelesaikan sebuah lagu. Aku ‘gak bermaksud mensyiarkan agamaku, tapi aku menjadi contoh bahwa hidupku adalah sebuah cahaya. Dan jika kamu tertarik kepada hal itu, aku akan dengan amat senang bersedia menjelaskannya padamu. Tapi sekali lagi, aku ‘gak bermaksud memaksakan apa pun kepada siapa pun. Aku melihat banyak hal indah terjadi di sini, untuk sesaat aku sangat penasaran dengan agama Hindu. Aku pernah tinggal di sebuah ashram selama enam bulan di Berkeley. Aku pengikut Ganesha. Aku mengalami beberapa hal dan aku menghormatinya dan aku seorang yang sangat relijius. Aku orang saleh. Aku ragu dengan istilah relijius. . .
Atau mungkin sebenarnya kamu seorang spiritualis?
Faith. Aku pengikut Kristus yang disiplin. Aku meyakini kata-kata Tuanku, Tuanku adalah Yesus Kristus. Aku melakukan apa yang diperintahkan-Nya karena Alkitab adalah ajaran yang sempurna, jutaan orang mengandalkannya selama ribuan tahun dan masih eksis. Pasti ada sebuah kebenaran di dalamnya. Tapi rock & roll bukanlah hasil dari studi Alkitab. Mungkin Tuhan menyayangi para pendosa dan, uhm. . . Yesus mengorbankan dirinya untuk menebus dosa-dosamu, yeah mungkin itulah rock & roll. Little Richard adalah seorang penyanyi gospel, dia melahirkan album-album gospel dan rock & roll, dan dialah rajanya. Yeah, kayaknya kalau kamu ingin menjadi seorang rock & roller sejati pergilah ke gereja sesekali. Maksudku, The Blues Brothers, mereka diturunkan untuk menjalankan misi dari Tuhan.
Aku pernah pergi ke gereja—aku dibesarkan dengan Islam, by the way. . . tapi aku merinding ketika choir gospel mereka bernyanyi, rasanya seperti mendengarkan Etta James.
Nanti kalau kamu mengunjungi Amerika, ‘kuantarkan ke gereja-gereja dengan choir gospel terbaik. Tapi aku ingin menggarisbawahi, ketika tadi kamu menyebut dirimu muslim aku harus bilang, hal itu bukan masalah bagiku. Aku ‘gak mau membenci siapa pun, terutama setelah mengalami serangan di Paris. Aku tahu perbedaan antara orang jahat. . . ‘gak semua muslim adalah orang jahat. Aku punya banyak teman muslim, dan mereka juga merasa sama khawatirnya dengan teman-teman Kristenku ketika peristiwa di Paris itu terjadi. Para pembunuh itu orang-orang jahat. Ini bukan persoalan agama, tapi individu yang jahat. Yeah, there you go buddy. . . kamu teman muslim favoritku yang baru sekarang.
Apa yang sedang dikerjakan Eagles of Death Metal sekarang?
Kami sedang membuat album baru. Kalau kamu menunggunya, waktunya ‘gak akan lama lagi. . . maksudku, kami cenderung membuat album sesuka hati. Kami sangat beruntung, karena jedanya terlalu lama, dari album pertama lalu kedua dan ketiga. . . well, sekitar tujuh tahun dari album ketiga ke keempat, yeah. . . sekarang ‘udah 10 tahun. Tapi kami berjalan di jalur yang benar, you know. . . aku pikir kami cukup konsisten. . .
Kamu puas dengan formasi bandmu sekarang?
Yeah. Eagles of Death Metal selalu diorganisir layaknya pasukan khusus rock & roll, personelnya datang dan pergi, kumpulan terbaik dari yang terbaik dan kami merasa mujur karena kami merupakan band panggung. Kami selalu tur setiap tahun selama satu dekade, coba siapa band lain yang mampu melakukannya? ‘Gak banyak band yang bernasib semujur kami, kami punya banyak materi lagu untuk dijadikan album sampai kami mati. Joshua super sibuk dengan Queens, sementara aku super sibuk melangsungkan tur, dan kami berdua baru saja mulai menyelaraskan planet-planet kami. Aku sudah punya lagu-laguku sendiri, Joshua masih tergabung di band ini, tapi ‘gak bisa ikut tur denganku. Karena ‘gak ada yang akan memperhatikanku kalau dia ada di atas panggung. I’m not fucking sharing that. Aku jadi sia-sia, dude. Mungkin aku seorang yang manis, tapi aku juga punya ego, dude, you know what I mean?
Tanpa Josh Homme pun, kalian akan selalu menjadi sebuah band all-stars.
Kami memang band all-stars. Claude Coleman, Jr. dari Ween pernah bermain dram untuk kami, fucking Joey Castillo (Queen of the Stone Age, The Bronx, Danzig, Circle Jerks, Goatsnake, Trash Talk, Wasted Youth, Mondo Generator, Bloodclot), Samantha Maloney (Hole, Mötley Crüe, Peaches), Gene Trautmann (Queen of the Stone Age, Dig, Fatso Jetson, Earthlings?), masih banyak lagi. Josh Jové (Tom Petty, The Shelters, Social Distortion, Slim Jim Phantom) pernah jadi gitaris kami, dan Scott Shiflett dari Face to Face adalah gitaris kami sekarang. Kamu haruslah menjadi seorang bintang untuk bisa bergabung dengan Eagles of Death Metal. Maksudku, Dave Grohl, Jack Black, mereka pernah mengisi musik di album-album kami karena memang seperti itulah seharusnya sebuah pasukan khusus rock & roll. Kebetulan aku adalah komandan di unit spesial ini, yeah tentu saja aku dengan senang hati menerima tugas itu. Kami tengah mempersiapkan diri untuk mengerjakan album baru, yang ‘kuharapkan bisa rilis sebelum tahun ini berakhir. Atau paling ‘gak pada pertengahan tahun depan. Musiknya masih sama, tentu saja musik seks, musik untuk bercinta. Aku ‘gak mau merombak konsep dasarnya, aku ‘gak sedang berencana meluncurkan roket—biar saja Elon Musk yang melakukannya. Aku cuma ingin berjoget, tapi hal yang sederhana bukan berarti gampang dilakukan. Musik itu seperti susu buatku, ‘gak menawarkan rasa yang baru tapi akan selalu enak ketika disajikan dengan segar.
Aku rasa cukup. Terima kasih, Jesse atas waktunya. Sekarang kita bisa mengobrol bebas tanpa direkam.
Of course, brother. Maukah kamu menemaniku jalan kaki ke mini market? Rokokku habis dan aku perlu beli beberapa Coke.












