X

Selinap Backstage: Todong Perekam dan Mengocehlah Evan Seinfeld (Part1)

by Rio Tantomo / 9 months ago / 932 Views / 0 Comments /

Evan Seinfeld bicara tentang PMA, sejarah Biohazard, sampai reuninya yang lontarkan album baru bernada politis, Divided We Fall.


Evan Seinfeld baru saja menyelesaikan tur Biohazard keliling Eropa bareng kawan sekampung Brooklyn, Life of Agony ketika secara impulsif membelikan dirinya sendiri one-way ticket ke Bali, tanpa punya jadwal pasti kapan akan pulang. Ia telah banyak mendengar soal reputasi Bali, tentu saja, seperti kodratnya ribuan turis pendamba zen memahaminya sebagai sebuah pulau beralam antik tempat dewa-dewi bersemayam menjaga keseimbangan kehidupan. Mereka menyebutnya eksotis dan meromantisasinya magis. Dalam bingkai ketuhanan pariwisata, Bali adalah tujuan bagi pengarungan perjalanan spiritual, berselaras dengan godaan hedonitas yang siap mencabik naluri kewarasan seekor manusia. Dangkal sekaligus menjeluk batin, pseudo ilahi, tergantung kepada apa dan siapa kita memilih untuk bersimpuh. Di Bali, semuanya gampang diraih, tereksploitasi secara komersial, lagi terlenakan pada gentrifikasi buta.

Bagi Evan hidup tak lagi sama, catat: glam ‘o’ rama, sejak perceraiannya dengan Lupe Fuentes—aktris porno kedua yang dinikahinya selama 12 tahun— terjadi pada 2020. Di waktu pandemi ia tersungkur depresi. Untuk kali ketiga rumah tangganya runtuh. Temannya mati overdosis. Tiba-tiba semua yang dimilikinya hilang tak berarti.

Di tengah kejatuhan tersebut ia mengambil keputusan penting, keluar dari Los Angeles pindah ke Tulum, sebuah kota pantai yang dikelilingi cenote indah dan prasasti piramida peninggalan suku Maya (para believer mempercayainya sebagai tempat pendaratan alien) di bagian timur Meksiko yang beririsan dengan Semenanjung Yucatán, membeli rumah yang garis cakrawalanya memisahkan antara Teluk Meksiko dan Laut Karibia.

Sudah empat tahun kini ia tinggal di Tulum, dalam rangka mendemoralisasi status selebritas yang penuh tekanan. Hidupnya diprogram sehat; Evan memiliki obsesi terhadap olah tubuh, jadi sehabis bangun pagi kegiatan sehari-harinya adalah workout, berjam-jam tenggelam dalam fitnes, lalu rajin jogging menelusuri pantai dan nyebur berenang di perairan lepas. Tentu ia vegetarian, di waktu yang lebih tenang melakoni yoga dan meditasi. 

Sepulangnya dari tur Eropa kemarin, di bulan April 2025, sebagaimana normalnya siklus musim panas, di Tulum akan mengalami serangan rumput laut yang mengapung saking membludaknya hingga mengotori firdaus pasir putihnya menjadi gundukan tumbuhan mati. Berenang jadi tidak bebas, aroma garam herbal menguar ke mana-mana, di saat itulah keinginan melancong terbit mencari vibrasi segar di belahan benua timur.

“Aku selalu menyukai kehidupan pantai. Bali—dan juga Thailand sudah lama masuk bucket list. Aku telah mengunjungi 80 negara selama hidupku, tetapi belum pernah ke dua tempat itu. Dan rasanya situasinya sangat tepat, aku baru saja empat bulan putus dari pacarku—so I’m single, album Biohazard sudah selesai direkam, dan tur Amerika kami akan dimulai pada Oktober. I’m free without any responsibility,” cetus Evan di sebuah sore yang sober di penghujung Agustus 2025, bibirnya sedikit pucat, suaranya serak, siang tadi ia menyempatkan periksa ke klinik dan dokter bilang adanya kemungkinan serangan diare.

Jadi duduk Evan di sebuah kursi kayu dengan mata mengantuk yang coba disamarkan akibat konsumsi paracetamol. Tidak baik baginya kelihatan lemas, kehadirannya di situ telanjur telah menjadi magnet meski mungkin sebagian besar orang masih bertanya, ‘siapa sih bule tatoan ini?’, ‘benar dia personel Biohazard di poster?’ Tunggu. . . siapa, Biohazard? Sing nawang cang, nok!

Sial. Bagi siapa pun dari kalian yang suka hardcore tetapi tidak akrab mendengar Biohazard, silakan baca cerita artikel sampai tuntas. Dan Evan bisa merasakan, orang-orang tengah menatapnya dalam keingintahuan. Sambil berusaha tetap menebar ramah ia melepas sweater, bertelanjang dada, mengenakan snapback bertuliskan nama bandnya sendiri seolah bermaksud menginformasi, mencolokkan persona kebintangan ke sekeliling area backstage yang kumuh berupa reruntuhan bangunan tiga tingkat, tembok-temboknya pecah, lembap diemut lumut. Sekilas seperti sedang berada di tengah reportase langsung Al Jazeera dari Rafah; warna dindingnya terkelupas penuh luapan bomber writer yang tak tahan membiarkan secuil pun ruang kosong nihil coretan. Di pojok sana berkilau simple piece menawan, bertumpuk saling adu ragam tag di pintu bekas kamar mandi, berpijar lebar-lebar empat buah anti-style throw-ups.

 Angka memukul tepat 17:00 di Taman Festival Bali, lokasi angker berlangsungnya Custom War, festival biennial helatan NK13, klub motor naskleng yang mempresentasikan diri dengan motto: ‘spitting poisonous good times from our snake’s lair in Denpasar, Bali’. Sinar matahari telah turun sepenggalah, oranye menuju golden witching hour di langit sandikala ombak tenang Pantai Sanur Padang Galak. Angin pesisir menerpa rambut-rambut sepunggung yang berkibar mengganggu. Paranoid. Kalian percaya jurig keluar di momen-momen jatuh magrib seperti saat itu? Ya mereka sedang bersolek sekarang. Berdandan lebih gore dari band-band Javanese metal, berpelesiran dengan menor menggentayangi siapa pun yang bersedia diajak main, karena memang di tempat itulah jurig-jurig, jin, siluman, jembalang, lelembut beristana ria. Di sebuah taman dunia fantasi yang terbengkalai, gosipnya proyek gagal ambisi Tommy Soeharto mendirikan ‘Disneyland’ terbesar di Asia. Dibangun 1997, berluas 9 hektar, bangkrut 2000 akibat krismon, menyusul jebolnya tabungan Bank Swiss milik Cendana. 

Sempat juga beberapa kali tersambar petir dan mengalami kebakaran serius, mengembangkan status taman yang sudah seperempat abad dilupakan itu menjadi wahana mistis kalcer favorit. Pohon-pohon, pekarangan, tugu air mancur, kebun binatang dibiarkan meranggas membentuk hutan lebat bertuan genderuwo. Kabarnya dulu pas masih beroperasi sempat ada tragedi pengunjung yang jatuh dari satu wahana lalu mati, arwahnya pun bermukim beranak-pinak di situ, sementara koleksi buaya yang dulu dipamerkan sebagai salah satu atraksi utama pada kabur berpencaran, ada yang ke laut, sebagian lainnya membuat habitat di hutan-hutan pekarangan, tak bisa terlihat, mustahil tertangkap. . . di kala sakral pergantian sore ke malam beginilah biasanya sering beredar suara tuyul bermain petak umpet, di lain waktu sedu sedan tangis kuntilanak terdengar mengiris.

 Yang semakin menguatkan suhu bulu kuduk merinding, selain sering didatangi oleh para TikToker horror, taman itu juga berperan menjadi pemusat orbit tali supranatural, sering dikunjungi dukun-dukun leak dan jemaat ritual satanis, energi kegelapannya yang menggairahkan bahkan cocok difungsikan sebagai suaka trip dimensi kawan-kawan penginjeksi putauw, serta tempat unggulan bagi pemuda-pemoody yang mau bunuh diri. Tak heran beberapa kali acara musik di sini pasti memakan korban kerauhan. Tetapi sore itu, semua bisik-bisik klenik mistis itu tertutupi, Custom War mengundang jurig-jurig itu untuk floor punching berjamaah di lembah mosh pit. Dalam hitungan 45 menit Evan Seinfeld akan naik panggung untuk pertama kalinya di Indonesia, bertamu sebagai vokalis bagi penampilan Lorong, O.G. hardcore Denpasar. Dan bersama kami, telah menimbrung di meja, Gustra dan Bayu, vokalis dan gitaris orisinal band berusia 18 tahun dengan diskografi tunggal, debut penuh New Blood (tetstupidPro, 2014).

Berbincang dengan Evan, orang yang secara terbuka mengakui dirinya menderita ADHD, sering kali dihiasi ‘pause’, bukan karena ada fans yang timbul menginterupsi, melainkan konsentrasi yang terpecah. Sebentar mengecek ponsel, lalu nyangkut sejenak meladeni chat dari penyanyi-protester Michael Franti, dan selanjutnya di momen tak terduga, di tengah obrolan yang sedang berlangsung seru tiba-tiba ia berhenti atau melompat topik, perhatiannya melayang mencari di mana asistennya berada saat itu. Evan datang ke Bali sendirian, ia menyewa aspri lepasan, seekor perempuan lokal bernama Amelia. Begitu kehadiran Amelia teridentifikasi, ia kembali melanjutkan ceritanya.  

“Di Bali aku melakukan rutinitas yang sama seperti di Tulum: bangun pagi, meditasi, lalu mengafirmasi diri—berdiri di depan cermin, mengatakan apa yang kau percayai dan apa yang tidak kau percayai tentang dirimu. . . well, aku akan bilang, ‘Evan kau cerdas, kuat, kau baik, kau ada untuk teman-temanmu, kau disiplin, kau walk the talk, kau orang yang terhormat, kau jujur’, aku menyebutkan semua nilai positif yang di dalam diriku. Lalu aku pergi work-out. Hey. . . mungkin usiaku tua, tapi aku penuh energi. Dan aku menyeimbangkan kemarahanku dengan mempraktikkan yoga, lima – enam kali seminggu di waktu sore. . .”

 Ini Evan Seinfeld atau Ray Cappo, sih?

 “Melalui meditasi dan yoga aku mulai belajar caranya bersyukur. Setiap hari antara 30 detik sampai 10 menit, aku selalu menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Semesta, bahwa aku masih bisa bernapas hari ini. Aku menempatkan diri pada abundance mindset—untuk terus optimis, ada banyak harapan melimpah di sekitarku. Waktu aku hidup di Brooklyn, orang-orang merendahkanku karena aku melakukan yoga. Somebody will slap you, y’know ‘am sayin’. . . Faktanya berat badanku turun 70 kilo. Terlalu banyak maskulinitas di daerah tempatku dulu tinggal, di gigs hardcore, aku lupa sudah berapa kali pernah terlibat pukul-pukulan dengan para bouncer di show band kami sendiri.”

Jelas ini bukan Evan yang kita sering lihat dulu di MTV, juga bukan Evan yang kita tonton adegan zinahnya pas belajar coli dulu. Baik dalam konteks state of mental maupun ketebalan lemak tubuh, dirinya absolut berbeda, seperti menempuh proses inkarnasi. Di usia hampir 58, penampilan fisik Evan tampak menipu kebanyakan pria sebaya. Figurnya tetap berpotongan intimidatif, tato menggoresi sekujur penampilan; seekor kobra mendesis di leher bagian bawah telinga kanannya—di sepasang pelepah otot dadanya yang sumuk aneka gambar, masing-masing berhadapan seekor naga Cina melingkar dengan monster kartun tribal—lengannya kirinya sempurna diblok solid hitam sampai pergelangan tangan—terdapat banyak potret iblis, dari yang bertanduk sampai yang berberahi, di bagian samping punggung terpahat seekor perempuan bohai, mantan istrinya Lupe Fuentes, terukir frase Latin di sana, Mi Amor Mi Vida; ‘Cintaku Hidupku’. Di bawah pusarnya terukir frase lain, Pura Vida; artinya ‘Life is Pure’.

Tidak ada lagi Evan Seinfeld berandalan yang bertubuh gemblong. Era brutus brewoknya telah berakhir. Bahunya kekar, tentu saja otot perutnya tercetak enam pak seperti kaleng kornet. Kepalanya dibotak plontos dengan uban bulu wajah yang dipersilakan tumbuh tipis, berguna sebagai obat ganteng, citra bijaksana seekor paman bangkotan tukang tebar pesona. Praktik meditasinya menganut Ahimsa, tidak menyantap hewan, hanya buah dan sayur, tidak mengenakan pakaian dari bahan kulit, tidak melakukan perusakan alam dan destruksi diri—Evan sudah lama stop nokip alkohol atau kopi, menggantinya dengan susu gandum dan teh matcha. Berat badannya bugar: 72 kg. Ia tampan seperti versi binaraga Charlie Sheen. 

“Dan aku sangat menggilai fitness. Sudah menjadi semacam gaya hidup. Fitnes bukan berbasis pada tujuan, namun mengubah bentuk tubuhmu dengan nilai disiplin dan konsistensi. Itu intinya. Mike Tyson pernah bilang, ‘disiplin adalah melakukan sesuatu yang kau benci tapi seolah-olah kau menyukainya.’ Aku fitnes setiap hari sampai akhirnya merasa ketergantungan dan mengadopsinya sebagai gaya hidup. Dan aku juga melakukan latihan pernapasan, itu berguna menormalkan saraf gelisahmu untuk kembali jernih. Aku yakin kau akan jadi lebih kalem dan berpikiran tajam.”  

Sudah sebulan ini Evan ada di Bali, Jumat 29 Agustus itu kebetulan menjadi hari terakhirnya, besok siangnya ia akan berangkat ke Bangkok. Amelia, asistennya memperkirakan demam ringan yang diderita Evan akibat kelelahan. Ia tidak berhenti bergerak sejak mendarat di Ngurah Rai. Ia menyewa sebuah villa di daerah Pererenan, yang berkoordinat cuma sesiulan Negroni dari Canggu, sebuah wilayah yang tergolong masih relatif bersawah di antara deru bulldozer pembabat tani. Setiap hari usai menunaikan segala macam ritual afirmasi, ia pergi mengeksplorasi pantai-pantai, menyisir dari Uluwatu hingga Tanah Lot, tanpa pernah absen menghadiri kelas-kelas yoga ekspatriat di Ubud.

Tak heran bila ia kelelahan hari itu. Koneksinya dengan Bali Brotherhood, grup global wellness community yang fokus pada perbaikan kesehatan mental khusus kaum maskulin lelaki juga menyibukkan agendanya selama di Bali. Hampir setiap hari ia menghadiri pertemuan mereka, menceritakan pengalaman turbulensi, menggalang keyakinan sesama, dan berbagi kiat mitigasi menghadapi keterpurukan. Evan sendiri bukan seekor amatir dalam hal dunia rehab mental macam itu, di tahun 2022 tak lama setelah pindah ke Tulum ia menulis buku berjudul Mantorship, yang berekstensi menjadi sebuah institusi terapi di mana ia menjadi konselor—garing—motivator. Misinya merevolusi gejolak testosteron: mengubah perspektif kuno terhadap pandangan maskulinitas, seperti dijelaskannya panjang lebar sewaktu diberi pertanyaan, ‘Bagaimana cara Anda sembuh dari depresi?’

Ia mulai dengan mengungkap alasannya pindah ke Tulum. Sebelumnya ia telah menjual semua sisa harta bendanya, dan terbang dengan hanya membawa beberapa helai pakaian di koper, laptop, dan gitar.

“Aku meninggalkan Amerika karena terlalu banyak keributan di sana. Orang-orang saling bertengkar tentang Trump. . . tentang politik. Aku tidak peduli semua itu, perjalananku adalah menyelam ke dalam,” kata Evan menguncupkan kedua punggung tangannya menelungkup ke arah dada, menyentuh tato tengkorak burung hantu di bawah lehernya, “Aku ingin membantu orang-orang untuk berkoneksi kembali dengan hati mereka, untuk menemukan ketenangan. . .” jeda sebentar, mengambil napas ia lanjutkan.

“Mantra yang aku yakini adalah: ‘teruslah berjalan’. Terkadang hidup memukulmu hingga jatuh dan kau hancur lebur dan ingin berhenti. . . Aku memulai sesuatu yang baru di Meksiko, aku menemukan spiritualitasku. Dan terhadap semua itu, bagiku kuncinya adalah kemampuan untuk merasa bersyukur. Sejak aku berhasil merasakan syukur, kebahagiaanku melimpah sekarang. Biohazard mulai sering tur, dan akan ada album baru sebentar lagi. . .”

Kemudian ia bicara tentang ego, dan cara melampaui kedangkalannya.

Kau tahu, bermain di sebuah band itu sulit. Kamilah sekawanan egomaniak yang sering dihantui pikiran negatif. Sekawanan pria yang bersaing untuk menggapai puncak, yang saling bersaing satu sama lain atas nama kreativitas, popularitas, saling berebut kredit kontribusi supaya dapat meraih pengakuan. Saat tinggal di L.A. hidupku dikuasai oleh ego, yang kupikirkan hanyalah tentang sesuatu yang kumiliki; rumah, mobil-mobil dan motor-motorku. . . maksudku, itu kebahagiaan di luar diriku. Kalau saja aku kehilangan semuanya, artinya aku tak punya lagi kebahagiaan. . . Seiring usia yang bertambah, aku mulai mempertimbangkan mana saja hal-hal yang kuanggap penting. . . hidupku sudah berlangsung lama, hidup itu seperti sebuah buku dengan beragam bab,” lanjut Evan bertempo semangat, sampai membuka-buka halaman sebuah notebook berisi daftar pertanyaan di depannya, ukiran huruf satuan pada buku-buku jarinya terbaca: FATE.

“Dan bab-bab dari bukuku masih sedang ditulis. Y’know ‘am sayin’?” 

Ya kami mengerti, dasar Amerikan, kalian telah bicara cukup jelas. Selanjutnya kalimat demi kalimat terlontar, sensasinya hinggap seperti roman tauladan seekor pembejat tobat, bertiup sedikit angin starstruck, broken english takes the rule.

“Aku mengalami banyak masalah, kecanduan narkoba dan alkohol, melalui perceraian yang menyakitkan. Aku menghasilkan banyak uang pun kehilangan banyak uang—lima kali bangkrut. Hey, aku punya total 75 koleksi muscle car, hot rod, chopper, semuanya habis semua kini. Kesalahannya, kupikir, i am taking things for granted. Tidak bisa seperti itu. Kau hanya akan berakhir dengan depresi, anxiety. . . aku belajar banyak, bahwa ada cara berpikir yang harus diubah. Kebahagiaan itu datang dari dalam, dan tanpa pengharapan,” ucapnya sekali lagi menelungkupkan punggung tangan menyentuh gambar ikonik ‘tengkorak burung hantu’. . .

“. . . sekarang aku lebih menikmati hal-hal sederhana. Bahagia tanpa uang, tanpa pacar, atau tanpa Biohazard sekalipun. . . tidak ada yang permanen di dunia. Aku merasa terlahir kembali di Tulum. Kau tahu, kita cuma berjarak satu detik dari sebuah aksi untuk berubah, mengubah cara berpikir kita, karir, keyakinan atau penampilan fisik kita, demi dapat berjalan di trek yang positif. Aku bisa bahagia dengan hanya menyantap makanan sehat dan jalan-jalan di pantai. Saat aku mampu melakukannya, terasa seperti sebuah berkat, semua yang aku harapkan bisa kejadian. Reuni Biohazard, contohnya. . .”

Bab kehidupan itulah yang pasti dibagikannya kepada bule-bule gamang di Canggu. Rasa sakit dari menjadi seekor lelaki sejati. Membusuk di balik topeng maskulinitas. Menambal luka tanpa menyembuhkan. Dan mengganas. Evan menggali kutub tabu toksin testisteron: sifat sensitif.  

Time is my currency, love is my intention,” ucapnya lalu terdiam, sekali lagi mengambil jeda napas, entah kenapa orang-orang tua yang sudah berdamai dengan hatinya suka sekali beristirahat di tengah kalimat, seolah sadar kamera, setan sedang mengintip.

“Sudah terlalu lama lelaki dicap sebagai sosok pelindung atau sebagai pemegang pondasi, sebagaimana yang memang seharusnya kami lakukan, sampai lupa menjaga diri sendiri. Ketika kami terpuruk, depresi, sedih, gelisah, gugup, marah, semakin menua dan bertingkah menjengkelkan, bagaimana di saat yang bersamaan kami bisa menjadi seorang ayah atau suami yang baik? Aku menulis Mantorship sebagai panduan bagi kaum lelaki untuk menemukan kembali kebenaran jati diri, apa tujuan kami, gairah yang membangun kepercayaan diri, untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Aku sering mengadakan pertemuan di rumahku di Tulum, kadang sampai 150 orang datang. Kami menciptakan lingkaran aman bagi para lelaki agar berani mengungkap rahasia tergelap mereka, ketakutan atau kerapuhan mereka. . . sewaktu aku tumbuh di Brooklyn, rapuh tandanya kau lemah. Hari ini aku mampu melihat kekuatan di balik kerapuhan seorang lelaki, karena ternyata tanpa disadari kami memikul beban yang sangat berat. . .”

Nyala rekorder masih mengarah ke mulutnya, menanti lagi keluarnya kalimat motivasi self-softness lainnya, sementara dari arah panggung utama matahari kian mencondong, memalu kasat chug riffs keparat-keparat beatdown Kenya, dentum sayup kontras di hadapan wisdom semi-buddhis Evan Seinfeld.

“Terkadang seorang lelaki cuma membutuhkan sebuah pelukan. Siapa tahu tidak pernah ada orang yang memeluknya selama ini. Manusia selalu membutuhkan kasih sayang, persahabatan, dan dukungan yang membuat kita berhenti berpikir untuk selalu mampu memecahkan semua masalah ini sendiri.”

Sebuah pelukan?

 Damn, Kristus!

Evan Seinfeld mengatakannya. Syukurlah bukan Bobby Hambel. Ternyata dunia belum sediabetes itu. Tanpa bermaksud anti skin-to-skin fobia homo, namun sekilas kok rada melayu bagi fantasi terhadap reputasi original gangster Brooklyn yang melekat pada Biohazard, masberto paling disegani sejagat hardcore New York. Mungkin semua anak hardcore punya tato di dunia ini, sebagai status sosial, tergurat hingga ke muka, sangar berstempel macho masochisme – tegap dan cepak, kuat menahan rasa sakit, seolah kau dan keyakinan yang kau teguhkan tak mampu tertunduk dan siap menumbuk. Di masa tato dianggap sertifikat kriminal dan hardcore adalah pusara kekerasan, love language yang berlaku standar di kalangan para keparat tough guy saat bergumul sengit di ring pit, tentu saja: physical attack atau bentrok fisik, sebagai luapan natural maskulinitas di gelanggang hardcore.

Biohazard dengan sekujur tato merajang inci kulit, berbandul tindik di nostril-di pentil, bercincin-cincin metal, rantai-rantai perak. Empat tengkorak brigez New York yang mengikat slayer di kepala dengan intensi fisik intimidasi keselamatan insan. Jangan kau coba kalau tak mau berabe urusan. . . seandainya pun harus, sejantan-jantannya cedera yang bakal kau derita setidaknya pecah tulang mata. Kalian pasti mengerti. Gerombolan si berat Biohazard lebih kelihatan seperti sebuah unit kriminal ketimbang band hardcore berprestasi.

Ada satu footage, taksiran era State of World Address (Warner Bros, 1994) ketika di tengah kesibukan merekam album ketiga itu mereka nongkrong di Sunset Boulevard, kawasan prominen di Hollywood, L.A. tempat klab keren macam Whiskey A Go Go dan Viper Room bercokol. Biohazard sedang melakukan pemotretan di sebuah studio tato bernama Mania. Lihatlah betapa bonges pembawaan gondrong abang-abang hardcore kita ini, kekar-kekar berkerumun di trotoar, berlagak bulldog, mencekik gelas berceloteh, menyihir pemandangan jalan raya Sunset Strip tampak seperti kegiatan pra-orgy Sons of Anarchy. Dengan trucker Fear Factory yang dipakai terbalik, Bobby Hambel tengah melepas rompi kulitnya dalam rangka menjelaskan makna dari tato sayap American Eagle yang mencengkeram bahu lengan kirinya kepada seekor perempuan yang terpesona oleh bentuk pipi tirus kristal milik Bobby –> the true tough guy hardcore.

Dia ini orang yang di hadapan 30 ribu manusia hadirin Dynamo Festival ‘95 menghardikkan ‘scumbag’ kepada kalian semua jurnalis musik, dan meminta agar kalian semua—jurnalis musik—mencium saja pantatnya. . . hush hush ini seteru klasik scene NYHC 90-an: Bobby pasti sedang jengkel berat terus-terusan kena tuduhan picik sell-out setelah Biohazard bergabung di bawah naungan major label. Jangan coba-coba, Bobby Hambel menanduk tajam, disentaknya ciut mental itil kalian: 

“Saat kau menudingkan telunjukmu ke arah orang lain, ingat kau juga punya tiga jari lain yang tengah menuding ke arahmu. Kalian menghina Biohazard, kami tidak pernah menghina siapa pun. Jika kalian bermain di sebuah band, dan kalian menudingkan telunjuk ke arah band lain, berusaha menunjukkan di mana letak kesalahan mereka, kau adalah seorang pecundang. Kalian tahu siapa diri kalian. Kalian mencoba memulai seteru. . . tapi ini yang ingin kukatakan: ‘Elo semua, isep kontol gua!’”

Di footage Sunset Blvd. itu juga terdapat adegan Billy Graziadei mengenakan bomber DEA sedang menyamar menjadi seekor agen narkotika. Potongan slim shady cepak jagung membuatnya tampak seperti seekor Youth Crew tersesat, dengan piercing di pelipis kiri dia mengorek informan cepu di konter depan. Gelagat sok serius Billy membuat semua orang di TKP tertawa, termasuk si kalem Danny Schuler dan Gill Montie, veteran tato artis – seluruh studio tato di California menghormatinya sebagai pemuka.

Di acara itu Evan Seinfeld tiba terakhir, ia keluar dari pintu kemudi sebuah sedan putih dengan ditemani seekor perempuan. Inilah Evan circa 1994, vokalis band hardcore terbesar di era transformasi mainstream bagi gelombang kedua kemajuan scene New York Hardcore. Usianya 27, gondrong ekor kudanya sengaja diselipkan ke lubang buntut topi bisbol. Perawakannya blasteran, berkulit agak latin, bertubuh gempal jika tak elok disebut gemblong. Dengan kalung perak dan tangkai-tangkai lengan laba-laba menongol dari punggung kaus kutang putihnya, kita pasti mengiranya seekor Chicano. Ketika keempatnya menelanjangi dada dan kilat kamera menjepret tinta-tinta yang terpahat, Evan menjelaskan makna tatonya. 

Dulu di pertengahan 80-an ketika kami membuatnya, stigmanya adalah kriminal. Tapi sekarang semua orang punya tato. . . buatku, ini adalah ekspresi seni individu, sama seperti menulis sebuah lagu atau menyatakan sebuah sikap. Dengan memiliki banyak tato di tubuhmu, artinya kau juga punya banyak hal untuk disampaikan.”

Aura itu. Bad Motherfucker. Adalah personalisasi Biohazard. Intensitas tato-tato mereka mengendapkan emosi dari jalanan mana lagu-lagu mereka berasal. Bicara tentang pergulatan diri dan kemuakan sosial, seperti dikatakan Evan, bandnya selalu mencambuk diri untuk menulis lagu-lagu yang bukan saja mampu merasuki kegilaan orang-orang yang sedang bergumul di arena pit, namun pula meremas-remas wajah mereka yang penuh kesakitan. Karena riffs yang dihasilkan begitu bengkok dan berat dan. . . bergas!

 “Y’know ‘am sayin’?

 Yeah, got ‘ur ass 50-50 hundred bucks. Hardcore diciptakan agar kita marah. Sampai di mana batas militansi kita dapat meliat, hardcore dengan riffs gitar kaku yang mengandung bobot bogem mentah mendasari kekuatan sikap merengkuh keyakinan dengan teguh. Kau mengamuk, menghantam dunia di luar sana. Bayangkan seekor veteran desersi, cepak bercelana loreng kokoh mengeksekusi heavy riffs yang dipenggalnya sekaligus dari Agnostic Front dan Exhorder. New school hardcore mereka bilang, jangan salahkan kacamata kuda dan keterbatasan imajinasi, tetapi itulah inti pestanya: bogem mentah. ‘Rasa sakit yang meremas wajahmu’.

Kita semua ditasbihkan oleh betapa asyiknya bouncing groove album Urban Dicipline (Roadrunner, 1992) dipakai untuk mengeram emotif, memberi makan umpatan pada jantung yang empet. Urban Dicipline menyempurnakan visi crossover Age of Quarrel (Profile, 1986) yang dibikin Cro-Mags. Jembatan membastarnya metal ke hardcore vice versa. Jika kau bisa mengangguki ‘sleaze’ band macam Leeway namun juga menggeliat kepanasan saat disetelkan Start Today (Revelation, 1989) di tengah kebencian yang mendesak akibat kesengsem, mendamba tampolan death riffs Slowly We Rot (R/C, 1989), kemungkinan besar Minor Threat bukan hardcore yang cocok untukmu, atau Warzone atau 7 Seconds. Mereka terlalu punk, terlalu agresif – petakilan, terlalu. . . positif, uhm, politikal. . . y’know ‘am sayin’?

Part 2