X

Saat Musik Menolak Dibungkam, Menggaungkan Sikap adalah Bagian dari Pertunjukan

by webadmin / 1 year ago / 662 Views / 0 Comments /

Menyomot sejumput esensi musik dari musisi global nan emerging seperti Kneecap atau Bob Vylan yang terang-terangan menentang genosida. 


Di tengah festival musik terbesar di dunia, di antara ribuan penonton yang menari dalam lumpur dan cahaya panggung yang megah, sebuah teriakan politik menggema “Ireland stands with Palestine!”. Kalimat itu bukan berasal dari kepala negara, bukan pula dari aktivis LSM. Ia keluar dari megafon seorang rapper bertopeng dari Belfast, berdiri bersama dua rekannya di panggung Glastonbury. Mereka adalah Kneecap, trio hip-hop Irlandia yang menjadikan musik sebagai alat pengingat bahwa dunia sedang menyaksikan tragedi besar dan tidak bisa terus diam.

Sejak berpuluh tahun yang lalu bahkan jauh sebelum Oktober 2023, rakyat Gaza mengalami hari-hari tergelap dalam sejarah modern. Serangan militer Israel, yang diklaim sebagai balasan terhadap Hamas, menghantam wilayah sipil secara brutal: rumah sakit, sekolah, kamp pengungsi, hingga ambulans dan jurnalis menjadi korbannya. Laporan dari Human Rights Watch dan PBB menyebut angka kematian lebih dari puluhan ribu, yang mayoritasnya merupakan perempuan dan anak-anak. Dunia menyaksikan dari layar ponsel, sebagian berkomentar, sebagian mengalihkan pandangan. Di tengah kekosongan tindakan politik yang nyata, suara yang lantang justru muncul dari panggung musik.

Musik sejak lama sudah menjadi ruang resistensi. Dari Nina Simone hingga Fela Kuti, dari Joe Strummer hingga Rage Against the Machine, suara dari atas panggung telah menjadi alat pengganggu narasi dominan. Di zaman ini, ketika netralitas kerap dijadikan alasan untuk tidak bersikap (atau bahkan bentuk mempertahankan karir), terdapat nama-nama seperti Roger Waters, Eric Clapton, Massive Attack, hingga generasi terkini macam Kneecap, Bob Vylan, Fontaines D.C. yang justru melangkah ke depan. Mereka menjadikan festival musik global sebagai medan untuk menyuarakan solidaritas terhadap Palestina dengan risiko kehilangan sponsor, diancam, bahkan diselidiki polisi. Saat Glastonbury 2025, Kneecap membuka set mereka dengan video berdurasi pendek yang menyebutkan bahwa fokus bukan pada mereka, tapi pada genosida yang sedang berlangsung di Gaza. Mereka menyanyikan lagu-lagu mereka dalam bahasa Irlandia, membawa simbol-simbol republik, dan menolak tunduk pada narasi Inggris yang mencoba memaksa mereka menjadi apolitis. Tak lama kemudian, mereka dipanggil polisi, diselidiki, dan diprofilkan secara negatif oleh media konservatif Inggris. Namun mereka tak sendiri.

Bob Vylan, duo grime-punk asal London, turut menjadi sorotan setelah membiarkan penonton mereka meneriakkan “Death to the IDF” di tengah konser. Meski mereka kemudian meminta chant itu dihentikan di penampilan berikutnya, video tersebut telah viral. Mereka kehilangan kontrak dengan agensi, visanya ke AS dibekukan, dan tampilannya di beberapa festival dibatalkan. Tapi di mata banyak orang, mereka justru memperlihatkan esensi punk yang sejati: ketidaknyamanan, keberanian, dan ketegasan moral.

Sementara itu, Fontaines D.C. yang merupakan band post-punk dari Dublin yang dikenal lewat lirik-lirik puitis tentang alienasi dan kota modern turut menyuarakan posisi mereka secara terbuka. Dalam set mereka di Primavera Sound, layar besar memproyeksikan pesan “Free Palestine” dan menyebut Israel melakukan genosida berulang kali. Aksi ini membuat mereka dikecam oleh sebagian penggemar konservatif, tetapi juga dipuji karena membawa diskursus ke ruang publik yang lebih luas. Mereka bahkan menyumbangkan hasil tur mereka kepada organisasi kemanusiaan, dan menolak tampil di negara-negara yang dianggap menutup mata terhadap kejahatan kemanusiaan.

Reaksi terhadap ketiganya mencerminkan betapa kerasnya konsekuensi dari bersuara. Media Inggris menuding mereka menyebarkan “kebencian”, pemerintah memperketat pengawasan terhadap festival, dan wacana publik dibanjiri oleh kritik yang menyamar sebagai netralitas. Namun justru karena itu, suara mereka menjadi penting. Ketika institusi besar enggan bertindak, saat media hanya memberitakan separuh cerita, musisi ini membuka ruang di mana solidaritas bisa tetap hidup.

Viralnya klip-klip dari panggung Glastonbury, Primavera, hingga Coachella membuktikan bahwa aksi mereka bukan hanya simbolik. Mereka memanfaatkan momentum dan perhatian global untuk mendorong perbincangan lebih luas. Para penonton, terutama generasi muda, menyambutnya bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai momen politis yang menggugah kesadaran. Sebagian mungkin tak setuju, tapi banyak yang tergerak untuk membaca, mencari tahu, dan mulai bertanya: kenapa begitu banyak musisi menyuarakan Palestina sekarang?

Apa yang dilakukan Bob Vylan, Kneecap, dan Fontaines D.C. bukanlah aksi satu malam. Mereka memposisikan diri dalam tradisi panjang musik perlawanan. Dan keberanian mereka telah memicu efek domino: semakin banyak musisi global mulai mengambil sikap. Damon Albarn, Billie Eilish, Inhaler, bahkan sampai Olivia Rodrigo dikabarkan menyampaikan pesan solidaritas dalam bentuknya masing-masing. Di luar panggung, mereka mendesak kepada label, festival, sampai media untuk tak lagi bersembunyi di balik dalih “netralitas” yang semakin kuat.

Fenomena ini seharusnya menjadi cermin bagi scene musik di Indonesia. Negeri ini punya luka sendiri yang terjadi beberapa tahun ke belakang seperti Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang dalam situasi yang tak kunjung mendapat keadilan, konflik agraria di Wadas yang menunjukkan relasi kuasa negara atas warga, dan kekerasan struktural di Papua yang berlangsung bertahun-tahun dalam senyap. Tapi di mana posisi musisi Indonesia?

Masih lebih banyak yang kita butuhkan untuk bersuara. Seharusnya keraguan tak mesti ikut serta, mereka punya kekuatan. Basis penggemar yang setia, pengaruh besar di media sosial, dan kesempatan tampil di panggung-panggung besar. Bayangkan jika dalam festival musik tahunan, ada satu jeda yang dipakai untuk mengheningkan cipta bagi korban Kanjuruhan. Atau jika sebelum membawakan lagu pamungkas, seorang vokalis menyatakan dukungan bagi tanah-tanah yang dirampas di Wadas. Atau sekadar membawa bendera Papua ke atas panggung, menolak tunduk pada represi.

Beberapa nama seperti Morgue Vanguard, The Brandals, The Adams, Reality Club hingga Hindia sudah memulai langkah itu. Mereka menulis lirik tentang ketimpangan, merespons lewat lagu spoken word, serta berbicara tentang Papua, kemiskinan struktural, kekerasan negara, atau bahkan sikap untuk tidak mengambil langkah yang seakan mendukung pencemar nilai kemanusiaan. Atau menilik panggung-pangung yang skalanya lebih kecil, bendera Palestina kerap terpampang, di hardcore show, gig independen atau di mana sekup-sekup kecil ruang kreatif tercipta. Kata demi kata tentang keberpihakan mereka terhadap kemanusiaan kian terlontar. Tapi suara mereka masih terbilang sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya rilisan yang keluar di streaming platforms setiap hari Jumat atau band-band yang baru menghembuskan nafas.

Musik selalu punya peran dalam sejarah perubahan sosial. Dan dalam konteks hari ini, ketika dunia sedang menyaksikan kekejaman yang begitu telanjang, kita tak bisa terus bersikap biasa-biasa saja. Panggung adalah alat. Lagu adalah pesan. Dan musisi, suka tidak suka, adalah bagian dari sejarah. Ketika mereka memilih bungkam, mereka bukan netral, mereka berpihak pada status quo.

Kita perlu lebih banyak musisi seperti Bob Vylan, Kneecap, dan Fontaines D.C. yang bersedia kehilangan untuk sesuatu yang lebih besar. Tapi yang lebih penting lagi, kita perlu iklim yang mendorong keberanian itu. Penonton yang mendukung, media yang berpihak pada keadilan, dan ruang-ruang pertunjukan yang tak takut pada sensor.

Musik tidak lahir untuk jadi hiburan semata. Ia adalah gangguan. Seruan. Penolakan. Dan selama masih ada yang tertindas, selama masih ada tanah yang dijajah, selama masih ada darah yang tumpah, musik punya tugas untuk tidak diam.

Teks: Freykarensa