X

Mengenalkan Kembali: Poison the Well

by Sendhi Anshari Rasyid / 2 years ago / 928 Views / 0 Comments /

Jujur, saya bukan merupakan pendengar aktif dari musik metalcore. Meskipun pada era 2000-2010-an juga sempat terpapar oleh musik tersebut, namun entah kenapa nggak ada ketertarikan buat ngulik lebih jauh. Beberapa tahun berselang, seorang teman memberi tahu tentang keberadaan sebuah band bernama Poison the Well. Awalnya saya nggak begitu ngeh terhadap pengaruh yang dihasilkan, selain lagu-lagunya yang memang cocok dengan selera saya. Saya hanya sebatas tau kalau mereka itu adalah band metalcore yang ada unsur emo-nya. Titik.

Tapi, setelah diulik lebih jauh, ternyata beberapa rilisan Poison the Well pada awal karirnya merupakan sesuatu yang esensial dan berpengaruh terhadap ranah metalcore saat ini. Bahkan apa yang mereka mainkan banyak diduplikasi oleh band-band metalcore yang muncul setelahnya. Sebuah penemuan yang tentunya membuat saya tertarik buat ngulik.

Bagi kamu yang juga awam dengan nama Poison the Well, melalui tulisan ini saya ingin mengajak untuk bersama menyimak perjalanan dari band yang memberikan kesegaran bagi musik metalcore saat ini.


Sejarah Terbentuk

Poison the Well
via discogs.com

Embrio dari Poison the Well sudah terbentuk sejak tahun 1997 silam yang diinisiasi oleh dua remaja tanggung, yaitu Aryeh Lehrer dan Ryan Primack dengan nama Doubting Thomas. Nama tersebut hanya bertahan selama beberapa bulan saja sebelum berubah menjadi An Acre Lost. Rilisan split bersama Promise No Tomorrow menjadi kali terakhir nama An Acre Lost digunakan dan akhirnya secara resmi menggunakan Poison the Well sebagai identitas bermusiknya.

Poison the Well merngeluarkan EP perdana yang berjudul Distance Only Makes the Heart Grow Fonder (1998). Rilisan tersebut menarik perhatian dari Trustkill Records yang akhirnya menawarkan kerja sama untuk merilis album penuh. Kuintet asal Florida tersebut tentu menyambut baik ajakan itu dan akhirnya lahirlah sebuah album monumental untuk kancah metalcore/post-hardcore, yaitu The Opposite of December… A Season of Separation (1999).

Trustkill Records yang memang memiliki basis massa yang besar di ranah musik bawah tanah mengakibatkan album tersebut populer dan mencapai kesuksesan. Walaupun begitu, Poison the Well hanya merilisi dua buah album di bawah bendera label rekaman asal Amerika Serikat tersebut, yaitu debut albumnya dan Tear from the Red (2002).

Bukan hanya dengan label independen, pada tahun 2003 juga Poison the Well sempat bekerja sama dengan sebuah major label, yaitu Atlantic Records dan merilis album You Come Before You. Namun, kerja sama antara kedua pihak akhirnya berakhir pada tahun 2006 karena perbedaan arahan kreatif. Suatu hal klise yang pastinya sering kamu dengar dari band-band yang bekerja sama dengan major label. Bahkan hingga saat ini.

Pada tahun 2007 akhirnya Poison the Well bergabung dengan Ferret Records dan mengeluarkan beberapa rilisan, yaitu Versions (2007), The Tropic Rot (2009), dan I/II / II/III / III/III (2009). Pada tahun 2010, Poison the Well menerbitkan sebuah statement yang menyatakan bahwa mereka secara resmi memasuki masa hiatus melalui pengumuman pada akun MySpace-nya.

Bongkar-pasang personil sudah menjadi hal yang lumrah terjadi di tubuh Poison the Well, sehingga ketika mencapai masa hiatusnya, Jeffrey Moreira, Ryan Primack, dan Christopher Hornbrook merupakan tiga nama yang tetap bertahan dan berkontribusi pada keseluruhan album Poison the Well.

 

Pengaruh Terhadap Musik Metalcore Modern

album 'The Opposite of December... A Season of Separation' (1999)
album ‘The Opposite of December… A Season of Separation’ (1999) – Trustkill Records

Album The Opposite of December… A Season of Separation (1999) disepakati sebagai album yang merupakan game-changer dan berhasil memperkenalkan sisi baru dari metalcore. Bahkan memiliki pengaruh yang sangat besar sehingga apa yang terdengar pada album tersebut dijadikan sebagai blueprint oleh band-band metalcore yang muncul pasca perilisannya. Meskipun sebenarnya membawakan formula musik yang sudah ada, tapi Poison the Well berhasil menyempurnakan formula yang sudah dibawakan oleh para pendahulunya dengan dibubuhi nafas emo yang cukup kentara.

Selain memiliki materi yang mumpuni, kepopuleran album ini di bawah tanah juga didukung dengan bergabungnya Poison the Well di Trustkill Records yang memang sudah memiliki basis pendengar yang luas. Momen ketika bermain di Hellfest pada tahun 2000 silam juga menjadi momentum penting bagi Poison the Well dan juga band-band Trustkill Records lain dalam menciptakan basis pendengar baru.

Album keduanya, Tear From the Red (2001) bahkan membuat Poison the Well lebih dikenal lagi, terlebih di ranah musik mainstream. Tetap memainkan formula musik yang masih memiliki benang merah dengan album terdahulunya, pada album terbarunya ini, Poison the Well melakukan eksperimentasi lebih jauh dari segi penulisan materi. Hal tersebut bahkan membuatnya masih terasa segar bahkan kalau kamu dengarkan saat ini, 21 tahun setelah albumnya resmi dirilis.

Dari sekian banyak album yang dirilis oleh Poison the Well, kedua album tersebut merupakan yang paling esensial. Dan membuat Poison the Well bertanggung jawab terhadap formula musik metalcore yang kita dengarkan saat ini. Penggabungan antara vokal clean dan scream, breakdown, dan permainan gitar yang melodius dapat dengan mudah kamu dengarkan pada band-band metalcore modern saat ini.

 

Momen Reuni

Setelah menyatakan memasuki masa hiatus pada tahun 2010 lalu, Poison the Well cukup sering melakukan reuni yang tersebar dalam kurun waktu 7 tahun terakhir, yaitu pada tahun 2015, 2016, 2020, dan 2021. Kalau diliat dari timeline waktu reuninya, terbilang cukup rapat dan padat. Bahkan, sampai saat ini, mereka masih berstatus aktif mengisi panggung-panggung dengan membawakan materi lama. Walaupun begitu, nggak ada tanda-tanda dari Poison the Well untuk kembali mengeluarkan rilisan baru baik berupa single, EP, ataupun album.

 

Tagged

#Metalcore #Poison the Well

Leave a Reply