Indonesia Skinhead Jamboree: Memelihara Api Subkultur di Panggung Lebarannya Para Skinhead

Menyambangi Indonesia Skinhead Jamboree dan mengulik cerita kelanggengan hajatan dua tahun sekali ini lewat Uthay, founder Warriors Jakarta sekaligus member The End.
Meski tidak berkepala plontos, saya tetap ngotot datang ke hajatan Indonesia Skinhead Jamboree. Lebarannya anak skinhead menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan. Selain bisa menonton pertunjukan musik, di sana saya juga bisa bersilaturahmi dengan rekanan-rekanan skinhead dari penjuru Indonesia yang turut hadir. Momen tersebut menjadi bukan sekadar musik, gelaran tersebut adalah bentuk hajatan perayaan bagaimana subkultur ini telah mampu menyatukan banyak orang.
Hajatan dua tahunan tersebut diselenggarakan di Lokananta Bloc, Solo pada Sabtu 15 Agustus 2026. Untuk penampil musik, Indonesia Skinhead Jamboree membagi menjadi dua panggung. Yang satu adalah panggung band dan yang lainnya adalah panggung kecil untuk DJ/Selector. Ada 17 band Oi!, punk, ska, dan turunannya yang tampil. Mereka adalah Republik Mimpi, Dirty Dog Aggresion, Old Friends, The Boycott, Firecrackers, Rule OK, The Dignity, Tulang Besi, The Reckless, Libero, The Valid, G-Squad, Frontline Soldiers, The Delgadoo, The Resistance, The Orak-Arik, dan DOM 65. Barisan penampil untuk DJ/Selector adalah Morris, Albrageross, Soulful Saiful, Rechonco 13, Stone844, Dewa Ade, Mugs69, Fajar ZDA, Nefertiti, Hemi FS13, Bovverlove, dan FYSN19.
Sedari siang, para gerombolan berkepala plontos ini sudah standby di Lokananta. Terlihat beberapa bus besar, minibus, hingga mobil pribadi ramai terparkir di sekitaran lokasi. Rombongan skinhead yang hadir memang dominan dari kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali. Selain mereka ada juga para skinhead yang hadir dari Makassar, Manado, berangkat dari Papua, dan juga turut hadir seorang dedengkot skinhead dari Malaysia.
Saya datang ke acara itu dari Yogyakarta menggunakan kereta komuter pada sore hari. Setelah sampai Stasiun Purwosari, saya pun bergegas menuju Lokananta menggunakan ojek online. Sedari jalan arah Stadion Manahan itu sudah terasa keramaian festival para skinhead. Dari depan Lokananta saya sudah melihat banyaknya street-punk dan skinhead yang berkumpul di sana. Mereka semua ngemper di pinggir jalan, berteduh di bawah pohon karena siang hari itu Solo sedang panas-panasnya. Ketika hendak memasuki acara, saya tertahan oleh seorang kawan lama, skinhead asal Jawa Timur yang akrab menyapa. Ia memberikan saya minuman tradisional dan kita pun jadi meracaukan apa saja.
Memasuki gelanggang acara, saya melihat perhelatan ini saya pun langsung melihat banyak skinhead boy dan skinhead girl sedang skanking di hadapan seorang DJ yang memainkan musiknya lewat turntable. Dari anak muda hingga yang berumur, semua tampak bergembira. Mereka berdandan necis dengan sepatu boot, jacket jeans dan bomber, braces, dan segala pernak-perniknya. Panggung spinning itu diadakan di pendopo sedangkan konser musik bertempat di concert hall. Di depan pendopo juga terdapat tenant-tenant yang meniagakan segala macam merchandise, fashion, rilisan fisik, hingga makanan dan minuman.
Saat di dalam concert hall, saya berkenalan dengan sosok yang dijuluki sebagai Skinhead 01. Beliau adalah Adhitya Murti atau yang akrab dipanggil Uthay. Sosok ini merupakan founder dari Warriors Jakarta yang merupakan pemrakarsa adanya Indonesia Skinhead Jamboree yang telah saya rasakan keramaiannya kemarin. Berawal dari distro Warriors Jakarta telah berevolusi menjadi record label, event organizer, hingga membuat berbagai movement yang menggerakkan subkultur ini. Kedatangan band-band punk mancanegara macam The Oppresed, The Exploited, Cockney Reject, Agnostic Front, dan banyak lagi ke Indonesia juga merupakan andil komunitas yang berumah di Jakarta Selatan ini. Obrolan singkat di tengah konser itu pun berlanjut hingga beberapa waktu kemudian.
Sejak awal milenum 2000, Uthay bersama gerombolan Pejatennya saat itu dikenal sebagai pionir komunitas skinhead di Jakarta. Cerita tersebut pernah diteliti khusus oleh Dina Indrasafitri dalam penelitian antropologisnya: Sejarah Perkembangan Subkultur Skinhead Serta Keberadaannya di Indonesia: Studi Terhadap Kelompok Distro Warriors Jakarta (2005). Sebuah catatan penting tentang eksistensi Uthay yang diklaim sebagai skinhead pertama di Indonesia dengan mendapatkan pengetahuan skinhead dari pengalamannya tinggal di luar negeri.
Selepas pertemuan tersebut, saya mengontak Uthay pada Kamis 17 September 2026. Kita pun membincangkan bagaimana movement ini tumbuh hingga cerita panjang yang menyelimutinya. Obrolan via telepon ini terasa hangat karena seperti dibawa ke Jakarta pada awal milenium 2000. Bagaimana di sana pengetahuan masih sebatas cetakan fisik dan obrolan tongkrongan, berbeda dengan sekarang dimana pengetahuan digital telah menguasai segalanya.
Awal mula gagasan Skinhead Jamboree sendiri berakar dari semangat kolektif anak-anak Warriors Records pada awal tahun 2000-an. Kala itu, gagasannya sederhana: menyatukan band-band skinhead—khususnya di kawasan Jabodetabek—ke dalam sebuah album kompilasi berbentuk kaset dan CD. “Dulu berbentuknya album kompilasi dulu kita. Jadi ngumpulin band-band rekanan, waktu itu Jabodetabek aja sih sebenarnya. Nah, dari situ bersitlah nama Skinhead Jamboree untuk dibikin kompilasi,” kenang Uthay.
Peluncuran album kompilasi yang berisi 25 band itu kemudian dirayakan lewat sebuah konser di Universitas Nasional (Unas), Pejaten Jakarta pada tahun 2005. Sambutan yang diterima luar biasa hangat, ratusan kaset dan CD yang dirilis Warriors ludes terjual. Kejadian itu membakar gairah skena yang sedang hangat-hangatnya, hingga akhirnya Uthay Cs ketagihan untuk menggelar acara kedua dengan skala yang lebih luas.
Nama “Skinhead Jamboree” disampaikan Uthay berdasar setelah ia sering mendengarkan album berjudul Skinhead Jamboree: Ultimate Collection. Album tersebut berisi 26 lagu reggae/ska dan dirilis di Inggris oleh Receiver Records pada tahun 1995. Pemakaian nama skinhead jamboree tersebut, menurut Uthay, sangat pas dan keren untuk dipakai sebagai nama gerakan ini. Dengan bercanda, Uthay mengungkapkan, mungkin hal tersebut juga dikarenakan dia yang saat itu punya tempat tinggal di Cibubur yang dikenal punya tempat wisata. “Waktu itu kan banyak spanduk jamboree motor, jamboree SMA, jamboree ini itu kan, jadi mungkin juga karena terpapar itu,” ucapnya sambil terkekeh.
Pada edisi awal di era awal 2000-an tersebut, pergerakan ini berjalan tanpa diwarnai gesekan. Pada 2006, di Bali, lalu diadakan Skinhead Jamboree yang menampilkan band dari Surabaya, Malang, Jakarta dan juga Bali. Skena skinhead saat itu tambah bergeliat setelah diadakan Skinhead Jamboree 2 yang diselenggarakan oleh Forsot Unas yang berkolaborasi dengan Warriors Record. Acara yang diadakan di Lapangan Kampus Unas, Pasar Minggu itu merupakan bagian dari acara Unas Berisik volume 6.
Gesekan pun mulai muncul saat ada infiltrasi budaya punk football, fanatisme klub bola, maupun gesekan para casuals. Seiring berjalannya waktu, adanya konflik antara suporter Persija Jakarta dan Persib Bandung membuat skena skinhead terkena imbas. Band Bandung yaitu Rentenir FC, Oppresion Head, dan Bulldog Brigade menjadi enggan ke Jakarta dampak kerusuhan ini. Band-band skinhead asal Bandung saat itu pun menjadi tidak bisa nongkrong dengan gerakan yang dibikin oleh orang-orang Jakarta ini. Padahal tiga band asal Bandung itu masih turut memeriahkan gelaran Skinhead Jamboree 2 di Unas tersebut.
“Padahal kalau tidak ada bola-bolaan kita sama anak Bandung itu bersahabat. Tapi kalau di acara yang susah, kita nggak bisa tuh memprediksi massa yang hadir. Jadi ya, kita jadi berjarak dengan band Bandung. Padahal kita masih temenan sebetulnya kalo di skena skinhead yah,” ujarnya.
Kultur skinhead, menurut Uthay, juga mengalami era kegelapan ketika muncul gerakan S.H.A.M. – Skinhead Against Media Mainstream. Gerakan yang bermula sebagai kritik terhadap band punk Marjinal yang masuk tv tersebut merembet panjang dengan munculnya pandangan buruk terhadap komunitas ini. Mulai yang dibilang suka rusuh (karena beririsan dengan sepakbola), berideologikan sayap kanan, hingga dianggap fasis. Perbedaan pandangan dan polarisasi sempat memicu sentimen hingga pembentukan kubu-kubu di dalam tongkrongan. Patut diketahui, bahwa skena skinhead saat itu masih satu lingkaran dengan sirkel punk.
Keterbatasan informasi saat itu, membuat salah persepsi yang telah melebar kemana-mana. Kendati demikian, Warriors Jakarta, sebagai komunitas memilih berdiri di atas pijakan sendiri untuk menjaga silaturahmi tanpa terjebak dalam sekat-sekat ekstrem kanan atau kiri. “Kita kan maunya memang having fun, santai, jangan sampai silaturahmi terganggu. Ini subkultur yang kita sadur dari luar, enggak boleh ditelan mentah-mentah juga. Sampai sini kan harusnya mix culture sama kita,” tegas Uthay.
Karena munculnya sentimen buruk itulah yang membuat gerakan ini hiatus selama bertahun-tahun. Momen kebangkitan itu pun kembali dirajut pada tahun 2015 melalui gelaran Skinhead Jamboree 2015 yang bertema: “Sebuah Titik Balik”. Gelaran tersebut akhirnya lahir kembali setelah dedengkot skena Patriot Bekasi, Joker Streetbois, dan Proklamasi Bootbois Depok berdiskusi dengan Warriors Jakarta untuk mengembalikan lagi spirit Indonesia Skinhead Jamboree.
Pada 2015 itu mulai dimunculkan wacana bahwa gelaran ini akan diselenggarakan secara mandiri dan menjadi wadah yang menyatukan Skinhead se-Indonesia. Acara yang sukses digelar di Hall Universitas Jayabaya, Jakarta ini pun akhirnya sukses mencairkan kembali suasana dengan merangkul seluruh spektrum skena yang sempat terpisah. Bisa dibilang gelaran tersebut merupakan kembalinya semangat anak-anak Skinhead untuk membuat acara dan tampil di publik.
Sejak titik balik tersebut, Indonesia Skinhead Jamboree mulai bertransformasi dari sekadar hajatan lokal menjadi perayaan tingkat nasional yang bergulir secara bergilir dari kota ke kota setiap dua tahun sekali. Setelah tahun 2015, tongkat estafet perhelatan ini pun berlanjut ke Malang pada 2017 di bawah komando Didit Samodra (No Man’s Land). Pada 2019, acara ini menjadi cukup meriah karena diselenggarakan di Yogyakarta. Setelah Jogja, perhelatan ini pun sempat terhenti akibat pandemi, lalu dilanjut pada 2022 di Bogor dan 2024 kembali ke Jakarta.
Yang istimewa dari gelaran ini adalah gerakan ini murni diselenggarakan murni tanpa sponsor. Dana operasional untuk acara ini pun didapatkan dari tiket acara dan iuran dari antar kolektif yang membuat gigs-gigs sebelum hari H pelaksanaan Skinhead Jamboree. Acara ini banyak tersebar di kota-kota yang ada skinhead dengan tajuk Road To Skinhead Jamboree. “Jadi acara jamboree itu iuran dari kolektif-kolektif di berbagai daerah. Mereka dapat duit dari penjualan tiket dan kaos dari acara Road To itu,” jelas Uthay.
Pada edisi Jakarta di Ampera dua tahun lalu itu, Warriors secara resmi memposisikan Indonesia Skinhead Jamboree bukan lagi sebagai milik internal Warriors, melainkan milik seluruh skena skinhead Indonesia. Panggungnya pun akhirnya bertransformasi; selain menyajikan main stage untuk pertunjukan musik dari band juga ditambahkan panggung khusus selector/DJ bagi para pecinta traditional skin dan budaya spinning piringan hitam reggae/ska. Pembagian dua panggung ini sebetulnya sudah dimulai di Bogor. Tapi menemukan bentuk terbaiknya di Jakarta, karena saat di Bogor, panggung selector sempat diguyur hujan.
“Ini bukan acara Warriors lagi, ini udah acara scene. IP-nya untuk semuanya, untuk teman-teman skinhead. Kita bikin kayak blueprint untuk naik level,” ucap Uthay.
Dengan segala dinamikanya, Uthay mengungkapkan Indonesia Skinhead Jamboree ini berjalan secara organik dan luwes. Uthay saat ini bersama Warriors Jakarta –yang disebut skinhead pusat– masih terus berusaha merapikan arsip yang berantakan dan masih terus memikirkan sesuatu yang ideal semacam apa yang bisa diselenggarakan untuk gerakan ini selanjutnya.
Meski acara tersebut sudah berlangsung enam kali setelah Titik Balik, penyelenggaraan ini masih belum ideal. Masih ada kekurangan di sana-sini yang masih perlu dibenahi. Meski begitu, Uthay punya harapan lebih agar gelaran ini nanti bisa diadakan lebih baik dan profesional. Ia pun berharap agar nantinya muncul banyak band yang beraliran skinhead yang bisa meneruskan legacy ini.
“Semoga semua bisa berbenah agar bisa jadi tempat yang menjadi wadah kita sama-sama,” ucapnya. Sosok yang juga merupakan tokoh dibalik Mods Mayday Indonesia ini juga menjelaskan bahwa agar ketika skena ini tumbuh, nantinya akan ada band luar yang bisa main ke Indonesia, demikian juga band Indonesia yang bermain ke luar negeri. Untuk gelaran Indonesia Skinhead Jamboree selanjutnya, para skinhead pusat masih mencoba memikirkan untuk tidak hanya main di kota-kota besar di Pulau Jawa. “Ada tawaran dari Manado, Makassar, dan Medan. Ini coba kita pikirkan bagaimana teknisnya. Kota kecil kayak Kediri itu juga kemarin nawarin,” ucapnya.
Uthay tidak lupa menyampaikan bahwa Indonesia Skinhead Jamboree yang mereka selenggarakan ini berbeda dengan Skinhead Jamboree yang di Bali. Karena gelaran skinhead jamboree yang di Bali merupakan entitas sendiri dari komunitas skinhead di Indonesia ini. “Kalau yang di Bali itu urusannya sama yang namanya Centong. Masih teman baik, The End juga pernah main di sana. Tapi untuk IP Skinhead Jamboree-nya kami lagi coba ngomong sama mereka,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Indonesia Skinhead Jamboree bukan sekadar panggung musik keras dan parade busana necis saban dua tahun sekali. Mengingat kembali apa yang ditulis George Marshall dalam Skinhead Nation, subkultur ini sejatinya memang tentang kebanggaan kelas pekerja, musik, dan persaudaraan yang melintasi batas geografis. Di balik dentuman musik punk, hingga derap piringan hitam ska di panggung selector, perhelatan ini menjadi tumpuan ingatan kolektif tentang bagaimana scene lokal mampu bertahan dari gempuran prasangka, perpecahan, hingga keterbatasan arsip. Dari ruang tongkrongan di Pejaten hingga menjangkau jaringan di berbagai penjuru Nusantara, gerakan yang dirawat tanpa sokongan korporasi ini membuktikan bahwa daya hidup skena justru terletak pada silaturahmi, iuran kolektif, dan semangat kesetaraan di antara para pelakunya.
Lokananta kemarin menjadi saksi bahwa hajatan ini terus membesar dan belajar untuk berbenah. Harapan agar skena ini tumbuh kian profesional, melahirkan generasi band baru, hingga kelak merambah kota-kota di luar Jawa—mulai dari Makassar, Manado, hingga Medan—bukan lagi sekadar angan-angan jauh. Bagi siapapun yang hadir hari itu —baik yang berambut plontos, klimis, maupun saya yang datang dengan rambut gondrong—Indonesia Skinhead Jamboree telah menjelma menjadi rumah bersama: sebuah tempat pulang untuk merayakan persaudaraan, merawat tradisi, dan memastikan bahwa api subkultur ini tak akan pernah padam.
Yah, kebanggaan menjadi skinhead adalah kebanggaan atas jalan hidup itu sendiri. Skinhead bukanlah sekadar tren busana lima menit yang selalu menjadi kritik akan poser yang ikut-ikutan. Lebih dari itu, skinhead adalah sebuah pegangan hidup yang dihidupi sepenuhnya, menjadi jalan hidup untuk memaknai hidup di dunia yang fana ini. Yah, mereka adalah orang-orang yang selalu bersemangat dan keras kepala. Seperti yang selalu ditekankan Uthay dalam lagu-lagu The End maupun memoar yang ditulis Nor Rahman Saputra: I’m So Proud, I’m Skinhead.








