X

Saiyo Sakato: Alternatif Sinetron untuk Ibu-Ibu

by Abyan Nabilio / 11 months ago / 780 Views / 0 Comments /

Saiyo Sakato merupakan sinetron yang tayang di Netflix soal persaingan dua rumah makan Padang yang namanya sama.

Tayangan bertema keluarga yang menghangatkan memang cocok untuk ditonton sembari menunggu berbuka puasa di bulan Ramadhan. Karena itu mungkin Netflix memasukkan Saiyo Sakato dalam daftar serialnya mulai hari pertama puasa tahun ini dan betul saja tayangan ini masuk Top 10 acara TV Netflix di pekan pertamanya.

Serial yang awalnya dirilis di Goplay tiga tahun lalu ini menceritakan tentang persaingan dua rumah makan Padang yang sama sama bernama Saiyo Sakato. Tema ini mungkin tidak baru baru amat karena Tabula Rasa sudah pernah mengangkat hal serupa pada 2014. Menariknya, kedua rumah makan tersebut dimiliki oleh istri tua dan istri muda dari seorang almarhum pria yang punya resep keluarga yang mujarab, bayangkan Tabula Rasa dicampur Berbagi Suami.

“Harusnya sinetron yang ditonton ibu-ibu tuh kayak Saiyo Sakato,” begitu kira-kira pendapat teman saya saat serial ini baru saja tayang di Goplay dulu. Karena penasaran, saya pun langsung mengunggah aplikasi tersebut yang kebetulan sedang memberi akses gratis kepada tayangan-tayangannya. Saya jadi mengerti kenapa teman saya berpendapat begitu saat menonton episode pertama, namun sayang akses gratisnya keburu habis dan saya baru sempat melanjutkan saat sudah tayang di Netflix.

Adegan pembuka meninggalnya Lukman Sardi yang berperan sebagai pemilik restoran Padang bernama Zul dilanjut dialog menyedihkan namun komedik dari istrinya, Mar, yang diperankan Cut Mini saja sudah membuat Saiyo Sakato menjadi tayangan yang mumpuni. Kedua nama besar tersebut ditambah unsur mockumentary yang diselipkan dengan cerdas mendukung pendapat teman saya tadi, walaupun entah berapa bayaran aktor sekelas keduanya kalau harus stripping ratusan bahkan ribuan episode.

Biarpun masih punya unsur drama ibu-ibu namun drama di sini lebih masuk akal, lebih manusiawi. Contohnya, Nita (Nirina Zubir) merupakan istri muda, namun ia tetap digambarkan sebagai manusia, bukan karakter yang hobi di-shoot close up sembari melotot dengan (iringan musik dramatis dimainkan). Alih-alih hanya menggosipkan karakter pelakor dengan teman sebayanya, ibu-ibu juga berkemungkinan penasaran untuk mencari resep gulai kepala kakap, rendang paru, atau asam padeh daging setelah menonton serial ini, bukti bahwa ada sepercik sisi edukatif di Saiyo Sakato.

Cut Mini bisa jadi MVP di sini, biarpun aktor lain tak kalah seru. Kehebohan ala ibu-ibunya betul-betul ibu-ibu. Saya melihat setetes ibu dan ibu mertua saya dalam karakter Mar. Portofolio Cut Mini untuk karakter macam ini memang sudah teruji, dalam Dua Garis Biru dan Orang Kaya Baru misalnya. Ia juga mengeksekusi dialog-dialog Minangnya dengan fasih, bahkan lebih baik dibanding Nirina Zubir yang memang urang awak (karena memang karakter Nita digambarkan sudah lama tinggal di Jakarta). Ini menarik karena saya tidak menemukan informasi pasti bahwa Cut Mini punya keturunan Minang atau bahkan punya anak.

Selain diisi aktor yang mumpuni, 10 episode Saiyo Sakato juga dipenuhi detail-detail menarik jika diperhatikan, sebagian hanya semacam easter egg lucu-lucuan sebagian lain menambah kedalaman tema. Tiga foto hitam putih tokoh yang entah siapa di Saiyo Sakato milik Mar, misalnya, dipampang begitu saja dengan jelas di pembuka episode “Asam Padeh Tanpa Otak”, seperti punya petunjuk untuk jalan cerita ke depan. Namun, saat di episode selanjutnya siapa mereka akan terbahas oleh seorang karakter, adegan tiba-tiba berpindah. Belakangan saya tahu yang paling kanan adalah Sutan Sjahrir karena mencari “Tokoh Minang” di Google sedang dua sisanya tidak ketahuan.

Kesan saya saat melihat tiga foto tersebut hampir sama dengan saat melihat lukisan atau foto orang tua (sering kali terlihat seperti syekh) yang entah siapa dan entah kenapa sering muncul di dinding-dinding restoran Padang. Saya kadang menerka mungkin itu orang tua sang pemilik, atau kakeknya, atau mungkin datuk yang namanya terpampang paling atas di organogram silsilah dalam rumah gadang sang pemilik di kampung. Sepertinya sutradara sekaligus penulis, Gina S. Noer (Dua Garis Biru), memang berniat memberi kesan ini pada penontonnya.

Subteks sepertinya cocok untuk menjelaskan detail-detail ini. Ada beberapa detail yang tidak dijelaskan dalam dialog namun menjelaskan lebih dalam latar cerita. Tidak ada yang menjelaskan bahwa Zul berasal dari Bukittinggi, namun Jam Gadang selalu muncul saat ceritanya sedang berlatar di kampung ibu Zul, contoh sederhananya. Ujian terakhir ibunda Zul yang menguji kedua menantunya untuk memasak itiak lado mudo (bebek cabai hijau) juga mendukung fakta tersebut karena masakan ini memang khas beberapa daerah di Bukittinggi.

Awalnya saya heran kenapa Bahasa Minang Nirina Zubir kalah jauh dibanding Cut Mini. Ternyata ini juga bagian dari detail kecil yang direncanakan penggarap. Nirina mengaku menahan diri untuk tidak menyaut dengan Bahasa Minang berlebihan karena karakter Nita memang digambarkan sebagai perantau yang sudah lama hidup di Jakarta.

Selain itu, panggilan dengan satu suku kata. Ini sangat lazim di ranah Minang, bahkan Sumatra secara keseluruhan. Zul, Mar, Nal. Paman saya di Padang dipanggil Man (Iman), bibi saya dipanggil Yar (Yarsi, mungkin), nenek saya di Bangka dipanggil Bai (Baiduri). Entah apa enaknya memanggil orang dengan satu suku kata. Mungkin karena saya besar di Bandung dan hampir tidak punya teman dengan panggilan serupa (kecuali yang dipanggil Al), ini merupakan hal yang kagok di kehidupan sehari-hari tapi sebagai keturunan Sumatra saya merasa detail ini merupakan hal kecil yang relevan.

Hal-hal kecil semacam ini mungkin keunggulan Saiyo Sakato yang menurut teman saya sebelumnya kurang digali di sinetron ibu-ibu pada masanya. Semua begitu harfiah, bahkan isi pikiran karakter pun harus dijelaskan melalui dubbing padahal bisa saja hal semacam ini diakali secara visual atau komunikasi non-verbal para pemeran, memanfaatkan subteks (kalau saya tidak salah istilah) yang dibahas tadi.

Penggarapan serial macam ini lebih mirip film dibanding sinetron. Ini juga mengapa kualitasnya tidak bisa disamakan dengan tayangan hasil stripping di televisi. Nirina dan Cut Mini tampak leluasa menggunakan alat dapur adalah hal wajar karena mereka sudah melewati cooking class saat persiapan.

Tayangan yang niat hari ini bukan hanya Saiyo Sakato. Banyak serial-serial web sekarang digarap oleh orang-orang yang biasa mengerjakan film. Saya berharap tayangan macam ini bisa masuk televisi jadi ibu dan tante saya di rumah tidak melulu menonton sinetron yang itu itu lagi. Oh iya bicara soal sinetron, nampaknya hubungan Nisa (anak Mar) dan Emir (adik Nita) cocok untuk dijadikan salah satu judulnya, “Istri Adikku Adalah Anak Suamiku”.

Tagged

#spectacle #netflix #Lukman Sardi #Saiyo Sakato #Ramadhan

Leave a Reply