X

Opium as a State of Mind

by webadmin / 10 months ago / 689 Views / 0 Comments /

Lebih dalam menilik style Opium lewat eksistensi Playboi Carti dan Poris–gaya gelap yang jadi bahasa baru ‘coolness’ hari ini.


Kata “opium” dulu punya reputasi yang berbeda. Ia diasosiasikan dengan candu, kolonialisme, dan segala yang destruktif. Tapi kini, istilah yang sama justru berubah jadi bahasa visual baru di dunia musik dan fashion. Di tangan Playboi Carti, “Opium” menjelma jadi simbol untuk gaya hidup yang penuh distorsi dan energi tak terduga.

Label Opium Records yang dibentuk Carti di bawah Interscope tidak hanya menaungi nama-nama seperti Ken Carson, Destroy Lonely, dan Homixide Gang. Ia menciptakan semesta estetik yang khas, di mana setiap artis punya karakter visual dan sonik yang saling menguatkan. Musik mereka keras, digital, dan repetitif, tapi terasa hidup. Fashion mereka hitam pekat, gothic, dan futuristik, seolah lahir dari reruntuhan rave dan dunia fiksi ilmiah. Dari situlah muncul istilah Opium aesthetic, sebuah perpaduan antara nihilisme visual dan kebisingan yang dikurasi.

Kalau musik trap generasi sebelumnya masih punya sisa aroma kemewahan, dunia Opium terasa lebih murung dan mekanis. Beat-nya padat, bass-nya mentah, dan vokalnya kerap terdistorsi sampai batas tak nyaman. Tapi justru di situ daya tariknya. Mereka menawarkan bentuk baru dari ketidakteraturan yang terasa otentik di tengah industri musik yang semakin rapi dan terprediksi.

Estetika ini menular cepat. Di TikTok, Instagram, hingga runway brand besar, pengaruh Opium terasa di mana-mana. Visual klip Carti yang berwarna merah dan hitam menjadi template bagi ratusan edit fans. Pose vampiristik, riasan mata hitam, dan fashion yang mengaburkan batas antara maskulin dan feminin mulai diadopsi oleh penggemarnya. Bagi sebagian orang, gaya ini adalah bentuk perlawanan terhadap tren “quiet luxury” yang mendominasi dekade ini. Segala yang tenang dan bersih digantikan dengan energi yang bising, keotik, dan tidak mudah dipahami. Carti dan kolektifnya berhasil menjadikan kekacauan sebagai simbol keren yang baru.

Fashion dan musik sudah lama berhenti jadi dua hal terpisah. OPM BABI, brand yang muncul dari orbit Opium, berfungsi lebih seperti simbol keanggotaan daripada label pakaian. Desainnya tampak seperti hasil tabrakan ide: distorted typography, cutting-an yang tidak simetris, dan limited drop yang membuatnya terasa eksklusif. Banyak yang menyebut OPM BABI sebagai bentuk visualisasi dari musik Carti sendiri.

Menariknya, brand ini tidak terlalu peduli pada konvensi branding. Tidak ada kampanye besar atau kolaborasi dengan rumah mode ternama. Dasarnya hanya komunitas yang tumbuh secara organik, dibangun dari estetika yang sudah ada di musik Opium. Sehingga menjadikan pemakai OPM BABI lebih seperti statement ketimbang bermode. 

OPM BABI juga memperlihatkan bagaimana batas antara high fashion dan streetwear makin kabur. Pengaruh Rick Owens, Chrome Hearts, dan Balenciaga melebur dengan mentahnya energi bawah tanah. Tak heran kalau banyak penggemar Carti menganggap OPM BABI sebagai pakaian wajib bagi siapa pun yang merasa bagian dari dunia Opium. Dalam ekosistem ini, pakaian tidak lagi hanya menjadi sebuah produk–wujud dari suara juga sikap itu sendiri. 

Estetika ini kemudian melahirkan bentuk ‘new coolness’ yang berbeda. Meski sangat kabur, namun “keren” lebih sering diasosiasikan dengan kesan bersih, berkelas, dan effortless, Opium datang dengan versi yang lebih ekstrem: messy tapi terencana, gelap tapi ekspresif, aneh tapi punya daya tarik visual yang kuat. Gaya ini tidak dibuat untuk diterima semua orang, justru sebaliknya, ia bekerja lewat eksklusivitas dan rasa “tidak untuk semua orang.”

Menariknya, pengaruh estetika ini tidak berhenti di Amerika. Di Indonesia, ia terasa paling kuat lewat Poris, kolektif hiphop hunian delapan orang yang emerging. Dari cara berpakaian hingga suara yang mereka hasilkan, Poris menghadirkan sesuatu yang belum pernah benar-benar terlihat di ranah musik lokal. Mereka berpakaian serba hitam, menggunakan siluet futuristik yang mengingatkan pada Rick Owens dan industrial streetwear, sementara musik mereka terdengar padat, distorted, dan abrasif.

Poris seperti memadukan trap futurism dan urban chaos khas Jakarta. Energinya keras juga terarah. Sikapnya dingin tapi penuh keyakinan. Setiap rilisan baru mereka terasa seperti eksperimen yang membawa warna baru ke hiphop lokal. Bahkan di luar musik, Poris juga mulai membentuk bahasa visual sendiri.

Yang menarik, daya tarik Poris tidak datang dari sensasi viral, tapi dari konsistensi estetikanya. Mereka membangun dunia mereka sendiri lewat single dan kolaborasi yang terasa satu nafas. Ada semangat do it yourself, tapi juga ada kesadaran akan visual dan identitas. Dalam waktu singkat, Poris berhasil menarik perhatian banyak orang karena tampilannya yang radikal.

Salah satu momen yang memperkuat posisi mereka di kultur pop alternatif adalah ketika Future Loundry, label milik Ican Harem, nge-rework merchandise Poris. Kolaborasi ini terasa organik, dua entitas yang sama-sama bermain di wilayah eksperimental dan estetika rusak tapi terencana. Dari situ terlihat bagaimana Poris lebih seperti gerakan kecil yang menyelinap di balik scene hiphop di lokal ketimbang sekedar artis yang lagi viral.

Poris bisa dibilang sebagai perwujudan energi Opium versi Indonesia. Mereka menyerap gaya, sikap, dan atmosfer dari apa yang dilakukan Carti, tapi menanamkannya ke dalam konteks urban Jakarta yang penuh kontradiksi. Hasilnya adalah bentuk ekspresi baru yang mengaburkan batas antara fashion, musik, dan performativitas.

Fenomena Opium, baik di Amerika maupun Indonesia, memperlihatkan bahwa generasi baru tidak lagi mencari kesempurnaan. Mereka mencari ekpresi yang lebih ekstrem, sesuatu yang tidak rapi tapi jujur. Carti dan Poris sama-sama menawarkan bentuk ekspresi yang menolak prediksi, namun itu justru jadi magnetnya. 

Kita hidup di masa di mana setiap hal bisa direplikasi dan disempurnakan dengan mudah. Dalam lanskap itu, “ketidaksempurnaan” justru menjadi bentuk eksklusivitas baru. Opium menunjukan bahwa keunikan tak melulu muncul dari harmoni, tapi lewat keberanian menciptakan kebisingan meski di tengah keteraturan.

Baik lewat musik maupun fashion, Opium mengembalikan semangat ‘coolness’ ke tempat asalnya: pada sikap. Gaya gelap, suara distorted, atau visual yang keotik hanyalah medium. Intinya tetap sama, yaitu keinginan untuk membangun dunia sendiri di luar struktur yang ada.

Di Jakarta, Poris sedang melakukan hal itu. Mereka menciptakan ruang baru bagi musik lokal untuk lebih bebas bereksperimen, tanpa perlu meniru estetika luar negeri mentah-mentah. Dalam kebisingan mereka, ada kejujuran yang terasa segar.

Opium telah menjadi semacam bahasa global untuk generasi yang bosan pada keseragaman. Ia hadir bukan sebagai tren sementara, tapi sebagai mentalitas. Dari Carti ke Poris, dari Atlanta ke Jakarta, vibe ini tumbuh dan beradaptasi. Dalam dunia yang semakin bersih dan tertata, Opium hadir sebagai kebisingan yang terasa jujur.

Teks Freykarensa