X

TRACKTALK: Mencoba Memahami Proses Identifikasi Diri CJ1000 Lewat ‘Midnight Ambush’

by Prabu Pramayougha / 2 years ago / 479 Views / 0 Comments /

Masih teringat betul rasanya ketika dua personil CJ1000 mengunjungi saya di kantor tempat saya bekerja dua tahun yang lalu untuk menghelat semacam ‘intimate private hearing session’ (alias minta pendapat) untuk album Midnight Ambush yang akhirnya dirilis penuh di tahun ini. Impresi saya terhadap materi calon album itu memang lumayan problematik. Di satu sisi saya paham betul bahwa materi yang mereka suguhkan tersebut belum final – dan masih terbuka luas untuk berbagai macam eksplorasi atau pun perubahan. Di sisi lain, saya belum bisa memahami sepenuhnya arah musikalitas yang CJ1000 ingin capai. Mau garage rock, mau hardcore punk, mau southern rock. Tidak jelas.

Tapi tentu dibalik ketidaksempurnaan biasanya ada hal-hal kecil yang bisa diapresiasi. Untuk konteks CJ1000, saya suka bagaimana naif dan lugunya Fardlan menulis lirik. Seperti di lagu “Barisan Domba”. Fardlan dengan lugunya menceritakan pengalamannya ketika masih bersekolah dan harus melewati sebuah markas tentara sembari menenteng minuman berasa di dalam plastik plus kripik. Aneh. Tapi menarik bagi saya pribadi.

Atau di lagu “VNDS” yang kalau dikulik dan dicari runutannya ke ceruk yang tepat, ternyata bercerita tentang lika liku transaksi sepatu branded. Sinting. Ketika banyak band rock yang berusaha pretensius bercerita soal pedih dan bangsatnya dunia, sistem yang banal atau apa pun yang ‘serius’. CJ1000 membawa topik yang belum pernah terpikir oleh banyak band rock di luar sana. That’s a plus at least to me.

Foto: Arsip CJ1000

Anyway, mari kembali lagi ke format musik. Mendengar impresi saya akan kegetiran juntrungan musik mereka dalam calon format rilisan tersebut, Fardlan (vokalis CJ1000) sempat memberikan dalih akan format musik yang band bentukan kampus STT Tekstil Bandung itu usung. Dia mengklaim bahwa musik yang mereka usung dinamakan ‘Rock-Ass’ – sebuah permainan kata dari bahasa Bekasi ‘rokes’ yang berarti ugal-ugalan. Oke. Saya bisa menerima konseptualisasi tersebut karena tentunya tak sedikit band di luar sana yang ingin menjadi unik dan memiliki diferensiasinya masing-masing. Jadi saya pikir kala itu, lebih baik menunggu format finalnya rilis saja. Baru kita coba dengarkan sekali lagi. Siapa tahu kuping dan hati saya bisa lebih ‘nrimo’.

Long story short, akhirnya album mereka rilis juga beberapa waktu lalu dan saya pun berkesempatan untuk mendengarkannya secara penuh dalam format pamungkasnya. Dan…

Tidak ada perubahan kentara.

Yaaa, mungkin dari segi tata suara dan mastering saja yang memang dikulik agar lebih menendang bokong dan menguras kotoran telinga – karena bukankah itu mayoritas standarisasi mixing-an musik rock hari ini?

Struktur dan format lagu pun tidak ada perubahan sama sekali. Jadi lagu-lagu yang saya dengarkan ketika masih berbentuk rough cut, strukturnya masih sama. Jadi tidak ada semacam impresi kekaguman atau kejutan dari Midnight Ambush. Paling yaaa, memang lebih enak saja untuk diputar menggunakan perangkat pemutar kaset ber-speaker daya tinggi.

Sampul album Midnight Ambush (2022)

Lantas, dengan kegenerikan tersebut apakah karya CJ1000 bisa disebut medioker? Bagi saya pribadi, hal itu bak pedang bermata dua. Saya paham betul bahwa ini adalah rilisan perdana bagi CJ1000. Mereka masih butuh waktu untuk mematangkan konsep musikalitas dan juga pilihan tata suara yang tepat mendeskripsikan identitas musikal mereka di kemudian hari. Karena bukankah semua band pasti melewati fase itu? Mungkin banyak band yang menjadi instant hits hanya karena satu atau dua rilisan awalnya. Tapi tak sedikit pula band-band di luar sana yang membutuhkan waktu atau beberapa rilisan sampai akhirnya mereka bisa meneguhkan identitas musikalitas mereka yang menjadi top of mind banyak penikmat musik. Nah saya yakin CJ1000 masuk ke golongan kedua tersebut.

Midnight Ambush bagi saya adalah rilisan yang setidaknya menorehkan eksistensi CJ1000 untuk khalayak ramai saja. Bukan rilisan yang harus diresapi secara khidmat. Karena dari pengalaman saya pun, sebetulnya CJ1000 adalah band live – bukan tipe band yang cocok dinikmati dari segi audio saja. Toh ketika format dan garapan musiknya ternyata medioker di bentuk rilisan, ketika dibawakan secara langsung, tetap saja musiknya bisa mengobrak-ngabrik lantai dansa tanpa ampun. Jadi meski Midnight Ambush dinilai biasa saja. Saya tentu bisa memahaminya dengan perspektif yang lain itu.

Tapi memang, fitrah sebuah band pada akhirnya adalah karya musiknya. CJ1000 pun seharusnya tak terlena sebagai band live saja. Mungkin di rilisan selanjutnya, mereka bisa mulai berkontemplasi akan ceruk musik yang bisa lebih fokus mereka kejar. Ah tapi pada akhirnya, semua itu kembali lagi pada band-nya. Apabila CJ1000 memang ingin mengejar kebiasan nuansa musik – yang tetap membuat ‘rokes’ moshpit –, kenapa tidak?

Sometimes there’s always good thing about mediocrity.

 

Dengarkan Midnight Ambush di sini:

Oleh Prabu Pramayougha

Tagged

#review #tracktalk #music #album #cj1000

Leave a Reply