X

Paralel Antara Streetball dan Nge-Band di Untold: The Rise and Fall of AND1 (2022)

by Abyan Nabilio / 2 years ago / 813 Views / 0 Comments /

Sekitar 2006-2007 dua orang saudara dari Padang datang ke Bandung dan mengajukan satu pertanyaan: “Toko AND1 di Bandung di mana ya?”

Jujur saat itu saya (yang masih kelas satu SMP) tidak  tahu apa yang mereka bicarakan, namun setelahnya saya sadar bahwa hampir setiap anak seumuran di lapangan basket umum memakai sepatu dengan merk tersebut.

Sekian tahun berlalu tanpa basket, saya kembali ke lapangan di masa pertengahan kuliah, dengan tujuan menurukan berat badan yang sudah kelewat tidak karuan. Di masa-masa ini, saya sadar sekarang orang-orang sudah kembali ke Nike, Air Jordan (karena musim baru trendi), dan Under Armour (karena Steph Curry membuat step back ditambah tembakan tiga angka sama kerennya dengan nombok).

Saya pun kembali mencari sepatu AND1 untuk mengenang masa lalu, mengunjungi toko tempat saya mengantarkan saudara namun hasilnya nihil. Ini membuat saya tersadar bahwa AND1 tidak ditemukan semudah dulu. Timbul pertanyaan, ke mana merk yang bisa dikatakan sebagai sinonim streetball pada masanya itu.

Pertanyaan tersebut baru terjawab beberapa hari lalu. Sebuah dokumenter olahraga Netflix berjudul Untold: The Rise and Fall of AND1 (2022) lumayan memberi jawaban.

A lot of people today say, ‘What ever happened to AND1? I don’t know what happened to it. And I was a part of it,” tutur MC streetball tersohor Thomas Mills a.k.a. Duke Tango di pembuka film.

Jawaban dari pertanyaan tersebut terpapar di bagian akhir film. Pertikaian antar pemain yang sirik, keluarnya salah satu founder (yang ternyata semua kulit putih), Tom Austin, karena kelelahan bekerja dan keputusan untuk menjual perusahaan jadi faktor penting. Namun, sepanjang film saya menemukan hal lain yang lebih menarik dibanding jawaban itu, main basket ternyata bisa mirip dengan nge-band.

Streetball bukan hanya soal olahraga. Streetball  merupakan karya seni, atau lebih luasnya sebuah budaya tandingan. Tidak semua atlet basket punya akses ke NBA, yang mana sampai sekarang bisa dikatakan budaya arus utama dalam konteks basket, karena persaingannya yang ketat. Karena itu, dari sekian bocah-bocah yang mendambakan bermain di Bulls, Lakers, atau Warriors, beberapa dari mereka tentu butuh alternatif lain agar bisa hidup dari bola basket.

It wasn’t about money,” tutur salah satu narasumber, Shane Woney a.k.a. The Dribbling Machine. “Because that was the NBA.”

Beberapa dari atlet streetball bisa dikatakan atlet-atlet buangan. The Dribbling Machine sudah menginjak kepala tiga saat dikontrak AND1. Grayson Boucher a.k.a. The Professor punya badan yang terlalu kecil untuk NBA, bahkan tidak dapat kontrak untuk main basket di liga kuliahan sama sekali setelah lulus sekolah. Philip Champion a.k.a. Hot Sauce baru saja keluar penjara saat bermain di pertandingan AND1 Mixtape Tour pertamanya. Dari sekian narasumber yang diwawancara, hanya Rafer Alston a.k.a. Skip 2 My Lou yang berhasil tembus sebagai pick ke-39 di draft NBA 1998 untuk Milwaukee Bucks.

Keterkaitan streetball dan saya sebenarnya bermula karena alasan yang cukup dangkal. Saya suka basket tapi atlet-atlet basket sekolah biasanya berada di Tier 1 tongkrongan sekolah bersama para pecinta push up di ekstrakurikuler keamanan (yang lumayan absurd karena mungkin cita-citanya jadi ormas) dan pecinta alam korban-korban 5cm pada masanya.

Mereka jelas tidak beririsan dengan saya. Karena itu, permainan ini jadi alternatif, biarpun saya lebih memilih belajar gerakan streetball yang masih bisa digunakan di permainan basket biasa. Jujur sampai sekarang saya jauh dari hebat tapi yang saya bisa banggakan adalah saya sudah menggunakan hesitation sejak gerakan itu masih disebut fake di tongkrongan-tongkrongan basket. Kini, trik itu digunakan oleh hampir semua bocah Gen Z berkat aturan carry yang terasa makin longgar, pelatih-pelatih media sosial, dan atlet-atlet NBA masa kini yang mengandalkan tembakan jarak jauh. Mungkin, ini salah satu pengaruh streetball terhadap NBA dan pemain basket sekolah sekarang karena dulu pelatih mereka pasti setuju dengan Tim Hardaway yang berpendapat crossover milik Allen Iverson masuk hitungan carry. The Professor, di sumber lain, juga mengakui bahwa ketenaran steetball dulu memengaruhi NBA sekarang.

Kisah-kisah yang disampaikan para atlet AND1 dalam Untold semakin terasa relevan dengan ranah yang cukup beririsan dengan saya sekarang, yakni kancah musik arus pinggir negeri ini. Biar pun kini industri musik lebih terasa cair, polarisasi arus utama dan tandingannya dua dekade lalu masih terbayang-bayang sampai sekarang. Tidak semua musisi punya akses (dan keinginan) untuk masuk label mayor tapi tentu tidak sedikit yang mau hidup dari musik.

Saparua bisa jadi contoh yang baik. Salah satu lokasi di Kota Kembang tersebut (kebetulan) bisa disebut Rucker Park dalam dua konteks sekaligus, musik dan basket. Saparua merupakan markas dari Future Streetball, salah satu komunitas streetball awal di Indonesia. Bahkan, mereka mungkin yang pertama membuat mixtape macam bervolume-volume AND1 Mixtape itu. Lapangan umum di tengah kota ini sampai sekarang memungkinkan pertemuan antara atlet sekolah, anak kuliahan yang sudah pensiun, perantau yang sedang menunggu beasiswa, dan bapak-bapak rumahan untuk bermain bersama. Richard a.k.a. Insane dkk. dulu mungkin dipertemukan dengan cara serupa.

Where we came from, a lot of people don’t have that type of money to see an NBA game at the Madison Square Garden,” jelas Waliy Dixon a.k.a. Main Event. “So for us Rucker was the main stage, streetball was born there.”

Jika bicara akses menonton pertandingan basket, Saparua tidak serupa Rucker Park karena tiket liga utama Indonesia tidak semahal itu. Jika bicara akses bermain, bisa jadi iya. Namun, dalam konteks musik keduanya lebih relevan.

Saparua adalah Rucker Parknya kancah underground Indonesia khususnya Bandung. Burgerkill, Koil, Pure Saturday, Puppen, PAS Band, dan masih banyak musisi yang berasal dari ranah underground Kota Kembang pernah manggung di sana. Jika Anda bosan dengan musik dari televisi atau toko-toko kaset umum, alternatifnya ada di sana. Jujur, saya tidak kezamanan tapi tentu model-model bermusik dengan semangat independen dan kolektivitasnya secara tidak langsung diturunkan ke band-band angkatan saya, karena itu mungkin saya dan beberapa teman sempat berpikir yang susah itu yang keren.

Saat memulai band sendiri, saya dan kawan-kawan harus menyetir sendiri jika ingin main di luar kota. Jakarta, Sukabumi, hingga Malang kami libas lewat jalur darat semobil berempat, kadang delapan  kalau ada yang mau bantu-bantu, kadang dengan hatchback kecil pinjaman orang tua yang untungnya punya bagasi luas, kadang dengan mobil sewaan jika tak dapat izin. Kadang  kami langsung menyetir pulang subuh sampai rumah, kadang ada tumpangan di rumah kawan, kadang dapat penginapan satu dua kamar dicukup-cukupi.

Ini terasa hampir sama saat The Dribbling Machine menceritakan tentang AND1 Mixtape Tour pertama mereka. Minivan yang bergoyang-goyang hingga berbagi kamar secukup-cukupnya di hotel murah.

When I went on tour, they gave me a corporate car and six grand on cash and was like, ‘Make it works,’” kata sang manajer tur, Chris Hightower.

Mungkin, saya haya sekadar mencocok-cocokan karena olahraga lain yang bisa dibilang “informal” juga berjalan dengan cara serupa, skateboard misalnya. Jika informal tidak cocok katakanlah olahraga hiburan. Sama halnya dengan pertunjukan musik, orang datang ke pertandingan (pertunjukkan mungkin lebih tepat) streetball atau skateboard untuk terhibur melihat trik yang dikeluarkan para atletnya, bukan untuk melihat mereka kalah atau menang. Karena itu, atlet olahraga semacam ini sama halnya dengan artis, penampil, performers.

Itu yang membuat mereka mungkin memilik jalur hampir sama dengan musisi. Taraf hidup mereka, sebut saja uang, berlandas pada ketenaran mereka. Semakin banyak penggemar, semakin banyak gig (istilah yang juga digunakan The Professor dalam beberapa video di kanal Youtubenya) yang bisa mereka kerjakan, semakin banyak pemodal yang menawarkan kontrak endorsement.

Bicara soal pemodal, AND1 bermain banyak di sini. Mereka lah sumber kapital yang membuat budaya yang mungkin tadinya hanya menjadi milik Rucker Park dan ghetto-ghetto kulit hitam setempat menjadi global dengan tujuan sekaligus menjual produk mereka.

Di Tanah Air sendiri, salah satu sumber kapital dengan uang gaib yang ikut-ikutan berandil adalah produsen komoditas yang serupa, baik untuk streetball pada masanya maupun musik, biarpun produk mereka tidak begitu terkait dengan keduanya. Apa yang Anda ingat saat mendengar istilah streetball dan spin your style? Senada dengan apa yang terlihat di rigging-rigging panggung besar lokal bukan?

Bagi musisi oportunis macam saya, pemodal-pemodal ini adalah salah satu yang membuat saya bisa hidup dari musik. Namun, apa yang terjadi di akhir dokumenter Untold, beberapa atlet yang merasa dibayar dengan kurang pantas, mengingatkan saya kembali bahwa tujuan mereka memang jualan. Jadi, wajar AND1 (yang sekali lagi ternyata diprakarsai kulit putih) dianggap mengeksploitasi mereka. Saya berharap di posisi saya kami saling eksploitasi saja.

Setelah membahas semua ini tanpa tahu jelas juntrungan sendiri, satu hal yang membuat saya penasaran. Ada tidak ya sentimen abang-abangan streetball dari generasi sebelumnya terhadap kesuksesan atlet-atlet AND1 di masanya? Dr. J mungkin tidak akan berkomentar banyak karena sudah sempat merasakan kesuksesan di NBA. Tapi bagaimana dengan Pee Wee Kirkland? Ia menolak kontrak NBA karena berpikir penjualan narkoba lebih menguntungkan. Jalan hidupnya terdengar seperti seorang teman kapital A O kapital hitam-hitam yang sering meledek saya rockstar dan pernah diusir dari panggung karena bertanya, “Ini acara kampus apa rokok sih A-nya gede banget?”

 

Oleh Abyan Nabilio

Tagged

#netflix #untold #streetball #and1 #dokumenter

Leave a Reply