X

Memanusiawikan ‘Monster’ di Kamen Rider Black Sun (2022)

by Prabu Pramayougha / 1 year ago / 706 Views / 0 Comments /

Kalau kamu adalah orang yang kebetulan lahir di paruh akhir tahun 80-an atau bahkan di awal tahun 90-an, sudah pasti mengenal sebuah entitas budaya populer fiktif bernama Satria Baja Hitam – yang lebih dikenal sebagai Kamen Rider di ranah global pada umumnya. Bagi kita yang hidup di Indonesia, mungkin satu karakter Kamen Rider yang paling melekat di benak kita adalah jenis Kamen Rider Black alias predesor Kamen Rider RX dan tentunya, manusia dibalik monster (atau alien?) tersebut yang bernama Kotaro Minami. Never gets old.

Di bulan Oktober kemarin, sebagai peringatan 50 tahun sejak kemunculan franchise Kamen Rider untuk pertama kalinya, muncul sebuah webseries berjudul Kamen Rider Black Sun (2022) di layanan pemutar film Amazon Prime dan sepertinya bagimu yang sudah familiar dengan berbagai serial Kamen Rider yang kerap kali memiliki plot klise dan menjual fantasi akan dunia action berhias monster dan efek spesial mungkin tidak bisa menikmati serial garapan Kazuya Shiraishi ini.

Meski memang diproyeksikan sebagai reboot dari versi awalnya yang tayang di tahun 1987 (meski di Indonesia baru tayang pada tahun 90-an awal), jalan cerita Kamen Rider Black Sun kini lebih manusiawi dan bisa dibilang kelam. Super kelam. No shit. Belum lagi efek tarung dan body horror yang rasanya tidak muluk untuk mengkategorikan serial ini ke dalam kotak ‘gore’ – walhasil serial ini diberi rating 16+/18+ oleh sang platform streaming-nya sendiri.

Sebelum menuangkan impresi personal, saya akan memberikan sedikit gambaran tentang webseries yang konon tidak disukai oleh para penggemar Kamen Rider di negara asalnya sendiri – Jepang – tersebut.

via Toei Company Ltd

Reboot yang terasa lebih realistis

Secara alur besar, Kamen Rider Black Sun masih memiliki plot yang kurang lebih mirip dengan Kamen Rider Black versi orisinalnya. Gorgom masih menjadi musuh utama, Kamen Rider masih menjadi tokoh utama alias pahlawannya serta Shadow Moon dan penyerapan energi dari Creation King masih menjadi salah satu konflik utama di serialnya.

Hanya saja ada pendekatan penokohan dan penggamblangan beberapa latar ruang plus konteks yang dirubah di Kamen Rider Black Sun yang menjadi lebih realistis juga grotesque. Apabila di serial orisinalnya Gorgom adalah sebuah kelompok cult yang diselimuti oleh unsur mistis, Gorgom pada versi Black Sun diceritakan sebagai sebuah organisasi perlawanan terhadap ketidakadilan manusia terhadap kaijin (manusia setengah monster yang dihasilkan dari eksperimen para ilmuwan untuk melancarkan kehidupan manusia) yang berubah menjadi sebuah partai politik di era sekarang.

Dari segi penokohan protagonis, sebetulnya tak ada yang terlalu berubah dari serial orisinalnya – dimana Kotaro dan Nobuhiko merupakan ‘produk gagal’ dari Gorgom yang telah memproyeksikan mereka sebagai Creation King baru untuk menggantikan tahta raja yang lama. Namun di Black Sun, kedua tokoh tersebut tidak diceritakan sebagai saudara tiri, melainkan mereka digambarkan sebagai dua sahabat yang sejak kecil sudah bersahabat lama dan kedua ayah mereka pun sama-sama berprofesi sebagai ilmuwan.

Konflik yang disuguhkan sepanjang serial pun berkutat di ranah ketidakadilan dan prejudis akan satu golongan terhadap golongan lainnya – yakni antara manusia dan kaijin. Dimana ada beberapa pihak yang ingin kaijin dimusnahkan dari muka bumi, sementara ada pihak lain yang menganggap bahwa kaijin layak untuk hidup berdampingan dengan manusia. Tapi kelak di beberapa episode menuju penghujung serial ini, akan muncul sebuah pemaparan yang lumayan mengubah persepsi tentang konflik tersebut.

Pendekatan isu prejudis tersebut seakan mengingatkan tentang kiprah X-Men dari Marvel Comics yang pada awal kemunculannya diproyeksikan sebagai respon terhadap rasisme yang terjadi di dunia nyata – dan dituangkan menjadi jalan cerita komiknya di mana para mutant harus menerima ketidakadilan dari berbagai pihak di dunia mereka.

via Toei Company Ltd

Aspek kekerasan sebagai penguat konteks

Dari banyak ulasan tentang Kamen Rider Black Sun, seringkali hal yang menjadi perhatian di beberapa review tersebut adalah perihal nuansa gore yang ditampilkan pada banyak adegannya. Mulai dari penggunaan senjata yang sangat terlihat realistis sampai efek luka mengerikan yang dihasilkan dari berbagai konflik fisik di serialnya.

Namun hal tersebut memang menjadi salah satu aspek penguat konteks sang sutradara bahwa Black Sun adalah serial yang ingin menampilkan sisi lain dari Kamen Rider – yang mungkin seringkali luput dari dunia nyata karena seringkali diproyeksikan sebagai tontonan anak-anak. Shiraishi ingin memperlihatkan kalau Kamen Rider dibawa ke narasi dunia yang lebih ‘nyata’, banyak hal dan penyelesaian masalah yang tak mudah dan begitu klise. Banyak yang harus dikorbankan – salah satunya kondisi fisik atau bahkan nyawa.

Tentu hal tersebut menjadi sebuah antitesis akan sosok Kamen Rider yang selama ini selalu dikenal sebagai jagoan dan tidak pernah mendapatkan luka yang membekas sampai-sampai kita semua harus diingatkan bahwa dibalik tampilan atau armor mereka ketika beraksi, pada akhirnya mereka tetaplah manusia.

Mungkin hal itulah yang menyebabkan Kamen Rider Black Sun tidak terlalu diminati di negaranya sendiri – karena mungkin sudah terlalu lama franchise tokusatsu tersebut diliputi oleh fantasi dan terbatas akan narasi yang aman untuk bisa ditonton oleh berbagai umur. They forgot the humanity aspect of Kamen Rider. Or maybe they actually just don’t care.

***

Overall, Kamen Rider Black Sun is not for the fainted heart – and the puritan Kamen Rider fans as well. Mungkin serial ini memang lebih cocok ditonton oleh orang yang sama sekali tidak familiar dengan sosok Kamen Rider. Karena semua fantasi akan kegagahan dan tangguhnya Kamen Rider yang selalu menang di akhir hari dan berbahagia (dalam format klise) dengan orang-orang terdekatnya sama sekali tidak terlihat di serial yang bisa ditonton di Amazon Prime tersebut.

Tentu ungkapan di atas hanyalah ketikan sembarangan. Di luar sana pun pasti banyak fans Kamen Rider yang bisa membuka pikirannya lebih jauh tentang tokusatsu favoritnya yang diposisikan lebih realistis seperti yang terpampang di serial tersebut. If so, good for you. Because this series is next level.

Konon setelah serial Black Sun, akan hadir beberapa serial Shin Kamen Rider lainnya yang menggunakan pendekatan manusiawi macam ini. Tentu hal itu sangat patut dinanti mengingat kebanyakan Kamen Rider era Showa terlalu ‘manis’ dan dramatis. Let’s see what comes next.

Tagged

#kamen rider #spectacle #series #kamen rider black sun #review

Leave a Reply